
Rainy menyipitkan kedua matanya, menatap semangkuk mie yang sisa setengah. Di hadapannya sekarang, Aksa seperti orang kelaparan, padahal mie itu masih panas. Sementara milik Rainy sendiri masih penuh karena Rainy takut lidahnya terbakar.
“Kenapa nggak dimakan?” tanya Aksa, ketika melihat Rainy yang diam saja.
“Masih panas,” jawab Rainy.
“Kan tinggal di tiup. Atau mau gue tiupin?” Aksa menaikkan alisnya.
Rainy menggeleng. “Lo laper banget? Makanya tadi ngasih gue telur sama sawi?”
“Berbagi itu indah.” Aksa menyahut dengan cuek, padahal sebenarnya ketika hidungnya mencium aroma kuah mie yang dimasak oleh Rainy, rasa lapar itu mendadak muncul.
“Padahal tanpa lo kasih itu pun, gue juga niatnya mau buat dua porsi,” kata Rainy yang mengira Aksa ingin dia membalas budi.
“Bagus dong.”
“Bagus Apanya?” Rainy bertanya dengan heran.
“Itu artinya lo sadar diri.”
Rainy berdecak mendengar itu. “Tinggal bilang aja kalau lo laper, terus pengen makan masakan gue. Ya kan?”
“Idih, kata siapa?”
Rainy memutar bola matanya. Aksa masih saja mengelak padahal sudah kelihatan sekali kalau cowok itu lapar, lihat saja mangkuknya yang hampir kosong, sedangkan punya Rainy baru habis sedikit.
Malas meladeni, Rainy lanjut makan saja. Siang cuma makan seblak dan cemilan membuatnya lapar saat pulang sekolah.
Setelah makan, Rainy melihat Aksa yang hendak mencuci mangkuknya. Lantas Rainy ikut berdiri dan mengambil alih mangkuk bekas Aksa makan tadi.
“Biar gue aja,” kata Rainy.
Tapi Aksa mengambil lagi mangkuk itu. “Gue aja, kan yang habis makan gue.”
“Tapi yang bikin makanan gue, lo makan masakan gue pakai mangkuk itu. Biar gue aja yang nyuci,” pinta Rainy, mencoba meraih mangkuk itu lagi tapi Aksa segera mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Yakin bisa?” tanyanya dengan nada mengejek dan alis terangkat.
“Aksa … ”
“Gue bilang gue aja. Lagian ini mangkuk punya siapa?”
“Nyokap lo.”
“Ini rumah punya siapa?”
“Lo— maksudnya keluarga lo.”
Aksa menyeringai. “Nah, berarti gue dong yang nyuci? Kan lo tamu di sini. Bukan pembantu. Lagian lo udah ngasih gue mie juga, itu udah cukup sebagai bentuk terima kasih lo karena udah gue bolehin masak di sini.”
Rainy berdecak, tapi ia hanya pasrah saja karena tidak ingin berdebat lagi dengan Aksa. Apalagi mangkuk itu masih ditangan Aksa yang diangkat tinggi-tinggi. Sudah jelas Rainy tidak akan bisa mengambilnya.
“Lo tinggal nyuci bekas makan lo aja, bekas makan gue tanggung jawab gue. Inget! Gue tuan rumahnya, jadi lo nggak bisa seenaknya di sini,” kata Aksa membuat Rainy lagi-lagi berdecak.
“Iya, iya.”
Rainy kembali duduk untuk menghabiskan sisa mie dan kuah yang tinggal sedikit lagi. Tapi sesekali ekor matanya melirik Aksa yang berdiri membelakanginya. Tentu sedang mencuci mangkuknya. Setelah selesai, Aksa mematikan keran dan mengelap tangannya.
Rainy memalingkan wajah ketika Aksa akan berbalik. Sekarang gantian Rainy yang akan mencuci mangkuknya.
“Oh ya, bukannya lo punya Abang? Bang Bara kan kalau nggak salah namanya. Sekarang dia dimana?”
Rainy berbalik setelah mengeringkan kedua tangannya. Ia menjawab, “Lagi kuliah, di … LN.”
“Oh pantesan,” Aksa manggut-manggut.
“Kenapa? Kangen lo sama Abang gue?” tanya Rainy sedikit meledek.
