Rainy

Rainy
First Kiss yang Membagongkan



Rainy panik, saat menyadari hari sudah tidak gelap lagi. Apalagi ketika matanya melihat jam yang ternyata sudah pukul setengah tujuh, itu artinya Rainy kesiangan.


“Rainy … ”


Suara Tante Risa disertai ketukan pada pintu kamarnya tak membuat Rainy berhenti untuk segera melipat selimut. Rainy hanya menyahut untuk sekedar membuat Tante Risa tahu kalau dia sudah bangun.


“Iya, Tante.”


“Udah bangun, Ai? Tante pikir belum. Biasanya kamu jam enam udah keluar dari kamar.”


Tante masuk setelah Rainy mengatakan pintu tidak di kunci. Rainy sendiri hanya bisa meringis karena menyesal telah tidur terlalu larut. Bukan tanpa sebab, Rainy hanya kepikiran tentang pesan dari ibu tirinya hingga Rainy kesulitan tidur dan berakhir tertidur pukul dua dini hari.


“Aku bangun kesiangan, Tante. Tadi malem kurang tidur,” kata Rainy yang sudah siap untuk mandi.


Tante menggeleng. “Ya udah, cepet mandi. Tante udah buat roti panggang, tinggal di makan. Tante ke sini cuma buat bangunin kamu, takutnya kamu belum bangun lagi.”


“Ngerepotin, Tante. Aku bisa beli makan di kantin sekolah,” ucap Rainy merasa tidak enak.


“Nggak ngerepotin, kan sekalian Tante juga mau sarapan.”


Rainy mengangguk lantas segera pergi ke kamar mandi. Istilahnya sih mandi bebek, karena lima menit kemudian Rainy sudah siap untuk memakai seragam sekolahnya. Kemudian sepuluh menit setelahnya Rainy sudah keluar dari kamar sembari menggendong tasnya.


Hari ini adalah rekor tercepat Rainy dalam bersiap-siap dan mandi.


“Makan yang tenang, masuk masih setengah jam lagi. Kalau kamu nggak makan nanti kamu sakit, gimana Tante jawab kalau Papa kamu nanya kabar kamu?” kata Tante.


Rainy tersenyum miris, dengan mulut yang penuh, Rainy menjawab, “Ya tinggal Tante jawab sejujurnya. Rainy baik-baik aja, nggak perlu khawatir karena Rainy nggak ngerepotin.”


Tante mengernyit heran. “Kenapa kamu bilang gitu?”


Rainy menggeleng tanda ia tak akan menyahut lagi. Dua lapis roti tandas dalam beberapa menit. Setelah meminum susunya, Rainy segera keluar dari rumah untuk …


“Astaga … gue lupa pesen ojol lagi, anjirr. Gimana dong?”


Rainy panik kuadrat, bangun kesiangan membuat Rainy lupa kalau sekarang Rainy ke sekolah bukan dengan supir lagi tapi dengan ojek online yang … tentunya lupa Rainy pesan.


Rainy meringis ketika menyadari bahwa sekarang sudah tidak sempat untuk memesan ojol. Langkah Rainy lemas menuju teras.


“Woi, Hujan. Lo kalo jalan lama bener sih?! Keburu telat nih.”


Rainy berhenti, takut telinganya salah dengar, kemudian Rainy mendongak. Rainy terkejut melihat Aksa sudah duduk di atas motor milik laki-laki itu.


“Hah? Ngapain lo di sini?” tanya Rainy bingung.


Aksa berdecak mendengar pertanyaan itu. “Ya nungguin lo lah ogeb. Emang ngapain lagi?”


Aksa bersungut-sungut sementara Rainy masih ngelag sebelum dia sadar tujuan Aksa menunggunya di sini.


“Lo nawarin tebengan?”


Aksa memutar bola matanya. “Nggak. Gue lagi nawarin pinjaman dengan bunga sepuluh persen tiap angsuran. Ya iyalah Rainy Shakaela.” Aksa berkata dengan agak geram.


“Kok bisa—”


“Lho? Belum berangkat? Udah siang lho ini, nanti keburu telat.”


Tante Risa datang dan melihat keheranan pada Aksa dan Rainy.


“Ponakan Tante tuh, di ajakin naik motor malah bengong. Nggak ngerti sekarang udah hampir telat!”


Rainy tersadar lagi. Kemudian menatap Tante Risa. “Kok tiba-tiba Aksa nawarin tumpangan? Tante yang nyuruh, ya?”


Tante mengangguk santai, membuat Rainy melongo sebelum suara Aksa kembali membuat Rainy tersadar sudah sesiang apa sekarang ini.


“Rainy! Lo mau kita berdua telat terus di suruh bersihin sampah di lapangan sampai pulang?”


