Rainy

Rainy
Bhara, Yang Rainy Rindukan



“Halo, Bang?”


“Halo, Dek, kok belum tidur jam segini?” tanya Bhara diseberang sana.


“Ini mau tidur, tapi Abang tiba-tiba nelpon,” jawab Rainy.


“Ah, Abang ganggu, ya? Kalau kamu mau tidur kita bisa ngobrol lagi besok.”


Rainy segera menggeleng, padahal Bhara tidak akan bisa melihatnya. “Nggak, Bang! Nggak papa, lanjutin aja ngobrolnya. Kalo nunggu besok takutnya malah nggak jadi.”


Ucapan Rainy membuat Bhara terdiam. “Maaf … ”


“Maaf kenapa?” Meskipun tahu maksud dari kata maaf itu, tapi Rainy tetap ingin bertanya.


Bukannya menjawab Bhara malah, “Bisa kita ubah ke vidcall aja, Dek? Abang pengen liat wajah kamu,” kata Bhara, membuat Rainy langsung mengiyakan.


Jika ada yang bertanya siapa orang yang paling Rainy rindukan, maka Rainy akan menjawab Bhara lah orang yang paling Rainy rindukan saat ini. Selama ini hanya Bhara yang masih peduli padanya, disaat ayah kandungnya sendiri tak mempedulikannya dan lebih memilih adik tirinya.


Sebelum Bhara kuliah dan Rainy masih SMP, Rainy terus mengikuti Abangnya. Kemanapun, asal tidak berdiam dirumah. Yang kadang malah membuat Bhara kesal tapi tetap mengajak adiknya kemanapun dia pergi.


Bhara selalu ada untuk Rainy. Bhara menjadi pengganti ayahnya dan ibunya serta seorang kakak disaat bersamaan. Tapi, semuanya berubah ketika Bhara lulus SMA dan harus melanjutkan pendidikan ke luar negeri.


Tak ada lagi sosok Bhara yang bisa Rainy peluk, tak ada lagi Bhara yang akan mengajak Rainy pergi entah kemana-mana. Tak ada lagi Bhara yang bisa menjadi tempatnya berkeluh kesah dan bersandar.


Bahkan, sekarang hubungan mereka seolah merenggang. Jarak dan waktu benar-benar membuat keduanya sulit untuk berkomunikasi. Membuat Rainy sekarang merasa benar-benar sendirian.


Telepon sudah berubah menjadi panggilan video, dimana Rainy akhirnya bisa melihat wajah sang kakak setelah hampir dua minggu tak melihat wajah itu. Rasanya Rainy ingin menangis, meraung-raung dan berteriak. Mengeluarkan unek-unek yang dia simpan selama ini. Tapi, Rainy masih waras untuk tidak melakukannya.


“Akhirnya Abang bisa liat bidadari lagi setelah sekian lama,” ucap Bhara membuat Rainy bukannya tersipu malah tertawa.


“Abang nggak kuliah?” tanya Rainy.


Bhara yang tengah berbaring lantas mengernyitkan dahinya, tanda tak suka dengan pertanyaan Rainy.


“Tolong ya, Ai, waktu kita ngobrol gini jangan bahas kuliah. Ini Abang juga baru pulang, masa mau kuliah lagi? Abang juga butuh istirahat!”


Rainy tertawa lagi. “Di sana sekarang jam berapa, Bang?”


Rainy melihat Bhara memutar bola matanya, ia cekikikan melihat respon itu. “Tiap kita ngobrol gini, pasti kamu selalu nanyain di sini jam berapa. Sekarang lagi jam tiga sore, kan beda tujuh jam, Dek. Masa lupa terus sih?”


Rainy tertawa lagi. Sementara Bhara tersenyum melihat tawa itu. Sesaat hanya ada hening karena Bhara tengah mengamati wajah adiknya. Sampai Rainy berdehem karena terus di tatap oleh Bhara.


“Maaf ya, Dek,” ucap Bhara tiba-tiba.


“Kan tadi udah.”


