Rainy

Rainy
Tidak Semuanya Bisa Dilakukan Sendiri



Aksa menyibak tirai dengan agak kasar ketika melihat Rainy terus tertawa dan tersenyum, membuat dua orang yang tengah mengobrol itu terkejut bukan main.


Aksa berjalan mendekat, berdiri di samping Rainy dan tersenyum manis saat Rainy menatapnya. Tapi, berubah datar saat bertatapan dengan laki-laki yang tadi mengobrol (seru?) dengan Rainy.


“Aksa? Lo kok udah balik?” tanya Rainy.


Harusnya memang Aksa masih belajar, belum waktunya untuk istirahat ke-dua.


“Kelas kita lagi jamkos. Maaf ya nggak bisa nungguin lo dan ninggalin lo terlalu lama waktu lo tidur. Tapi, habis ini gue bisa kok. Sampe lo ngerasa baikan, gue temenin,” ucap Aksa.


Rainy menatap Aksa dengan bingung. Bukannya tadi Aksa pergi ketika ia belum tidur, dan Aksa bukan sengaja meninggalkannya karena Aksa memang seorang siswa yang tak bisa pergi dari kewajibannya.


Melihat Rainy yang diam saja membuat Aksa segera mengalihkan pandangannya pada sosok laki-laki yang sedang duduk tak jauh darinya itu.


Sadar dengan tatapan Aksa, laki-laki itu mengulurkan tangannya. “Gue Daffa, kelas dua belas. Tadi gue liat Rainy lagi sendirian waktu dia bangun tidur. Jadi, gue ajakin ngobrol biar nggak bosen.”


“Ah, gue Aksa.” Aksa membalas uluran tangan itu, pantas Aksa agak merasa tidak asing dengan Daffa, karena beberapa kali Aksa melihat Daffa dipanggil ke depan lapangan saat upacara oleh guru karena prestasinya yang membanggakan.


“Lo sakit juga … Kak?”


“Oh, nggak. Gue gue cuma gantiin anak UKS yang lain buat jagain ruang UKS ini.”


Aksa mengangguk paham. Tatapan Aksa beralih lagi pada Rainy, saat keduanya bertatapan, Aksa dengan ekor matanya melirik Daffa dengan maksud memberi kode. Tapi, Rainy sama sekali tidak paham dan malah mengernyitkan dahi.


Aksa berdecak. “Sekarang udah ada gue yang jagain Rainy. Jadi kalau Kak Daffa masih punya urusan, nggak papa. Pergi aja, Rainy udah aman.”


Aksa memang berniat mengusir Daffa, untung saja kakak kelas mereka cukup peka dan segera berdiri dari kursi yang awalnya ditempati oleh Aksa sebelum meninggalkan Rainy.


Daffa tersenyum menatap Rainy yang balas tersenyum. Pemandangan itu membuat Aksa menggerutu dalam hatinya.


'Bisa-bisanya sama orang asing gampang senyum, giliran sama gue datar terus.'


“Kakak pergi dulu, ya. Cepet sembuh, jangan lupa di minum obatnya,” kata Daffa.


“Iya, Kak.”


'Iyi, Kik,' dumel Aksa sambil memutar bola matanya.


Tatapan Aksa terus mengikuti Daffa yang baru saja berjalan pergi. Tanpa bisa Aksa cegah, mulutnya berdecak keras hingga Rainy terlonjak.


“Lo kenapa?” tanya Rainy bingung.


Aksa menoleh. “Gue? Nggak papa,” ucapnya singkat, tapi raut wajahnya sama sekali berbeda dengan apa yang dia ucapkan.


Aksa bergerak maju, kemudian mendudukkan pantatnya di kursi yang masih hangat. Maksudnya, masih ada sisa Daffa yang belum lama pergi. Aksa bersedekap, menatap Rainy yang masih bingung dengan tingkah Aksa.


“Sejak kapan lo ngobrol sama Daffa, Daffa itu?” tanya Aksa setelah beberapa saat mereka terdiam dengan agak canggung.


“Kenapa?” Rainy malah balik bertanya.


“Tinggal jawab doang elah,” kata Aksa berdecak … lagi


“Belum lama. Belum sampe setengah jam.”