Aksa menggeleng kuat-kuat. “Nanya doang masa di bilang kangen sih?!”
Rainy terkekeh, kemudian pergi dari dapur ketika semua sudah beres.
Aksa menyusulnya, sambil tadi mengingat-ingat ekspresi wajah Rainy yang terkekeh ringan seperti tidak ada apa-apa. Tapi kekehan itu hanya beberapa detik sampai ekspresi datar itu kembali lagi. Jadi, apakah Rainy benar tidak apa-apa?
“Lo nggak kangen sama Abang lo?” Aksa berusaha mencari informasi dengan cara-cara halus dan pertanyaan yang tidak terlalu mengarah pada hal pribadi.
“Nggak. Udah biasa ditinggal, lagian dia enam bulan sekali pulang kok,” kata Rainy.
Mereka sudah duduk di sofa ruang tamu, dan pintu depan tetap dibiarkan terbuka karena Aksa takut ada yang salah paham. Apalagi di dalam rumah ini hanya ada mereka berdua.
“Ck! Masa adek gitu sih? Nggak ada kangen-kangennya sama Abang sendiri.”
Aksa menggeleng membuat Rainy yang baru membuka ponselnya itu mendongak.
“Yeu~ emangnya lo punya Abang? Punya Adek? Sampai sok tau apa yang gue rasain?”
Oh jelas Aksa menggeleng. “Gue nggak punya abang dan nggak punya adek. Cukup gue sebagai anak tunggal Mama Clarissa yang paling ganteng.”
Rainy baru tahu kalau Aksa ini sangat … narsis sekali. Membuatnya bergidik. “Gue doain lo nanti bakalan punya adek.”
Aksa melotot. “Hiih! Jangan deh, gue udah gede. Malu lah kalau punya adek lagi, gimana sih lo?” sahut Aksa ikutan bergidik.
Pukul lima sore, Mama Clarissa pulang. Begitu melihat ada Rainy yang tengah bermain ponsel bersama Aksa, berbeda tempat duduk tentu saja. Mama Clarissa langsung heboh, bukannya beliau yang di sambut, malah mama Clarissa yang menyambut Rainy dengan pelukan cukup erat.
“Tante … ” Rainy agak … kaget.
“Kamu aman kan di sini smaa anak Tante? Nggak di apa-apain kan? Aksa nggak macem-macem kan sama kamu? Kalau dia berani macem-macem bilang aja ke Tante, biar Tante yang hukum.”
“Ma … ” Aksa melotot mendengar ucapan Mamanya. Ini kan yang merupakan anak mama Clarissa itu Aksa, kenapa malah lebih khawatir kepada Rainy yang bukan siapa-siapa?
“Kamu nggak ngapa-ngapain Rainy kan, Aksa?” Mama menatap tajam Aksa.
Cowok itu tercekat melihat tatapan mata ibu kandungnya. “Ya enggak lah, Ma! Kok Mama malah nggak percaya sama anak sendiri sih?”
Niatnya memang membela Aksa, tapi sepertinya mama Clarissa berpikiran yang lain, tapi, “Lho? Kenapa harus masak? Kan di meja makan masih ada masakan Tante, di kulkas juga tinggal ngangetin. Atau nggak di bolehin sama Aksa, ya?”
Aksa mendelik tidak terima. “Wah, kok Mama sekarang malah nuduh Aksa gitu? Tadi itu Rainy sendiri yang mau masak, Aksa udah nawarin masakan Mama tapi dia nggak mau,” ujar Aksa kesal.
Astaga … ini yang anak kandung Mama Clarissa sebenarnya siapa sih?
“Iya, Tante. Aksa udah nawarin aku, tapi emang aku lagi pengen makan yang lain.” Rainy membela Aksa lagi, baru Mama Clarissa mengangguk membuat Aksa mendengus sebal.
Telat banget percayanya, pikir Aksa.
“Tadi Tante dari di-WA Tante kamu, katanya dia lupa ninggalin kunci karena nggak tau bakalan pulang malem. Jadi, pas Tante tau kalau kamu bakalan ada di rumah Tante, Tante pulangnya mampir ke supermarket buat beli bahan tambahan kita makan malam,” jelas Mama Clarissa panjang lebar.
