
Rainy terbangun dengan tubuh yang terasa segar. Pagi-pagi sekali Rainy sudah bersiap bahkan Rainy pergi ke dapur untuk membantu Tante Risa yang sedang memasak. Wanita baik yang belum berusia setengah abad itu tersenyum hangat saat melihatnya.
“Udah sehat, Ai?” tanya Tante.
“Udah Tante,” jawab Rainy sambil balas tersenyum.
“Tapi mata kamu agak sembab itu, efek nangis semalem, ya?”
Rainy terkekeh, kepalanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan tante Risa itu. “Iya, tapi nggak ketara banget kok.”
Semalam, setelah Tante bicara panjang lebar, Rainy menangis tidak mau berhenti. Seolah ia tengah mengeluarkan semua yang terasa mengganjal dan perasaan tertekan dalam dirinya.
Tante dengan sabar menenangkan Rainy, sampai tiba-tiba Rainy menceritakan alasan-alasan kenapa dia pergi dari rumah, semuanya. Semua yang terasa mengganjal itu Rainy keluarkan.
Mulai dari sikap ayahnya, ibu tirinya bahkan kondisi Riana yang mungkin sekarang sudah pulang ke rumah dan tengah merayakan kepergiannya. Termasuk hubungannya dengan Bhara, yang Rainy rasa mulai merenggang.
Tante mendengarkan, tanpa menyela dan mengomentari atas tindakan yang Rainy lakukan. Setelah menceritakan semuanya, Rainy merasa bebannya seolah diangkat hingga terasa ringan. Tapi, tante tetap tak menyalahkan dirinya.
Tante terus memeluknya, mengusap punggungnya yang bergetar karena isak tangis sampai Rainy berhenti dan tertidur ditemani oleh tante Risa.
“Lain kali kalau ada masalah apa-apa jangan di pendem terus ya, Ai? Tante bisa jadi teman curhat kamu. Anggap Tante sebagai ibu kamu, sahabat kamu yang bisa kamu percaya untuk kamu tumpahin semuanya.”
Kembali tante mengucapkan kalimat yang hampir sama, Rainy hanya bisa mengangguk.
Selagi menunggu masakan tante Risa matang, Rainy menyiapkan piring dan peralatan makan lain untuk diletakkan di meja makan. Meja dengan empat kursi itu hanya terisi oleh mereka berdua.
“Om kamu minggu ini pulang, katanya nggak sabar pengen ketemu kamu. Mau liat udah segede apa ponakannya,” kata tante Risa yang baru saja datang sambil membawa mangkuk yang berisi masakan.
Rainy mendongak, menatap tantenya itu terkejut. “Oh ya? Berati Kak Pandu juga pulang dong, Tan?”
Pandu adalah anak tante Risa satu-satunya. Yang sekarang tengah kuliah di luar kota. Usianya pun tak jauh beda dengan Rainy dan Bhara. Bhara lebih tua satu tahun di banding Pandu dan Pandu lebih tua dua tahun dari Rainy.
Tante Risa menghela napas berat. “Sayangnya enggak. Libur semester kemaren baru pulang, jadinya beberapa bulan lagi baru bisa pulang ke sini. Terus kalau Bhara gimana? Liburan kemaren pulang nggak?”
“Belum sempet pulang, Tante. Bang Bhara masih sibuk sama tugas kuliahnya. Mungkin nanti waktu liburan musim semi baru bisa pulang,” kata Rainy sambil mengingat-ingat waktu kepulangan kakaknya.
Obrolan itu masih berlanjut sampai mereka selesai sarapan. Rainy mengambil piring bekas tante Risa makan untuk di cuci. Meskipun Tante sudah menyuruhnya untuk duduk saja, tapi Rainy menolak.
“Tante udah bikinin aku sarapan, masa mau Tante juga yang cuci piring? Gantian dong, Tan,” ucap Rainy sambil membawa beberapa piring kotor ke wastafel di dapur.