Rainy hendak bersuara tapi Aksa kembali menginterupsi. “Oke, fix. Lo mau kita telat terus bersihin sampah bareng-bareng supaya lo bisa berduaan sama gue, gitu kan?”


“Nggak lah anjir. Gila lo, gue nggak pernah dihukum.”


“Ya makanya cepetan naik. Astaga cewek ini … ” kata Aksa jengah.


Buru-buru Rainy memakai helm yang di bawa Aksa. Benar, daripada berdebat lebih baik Rainy ikut Aksa saja. Selain cepat, Rainy tak perlu pusing memikirkan akan berangkat dengan siapa dan tentunya tidak perlu mengeluarkan uang.


Biasanya, untuk sampai ke sekolah butuh dua puluh menit bagi Rainy, karena menggunakan ojol. Tapi berhubungan supirnya sekarang adalah Aksa, dalam sepuluh menit pun mereka sudah tiba di sekolah.


Rainy turun dari motor dengan bibir mengerucut, meskipun Rainy senang karena tidak jadi telat, tapi karena ulah Aksa yang kebut-kebutan membuat rambut Rainy yang tadinya rapi sekarang berantakan.


“Harusnya lo bersyukur kita nggak telat. Kalo dalam lima menit kita belum sampai, udah pasti gerbang udah di tutup,” kata Aksa ketika mendengar alasan Rainy kesal padanya.


“Tapi rambut gue jadi kusut,” ucap Rainy yang sibuk merapikan rambutnya menggunakan jari tangan.


“Ya elah, tinggal rapihin bentar. Nggak perlu rapi-rapi lo juga udah oke, kok.”


Aksa memutar bola matanya, mulutnya berucap sembari tangannya terangkat untuk menyisir rambut Rainy yang tidak kusut-kusut amat.


Rainy terpaku dengan napas tercekat. Ini kenapa Aksa tiba-tiba? Bahkan Aksa sudah terlalu dekat dengannya karena ingin meraih rambut Rainy.


Tersadar, Rainy menepis tangan Aksa membuat laki-laki itu meringis.


“Gue bisa sendiri!” Rainy salah tingkah, tapi berusaha ia tutupi dengan memperlihatkan wajah ketus.


Rainy berbalik, dan meninggalkan Aksa yang tak lama kemudian mengejarnya.


“Bareng dong! Kita kan sekelas,” sahut Aksa.


Baru beberapa anak tangga yang Rainy pijak, tiba-tiba segerombolan anak-anak entah kelas berapa datang untuk ikut naik menggunakan tangga itu.


Rainy yang tubuhnya kecil tersenggol hingga oleng. Anak-anak kelas lain tidak menyadari akan derita Rainy yang tentu akan jatuh jika saja tidak ada Aksa di belakangnya.


“Woi!” Aksa ingin berteriak tapi tubuh Rainy yang jatuh ke arahnya membuat Aksa merentangkan tangan untuk menahan tubuh Rainy.


Masalahnya bukan di situ saja, setelah anak-anak semuanya naik, Aksa baru menyadari kalau mereka berdua terjatuh dalam posisi yang … membagongkan syekalehhh.


Seperti terdengar suara 'CUP' di antara mereka.


Rainy dan Aksa sama-sama mematung dengan kedua bibir yang masih menempel. Aksa ngeBUG. Apalagi Rainy yang sekarang ada di atas tubuh Aksa.


Keduanya saling tatap baru kemudian Rainy tersadar dan segera mendorong Aksa menjauh. Iya, menjauh sampai kepalanya kejedot dinding dengan suara yang cukup keras.


BUGH!


“Arghh!”


Kepala Aksa pusing, cenat-cenut seperti bibirnya dan bibir Rainy yang sekarang sudah tidak suci lagi.


Sementara Rainy, bibirnya bergetar dengan tatapan kosong. Sebelum kemudian mundur satu langkah, dua langkah dan naik satu tangga lalu … kabuurrr.


***


Aksa mencoba berdiri dengan susah payah karena kepalanya yang pusing. Kemudian ia menatap ke arah depan, dimana barusan tubuh Rainy menghilang dari balik tikungan tangga.


“Anjir, kok bisa sih?” gumam Aksa dengan tatapan bingung.


Jarinya meraba bibir yang tadi bersentuhan dengan bibir Rainy. Kejadian yang tidak pernah ada dalam bayangannya. First kiss Aksa di ambil oleh Rainy dengan cara yang paling membagongkan. Ah, mungkin juga tadi itu ciuman pertama Rainy, tapi di sini Aksa merasa menjadi korban.


“Aksa! Ngapain kamu masih di sini? Bel sudah bunyi dari tadi dan kamu belum masuk kelas?”


Salah satu guru datang dan menegur Aksa. Membuat Aksa terkejut kemudian meringis.


