
Sejak jam enam sore tadi, Rainy tengah berdiri di balik meja kasir, menggantikan tugas Azura yang mendadak izin karena ada urusan penting. Sementara tugas Rainy dibantu oleh dua rekannya yang lain– yang sebenarnya seorang barista di sini.
Rainy pikir, bekerja di balik kasir lebih baik daripada menjadi waitress, tapi ternyata … sama aja. Satu jam berdiri membuat kakinya sedikit pegal, bahkan Rainy belum sempat duduk karena sejak sore tadi cafe cukup ramai.
Lonceng di pintu cafe berbunyi, menandakan kedatangan pelanggan yang mana membuat Rainy langsung memasang wajah full senyum.
“Selamat datang, ingin pesan ap– Aksa?”
Rainy terperangah, mulutnya terbuka setelah mengucap nama Aksa yang kini ada di hadapannya. Ingin berwajah datar, tapi Aksa sedang menjadi pelanggannya. Rainy harus bersikap profesional.
Aksa terkekeh sesaat setelah menyadari senyum Rainy yang terpaksa. “Yang ikhlas dong senyumnya, nanti gue nggak jadi pesen.”
“Oh, maaf, kalau tidak jadi memesan silakan jangan berdiri disini,” ucap Rainy masih disertai dengan senyuman palsu.
Aksa tergelak, lalu menganggukkan kepalanya. “Gue pesen lemon tea sama bakso satu mangkok.”
“Lo pikir di sini warung kaki lima?” ujar Rainy sambil mendelik sinis.
Aksa tergelak lagi. “Oke oke, gimana kalau kopi hitam tanpa gula?” tanya Aksa.
Rainy mengernyit bingung. “Kok nanya? Kan lo yang mau minum.”
“Coba dong, tanya gue kenapa lebih milih kopi hitam tanpa gula.”
“Kenapa emangnya?” Rainy menjawab dengan nada malas.
Jika tidak ingat tempat, rasanya Aksa sudah tertawa keras. Berhubung cafe dalam keadaan ramai, Aksa hanya bisa terkekeh dengan gemas. Membuat Rainy kesal itu menyenangkan, wajahnya bertambah manis kalau sedang mode judes– eh?
“Karena yang manis udah ada di depan gue. Kalau ditambah gula nanti gue bisa kena diabetes.”
Hampir saja Rainy tersedak air liurnya sendiri. Anjirr memang Aksa ini. Sadar nggak sih cowok itu kalau efek dari ucapannya yang mengandung gombalan membuatnya sedikit berdebar?
Aksa bisa melihat rona merah di wajah Rainy yang berekspresi datar dan itu lucu menurut Aksa.
“Serius elah! Lo mau pesen apa? Jangan lama-lama depan gue, mual soalnya,” kata Rainy mengalihkan pandangannya, ia mencoba menghilangkan debar yang masih terasa sampai sekarang.
“Anjir! Emangnya gue bau?” Aksa tergelak … lagi untuk yang kesekian kali.
“Sa … ”
“Iya iya. Gue pesen hot chocolate deh!” ucap Aksa dengan cepat.
Baik, karena kali ini pesanan Aksa sudah benar, Rainy langsung mencatatnya. Setelah itu ia kembali menatap Aksa seraya tangannya menunjuk ke arah deretan meja yang masih kosong.
“Silakan duduk sambil menunggu pesanan siap,” kata Rainy yang masih berusaha ramah. Tapi, tidak dengan raut wajahnya yang benar-benar datar.
Aksa pergi dari hadapan Rainy sambil terkekeh. Cowok itu duduk di meja yang tak begitu jauh dari kasir. Sambil menunggu pesanan siap, Aksa terus memperhatikan Rainy yang sedang menyambut pelanggan yang baru datang juga pelanggan yang membayar minumannya.
Sering terpikirkan oleh Aksa, apa alasan terbesar Rainy memilih untuk bekerja. Padahal 'kan Rainy masih anak SMA yang bahkan belum berumur tujuh belas tahun. Harusnya Rainy tinggal menikmati masa sekolah dan meminta uang jajan dari orang tuanya.
Beberapa saat setelah memperhatikan Rainy, pesanan Aksa datang. Aroma cokelat yang masih panas menguar di penciuman Aksa. Sangat cocok di minum saat cuaca dingin seperti ini.
Meskipun coklat itu sudah habis, Aksa masih tetap duduk di tempatnya sampai ia melihat cafe sudah sepi dan Rainy bersiap untuk pulang. Barulah Aksa berdiri untuk membayar minuman miliknya yang sudah habis sejak setengah jam yang lalu.
Rainy mengernyit saat Aksa datang ke arahnya. “Lah? Belum pulang lo?”
“Belum lah, kalau gue udah pulang nggak mungkin gue masih di sini.”
Rainy memutar bola matanya. “Buruan bayar! Gue mau pulang soalnya,” kata Rainy yang sudah tidak berusaha untuk bersikap ramah.
