Rainy

Rainy
Diterima



“Ini bener kan alamatnya?”


Rainy bergumam sembari melihat sebuah bangunan di depannya, sesekali menunduk untuk melihat ponsel yang berisi alamat sebuah cafe yang kata Alika milik pamannya gadis itu.


Setelah mengecek beberapa kali untuk memastikan ia tidak salah tempat barulah Rainy memasuki pintu cafe tersebut. Cafe tak terlalu ramai saat ini, hanya ada beberapa orang yang sedang minum kopi sendirian dan juga ada yang sambil mengerjakan sesuatu.


“Selamat datang, mau pesan apa?” tanya seorang perempuan yang bekerja sebagai kasir di sana ketika melihat Rainy berjalan mendekat dengan raut wajah kebingungan.


“Mohon maaf, Kak. Saya tidak ingin pesan apa-apa, tapi kata teman saya di sini buka lowongan kerja, ya, Kak? Apakah saya masih bisa daftar?” Rainy bertanya dengan agak hati-hati.


Perempuan di depannya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. “Masih-masih, bisa tunggu sebentar? Saya telepon atasan dulu kalau ada yang mau melamar kerja.”


Rainy mengangguk, menunggu kasir itu menelepon atasannya sambil Rainy mengamati sekeliling cafe yang baru Rainy sadari tempat ini cukup bagus.


Cafe ini bergaya vintage. Menggunakan perabotan yang mayoritas berbahan kayu dengan didominasi warna coklat yang menambah kesan lawasnya terasa.


Terdapat ornamen hiasan-hiasan seperti replika sepeda yang digantung, model jam dinding, sampai lampu-lampu klasik yang dipasangi kandil.


“Dek, silakan tunggu sebentar, Pak Alvin, pemilik cafe ini sebentar lagi turun ke bawah,” ucap kasir itu setelah selesai menelepon.


Rainy mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang berada tak jauh dari meja kasir. Saat pulang sekolah tadi, begitu sampai di rumah dan tak mengerjakan apa-apa membuat Rainy memutuskan untuk langsung pergi ke cafe ini.


Memang benar cafe-nya tidak terlalu jauh dari komplek perumahan tempatnya tinggal. Rainy hanya perlu memesan ojek online dan melakukan perjalanan selama lima sampai delapan menit.


Ketika Rainy sedang menatap kosong meja di depannya, sebuah suara kembali menarik Rainy untuk sadar. Gadis itu mendongak, melihat seorang pria yang masih terlihat agak muda.


“Rainy, ya?” tanyanya.


“Iya … Pak.”


Pria didepannya tertawa kecil. “Jangan panggil saya Pak, saya belum jadi atasan kamu. Oh, ya, kamu temannya Alika kan? Dia bilang ke saya kalau temannya ada yang butuh kerjaan.”


“Iya, Pak- eh, Om.” Rainy tergagap, dia bingung ingin memanggil apa tapi tetap mengundang tawa dari pria itu.


“Saya Alvin, pemilik cafe ini. Bisa kita ngobrol sebentar? Ada yang mau saya tanyakan sebelum saya terima kamu kerja di sini,” kata Alvin yang sudah duduk berhadapan dengan Rainy.


Gadis itu menganggukan kepalanya. Apakah ini semacam interview? “Bisa, Om, bisa.”


“Baik, jangan tegang ya. Kita nggak lagi ujian kok. Ini cuma pertanyaan biasa.”


Rainy tersenyum canggung saat ketahuan kalau ia memang agak sedikit gugup. Rainy akan terlihat gugup jika saat berhadapan, Rainy tak memandang lawan bicara dan bola matanya melirik sana-sini. Kadang juga Rainy terlihat sedang gugup jika kedua tangannya saling bertaut dan akan menggigit bibir bawahnya.


Alvin mulai menanyakan beberapa hal terkait pekerjaan yang akan dilakukan Rainy. Rainy pikir, pertanyaan akan sulit. Tapi ternyata hanya untuk memastikan kapan Rainy bisa masuk dan jam pulangnya. Alvin juga sempat bertanya tentang gaji yang akan Rainy terima, tapi Rainy hanya mengikuti sesuai ketentuan cafe ini.


