
**Aksa** pergi ke toilet ketika **Ardi** bilang bahwa setelah ini mereka ada jam kosong. Padahal Aksa merasa tidak terlalu lama berada di toilet, tapi begitu kembali ke dalam kelas, Aksa merasa ada yang kosong.
Memang bukan kelas yang kosong, karena nyatanya hampir semua anak kelas masih ada di sana. Sedang mengerjakan tugas yang guru mereka berikan sebagai pengganti tidak masuknya salah satu guru.
Tapi, ada satu kursi yang menarik perhatiannya. Membuat Aksa melangkah ke sana yang memang satu arah dengan mejanya sendiri.
Aksa berhenti tepat di depan meja Rainy, dimana si pemilik sudah tidak ada. Padahal tadi sebelum ke toilet gadis itu masih di tempat duduknya.
“Rainy kemana, Van?” tanya Aksa kepada Vania yang masih mencoret-coret di buku tulisnya.
“Dia ke perpustakaan, barusan pergi,” kata Vania tanpa menoleh, tetap fokus pada bukunya.
Aksa ber-oh kemudian melangkah menuju tempat duduknya sendiri. Di mejanya, Aksa tengah berpikir apakah akan menyusul Rainy atau tidak, tapi akal sehatnya seolah mengingatkan Aksa kalau Rainy bukan siapa-siapanya sehingga setiap saat Aksa harus bersama gadis itu.
Jadilah Aksa mengerjakan tugas dan tidak menyusul Rainy. Toh, gadis itu tidak mungkin hilang di area sekolah. Tapi, tapi kenapa sampai istirahat Rainy belum juga kembali?
Selesai mengerjakan tugas, Aksa bingung lagi. Menyusul Rainy atau tidak? Hampir satu jam gadis itu pergi, dan belum kembali. Apalagi jam istirahat tidak lama lagi akan berakhir.
Sampai akhirnya Aksa berdiri dari duduknya, tak tahan dengan otaknya yang terus memikirkan Rainy.
“Woy! mau kemana lo?”
Aksa menoleh ke arah **Bagas**, cowok itu menatapnya penuh selidik. Aksa menaruh buku tugasnya di depan Bagas membuat cowok itu bingung.
“Gue nitip, mau ke perpustakaan dulu. Ada urusan,” ucap Aksa kemudian melangkah pergi.
“Woy! Ada biaya jasa titipnya nih!” seru Bagas dengan suara keras sampai beberapa anak kelas menatap ke arahnya.
“Nanti gue beliin basreng!” balas Aksa tak kalah keras.
Tak langsung menuju perpustakaan, Aksa terlebih dahulu pergi ke kantin dan membeli satu bungkus roti serta air mineral. Di jalan, Aksa mendengus sambil menatap benda yang dibawanya.
“Ck! Bisa-bisanya gue malah beliin dia jajan. Awas aja kalo nggak ngomong makasih,” dumel Aksa sambil terus melangkah.
Setibanya di perpustakaan, Aksa langsung mencari keberadaan Rainy. Sampai Aksa melihat sosok gadis yang dicarinya itu, yang ternyata tengah bersama orang lain.
Aksa tertegun, melihat Rainy mengobrol dengan kakak kelas yang pernah dia lihat tengah mengobrol dengan Rainy saat di UKS. Lalu Aksa meraba dadanya dan meringis sambil berkata, “Kok agak nyeri, ya?”
Meskipun begitu, langkah kaki Aksa mendekat ke arah mereka. Tatapan tidak suka dia layangkan apalagi ketika Rainy bilang bahwa gadis itu akan menjauh darinya. Apa maksudnya itu?!
“Emang kenapa kalau dikira pacaran? Lo nggak suka?”
Ucapan itu keluar begitu saja untuk menimpali kata-kata Rainy yang membuatnya agak kesal.
Pada awalnya Aksa senang karena atensi Rainy tetap tertuju padanya, tapi ketika Daffa membuka suara, Rainy beralih lagi pada cowok itu. Sepanjang obrolan mereka, Aksa terus menatap kakak kelasnya itu dengan tajam.
Tak ada wajah ramah sedikitpun, tapi sepertinya Daffa sama sekali tidak terganggu sampai tiba-tiba ponselnya berdenting tanda pesan masuk bersamaan dengan ponsel milik Rainy.
Pesan itu dari grup yang Bagas buat, kemudian matanya mendelik ketika membaca pesan yang juga dikirim oleh Bagas.