Rainy menoleh kaget. “Makan malam Tante?”
“Iya, kan Tante kamu bilang dia pulangnya malam, jadi takut kamu kelaparan karena belum makan, jadi kamu makan malamnya bareng Tante, ya?
Rainy tidak kuasa menolak, apalagi melihat wajah memelas ibu kandung Aksa itu. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk hingga membuat Mama Clarissa memekik kesenangan.
Kegiatan Rainy di dapur Aksa bukan hanya sebatas memasak mie instan, tapi juga membantu ibunya Aksa memasak untuk makan malam. Tapi, Rainy hanya mendapat bagian memotong-motong, dan mereka berdua mendapat personil tambahan ketika Aksa bergabung dan duduk di meja makan.
“Aksa itu walaupun nakal tapi dia bisa masak. Meskipun masaknya bukan masakan rumahan kayak tumis-tumisan, tapi masakannya itu enak. Udah kayak chef di restoran.”
Rainy tidak tahu kenapa tante Clarissa tiba-tiba mempromosikan Aksa. Tapi, Rainy tetap mendengarkan sampai Mama Clarissa berhenti bicara.
Sementara Aksa yang merasa kupingnya panas, segera menghentikan ucapan mamanya. “Di depan orang lain, Mama suka muji-muji anaknya, giliran nggak ada orang, anaknya selalu dikoreksi sama di kasih kultum.”
Rainy terkekeh mendengar ucapan Aksa. Sementara Mama Clarissa mendelik tidak terima. “Supaya di depan orang kamu masih punya hal positif untuk bisa di pamerin selain hal negatifnya.”
Pukul tujuh malam, Papa Aksa pulang, dan terkejut ketika melihat Rainy ada di sana dengan … seragam sekolahnya.
Pria yang seumuran dengan papanya Rainy itu tersenyum setelah mengusap pucuk kepala Rainy. Kemudian menanyakan kabarnya dan keluarga Rainy.
“Kabar aku baik, seperti yang Om lihat sekarang. Kabar Papa juga baik, karena Papa selalu jaga kesehatan,” kata Rainy yang menjawab pertanyaan papanya Aksa itu sambil memikirkan bagaimana kira-kira kabar Papanya sekarang? Apakah benar seperti yang ia ucapkan barusan?
“Syukurlah. Om kaget waktu Mamanya Aksa bilang kalau anaknya Bang Hamza balik lagi ke sini tapi sendirian. Om kira awalnya itu Bara yang ke sini, ternyata kamu … ” Om Martin terkekeh.
Rainy hanya bisa tersenyum untuk menanggapi kekehan itu. Mereka sedang makan malam sekarang, dan bagi Rainy, ini adalah makan malam paling nikmat yang ia pernah rasakan setelah bertahun-tahun.
Makan malam dimeja makan yang paling Rainy sukai. Ada obrolan hangat yang mengalir di tengah dentingan sendok. Ada canda dan tawa yang menghiasi suasana malam yang sunyi.
“Oh ya, kamu belum pergi ke makam Mama kamu kan?” tanya Om Hamza.
“Iya, Om. Belum. Aku lagi nunggu hari libur biar bisa lama ngobrol sama Mama,” Rainy berucap dengan senyum yang terlihat perih.
Aksa lanjut makan, sesekali mengamati gerak-gerik Rainy yang … ya biasa saja. Hanya wajahnya yang terlihat sedikit sendu.
“Adik tiri kamu gimana? Masih aman kan?” tanya Om Martin bercanda.
Rainy tertawa kecil. “Baik … mungkin. Atau sekarang masih di rumah sakit.” jawab Rainy meringis.
Tidak tahu, Rainy sama sekali tidak tahu kabar terbaru adik tirinya itu. Entah masih kritis di rumah sakit, atau kembali tidak sadar atau bisa jadi membutuhkan darahnya lagi. Rainy tidak tahu dan tidak ingin tahu.
“Oya? Emangnya kenapa?”
“Kecelakaan.”
Benar, kecelakaan. Jatuh dari tangga ketika mereka tengah bertengkar. Lagi-lagi Rainy meringis mengingat alasan kenapa ia bisa nekat pergi dari rumah. Lagian itu bukan salah Rainy, Riana sendiri yang membuat dirinya jatuh. Tapi, tetap saja, Rainy yang akan disalahkan dan Rainy menerima itu meski ia merasa tidak adil.
