Rainy

Rainy
Postingan Instagram Sekolah



Rainy tahu, cepat atau lambat Bhara akan tahu kalau Rainy bekerja setiap pulang sekolah, tapi Rainy tidak menyangka kalau Bhara akan tahu secepat ini. Bahkan belum ada seminggu dirinya bekerja di cafe itu.


Setelah sambungan telepon dimatikan oleh Bhara tanpa memberikan kesempatan Rainy untuk kembali bicara, Rainy semakin menenggelamkan wajahnya diantara lipatan tangan dan lutut.


Rainy menangis tanpa suara, isakannya tertahan. Rainy takut, takut setelah ini akan kembali mendapat kemarahan dari papa jika Bhara benar-benar bertengkar seperti tebakannya.


Rainy mendengar suara pintu terbuka ketika ia mulai mengatur napas, tanpa menoleh Rainy tahu siapa yang masuk. Tentunya tante Risa, karena tidak mungkin om Abra yang akan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


“Ai … ” panggil tante Risa dengan suara lirih.


Tante mendekat, mengusap kepala Rainy dengan lembut. Tangis yang tadinya mulai berhenti kini kembali pecah, selain takut, Rainy masih merasakan perasaan bersalah. Tante Risa pasti kecewa.


“Ma-maaf, maafin aku, Tante,” ucap Rainy yang terisak.


“Maaf kenapa?”


Ditanya begitu, Rainy terus diingatkan dengan kebohongannya selama beberapa hari ini. Ia lekas mengusap air matanya dan menatap tante yang tengah tersenyum dengan lembut padanya. Benar-benar seperti tatapan seorang ibu pada anaknya.


“Aku udah bohong. Pasti Tante udah denger obrolan aku sama Abang 'kan? Pasti Tante kecewa sama aku, Tante marah sama aku, maafin aku, ya?” mohon Rainy sambil berusaha menahan tangisnya.


Tak menjawab permintaan Rainy, tante malah menarik Rainy ke dalam pelukannya. Tante mengecup kepalanya masih sambil mengusapnya.


“Nggak papa, udah Tante maafin. Udah, ya, jangan nangis lagi. Tante ikut sedih liat kamu nangis gini. Tante emang kecewa, tapi Tante nggak marah sama kamu.”


“Tapi aku udah bohong … ” lirih Rainy.


Tante Risa mengangguk, “Jadi setelah ini jangan bohong lagi, ya? Kan Tante pernah bilang kalau ada apa-apa ngomong aja, Tante bakal dukung semua keputusan kamu.”


Mendengar itu Rainy merasa sedikit lega. Setelah mengatur napasnya, Rainy melepas pelukan tante Risa dan kembali mengucapkan maaf serta terima kasih.


“Tapi jangan suruh aku berhenti, ya? Aku mau tetep kerja, ini bukan soal aku kekurangan uang, tapi aku emang bosen di rumah. Pulang sekolah nggak ngapa-ngapain. Ya, Tante?” pinta Rainy setelah beberapa saat mereka terdiam.


Tante Risa tersenyum dan mengangguk. “Iya, nggak papa, nggak masalah. Yang penting kamu selalu kabarin Tante, jangan bohong lagi. Tante cuma khawatir sama kamu, Ai. Kamu juga bisa minta ****** kalau pulang, nanti pasti Tante jemput.”


Rainy mengangguk, ia merasa sangat lega karena kini tak perlu lagi berbohong.


“Oh ya, Tante kesini juga sekalian mau minta maaf.” Tante menghentikan ucapannya, membuat Rainy sedikit penasaran.


“Maafin Tante, ya. Sebenarnya yang kasih tau Bhara soal kamu itu Tante sama Om Abra. Tante nggak sengaja liat kamu sabtu sore waktu itu, Tante jadi kepikiran sama kamu. Awalnya Tante mau telepon Papa kamu, tapi ternyata nggak di angkat, jadinya Tante telepon Bhara dan kasih tau keadaan kamu.”


Rainy terdiam mendengar ucapan tante Risa, kemudian Rainy teringat dengan ucapan Azura yang mengatakan ada yang mencarinya tapi tidak tahu siapa.


Rainy mengangguk sebagai jawaban, toh sudah terjadi dan Rainy tidak menyalahkan tantenya. Malah ia sedikit berterima kasih karena tante Risa, Rainy akhirnya tidak perlu berbohong lagi.