Tante Risa hanya pasrah saja. Karena cucian yang hanya beberapa biji, tak butuh waktu lama bagi Rainy untuk menyelesaikannya. Baru saja Rainy hendak ke kamar untuk mengambil tas sekolah, Rainy mendengar suara klakson motor dari depan rumahnya.
TIIN! TIIIN!!
Rainy mendengus. Setelah mengambil tas sekolahnya, Rainy mencari tante Risa untuk berpamitan. Tante mengusap pucuk kepala Rainy saat Rainy mencium punggung tangannya itu.
“Inget kata-kata Tante ya, Ai. Kalau ada masalah bilang sama Tante. Jangan sungkan. Atau kamu juga bisa minta tolong sama Aksa, dia baik kok.”
“Iya, Tante. Tapi kalau minta tolong sama Aksa itu jangan dulu deh. Kalau udah urgent baru aku minta tolong sama dia,” kata Rainy yang membuat tante Risa tertawa.
Rainy mendapati wajah kesal Aksa begitu ia keluar dari rumahnya. Gadis itu cuek saja seolah tak peduli dengan kekesalan Aksa dan tetap memakai sepatunya dengan santai.
“Lo ditungguin lama banget gila! Udah gue klaksonin dari tadi juga, nggak denger, ya?” sembur Aksa yang sudah tidak tahan melihat wajah tanpa dosa Rainy.
“Denger kok. Gue lama juga bukan karena lagi dandan, tapi masih sarapan tadi sama Tante. Kalau kelamaan, sorry deh, lo-nya juga tumben pagi-pagi banget ke sininya,” ucap Rainy.
Gadis itu berdiri, Aksa menyodorkan helm yang langsung diambil oleh Rainy. Melihat wajah Rainy membuat Aksa tiba-tiba teringat dengan kesehatan gadis itu.
“Eh, lo udah beneran sembuh?” tanya Aksa tiba-tiba.
Rainy mengangguk. “Udah kok, gue orangnya kalo sakit nggak berhari-hari baru bisa sembuh. Jadi nggak nyusahin.”
Aksa menangkap nada yang tak biasa ketika Rainy mengatakan itu. “Beneran udah sembuh nih? Ntar sampe sekolah malah pingsan lagi,” tutur Aksa tentunya bercanda.
“Ya kalo gue pingsan lo gendong dong! Nggak mungkin lo ninggalin gue juga kan?” niatnya juga bercanda, tapi Aksa malah menganggukkan kepalanya dan ucapan Aksa selanjutnya membuat Rainy hampir saja tersedak.
“Iya, gue gendong. Tapi gendong versi orang lagi gendong beras di pundak.”
“Itu gotong anjir!”
***
Tak ada hambatan apapun selama perjalanan menuju sekolah, baik Rainy maupun Aksa tak banyak mengobrol karena tak ada topik apapun untuk bisa membuat mereka adu mulut.
“Ngapain lo ke sini?” tanya Aksa memicingkan kedua matanya.
Aldo tak menghiraukan pertanyaan Aksa, pemuda itu malah menghampiri Rainy dan memberikan coklat silverqueen pada gadis itu seraya menangkup kedua tangannya di depan dada.
“Gue minta maaf, Kak, soal kemaren. Kalo bukan karena gue, Kakak nggak bakalan sakit sampe hampir pingsan. Bukannya bantu, gue malah langsung balik ke kelas, maaf ya, Kak.”
“Gue beliin ini sebagai permintaan maaf dan terima kasih karena udah mau bantuin gue. Oh ya, kalau gue menang, gue bakal kasih hadiah lagi buat lo, lebih dari ini deh,” tambah Aldo sambil menyodorkan dua buah silverqueen itu ke hadapan Rainy.
Tak ingin membuat adik kelasnya itu semakin merasa bersalah, Rainy menerima coklat itu dan tersenyum membuat Aksa merasa dadanya nyut-nyutan entah karena apa.
“Nggak masalah kok, kemaren emang sebelum berangkat juga udah ngerasa nggak enak badan. Dan, makasih coklatnya. Gue do'ain lo menang lombanya,” kata gadis itu.