“Baik, tiga ratus ribu selama seminggu, saya akan berikan di hari terakhir sebelum kamu libur, ya? Berarti hari sabtu. Nggak keberatan kan?” tanya Alvin.


“Nggak, Om- eh, Pak,” jawab Rainy disertai gelengan kepala. “Jadi saya diterima?”


Alvin terkekeh lagi, “Alika sudah mengancam saya harus terima kamu, sebelum saya tanya-tanya ke kamu tadi, memang sudah berniat menerima kamu kerja disini. Saya hanya ingin memastikan jadwal kamu supaya jam kerja yang lain nggak berubah.”


Rainy mengangguk paham. “Terima kasih, Pak.”


“Kamu bisa mulai kerja besok, atau hari ini juga bisa. Tapi sebatas belajar apa yang harus kamu lakuin, nanti saya akan suruh salah satu dari mereka bantu kamu, ya. Kalau gitu saya pergi dulu, selamat bergabung Rainy.”


Alvin berdiri, di ikuti Rainy. Kemudian mereka berjabat tangan dan Alvin pergi setelahnya. Rainy yang kebingungan hanya berdiam diri sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan setelah ini.


Tapi, untung saja kebingungannya terpangkas ketika salah satu pegawai di cafe ini mendekatinya. Dia perempuan yang menjabat sebagai kasir. Perempuan cantik dengan wajah yang terlihat teduh.


Perempuan itu melambaikan tangannya. “Kamu sudah diterima kan? Tadi Pak Alvin bilang ke aku untuk ngajarin kamu apa yang harus dilakukan di sini.”


“Iya …Kak,” sahut Rainy yang kembali bingung dengan panggilan pada perempuan itu, sama seperti Alvin tadi.


“Azura. Itu nama aku, panggil Kakak aja, ya? Kamu nanti bisa tanya-tanya apapun yang nggak kamu tau, nanti Kakak bantu,” ucapnya memperkenalkan diri.


Rainy tersenyum dan mengangguk. Siang itu, dihabiskan Rainy untuk belajar dan mengetahui setiap sudut cafe yang akan menjadi tempatnya bekerja. Apa yang tidak bolah dilakukan sampai apa yang harus Rainy lakukan. Bahkan Rainy berkenalan dengan beberapa pelayanan lain dan barista di sana.


Pukul lima sore, Rainy sudah disarankan untuk pulang. Hari ini Rainy tak harus pulang malam karena belum waktunya dia bekerja. Menggunakan ojek online, Rainy pulang. Tapi tak sampai rumah, melainkan Rainy turun di depan minimarket yang tak jauh dari rumahnya.


Rainy membeli beberapa keperluan di sana dan beberapa cemilan untuk mengurangi rasa bosan saat sedang sendirian.


Rainy mengeluarkan uang seratus ribu saat melakukan pembayaran di kasir. Setelah menerima kembalian barulah Rainy bisa pulang sambil menenteng plastik belanjaan.


“Woy! Hujan!”


“Apa?” tanya Rainy.


Aksa melepaskan helmnya dan menatap Rainy kesal. “Lo dari mana sih? Gue cariin dari tadi juga.”


“Emang gue nyuruh?” Rainy balik bertanya dengan wajah datarnya.


“Ya emang bukan lo. Tapi Tante Risa tuh khawatir sama lo. Jam segini belum pulang, mau pergi nggak ngabarin dulu!”


Rainy terkesiap saat menyadari dia memang lupa untuk mengabari tante Risa karena saat pulang sekolah tadi, tantenya itu tak ada di rumah. Gadis itu meringis pelan.


“Gue lupa,” ucapnya lirih.


Aksa berdecak. “Nah itu, salah satu kebiasaan buruk lo. Untung gue ketemu lo di sini, kalo nanti lo kenapa-napa di jalan gimana? Siapa yang mau nolongin?”


“Lo doain gue kena hal buruk?” Wajah Rainy berubah datar lagi.


Aksa memutar bola matanya, dia memakai helmnya kembali dan menyalakan mesin motor. “Ayo, Naik.”