Aksa mengembuskan napasnya, ia berdiri dan tangannya terulur untuk menyentuh dahi Rainy yang masih di tempel byebye fever. Aksa menghela napas lega ketika demam Rainy sudah tidak setinggi tadi.


“Lo laper nggak? Kalau laper bilang aja, biar gue beliin.” Nada bicara Aksa tiba-tiba berubah lembut, Rainy yang tengah kebingungan kini semakin bingung.


“Lo kesurupan?”


“Hah?”


“Kok tiba-tiba jadi baik gini sih?”


Aksa menatap Rainy datar. “Oh, jadi lo maunya gue jahat? Emang biasanya gue gimana?”


Rainy mengedikkan bahunya. Suasana hening, keduanya sama-sama tidak tahu harus bicara apa lagi. Karena Rainy yang masih agak pusing, Rainy memutuskan untuk merebahkan dirinya lagi. Sedangkan Aksa hanya mengamati apa yang Rainy lakukan.


“Tadi waktu lo di baru di bawa ke sini, Aldo bilang makasih dan maaf. Nggak bisa ikut bantu jaga lo, padahal gara-gara permintaan dia lo jadi kayak gini, katanya dia bakalan ngasih hadiah ke lo kalau dia menang lomba,” ucap Aksa tiba-tiba, menyampaikan hal yang sebenarnya hampir dia lupakan.


Rainy mengangguk, sambil matanya menatap langit-langit ruangan ini ia kembali mendengar Aksa yang belum berhenti bicara.


“Gue juga. Entah udah berapa kali, tapi gue mau minta maaf sekali lagi. Harusnya gue tahan diri kemaren, nggak tiba-tiba ngajakin lo pulang padahal masih hujan deres.”


Mengingat itu lagi, Aksa merasa kesal pada dirinya sendiri.


Rainy terkekeh, padahal Rainy tak mau mengungkitnya lagi, tapi malah Aksa sendiri yang bilang. “Gue maafin. Lagian, kalo lo nggak ngajak gue, gue malah takutnya lo ngompol di sana karena liat setan.”


Aksa mendengus. “Nggak sampe ngompol juga lah.”


“Eh, tapi gue serius waktu gue bilang gue nggak liat apa yang lo liat. Makanya gue nggak percaya, tapi kok bisa sih lo di kasih liat yang begituan?” Rainy ingin tertawa, tapi tak tega ketika melihat wajah suram Aksa.


***


“Rainyyyy … ” panggil Vania.


Rainy dan Aksa menoleh, mendapati Vania dan Alika datang dengan wajah khawatirnya. Mereka mendekati Rainy dan mencecar dengan banyak pertanyaan serta permintaan maaf.


“Kok lo nggak bilang-bilang kalau sakit? Kalau lo bilang kan lo nggak perlu ikut upacara. Masa gue sebagai sahabat lo tahu belakangan, malah Aksa duluan yang tau kalau lo lagi sakit.” Vania mengerucutkan bibirnya setelah mengatakan kalimat panjang itu.


Rainy meringis. Sementara Alika menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Vania. “Pokoknya, lain kali jangan gini lagi. Lo punya kita-kita yang bakal bantuin lo kalau lo lagi ada masalah. Jangan di pendem gini, giliran udah tepar baru ketauan kan?!”


Rainy hanya bisa mengangguk. Gadis itu tersenyum menatap kedua temannya. “Maaf dan makasih,” ucapnya.


Maaf karena Rainy takut merepotkan jika dia bilang sedang sakit sementara terima kasih karena sudah mengkhawatirkan dirinya dan mau peduli padanya.


Aksa yang merasa tidak dibutuhkan lagi lantas pergi sebentar untuk ke toilet. Sepeninggalnya Aksa, Alika berdehem dan mulai membuat suasana serius di antara mereka bertiga.


“Oh ya, Rai. Ini soal kerja part time itu, gue udah hubungi Om gue, katanya masih ada lowongan. Kalau lo beneran mau, bisa dateng ke cafe-nya langsung. Kebetulan emang masih baru kan? Jadi belum banyak pegawai yang ada di sana,” kata Alika.


