
Sejak kecil, bahkan sejak ibunya meninggal dunia dan Rainy ikut Papanya. Rainy tidak pernah takut akan kekurangan uang. Ayahnya banyak uang, dan tidak akan habis hanya untuk jajan Rainy yang tidak seberapa.
Meskipun Rainy tidak dianggap oleh ayahnya, tapi Rainy tahu, ayahnya tidak akan pernah berhenti untuk memberikan uang bulanan. Semarah apapun ayahnya, tetap tidak akan menghukum Rainy dengan berhenti memberikan uang bulanan.
Alasannya simpel, ayahnya tidak mau Rainy mempermalukan dirinya karena masalah uang jajan. Dengan latar belakang keluarga terpandang, akan memalukan jika ada orang yang mengetahui salah satu anak gadisnya tidak diberikan uang.
Bukankah akan mencoreng nama baik ayahnya sebagai kepala keluarga?
Tapi, saat jadwal biasanya ayahnya mengirim uang, sampai sekarang belum juga masuk ke dalam rekeningnya. Rekening atas nama Bhara, kakak laki-laki Rainy. Padahal tidak pernah telat, tapi tidak kali ini.
Rainy menggigit kuku jarinya, berusaha berpikir positif. Mungkin saja, sedang ada kendala atau masalah yang dialami oleh ayahnya atau mungkin ayahnya sedang sibuk.
Rainy mencoba menunggu dengan sabar, sambil berusaha untuk tetap berpikir positif. Tapi, sampai keesokan harinya belum juga muncul notifikasi tanda uang masuk ke rekening.
Bahkan Rainy sampai melamun di perpustakaan, Rainy baru tersadar ketika pundaknya ditepuk oleh seseorang yang membuatnya terperanjat.
“Aksa? Lo bikin kaget tau nggak?” Rainy melirik Aksa yang terkekeh di sampingnya dengan kesal.
“Lagian lo di panggilin nggak nyaut, mikirin apa sih?” tanya Aksa, menarik kursi di sampingnya. Kemudian duduk dekat dengan Rainy yang tadinya sedang membaca.
Rainy diam dan menghela napas. “Nggak ada,” jawabnya sambil menggeleng.
Aksa tahu Rainy bohong, tapi tidak bertanya lagi sebab Aksa malah sibuk memandangi wajah Rainy yang menarik dimatanya.
Tapi Rainy jadi tidak nyaman, gadis itu kembali menoleh ke arah Aksa dan mendapati Aksa tersenyum manis hingga matanya menyipit.
“Lo gila? Kenapa senyam-senyum gitu?” Rainy bertanya dengan wajah datar.
Senyum Aksa memudar, lalu berdecak karena reaksi Rainy itu.
“Menurut lo, gue ganteng nggak?” Aksa tiba-tiba menghadap Rainy, tangannya meraih buku yang Rainy baca dan menutupnya.
“Mungkin bagi cewek-cewek yang nggak tau lo luar dalam, ngira lo itu guantenggg buangetttt. Tapi, dimata gue, lo sama aja kayak tukang parkir yang ada di pasar.”
Harusnya sih, harusnya ya Aksa jangan terlalu berharap dengan jawaban Rainy yang memang di luar ekspektasi. Tapi, mendengarnya langsung ternyata cukup membuat Aksa tertusuk-tusuk hatinya. Alias nyeri woiii.
Tapi, “Oh ya? Emangnya lo tau gue luar dalam?” tanyanya dengan seringai jahil. Luar dalam versi Aksa ini berbeda dengan luar dalam versi Rainy.
Rainy nampak berpikir, ia memiringkan kepala ketika sadar kalau perkataannya ada yang salah sedikit. “Maksud gue, meskipun muka lo ganteng, tapi kalau ngeliat dari sifat dan kelakuan lo ini orang-orang yang udah kenal lama sama lo bakal mikir, 'apa sih yang bisa di liat dari Aksa kecuali muka?'” kata Rainy sambil berusaha nencerna kata-katanya sendiri.