“Pulang bareng gue, ya?” Itu bukan penawaran, tapi permintaan yang Aksa ucapkan setelah dia membayar minumannya.
Rainy melirik Aksa sekilas, ia membasahi bibir sambil berpikir. Bingung sebenarnya. Mau mengiyakan, tapi gengsi. Mau menolak, itu rezeki yang mana nanti Rainy tak perlu menunggu ojek online datang.
Keterdiaman Rainy membuat Aksa menyimpulkan kalau gadis itu setuju. “Oke. Gue tunggu di motor sekarang. Gih! Siap-siap.”
“Dih! Kok maksa sih?” cibir Rainy tapi dalam hatinya sudah tersenyum senang.
“Oh, jadi nggak mau, nih?” Aksa berusaha menahan senyumnya setelah melihat Rainy yang terkejut barusan.
“Mau!”
***
Punya pacar memang menyenangkan, tapi punya teman rasa pacar juga tidak buruk. Seperti Rainy dan Aksa saat ini. Padahal pertemuan mereka belum ada satu bulan, tapi sudah sangat dekat melebihi kedekatan Rainy dan Vania serta Alika.
Bahkan, perhatian yang Aksa berikan untuk Rainy sudah melebihi dari yang pernah Aksa berikan pada mantan-mantannya dulu. Jika ada yang bertanya apakah mendapat perlakuan seperti ini membuat Rainy baper?
Tentu saja jawabannya 'iya'.
Siapa sih yang tidak baper saat ada yang memberi kita perhatian lebih? Apalagi perhatian yang belum pernah kita dapatkan.
Hanya saja, jika ada yang bertanya pada Rainy, apakah dia berharap dijadikan pacar oleh Aksa. Rainy akan menjawab tidak. Rainy tidak suka berharap, karena dengan keadaan saat ini pun, Rainy sudah merasa nyaman.
“Jan! Kayaknya mau hujan deh, lo pegangan yang kuat, ya. Gue mau ngebut soalnya,” ucap Aksa ditengah lamunan Rainy, membuat gadis itu terkesiap karena terkejut.
“O-oh, iya iya.”
Rainy menuruti perintah Aksa untuk berpegangan, bukan dengan memeluk Aksa. Tapi, dengan memegang ujung jaket yang digunakan oleh Aksa.
Ketika tak merasakan gerakan dari Rainy, Aksa mengernyitkan dahinya. “Lo denger gak sih?” tanya Aksa sedikit berteriak.
“Denger, kok. Ini gue udah pegangan jaket lo,” jawab Rainy yang ikut berteriak.
“Ck!”
Kesal karena bukan itu yang dimaksud Aksa, cowok itu lantas membawa tangan Rainy supaya memeluk tubuhnya. Rainy mematung ketika kedua tangannya di genggam oleh Aksa, baru setelah kedua tangan Rainy ada diposisi memeluk Aksa, cowok itu melepaskan genggamannya.
Jangan ditanya bagaimana kondisi jantung Rainy saat ini. Sudah pasti berdebar dengan kencang. Bagaimana tidak? Posisinya ini loh. Bahkan tubuh Rainy dan Aksa hampir menempel. Wangi parfum di tubuh Aksa pun bisa tercium oleh Rainy.
“Pegangan yang kenceng!” titah Aksa.
Setelah itu, Aksa benar-benar melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Padahal 'kan jarak antara cafe dan komplek perumahan mereka tidak jauh-jauh amat. Tapi, jika Aksa tidak ngebut, sepertinya mereka berdua akan benar-benar kehujanan.
Begitu mereka sampai di depan rumah Rainy, gerimis mulai turun. Rainy bergegas turun dari motor Aksa dan meneduhkan di teras rumahnya.
“Kok rumah lo sepi?” tanya Aksa ketika melihat dari jendela, kondisi rumah masih dalam keadaan gelap.
“Oh itu … Tante Risa lagi pergi sama Om Abra,” kata Rainy menjawab pertanyaan Aksa.
“Jadi lo sendirian dong?”
Rainy mengangguk, dan perkataan Aksa selanjutnya membuat Rainy melotot tajam ke arah cowok itu.
“Awas ada yang ngintip di jendela kamar lo.”
“Lo pikir gue takut setan?!”
Aksa tertawa. “Ya siapa tau. Mau gue temenin nggak? Sampe Tante Risa pulang.”
Rainy tambah melotot lagi, lebih tajam dari sebelumnya. “Lo mau di grebek karena nginep di rumah gue?”
Aksa tertawa sambil meringis. “Berarti Tante Risa pulangnya besok, ya?”
“Habis ini langsung istirahat, Jan. Eh, tapi kalau gue telepon tetep di angkat, ya! Gue pulang dulu.” Buru-buru Aksa pulang ke rumahnya karena hujan sudah turun dan semakin lama semakin deras.
Rainy menarik napas panjang baru setelah itu masuk ke dalam rumah. Ia menyalakan lampu ruang keluarga dan dapur. Untuk ruang tamu biarlah gelap karena saat ini pun sudah malam dan tak ada orang di sana.