Rainy mengangguk. “Gue nggak tau harus bilang apa sama lo selain terima kasih. Lo mau bantuin gue, meskipun kita belum kenal lama.”


Alika mengibaskan tangannya di udara, dia tak begitu suka dengan kalimat Rainy yang barusan itu. “Kita temen, nggak peduli mau lama atau baru kenal. Lagian, sesama manusia juga harus saling bantu kan? Gue cuma bantu apa yang bisa gue bantu.”


Sekali lagi, Rainy bersyukur ketika mendapat teman seperti mereka berdua. Setidaknya, tak sama dengan sekolahnya yang dulu, di sini, Rainy merasa bahwa dia memang ada dan mereka menyadari keberadaannya.


Ketika Rainy membutuhkan bantuan, mereka ada dan siap untuk menolong. Bukan tak acuh dan memalingkan wajah ketika ia butuh. Bukan hanya datang disaat mereka yang sedang membutuhkannya.


“Oh ya, lo laper nggak? Dari tadi kan lo sama Aksa, dia ngasih lo makan nggak? Takutnya kan dia lupa dan malah bikin lo tambah sakit.” Vania mulai berkata, kalimatnya cukup panjang dan membuat Rainy harus berpikir agak lama untuk menjawabnya.


“Gue masih kenyang, di beliin Aksa roti. Mungkin karena gue belum lama bangun, jadinya belum kerasa laper,” ucap Rainy.


Mereka mengobrol lagi, kali ini dengan posisi Rainy yang duduk karena merasa tak nyaman saat melihat dia temannya duduk sementara dirinya rebahan.


Sayangnya, obrolan mereka harus terhenti ketika Ardi mengabari sudah waktunya masuk kelas. Bahkan Aksa yang hanya diam di balik tirai itupun menghela napas karena harus meninggalkan Rainy sendiri lagi.


Ketika Rainy hanya sendiri, gadis itu merebahkan dirinya. Pusing di kepalanya yang belum benar-benar sembuh membuat Rainy mulai memejamkan mata dan tertidur. Rainy terbangun lagi ketika mendengar suara ribut-ribut di luar.


Bukan ribut karena pertengkaran, tapi ributnya siswa-siswi yang mulai meninggalkan sekolah. Ketika tengah mengumpulkan nyawanya, tiba-tiba Aksa datang dari balik tirai, di tangannya ada sebuah tas yang Rainy tebak adalah miliknya.


“Eh, udah pulang?” tanya Rainy terkejut, ketika ia membuka ponsel untuk melihat jam, ternyata memang sudah waktunya untuk pulang.


“Tidur lagi aja kalau masih ngantuk,” kata Aksa.


Rainy menggeleng, perlahan Rainy bangkit untuk duduk dan menurunkan kakinya dari atas ranjang. “Kalau gue tidur lagi, bisa-bisa kita di kunci di UKS. Gue sih nggak mau nginep di sini, serem. Nanti kalau ada yang nongol gimana?”


Mendengar itu, Aksa mendengus. Sepertinya, kejadian kemarin akan terus diingat oleh Rainy dan akan terus di ungkit.


Setelah memberikan tas ransel milik Rainy, Aksa membantu Rainy untuk turun dari ranjang. Tangan Aksa pun terangkat untuk menyentuh dahi Rainy, ia menghela napas lega ketika merasa suhu tubuh Rainy semakin turun.


“Kalau ada yang nongol, gue bisa peluk lo. Lagian setan cuma bisa nampakin wajahnya doang, nggak bakal bisa macem-macem,” kata Aksa.


Rainy tersenyum miring, memberikan tatapan meledek untuk Aksa. “Tapi lo tetep ketakutan,” ucapnya.


Aksa tak membalas, jika di balas maka pembicaraan seputar setan tidak akan berhenti.


Ketika mereka berjalan menuju parkiran. Suasana sekolah masih cukup ramai. Aksa tak lagi memapah Rainy, gadis itu menolaknya karena takut menjadi pusat perhatian. Jadi mereka hanya berjalan sejajar tanpa bersentuhan.


Sesampainya di parkiran, Aksa mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah almamater dengan logo sekolah itu dia berikan pada Rainy untuk gadis itu pakai.