“Sejak kapan lo punya adik?”
Itu Aksa, yang bertanya pada Rainy membuat gadis itu menghentikan makannya. Untuk pertanyaan itu Rainy tidak bisa menjawabnya. Tentu Aksa mengernyit heran, apakah pertanyaannya salah?
“Ya … sejak dia di dalam kandungan.” Rainy mencoba menjawab dengan ekspresi biasa saja, kemudian terkekeh ketika ia mencoba untuk membuatnya merasa lucu. Padahal dalam hatinya, Rainy merasa di sayat-sayat oleh ribuan pisau tak kasat mata.
“Enak nggak punya adek? Pasti nggak enak kan? Makanya gue nggak mau punya adek. Cukup gue sebagai anak tunggal. Ya, Pa?” Aksa menoleh pada Papanya kemudian terkejut ketika melihat tatapan tajam dari Papanya.
Begitupun mama Clarissa, Aksa mengernyit heran. Dan seketika membuat mulutnya bungkam ketika Papa meminta Aksa untuk tidak lagi mengeluarkan suara. Dan saat itu juga suasananya menjadi tegang.
***
Rainy pamit pulang ketika Tantenya menelpon jika beliau sudah pulang ke rumah. Sebelum itu, tak lupa Rainy mengucapkan banyak terima kasih pada kedua orang tua Aksa karena telah mengajaknya makan malam dan menampungnya di rumah itu.
Rainy tidak bisa berlama-lama di rumah Aksa, selain karena tidak nyaman berada di rumah orang lain, Rainy juga takut jika keluarga Aksa itu merasa dirinya merepotkan.
Saat itu pukul delapan malam ketika Rainy masuk ke dalam rumah. Tante menyambutnya dengan banyak permintaan maaf.
“Maafin Tante ya, Sayang. Tante bener-bener nggak tau kalau Tante bakalan pulang malam. Lain kali Tante bakalan taruh kunci di rumah supaya kalau ada kejadian kayak gini lagi kamu nggak perlu ke rumah orang lain buat nungguin Tante.”
“Iya, nggak papa, Tante.” Tapi Rainy mengembuskan napas lega ketika mendengar tante Risa akan meninggalkan kunci rumah mulai sekarang. Itu artinya, dia tidak akan merepotkan keluarga orang lain lagi.
“Kamu belum makan malam kan? Biar Tante masakin ya?”
Rainy menggeleng. “Aku udah makan kok. Tadi mereka ngajak aku makan malam, mereka baik,Tante.”
Tante tersenyum dan kembali memeluk Rainy. Setelah itu barulah Rainy bisa pergi ke kamar untuk men-charge ponselnya yang kehabisan daya. Memang belum sampai mati tapi baterai ponselnya sudah memerah.
Rainy pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Terbiasa mandi ketika malam hari membuat Rainy merasa tidak kedinginan meskipun memakai air dingin. Tapi, di kamar mandi Tantenya ini sudah ada shower yang bisa membuat air menjadi hangat.
Rainy keluar dari kamar mandi sepuluh menit kemudian dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Rambutnya basah, dan Rainy hendak mengambil hairdryer ketika melihat ponselnya yang berdenting menandakan pesan masuk.
Dari pop up layar ponselnya, Rainy sudah melihat siapa pengirimnya dan pesan apa saja yang dikirim. Pesan yang akan menjadi mimpi buruk Rainy. Seketika membuat Rainy resah dan kesulitan untuk tidur.
Tante Devi
*Halo, Cantik. Gimana keadaan kamu di sana setelah kabur dari rumah? Nyaman? Makan enak? Bahagia?
Pasti dong. Pasti kamu bahagia banget setelah kabur dari tanggung jawab kamu. Apalagi nggak ada Mami yang bakalan ganggu hidup kamu.
Tapi … tenang aja, Mami nggak mungkin lupa sama anak Mami yang paling cantik ini. Tunggu setelah beberapa hari, kamu akan merasa semakin nyaman di sana, Mami bakal kasih kamu kejutan.
Have fun, Sayang. I love you*.