Aldo sumringah, kembali mengucapkan terima kasih lalu berbalik untuk pergi. Aksa pun mendengus sambil memberikan tatapan kesal pada Aldo.
“Emang adek kelas laknat lo! Orang nanya bukannya di jawab, malah nyelonong aja!” gerutu Aksa dengan suara agak keras. Jelas saja Aldo mendengarnya, pemuda itu menoleh dan Malah memberikan tatapan meledek pada Aksa.
Tentu saja Aksa emosi, tapi tetap menahannya karena tak ingin membuat keributan. Tatapannya beralih pada Rainy yang masih memegang dua buah silverqueen ditangannya.
Aksa mengambil benda itu mengantonginya, membuat Rainy terkejut karena gerakan Aksa yang tiba-tiba.
“Aksa! Balikin! Itu coklat gue!” Rainy memintanya, tapi Aksa malah menggeleng.
“Buat gue aja lah, nanti lo gue beliin yang lebih banyak, kalo yang ini bakal gue kasih ke temen di kelas aja,” sahut Aksa.
Rainy melotot tidak terima. “Kan gue yang di kasih, ngapa malah jadi lo yang ngatur mau diapain itu coklatnya?”
“Balikin nggak?!” desak Rainy.
Aksa mengangkat sebelah alisnya, “Kalau gue nggak mau?”
“Gue ambil sendiri dari saku lo,” kata Rainy, tangannya bersiap untuk mengambil coklat miliknya dari saku Aksa.
Aksa berdehem. “Jangan dong! Nanti kalo ada yang liat bisa salah paham. Ngira lo lagi gr*pe-grepee gue. Lagian, emangnya lo berani?”
Rainy yang merasa di tantang lantas mengangguk. “Lo pikir gue nggak berani?”
Aksa langsung membulatkan matanya saat Rainy benar-benar hendak mengambil coklat di saku celana. Masalah yang sebenarnya itu letak saku celana Aksa yang ada di pahanya. Ketika tangan Rainy hampir menyentuh coklat itu, tiba-tiba …
“WOWW WOWW!! Bahaya ini bahaya! Temen gue udah nggak suci lagi, udah nggak polos lagi.”
Refleks Aksa mundur selangkah, mereka berdua menoleh pada Bagas yang baru saja berteriak. Rainy yang terkejut sementara Akaa masih agak kaget dengan keberanian Rainy.
“Ngapain sih lo berdua main gr*pe-grepan di parkiran? Kalo mau main noh di gudang. Jangan di sini!” cerocos Bagas yang tengah berjalan menghampiri Aksa dan Rainy.
“Gr*pe-grep* apa sih anjir! Pikiran lo kotor banget, gue mau ambil coklat,” gerutu Rainy menatap Bagas kesal.
“Coklat?” Bagas termenung memikirkan coklat yang dimaksud Rainy. Coklat itu berbeda dengan apa yang ada di kepala Rainy.
“Balikin Aksa! Lo mau gue ambil sendiri coklatnya?” Rainy menagih lagi.
“Ck!” Aksa berdecak kemudian mengembalikan coklat itu pada Rainy dari pada Rainy benar-benar mengambilnya sendiri.
Bagas yang melihat itu pun mendengus kasar, ternyata …
“Anjir lah, gue kira coklat apaan!”
“Ya lo pikir coklat apa?” mata Rainy mendelik tajam, sementara Aksa yang tahu kemana arah pikiran Bagas lantas menggeplak kepala temannya itu.
PLAK!
“Coba sebelum sekolah lo loundry dulu otak lo. Pagi-pagi udah kotor aja.”
“Ya kan sama-sama coklat.”
“Apanya yang sama-sama coklat?” tanya Rainy tak paham.
Aksa menoleh dan menggeleng. Kembali memukul kepala belakang Bagas hingga Bagas mengaduh kesakitan.
“Mulut lo bisa diem nggak sih anjir?”