“Buat lo, kita pulang naik motor, kalo lo nggak pake ini, nanti lo kedinginan. Bisa-bisa demam lo bukannya turun malah makin naik,” tutur Aksa ketika Rainy bertanya untuk apa Aksa memberikan almamater itu padanya.


Tanpa protes apapun, Rainy memakainya, meskipun kebesaran tapi Aksa puas karena dengan itu tubuh Rainy tidak akan terkena angin selama perjalanan.


“Kalau lo masih ngerasa pusing, peluk gue aja. Gak papa kok, gue rela,” ucap Aksa sambil tertawa.


Rainy memukul kepala Akaa yang terbungkus helm, ia memutar bola matanya. “Halah! Modus aja lo.”


Motor meninggalkan parkiran, mulai memasuki jalan raya yang cukup ramai. Tak ada obrolan apapun selama perjalanan. Sampai di depan rumah Rainy, gadis itu berterima kasih untuk bantuan Aksa seharian ini.


Rainy memasuki rumah Tante Risa yang terlihat sepi, tak ada sosok Tante-nya di sana. Ketika masuk ke dalam kamar, dan merebahkan tubuhnya di kasur, Rainy baru sadar kalau almamater milik Aksa masih dia pakai.


Wangi parfum Aksa pun sampai tercium jelas di hidungnya, membuat jantung Rainy berdebar tiba-tiba. “Gue kenapa sih? Sakit jantung kalik ya?” gumam Rainy.


Gadis itu bangkit untuk melepas almamater milik Aksa, dan menyimpannya di hanger untuk ia cuci saat ada waktu. Ketika ia ingin pergi ke toilet, tiba-tiba Tante Risa datang dengan tatapan khawatir.


“Kenapa, Tante?” tanya Rainy bingung.


Tante Risa mendekat, menyentuh dahi Rainy yang sudah tak ditempeli apa-apa. “Kata Aksa kamu sakit? Ya ampun, anget gini badannya. Maafin Tante yang nggak peka kalau kamu lagi nggak enak badan gini. Maaf, ya,” ucap Tante merasa bersalah.


Rainy tersenyum dan menggeleng. “Tante nggak salah, aku aja yang nggak bilang kalau lagi nggak enak badan.”


“Ya udah, kamu cepet bersih-bersih. Tapi jangan disiram kepalanya, ya. Nanti malah tambah sakit, habis itu langsung ke dapur buat makan. Tante udah masak tadi.”


“Iya, Tante. Udah, ya, Tante nggak usah khawatir, aku baik-baik aja kok.”


Tante mendekat dan membawa Rainy masuk ke dalam pelukannya. Di usap punggung Rainy membuat Rainy balas memeluk Tante Risa. Dan ucapan Tante selanjutnya mampu membuat Rainy menumpahkan air matanya sambil mengucapkan beribu kata maaf dalam hatinya.


“Lain kali, kalau ada apa-apa bilang aja sama Tante. Kamu udah kayak anak Tante sendiri. Jangan ngerasa sungkan untuk hal apapun. Kamu di sini bukan sama orang asing, kamu di sini sama adik kandung ibu kamu. Kamu di sini nggak sendirian.”


“Jangan lakuin hal apapun yang nggak kamu bisa lakuin sendiri. Nggak semuanya bisa kamu handle, Rainy. Ada hal-hal yang bikin kamu butuh bantuan orang lain. Jangan selalu ngerasa kamu ini ngerepotin, kamu ini nyusahin. Kamu nggak bakalan tau gimana perasaan orang-orang terdekat kamu yang sayang sama kamu kalau kamu terus berpikir kayak gitu. Bisa jadi mereka sedih, mereka nyalahin diri mereka sendiri karena nggak bisa jaga kamu.”


“Tante sayang sama kamu, sebaliknya kamu juga sayang sama Tante, kan? Kalau kamu beneran sayang sama Tante, tolong jangan bikin Tante ngerasa bersalah karena nggak bisa jaga kamu. Jangan bikin Tante ngerasa kamu nggak butuh Tante sama sekali. Tante akan dengan senang hati bantu kamu kalau kamu butuh sesuatu. Ya, Nak?”