“Iya, nggak papa. Pokoknya Abang minta maaf. Apalagi hampir dua minggu ini kita jarang ngobrol panjang. Telepon kamu terakhir kali juga nggak Abang angkat, baru bisa bales sekarang ini. Maaf, pasti kamu kesel kan?”


Rainy terdiam, kemudian kepalanya mengangguk. “Emang agak kesel sih, emang segitu banyaknya tugas ya sampai nggak bisa ngeluangin waktu setengah jam buat ngasih kabar ke adeknya. Tapi, aku mikir lagi, kan aku bukan anak kuliahan yang tau sebanyak apa tugas-tugas itu. Jadi aku masih ngewajarin lah, pasti Abang juga capek, butuh istirahat dan nggak mau di ganggu.”


Bhara tersenyum ketika Rainy mulai sesi curhatnya. Mulut itu tak akan berhenti sebelum Rainy memang benar-benar selesai dan lelah bicara.


Bhara mengubah posisinya menjadi duduk dan bersandar pada headboard ranjang. Sementara Rainy yang merasa tenggorokannya kering langsung menghentikan ucapannya.


“Tunggu, Bang. Aku minum dulu.”


Bhara tertawa kencang sampai Rainy yang tengah mengambil gelas di atas nakas itu mencebik kesal. Rainy meminum air digelas itu sampai habis.


“Nggak usah ketawa!” kata Rainy dengan nada kesal.


“Makanya kalau ngomong itu jangan terlalu ngebut. Di rem dulu baru lanjut.”


Rainy hanya mengangguk, setelah kembali ke tempat semula, Rainy menatap Abangnya yang juga menatap dirinya.


“Kamu betah di sana, Dek?”


“Hm? Betah kok, betah banget malah. Aku bisa bebas di sini, punya banyak temen juga.”


Bhara mengembuskan napas lega. Selama ini Bhara bukannya tidak tahu kalau Rainy tidak punya teman satupun di sekolah, bahkan Rainy kerap kali ketika pulang sekolah mengadu padanya jika gadis itu hampir di bully. Beruntungnya Rainy selalu bisa melarikan diri dan pergi ke ruang guru, jadi bisa aman.


Bahkan Rainy terkadang curhat sambil menangis. Gadis itu selalu menanyakan pertanyaan yang sama. Dia salah apa? Mengapa semua orang membencinya bahkan banyak yang tak menganggapnya ada.


Tapi apa yang bisa Bhara lakukan? Bhara hanya bisa memeluk Rainy dan mengucapkan kata maaf lalu menenangkan gadis itu. Bhara bukan orang dewasa yang punya kuasa. Bhara tak bisa melindungi gadis itu setiap waktu. Apalagi sekarang, Bhara sudah tidak lagi tinggal di negara yang sama dengan Rainy.


“Syukurlah, Abang seneng kalau kamu seneng. Oh ya, Papa ada telepon kamu?”


Rainy menggelengkan kepalanya. “Papa nelepon cuma sekali, itupun sambil marah-marah. Sampai sekarang nggak ada tuh nelepon atau ngirim aku pesan. Mungkin Papa masih marah besar sama aku.”


Untuk ini Bhara tak bisa berkata-kata. Ketidakpedulian sang papa kadang membuat Bhara marah dan bertanya-tanya. Sama seperti pertanyaan Rainy. Rainy punya salah apa sampai papa segitu tidak sukanya dengan putri sendiri?


“Ya udah, di sana kamu baik-baik. Jangan suka ngerepotin Tante Risa. Nanti kalau Abang pulang, Abang bakal ke sana dan bilang makasih sama Tante-”


“Emangnya kapan Abang pulang?” tanya Rainy yang memotong ucapan Bhara.


Bhara terdiam untuk berpikir. “Mungkin pas ulang tahun kamu, Abang usahain pulang.”


Ulang tahun Rainy, artinya dua bulan lagi. Rainy tersenyum dan mengangguk. Semoga Bhara tak lupa dengan apa yang baru saja dia ucapkan.


“Tapi Abang nggak bisa janji ya, Dek. Abang nggak mau kamu terlalu berharap Abang bisa pulang di hari ulang tahun kamu. Kan itu bukan waktu libur di kampus Abang.”