“Nah sementara orang-orang yang nggak kenal sama kelakuan lo yang 'sebenernya' itu kayak apa pasti selalu mikir 'Ya Tuhan, itu cowok apa jelmaan malaikat? Kok gantengnya kebangetan.”
Tahu tidak? Ketika mengatakan kalimat terakhir itu, ekspresi Rainy benar-benar datar bahkan kelihatan seperti bergidik. Alias, merinding.
Aksa mendengus. “Emangnya sifat sama kelakuan gue di mata lo itu kayak apa? Kan lo kenalnya sama Aksa versi masih kecil. Dan ketemu lagi pas udah gede, pasti banyak yang berubah kan?”
Rainy lagi-lagi merasa apa yang Aksa katakan ada benarnya. Rainy yang terlalu terpaku pada sifat Aksa yang masih anak-anak, bahkan dirinya yang dulu dan sekarang saja sudah jauh berbeda.
“Iya, sih. Tapi gue masih ngeliat lo sama kayak dulu.” Rainy meringis.
“Apa?” tanya Aksa penasaran.
“Rese.”
“Tapi gue rese cuma sama lo,” kata Aksa dengan wajah serius.
“Yakin? Emang sama yang lain nggak?” tanya Rainy tidak percaya.
“Yakin seribu persen.”
Rainy menggeleng, tetap tidak percaya. Tapi satu hal yang Rainy sadari, berbicara dengan Aksa ternyata bisa membuatnya lupa dengan pikiran-pikiran negatif yang menyerangnya karena masalah uang dan papanya.
Meskipun obrolan mereka sangat random tapi ternyata tetap nyambung.
Rainy dan Aksa terkesiap ketika tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi dari ponsel yang berbunyi secara bersamaan. Rainy dan Aksa saling berpandangan sebelum melihat siapa yang mengirim pesan.
BACOTERS SQUAD
Bagas membuat grup 'BACOTERS SQUAD.'
Bagas menambahkan Anda.
Bagas menambahkan Aksara.
Bagas menambahkan Ardiyan.
Bagas menambahkan Dylan.
Bagas menambahkan Alika.
Dylan:
Grup apa ni woi.
Ardiyan:
Tanya @bagas.
Bagas:
Woi woi! Gue punya hoteu Neyuws.
Very very hoteu Neyuws.
Dylan:
Hoteu Neyuws apaan anjir.
Hotma Paris?
Bagas:
Anjrot! Bukan!
Itu loh, berita yang lagi panas.
Ardiyan:
Hot news kali ah.
Typo lo nggak ada bagus-bagusnya.
Vania:
Berita apaan emang sampai lo buat grup khusus ber-tujuh gini?
Bagas:
Jadi gini …
Dylan:
Jadi apa?
Bagas:
Jadi …
Dylan:
Minta gue ketekin ya lo?
Jadi apa BagASU!
Bagas:
Anj! Lo ya!
Jadi gue dapet berita panas, tentang sebuah kejadian yang yang terjadi ketika kemarin pagi, di bawah tangga.
Deg!
Rainy dan Aksa kembali berpandangan ketika membaca pesan terakhir dari Bagas. Perasaan mereka mulai tidak enak, ingatan tentang kejadian di pagi hari di bawah tangga kembali terngiang di dalam otak mereka.
Sampai, hal yang dikhawatirkan terjadi ketika Bagas mengirim sebuah foto.
Bagas:
[Foto Aksa dan Rainy yang tidak sengaja terjatuh dan bibirnya menempel]
Gila nggak sih? Cip***an di bawah tangga, dengan posisi cewenya yang di atas.
Anjirr! Sayang banget fotonya nge-blur. Bikin gue nggak bisa liat siapa si jantan dan betina yang ada di foto.