Tubuh yang terasa lelah membuat Rainy cepat-cepat membersihkan tubuhnya. Ia ingin beristirahat lebih awal supaya besok pagi tubuhnya kembali segar. Namun, sangat disayangkan karena ketika baru saja mengganti pakaian, perut Rainy malah keroncongan.
Rainy mendengus, dia yang awalnya ingin tidur kini malah pergi ke dapur. Saat melihat di meja makan tak ada apapun, Rainy belarih ke kulkas yang ternyata masih ada makanan yang bisa di hangatkan.
Pasti tante Risa sengaja menyimpannya untuk Rainy.
Di saat Rainy tengah menunggu makanan yang ada di dalam microwave, ponselnya yang berada di dalam kamar berdering. Dengan cepat Rainy mengambilnya. Nama Aksa tertera di sana membuat Rainy langsung menekan tombol hijau.
“Apa?” tanya Rainy.
“Buset! Kok ngegas, Jan?”
Jawaban Aksa membuat Rainy memutar bola matanya. “Hm … mau apa lo nelepon gue?”
“Emang gak boleh gue nelepon kalo gak ada keperluan?” tanya Aksa balik.
Rainy terdiam sambil matanya menatap ke dalam makanan yang hampir selesai. “Boleh sih, cuma kita udah ketemu di sekolah, di cafe tadi juga udah, dan sekarang lo masih mau ngobrol sama gue? Telepon pacar lo aja sana!”
“Gue nggak punya pacar, Jaaann.”
Rainy terdiam. “Y-ya cari dong. Mau sampe kapan lo jomlo?”
“Lah? Lo juga jomlo kalik,” ucap Aksa telak.
Rainy mendengkus keras. Ia bangkit dari duduknya untuk mengambil makan malamnya. Jujur saja, Rainy sangat lapar sekarang.
“Lagi ngapain lo?” tanya Aksa ketika mendengar suara grasak-grusuk dari tempat Rainy.
“Makan,” jawab Rainy singkat.
“Lo masak?”
“Nggak, tadi Tante Risa nyisain makanan di dalem kulkas.”
“Lo nggak takut di rumah sendirian? Mana lagi ujan deres gini,” tanya Aksa yang tak habis juga topik obrolannya.
“Nggaklah! Ngapain takut? Malahan setan yang takut sama gue,” ujar Rainy dengan nada sombong.
Di kurung dalam gudang gelap sjaa Rainy pernah, jadi buat apa takut di rumah sendirian sementara di rumah ini lampunya terang benderang, kecuali jika lampu film rumah ini mati semua, baru Rainy merasa takut. Rainy tersenyum miris saat ingatannya tanpa sengaja terlempar ke masa lalu.
“Ngapa dah lo nanya gitu? Lo takut ujan?”
“Nggak. Cuma takutnya lo takut di rumah sendirian aja, kan waktu mati lampu kemaren juga lo minta temenin gue.”
“Kan sekarang lagi gak mati lampu!” ucap Rainy ketus.
Tak terasa obrolan mereka terus berlanjut bahkan sampai Rainy selesai makan dan mencuci bekas makannya. Kini, Rainy sudah berada dalam kamar setelah mengunci seluruh pintu dan jendela.
Gadis itu duduk bersandar pada headboard ranjang sambil memeluk bantal dan menyelimuti kakinya supaya tidak kedinginan.
Telepon masih berlangsung, dan sekarang sudah sampai pada menit ke-39, tapi obrolan mereka belum juga terputus.
“Jan, inget besok, ya. Jangan lupa nonton,” kata Aksa.
“Iya iya. Udah berapa kali sih lo ngingetin gue? Gue belum pikun, Aksa!”
Aksa tergelak. “Ya siapa tau lupa.”
“Lagian lo tuh kenapa suka manggil gue Ujan? Kan nama gue Rainy … ” protes Rainy yang sebenarnya tidak suka namanya di ganti-ganti.
“Gak papa, biar beda dari yang lain. 'Kan artinya juga sama tuh, Hujan.” Aksa tergelak lagi, bahkan tawanya cukup keras apalagi ketika mendengar Rainy berdecak keras.
“Gantilah, jangan Hujan,” ujar Rainy yang lama-lama kesal juga karena ledekan Aksa.
“Gak mau, gue mau beda sama yang lain buat manggil lo. Lagian cuma nama panggilan ya nggak masalah dong! Akte lahir lo kan masih pake nama asli lo. Rainy Shakaela … ”
Rainy tak lagi fokus dengan omongan Aksa ketika tanpa sengaja netranya melihat pop up notifikasi di layar ponselnya.
Tiga buah pesan masuk secara bersamaan. Tapi, yang mengalihkan fokus Rainy bukan itu, melainkan nama yang mengirim pesan itu.
Riana, Bang Bara, dan Tante Devi alias ibu tirinya.