“Iya, Pak. Maaf, ini Aksa baru mau jalan ke kelas.”


Guru tersebut menggeleng ketika Aksa tiba-tiba saja sudah berlari menaiki tangga. Terus berlari sampai tiba di depan kelas dengan napas tersengal-sengal.


Aksa melihat Raini yang juga baru menaruh tasnya. Ketika tatapan mereka bertemu, Rainy memalingkan wajah.


Hingga saat istirahat pun, Rainy cepat-cepat mengajak Vania dan Alika ke kantin. Tapi, ketika Aksa datang ingin bergabung bersama mereka bertiga dengan membawa Bagas, Ardi, dan Dylan, Rainy tiba-tiba bilang sudah kenyang dan ingin duluan ke kelas.


Begitupun ketika Aksa bertemu Rainy di dekat toilet. Rainy segera memalingkan wajah seolah tidak melihat Aksa yang sebesar ini.


Aksa menyadari, Rainy menghindarinya. Bahkan terlihat sangat jelas. Apalagi ketika Bagas tiba-tiba bilang, begini … “Lo lagi berantem sama Rainy?”


“Nggak tuh,” Aksa menyahut sambil mengedikkan bahu.


“Tapi lo berdua kayak lagi main kucing-kucingan dah, yakin nggak berantem? Atau lo dari ngapa-ngapain Rainy lagi, hayo ngaku!”


“Nggak percayaan amat sih, lo,” Gue cuma nggak sengaja nyicip bibirnya Rainy doang, itupun cuma nempel sebentar, lanjut Aksa dalam hati.


Mata Bagas menyipit, seolah tidak percaya tapi Aksa tentu tak peduli. Ia terus menatap ke depan. Bukan pada guru yang sedang menjelaskan rumus matematika, tapi tatapan Aksa tertuju pada Rainy yang membelakanginya.


Sampai pelajaran berakhir dan semua siswa dikelas itu pulang. Tinggal menyisakan Rainy dan Aksa di sana. Rainy tentu sedang menyelesaikan catatannya, sementara Aksa?


Dia menunggu Rainy selesai. Sampai guru itu memanggil mereka berdua yang baru selesai mencatat.


“Rainy, Aksa, tolong nanti kalau kalian sudah mau keluar, bawa buku ini ke perpustakaan dan dikembalikan ke tempatnya. Jangan lama-lama, karena perpustakaan akan tutup sebentar lagi.”


Rainy mengangguk sebelum guru itu pergi. Kemudian menoleh ke belakang sebentar lalu memalingkan wajah lagi.


Aksa gemas. Benar-benar gemas dengan tingkah gadis itu yang benar kata Bagas. Seperti sedang bermain kucing-kucingan dengannya. Untung saja mereka ada waktu jalan berdua meskipun Rainy terlihat sangat-sangat terpaksa.


Mereka berjalan beriringan, dengan membawa buku yang tadi mereka bagi dua. Aksa gatal ingin bertanya, hingga … “Lo marah ya sama gue?”


Rainy melirik Aksa sekilas. “Nggak.”


“Terus kenapa seharian ini lo ngindarin gue terus?”


“Oh, iya? Gue nggak ngerasa tuh.”


Jawabannya ketus, berarti Rainy masih mempermasalahkan soal ciuman itu. Pikir Aksa.


“Gue yang ngerasa. Kenapa sih? Kan insiden tadi pagi juga bukan salah gue, kan tadi lo yang menjatuhkan diri dalam pelukan gue.”


Aksa menahan tawa yang akan keluar dari mulutnya. Rainy sendiri merasa tengah diberikan mimpi buruk ketika mengingat kejadian tadi pagi.


“Menjatuhkan diri kepala lo! Gue ke dorong!” kata Rainy.


Aksa menyeringai, ingin menggoda Rainy karena sepertinya menyenangkan.


“Oke, lo ke dorong. Tapi lo juga harus tanggung jawab,” kata Aksa.


“Tanggung jawab apa?” tanya Rainy heran, bukannya Rainy adalah korban kenapa harus bertanggung jawab?


“Ya lo pikir kepala gue yang lo jedotin ini batok kelapa apa? Gue seharian ini ngerasain nyut-nyutan karena lo dorong tadi pagi.”


Kali ini Rainy yang menyeringai. “Oh, sakit ya? Sampai sekarang masih nyut-nyutan?”


Aksa mengangguk disertai ringisan pura-pura. Tapi Rainy hanya menatapnya datar sampai ucapan Rainy selanjutnya membuat Aksa di tampar oleh kenyataan yang membuatnya bungkam sampai tiba di perpustakaan.


“Itu juga yang gue rasain waktu lo nendang bola sampai kena kepala gue. Keknya kita impas deh, 1:1. Jadi nggak perlu lo minta tanggung jawab karena itu karma lo sendiri.”