
Geri baru saja membaca pesan dari temannya, Anak si buyung puyuh itu kembali adu kekuatan dengan Geri. Zio dan Sam mengatakan jika mereka menggali informasi mengenai dirinya.
"Jangan salahin gue kalo lo nantinya bakal masuk rumah sakit untuk yang kedua kalinya karena buyung puyuh lo gue tendang keras."
Geri memperintahkan kedua temannya untuk berkumpul di lokasi yang sudah dia kirim.
......(King Street)......
(Samsul)
"Ges enaknya gue pakek sepatu mana pas gelid nanti?"
(Zigong)
"Pakek Safety Shoes aja Sam bakal keren sendiri lo!☺️"
^^^(Geri)^^^
^^^"Lo kira kita mau pergi kerja hah🫠 Gak sekalian aja pakek sepatu boots aja, ribet banget lo Sam!"^^^
(Samsul)
"Lo berdua emang gak pernah bener kalo kasih saran, sukanya menjebak!😒"
(Zigong)
"Ya lo nya aja bikin gue gedeg sendiri tahu gak! mau gelud aja masih ribet style sepatu😤"
(Samsul)
Ah elah, lo mana ngerti sama yang gue pikirin, Dasar Jigong!💩"
(Zigong)
Eh Sampah masyarakat, Gak usah ngeledekin gue lo! 😡gue DO dari KK king Street mampus lo"
Geri yang menyimak balasan Zio, sejak kapan dia dan dua cecunguk itu satu KK?
^^^(Geri)^^^
^^^"Gong Jigong, sejak kapan gue satu KK sama lo pada hah?!"^^^
(Samsul)
Sejak kita bersama, Si Jigong sudah mendaftarkan KK kita di kantor Desa!"
(Zigong)
Lo berdua emang suka bully gue ya, nama Zio udah dingajiin masih kalian nodai! Sungguh teganya diri kau!"
^^^(Geri)^^^
^^^Alay njing, pokok nanti kita ngumpul jam 7 malam jangan lupa telpon polisi di jam Setengah 8"^^^
Tak ingin ikut jadi gila karena teman sintingnya, Geri mematikan ponselnya dan melanjutkan tidur siangnya yang tertunda sambil menunggu guru masuk ke kelasnya. Geri, Zio dan Sam itu pisah kelas, dulu mereka pernah dipertemukan secara kebetulan.
Flashback on
Di sebuah gang sempit dalam satu wilayah seorang murid SD sedang berusaha kabur dari kejaran preman yang katanya menjadi penguasa di daerah lingkup sekolahnya.
Siapa lagi kalo bukan Geri yang awalnya tidak sengaja menumpahkan es yang dibungkus plastik diatas kepala preman yang asik nongkrong ketika Geri berniat kabur di jam sekolah.
Geri berlari terengah-engah sambil menoleh ke belekang, preman gendut itu sedikit berjarak jauh namun malah bertabrakan dengan dua anak yang sama sepertinya tengah kabur dari kejaran preman. Disitulah awal dimana mereka berteman dan menjadi sahabat karib.
Flashback off
......................
Sementara Adel, sibuk mencari Sintya. Tangannya sudah mulai gatal untuk menjambak, meninju, apapun itu yang bisa menyurutkan rasa jengkelnya hari ini.
"Awas aja lo kalo ketemu."
Di depan kelas Sintya, kepalanya menengok sana-sini. Zio yang baru dari toilet melihat Adel seperti mencari seseorang, ia pun mendatanginya.
"Del," Zio menepuk pundak Adel sampai membuat adek kelasnya itu terkejut.
Adel selalu mempunyai reflek yang bagus dimana Zio yang menjadi target tamparan atau serangan belakang dari Adel. Namun sekrang dia lolos karena sudah dua kali dia memar gara-gara Adel.
"Lo itu bisa gak sih, gak usah bikin gue kaget!"
"Kapan gue bikin lo kaget sih? Orang tadi gue manggil lo gak denger kayak orang tuli. Dan untung gue gak kena sabetan tangan lo!"
"Ya kalo kena bukan salah gue dong, makanya kali manggil orang gak usah pakek tepuk bahu segala! Apalagi ke gue otw masuk RS lo Zio!"
"Hih miamit deh!" Zio yang membayangkan wajah tampan bak dewanya babak belur tidak mau hal itu terjadi.
"Jadi ngapain lo kesini Del?!"
"Cari Sinting! Pagi-pagi udah bikin gue pengen mukul orang aja tuh anak!"
Zio melongo, ada apa dengan perempuan didepannya ini? Apakah dia punya hobi meninju atau punya dendam kesumat diantara manusia disini?!
"Lo gila ya, awas masuk BK lo!"
"Udah deh itu urusan gue dan lo gak usah ikut campur sebelum wajah lo ancur tak berbentuk." ancam Adel
Zio meneguk ludahnya,"Nyeremin bener nih anak!"
Tak lama Sintya datang bersama dengan kedua temannya untuk masuk ke kelas akan tetapi dicegah oleh Adel yang sedari tadi menantinya didepan kelasnya.
Adel tersenyum sinis," heh cewek sinting!" panggil Adel dan Sintya menoleh.
Adel tertawa setelah itu," Ih dia noleh Zio! Berarti bener dong kalo dia sinting, hahaha!"
"Apa maksud lo ngatain gue sinting hah!" geram Sintya.
"Ya karena nama lo mirip sinting makanya sampek ikutan jadi sinting. Udah sinting cupu lagi," setelah mengucapkan itu Adel mendatarkan wajahnya tanpa ada guratan senyum.
"Lo pikir lo siapa hah? Sok sok an mau ngelabrak gue gitu?"
"Oh maaf ya, " Adel perlahan berjalan mendekat membuat Sintya sontak mundur kebelakang, Zio hanya jadi pengamat adegan bully sebentar lagi.
Seketika tangan Adel terjulur mengarah untuk menjambak rambut yang menjuntai kebawah itu.
Brak...
Punggung Sintya menabrak engsel pintu yang dipastikan akan memar nantinya.
"Lo itu yang jangan sok jago dan sok berkuasa disini! Lagi pula ngapain lo majang foto gue hah? Ngefans lo kama sama gue? Kalo iya, gak usah sembunyi-sembunyi gitu dong! "
Sintya meringis ngilu, Dia menatap benci kearah Adel yang membuatnya tampak selalu kalah.
"Kenapa? benci kan lo sama gue?" Adel sudah terbiasa dengan tatapan benci itu.
"Kurang ajar lo ya! Awas aja lo..."
"Awas apa hah? Mau otw masuk rs aja masih blaguk lo Sinting!" sekali lagi Adel menabrakkan kepala Sintya ke pintu.
Sintya mulai pusing,"Akhhh.. Sakit bodoh!"
brak...
Zio jadi merinding melihat aksi bar-bar didepannya, tak ingin masalah ini membesar Zio menelpon Geri untuk melerai keduanya.
"Sekali lagi lo nyebarin berita hoax terkait gue, gue usahakan lo sendiri gak bakal bisa lihat indahnya matahari terbit saat itu juga!"
Ketika Adel mulai melepaskan cengkraman tangannya, Sintya luruh tergeletak karena pusing dan syok.
Geri tadinya terbirit-birit khwatir akan pacarnya itu namun, sesampai disana ternyata sudah usai aksi keren Adel.
Adel melihat kedatangan Geri pun berengut kesal. Cowok itu selalu saja mengetahui aksi bullynya seperti awal kali bertemu. Anehnya, Geri malah mau menjadikannya pacar padahak dia suka membully.