“Anjir! Dia ngikutin gue?” ucapnya lirih, tapi sepertinya Rainy mendengar hingga gadis itu menoleh ke samping.
“Bagas juga ke sini?” tanya Rainy yang dibalas gelengan oleh Aksa.
Entah kebetulan atau memang Bagas penguntit, mereka selalu tertangkap kamera ponsel Bagas ketika tengah berada dalam situasi aneh. Dan kenapa selalu Bagas yang pertama melihat mereka?
“nggak tau, nguntit gue mungkin dia.” Aksa menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya.
BACOTERS SQUAD
Bagas
[Mengirim foto dan Aksa yang tengah duduk bertiga di perpustakaan]
Pepet terus, Aksa. Jangan sampai ada cinta segitiga di antara kita.
**Dylan**
Cinta segitiga siapa? Aksa? Sama siapa?
Woy! Jawab woy! @Bagasu @Aksarara.
Bagas
Ya liat orang yang ada di foto aja ngapa sih? Perlu gue sebutin semua merk?
Dylan
Boleh, boleh, biar gue gak capek mikir.
Ardi
@Dylan dih!
Aksa
Cinta segitiga apaan, anjirr! Kagak ada!
Bagas
Ah! Masaaa? Gue nggak percaya tuh!
Tatapan lo udah kayak mau makan orang.
Aksa
Iye! Mau makan pala lo!
Bagas
Wessss, pelan-pelan dong pak sopir.
Dylan
Anjayyy! Beneran, Sa? Sama siapa?
Oh, sama Rainy, ya?
Saingannya siapa?
Aksa
Bacott!
Ardi
Kok gue kayak kenal, ya?
Eh, itu bukannya kakak kelas yang jadi ketua PMR itu, ya? Yang sering kita liat pas selesai upacara.
Bagas
Waduhhh! Berat nih saingan Aksa! Kakak kelas, cuy!
Vania
Dylan
Ya baca dong! Biar tau kenapa kita berisik.
Vania
Diem lo!
Dylan
<°3°>
Alika
@Rainy fix! nanti lo harus klasifikasi.
Ardi
Klarifikasi ogeb!
Alika
Oh iya, itu maksudnya.
***
Meskipun banyak pertanyaan yang ingin teman-teman Aksa lontarkan, tapi mereka tak mendapatkan kesempatan itu. Pasalnya jam mereka terisi sampai waktunya istirahat kedua.
Ketika mereka semua pikir sudah mendapatkan kesempatan begitu bel istirahat berbunyi, sayangnya Aksa di panggil oleh salah satu guru olahraga sekolah mereka. Katanya mengenai pertandingan basket.
Bukan hanya Aksa saja, tapi ketiga temannya juga. Tapi, tetap saja, di waktu kebersamaan mereka tak juga mendapat kesempatan untuk menginterogasi Aksa. Tentunya membuat Aksa merasa tenang karena tak akan mendapatkan pertanyaan dari teman-temannya.
Lain dengan tiga siswi yang kini tengah duduk di kursi kantin. Sambil di temani makanan untuk mengganjal perut. Perasaan Rainy sudah tidak tenang sejak tadi, apalagi ketika menyadari tatapan berbeda dari kedua temannya.
“Rai?” panggil Vania.
“Hm?” sahut Rainy.
“Itu yang di grup beneran?”
“Apa? Yang mana?”
Vania berdecak, sementara Rainy memakan seblaknya dalam diam sesekali meniup ketika terasa panas.
“Lo ada something sama Aksa? Eh, kalau kata Bagas malah cinta segi tiga. Beneran itu?”
Hampir saja Rainy tersedak kuah seblak. Namun Rainy segera mengambil air dan meminumnya. Kepalanya menggeleng keras untuk menyangkal semua pikiran-pikiran temannya itu.
“Nggak! Beneran, nggak ada. Gue juga kaget tadi tiba-tiba Aksa dateng. Kalo soal kakak kelas itu, dia emang lagi cari buku buat referensi. Kebetulan dia juga yang bantu jaga UKS waktu gue sakit, udah gitu aja. Kalian aja yang terlalu hiperbola,” jelas Rainy panjang kali lebar.
Vania dan Alika mengangguk dan ber-oh dengan membentuk mulut mereka seperti huruf O. Rainy menghela napas lega, karena kesalah-pahaman antara mereka akhirnya selesai.