“Nggak! Gue jalan aja, udah deket,” tolak Rainy ketika Aksa mengajaknya.


“Jangan keras kepala dulu bisa nggak sih? Sekarang Tante lo lagi kebingungan nyari lo. Ngerasa bersalah nggak sih?”


Ucapan Aksa yang kasar itu membuat Rainy mencebik, tapi Rainy tetap menaiki motornya Aksa meskipun ikutan kesal karena Aksa tiba-tiba menjadi kasar karena marah.


Sampai di atas jok, tiba-tiba …


TAK!


“Aduhh!” teriak Aksa begitu kepalanya mendapat pukulan dari Rainy, meskipun menggunakan helm tapi kepalanya tetap terdorong ke depan.


“Lo ngapa sih, Rainy?” tanya Aksa kesal.


“Nggak ngapa-ngapain kok, gue cuma mukul kecoa tadi,”sahut Rainy dengan nada malas.


Aksa mendengus kesal. Tak ingin memperpanjang perdebatan, akhirnya ia melajukan motornya. Karena memang rumah sudah tidak jauh lagi, tak sampai tiga menit mereka sudah tiba di depan rumah Rainy. Terlihat tante Risa sedang menunggu di teras membuat Rainy merasa bersalah.


“Tante … ” panggil Rainy begitu ia turun dari motor Aksa.


Tante Risa menoleh, dan wajah khawatirnya berubah lega ketika melihat Rainy sudah tiba dengan selamat. “Dari mana kamu, Ai? Kok pergi nggak bilang-bilang Tante?”


“Tante pikir kamu belum pulang sekolah, tapi seragam kamu udah ada di kamar. Lain kali kalau pergi kemana-mana kabarin Tante, ya? Jangan ngilang gini,” ujar tante Risa membuat rasa bersalah Rainy semakin besar.


“Maaf, Tante. Aku bener-bener lupa buat ngabarin Tante. Aku tadi ke rumah temen, mau ngerjain PR bareng.”


Tante menganggukkan kepalanya, tapi lain dengan Aksa yang menaikkan sebelah alis. PR? Bahkan Aksa ingat Rainy selalu mengerjakan PR-nya di sekolah. Bukan di rumah teman, jadi sebenarnya Rainy habis dari mana?


Tante Risa beralih pada Aksa yang masih setia diatas motornya. “Aksa, terima kasih sudah bantu Tante cari Rainy. Maaf ngerepotin, ya?”


Aksa segera menggeleng. “Nggak papa Tante, nggak ngerepotin kok,” ujarnya.


“Kalau gitu, Aksa pamit ya, Tante,” tambanya yang mendapat anggukan dari tante Risa.


Setelah Aksa pergi, tante Risa mengajak Rainy untuk segera masuk dan mandi. Sebentar lagi malam, mereka masih harus makan malam sebelum beristirahat.


“Besok-besok jangan gini lagi, ya? Tante khawatir banget tadi. Minimal kirimin Tante pesan kamu lagi dimana dan sama siapa. Biar Tante nggak terlalu khawatir.” Tante Risa berpesan sebelum Rainy masuk ke dalam kamarnya.


***


Pukul sepuluh malam, ketika Rainy hendak mengistirahatkan tubuhnya setelah membereskan buku-buku untuk besok dibawa ke sekolah. Tiba-tiba ponselnya yang ada di atas nakas berdering membuat Rainy kembali membuka matanya untuk melihat siapa yang menelepon malam-malam begini.


'Bang Bhara'


Nama kontak itu langsung membuat Rainy bangun dari posisi tidurnya. Sekilas Rainy melihat jam, dan sudah malam. Tumben sekali abangnya menelepon dirinya di jam ini.


Perbedaan waktu antara Indonesia dengan London membuat keduanya sulit berhubungan. Selain perbedaan waktu, kadang mereka tak bisa saling menanyakan kabar karena terhalang tugas kuliah Bhara yang banyak. Bahkan seminggu hanya satu sampai dua kali mereka berteleponan atau berkirim pesan.


Dengan sisa kebingungannya, Rainy menekan tombol hijau dan mengaktifkan loudspeaker lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


“Halo, Bang?”