“Iya, Tante, nggak papa.”


***


“Mata lo kenapa?”


Rainy melirik Aksa yang tengah menatapnya terkejut. Ia mendengus kasar lalu memalingkan wajah ke arah lain. Malu Rainy rasakan karena tampilannya pagi ini begitu buruk.


Mata bengkak, lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya. Jelas sekali kalau semalam Rainy habis menangis dan begadang.


Padahal Rainy tidak bermaksud untuk begadang, hanya saja mata sulit tertutup karena banyak yang ia pikirkan. Apalagi soal pertengkaran Bhara dan papanya.


“Jan! Gue serius nanya!” kata Aksa yang masih ada di atas motornya. Sementara Rainy tengah memakai helm.


“Gue nggak papa, di gigit nyamuk semalem,” dusta Rainy dengan alasan yang sangat tidak masuk akal.


Aksa memicingkan kedua matanya, terlihat ingin protes tapi Rainy segera mengangkat tangan kanannya membuat Aksa seketika bungkam.


“Udah siang ini, nanyanya nanti lagi, bisa?”


Aksa mengangguk kemudian melajukan motornya setelah Rainy benar-benar naik. Selama perjalanan, Rainy sempatkan waktunya untuk mengusap matanya yang bengkak menggunakan tisu basah.


Rainy hanya berharap agar di sekolah nanti kedua matanya benar-benar sudah terlihat biasa, tapi apa yang Rainy harapkan tidak terjadi. Bahkan usahanya sama sekali tak membuahkan hasil.


Sepanjang jalan dari parkiran menuju koridor sekolah Rainy memasang wajah cemberut. Aksa di sampingnya tengah menahan senyum, Rainy yang sadar lantas langsung melirik dengan sinis.


“Ketawa aja, nggak ada yang ngelarang.”


Setelah Rainy berkata begitu, Aksa benar-benar tertawa. Tidak keras tapi tetap menarik beberapa perhatian siswa-siswi di sekitar mereka.


“Mata lo bengep bener, yakin bisa ngeliat lo?” ledek Aksa yang masih cekikikan.


Rainy yang kesal lantas menendang tulang kering Aksa hingga laki-laki itu meringis kesakitan.


“KDRT, lo gue laporin nanti!” kata Aksa sambil menahan sakit.


“KDRT-KDRT pala lo!” dengus Rainy semakin sewot.


“Kali ini serius. Lo habis nangis? Kenapa?” tanya Aksa.


“Bukan urusan lo kan?”


“Nanya doang elah!”


Aksa menatap Rainy dengan datar, lalu Aksa semakin mendekat ke arah Rainy dan merangkul leher gadis itu dengan erat.


“Gue nanya baik-baik malah gak di jawab. Berarti lo mau pake cara kasar biar mau jawab pertanyaan gue?”


Rainy berusaha melepaskan rangkulan Aksa, tapi gagal karena tenaganya yang seorang gadis kalah dengan laki-laki. Gadis itu menatap Aksa dengan sengit.


“Lepasin, Aksa! Nanti gue jatuh,” kata Rainy.


Apa Aksa melepaskannya? Tentu tidak!


“Jawab dulu, dong!”


“Maksa banget sih!”


“Iya dong. Mau jawab gak? Atau gue cium nih!” ancam Aksa.


Rainy melotot, tapi Aksa malah tertawa. “Bercanda, nggak mungkinlah gue cium lo di depan umum gini. Bisa-bisa masuk BK nanti.”


Oh, jadi maksudnya kalau sedang di tempat sepi Aksa benar-benar akan menciumnya?


Rainy kembali memicingkan kedua matanya, menatap Aksa penuh waspada. Aksa lagi-lagi tertawa, membuat Rainy kini menatapnya dengan datar.


“Bercanda.”


***


Rupanya tak hanya Aksa yang menanyakan keadaannya. Apakah memang terlalu bengkak? Sampai terlihat jelas sekali. Karena Rainy merasa matanya masih terlihat normal karena bengkak-nya tak benar-benar sampai membuat kedua matanya tertutup.


Vania orang kedua yang menanyakan itu. Setibanya Rainy di mejanya, Vania yang mengalihkan perhatian dari ponsel untuk menatap Rainy pun kini heboh. Gadis itu segera menyuruh Rainy untuk duduk.


“Eh, lo kenapa, Rai? Ada masalah apa sampai nangis terus matanya bengkak gini?”