“Eh, kata Om gue lo udah diterima kerja, ya? Selamat, ya! Jangan lupa traktir kalo udah gajian,” seru Alika tiba-tiba.
Rainy hampir saja melupakan itu, kemudian ia mengangguk dan tersenyum senang. “Makasih ya, Al. Makasih banget, lo udah bantuin gue dapat kerjaan. Meskipun jalur orang dalem, tapi gue seneng banget.”
“Halah! Biasa aja, kok.” Alika mengibaskan rambutnya ke belakang, terlihat sombong tapi sebenarnya Alika ikut senang ketika melihat Rainy senang.
“Jadi habis pulang sekolah lo bakal kerja terus pulangnya jam berapa?” tanya Vania.
“Jam delapan gue udah pulang. Karena jam sembilan cafe udah tutup katanya,” jawab Rainy.
“Terus lo pulang sama siapa? Kan bahaya kalo lo pulang sendiri.” Meskipun senang karena sahabatnya senang, tapi Vania tetap khawatir.
“Gue bisa pesen ojol. Kan pas gue pulang masih ada pegawai cafe, jadinya sambil nunggu di sana gue bakal aman,” sahut Rainy.
Alika dan Vania sama-sama mengembuskan napas lega. “Nanti kalo sempet gue sering-sering mampir ke sana lah,” kata Alika.
“Gue juga,” sahut Vania.
Rainy mengacungkan jempolnya dan mereka mengakhiri waktu makan mereka untuk kembali ke kelas.
***
“Ngaku lo!”
“Apaan sih, anjir?” Mata Aksa mendelik tajam ke arah Bagas yang baru saja menepuk keras bahu kanannya.
“Lo suka sama Rainy, ya?”
“Kagak!”
“Halah! Muka lo udah ngaku duluan, kok.”
“Bodo, ah!” Aksa memalingkan wajah, berjalan cepat meninggalkan teman-temannya yang semakin ditinggal semakin mengejar.
“Tenang, Aksa! Gue juga dukung lo kok. Gue bakal bantu menghempaskan kuman yang ganggu lo sama Rainy,” sahut Dylan kemudian terkikik sendiri.
“Kebetulan aja itu kita lagi duduk bertiga,” elak Aksa.
“Kebetulan apa kebetulan? Bukannya lo cepet-cepet ngerjain tugas buat nyusulin Rainy, ya? Jangan berdusta wahai cucu Adam!” kata Bagas dengan nada meledek.
Aksa menatap Bagas dengan tajam. “Lo nguntit gue, ya? Kok lo ada dimana-mana sih?”
Bukannya menjawab pertanyaan Aksa, Bagas malah mengedikkan bahunya.
Mereka telah kembali dari ruang guru, tempat mereka dipanggil. Sekarang mereka berempat tengah berjalan menuju kelas untuk melanjutkan pelajaran mereka yang tersisa beberapa jam sebelum pulang.
Setenang-tenangnya Aksa, itu hanya berjalan beberapa saat saja. Begitu mereka terbebas, Aksa langsung di tanya-tanya. Apalagi ketika pembicaraan mereka terdengar menyebalkan di telinga Aksa.
“Seminggu lagi kita bakal tanding basket, jadi beberapa hari ini kita bakal sering pulang telat karena harus latihan. Jadi, kalau udah bel pulang, kita nggak langsung pulang. Tapi ke lapangan buat latihan,” celetuk Ardi membuat ketiganya menoleh.
Aksa terdiam, itu artinya selama seminggu ke depan Aksa akan jarang pulang satu motor dengan Rainy. Entah kenapa Aksa merasa … berat?
Lalu jika tidak pulang bersamanya, Rainy pulang dengan siapa?
Pikiran Aksa tiba-tiba tertuju pada Rainy, hingga panggilan dari Bagas tak terdengar di telinganya.
PLAK!
“Anj!” umpat Aksa sambil mengusap belakang kepalanya lalu menoleh pada Bagas yang dari tadi memang main tangan dengan tubuhnya ini.
“Lo kenapa sih?” tanya Aksa kesal.
“Lo di panggilin nggak nyaut, terpaksa gue tampol lo baru deh lo nengok,” balas Bagas tersenyum miring.
Aksa mendengus. “Kenapa manggil gue?”
Bagas menunjuk ke arah depan, sambil mulutnya berkata, “Itu Rainy, kan? Yang lagi berduaan sama kakak kelas itu, yang jadi saingan lo.”
“Hah?”