Seolah tahu bahwa Rainy akan banyak berharap, maka Bhara akan mengingatkan sejak awal bahwa itu bukan janji. Hanya saja akan Bhara usahakan.


“Iya, aku ngerti.”


“Oh ya, waktu itu kamu tiba-tiba nelpon Abang ada apa? Kamu ada masalah?” tanya Bhara.


“Nggak kok, cuma pengen ngobrol aja,” jawab Rainy cepat.


Meskipun sebenarnya ada, apalagi soal ancaman ibu tirinya dan uang jajan Rainy yang di stop. Rainy tak ingin membuat Bhara kepikiran, dan berakhir bertengkar dengan sang papa.


“Kalau ada apa-apa bilang aja, Dek. Jangan di pendem. Biasanya kamu ceplas-ceplos aja sama Abang. Jangan bikin Abang khawatir, ya. Ada masalah apa langsung ngomong ke Abang, meskipun Abang nggak bisa bantu, setidaknya Abang tau apa hal sulit yang lagi kamu alamin.”


***


“Jan, lo kemaren dari mana sih? Kok sore-sore baru pulang?”


“Kan gue udah bilang kemaren sama Tante Risa, masa lo nggak denger sih?”


Aksa menggelengkan kepalanya. “Nggak percaya gue. Lo kalau mau bohong yang pinter dikit napa.”


Mereka tengah berjalan di koridor menuju kelas. Begitu keluar dari parkiran, Rainy langsung di tanya-tanya oleh Aksa.


“Nggak mungkin lah lo lagi ngerjain PR, kan semua PR lo udah lo kerjain di sekolah.”


Rainy meneguk ludahnya, kemudian ia meringis sendiri. Benar juga, jika ia jadi Aksa pun pasti tidak akan percaya.


“Ya itu urusan gue lah gue mau kemana. Ngapa lo kepo banget sih?” Rainy memalingkan wajahnya, sedang menutupi rasa gugup karena takut Aksa akan tahu kalau Rainy akan kerja part time.


“Emang nggak boleh cuma nanya doang?”


“Nggak!” Karena gugup, Rainy tak sadar telah meninggikan suaranya membuat Aksa terhenyak dan berhenti melangkah.


Rainy ikut berhenti lalu menoleh ke belakang dimana Aksa tengah terbengong.


“Ngapa berhenti? Ayo, lanjut!”


Aksa pun tersadar, lantas mengangguk dan melanjutkan perjalanan menuju kelas mereka. Sesekali Aksa menoleh ke samping untuk melihat Rainy. Rainy yang sadar dengan tatapan Aksa itu tak bisa untuk tidak gelisah.


Padahal hanya hal sepele, tapi yang Rainy tidak mau Aksa tahu adalah bahwa Rainy tengah punya masalah dengan keuangannya. Rainy tidak mau Aksa kasihan melihatnya, Rainy tidak suka dikasihani.


Dan ujung-ujungnya Aksa akan mengadu pada tantenya atau kedua orang tua Aksa. Rainy tidak mau, ia tidak mau ada yang tahu masalahnya. Saat cerita ke tante Risa pun, Rainy tak menceritakan tentang uang jajannya yang diberhentikan.


“Oke kalau lo nggak mau ngasih tau gue, biar gue yang nyari tau sendiri,” ucap Aksa kemudian.


“Aksa!” Rainy menatap Aksa tajam, tapi Aksa malah mengendikkan bahunya.


Ketika hendak protes, ternyata mereka sudah sampai kelas. Rainy hanya bisa bungkam dan menyimpan kekesalannya dalam diam karena tak ingin membuat keributan di pagi hari.


Ketika pelajaran pertama sudah selesai, pelajaran kedua sebelum istirahat akan dimulai. Tapi ternyata guru yang akan mengajar tidak masuk dan hanya memberikan tugas. Rainy cukup senang karena setelah ini Rainy bisa pergi ke perpustakaan untuk membuat dirinya tenang.


Jadi setelah mengerjakan tugas dari guru yang tidak masuk, Rainy menitipkan bukunya pada Vania. Dan Rainy langsung bergegas pergi ke perpustakaan sebelum bel istirahat berbunyi.