Meskipun terkesan kepo, tapi Rainy tahu kalau Vania tengah mengkhawatirkan dirinya. Gadis itu menggeleng samar dan tersenyum.


“Gue begadang sambil nonton drakor, ada adegan yang bikin gue nangis sampe kek gini,” ujar Rainy kembali berdusta.


Awalnya Rainy takut Vania akan seperti Aksa, tapi ternyata Vania menganggukkan kepalanya dan mempercayai ucapan Rainy. Sementara itu, Aksa yang berada di belakang Rainy mengernyitkan keningnya, apa yang Rainy ucapkan sama sekali tidak Aksa percaya.


Entah kenapa, Aksa seolah tahu kalau Rainy sedang ada masalah sampai gadis itu berani berbohong.


Rainy merasa beruntung karena begitu istirahat tiba, kedua mata Rainy sudah terlihat normal. Kini Rainy tak lagi malu untuk keluar dari kelas.


Rencananya, Rainy akan pergi ke kantin hanya bertiga. Ia dan dua teman perempuannya, Alika dan Vania, tapi begitu sampai di kantin, ternyata rombongan Aksa malah mengikuti mereka.


Duduk di meja yang sama dengan tiga cewek itu.


“Ini kenapa sih kita sering banget bareng? Kalian mau join circle kita bertiga?” tanya Vania dengan sewot.


“Kagak ada bangku lagi, Neng,” sahut Bagas yang memang benar adanya, ini bangku yang tersisa dan Rainy serta temannya termasuk beruntung karena masih kebagian meja.


“Emang kenapa kalau kita gabung? Lo kok sewot banget? Kita bukan penculik kalik,” timpal Dylan ikutan sewot.


“Udah sih, jangan ngebacot mulu! Berisik, gue mau makan dengan tenang,” kata Ardi yang tengah menyeruput minuman yang dibelinya.


Suasana kembali hening setelah Ardi bicara, Rainy tengah sibuk dengan makanannya sendiri, sementara Aksa tengah sibuk mengamati Rainy sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Rainy menyadari itu, kalau Aksa terus menatapnya, tapi ia tak acuh dan tetap lanjut makan.


“Lo bertiga nanti nonton basket kan? Jangan sampe nggak nonton, sekalian beliin minum,” celetuk Bagas tiba-tiba, cowok itu bertanya pada ketiga gadis yang tengah makan.


“Kalo mau minum, siniin duitnya. Gue jamin, lo pada nggak bakal kehausan.” Vania terkekeh setelah melihat raut wajah Bagas setelah mendengar ucapannya.


“gitu amat sama temen sekelas lo sendiri.” Bagas berujar dengan nada sinis.


“Kan kita nggak terlalu akrab, kecuali kalo lo di kasih minum sama pacar lo.” Alika menimpali.


Mereka masih terus mengobrol, kecuali dua makhluk yang berbeda jenis kelamin ini. Satu mencuri pandang satunya lagi menghindari tatapan. Rainy masih berusaha fokus untuk menghabiskan makanannya yang tersisa setengah.


Sampai tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan Bagas yang mengundang perhatian penghuni kantin.


“Anjir! Anjir! Anjir woy, gilak sih ini!” seru Bagas, bahkan cowok itu sampai berdiri dari duduknya membuat yang lain menatap ke arah Bagas dengan keheranan.


“Si Anjir! Ngapain sih lo anjir anjir?” kata Dylan yang kebingungan.


“Coba deh kalian pada liat postingan baru IG sekolah, liat ada fotonya sapa itu. Kok bisa ye, gue kecolongan,” kata Bagas sambil mengutak-atik ponselnya dengan serius.


Setelah Bagas berkata begitu, teman-teman yang lain pun membuka ponsel mereka. Ada postingan terbaru dari akun instagram sekolah mereka, itu sebuah foto yang membuat teman-teman Aksa dan Rainy tercengang.


“Wah! Foto lo berdua di posting, njir.” Ardi menatap Aksa dan Rainy bergantian. “Btw, ini kapan kalian fotonya?” tanya Ardi.


“Uhuk!”


Rainy dan Aksa terbatuk secara bersamaan, tanpa mereka lihat fotonya pun, mereka berdua tahu apa yang dimaksud teman-temannya. Ini pasti foto yang mereka ambil di perpustakaan, dan ternyata malah di posting di instagram sekolah.