Di perpustakaan cukup sepi, suasana yang benar-benar bisa membuat Rainy tenang. Setelah mencari buku yang diinginkan, Rainy mencari tempat duduk yang benar-benar tidak ada orang di sana.


Sampai tiba-tiba Rainy merasa ada seseorang yang ikut duduk di sampingnya, membuatnya menoleh dan terkejut melihat siapa orang itu.


“Eh, Kak Daffa?”


“Hai,” sapa Daffa sambil melambai kecil.


“Baca buku sendirian?” tanya Daffa.


Rainy mengangguk. “Kakak baca buku juga?”


“Iya, mau ikut olimpiade makanya harus rajin baca buku,” kata kak Daffa sambil menunjuk buku yang dibawanya.


Tak Rainy sangka akan bertemu dengan Daffa di tempat ini, yang malah membuat keduanya mengobrol dan melupakan buku di atas meja. Padahal awalnya Rainy mencari ketenangan.


“Pacar lo mana?”


“Pacar?” Rainy mengernyit bingung, dia mana punya pacar.


“Itu, yang nemenin lo di UKS kemaren.”


Rainy berpikir sampai dirinya teringat dengan Aksa. Hanya Aksa laki-laki yang dekat dengannya akhir-akhir ini.


“Oh, nggak ikut. Lagian dia bukan pacar gue, Kak,” kata Rainy mengklarifikasi.


“Gue kira kalian pacaran. Keliatan deket banget soalnya.” Daffa terkekeh, sementara Rainy malah menaikkan sebelah alis.


Masa sih?


“Kalau gitu gue bakal jauh-jauh deh dari Aksa, biar nggak dikira pacaran,” ucap Rainy membuat Daffa tergelak.


“Emang kenapa kalau dikira pacaran? Lo nggak suka?”


Itu bukan Daffa yang bicara, tapi seseorang yang tiba-tiba datang sambil meletakkan botol air mineral dan sebungkus roti di hadapan Rainy. Membuat gadis itu terkejut ketika matanya bertatapan dengan Aksa yang menatapnya kesal.


“Kok lo tau gue di sini?” tanya Rainy bingung.


“Gue selalu tau di manapun lo berada.” Aksa tersenyum miring lalu ikut mendudukkan dirinya di samping Rainy. Jadi posisi Rainy kini berada di tengah-tengah antara Aksa dan kak Daffa.


Sementara Rainy memutar bola matanya.


“Nih makan.” Aksa menunjuk air mineral dan roti yang ada di hadapan Rainy.


Gadis itu menoleh bingung, “Buat gue?”


“Bukan! Buat setan. Ya buat lo lah.”


“Serius? Kenapa tiba-tiba?”


“Lo nggak liat sekarang jam berapa? Lo dari tadi belum makan, nanti lo sakit lagi.”


Sejenak, Rainy dan Aksa melupakan kalau di sana masih ada satu orang yang sekarang sedang menatap keduanya dengan tatapan yang sulit di artikan. Daffa terabaikan, sejak kedatangan Aksa atensi Rainy selalu tertuju pada Aksa.


“Ehem!” Daffa berdehem, barulah Rainy tersadar kalau masih ada Daffa di sana.


“Eh, ada lo, Kak?” Aksa seolah baru menyadari ada Daffa di sana, Rainy hanya meringis karena merasa bersalah.


“Iya, dari tadi. Sebelum lo,” kata Daffa.


Seketika suasananya berubah, apalagi ketika Aksa menatap kakak kelas mereka itu tajam. Bahkan Rainy yang ada ditengah-tengah merasa tidak nyaman.


Sampai tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponselnya dan ponsel milik Aksa. Keduanya berpandangan setelah itu sama-sama membuka ponsel dan melihat siapa yang mengirim pesan.


BACOTERS SQUAD


Bagas


[Mengirim foto Rainy dan Aksa yang tengah duduk bertiga di perpustakaan]


Pepet terus, Aksa. Jangan sampai ada cinta segitiga di antara kita.


( ̄∇ ̄)