
Saat sampai tadi betapa gembiranya Adel sambil lompat kegirangan memasuki cafe coklat yang terkenal sekali akan keaslian coklatnya.
Adel ingin rasanya menjerit senang ketika harum semerbak kakao di dalam cafe seakan menyambit kedatangan dirinya yang sangat mencintai coklat.
Geri terus mengikuti dari belakang tanpa ingin mengganggu hari spesial pacarnya ini.
"Gila..gila.. aku baru tahu tempat sekeren ini!!" ujarnya dengan mata tampak berbinar.
"Ger, lo harusnya ngajak gue sedari awal, tapi gak papa deh daripada gak diajak sama sekali." mengajak Geri mengobrol namun tidak memberikan kesempatan Geri untuk menjawabnya.
"Huft...Dasar bocilku!" gumam Geri
"Dia kenapa gak sadar-sadar sih seenggaknya curiga dikit ke gue. Mana ada anak culun bawa mobi sekeren ini, tampilan bermerk kayak gini gak digubris sama sekali, aneh emang!"
Geri tak mau membuat Adel menunggu lama untuk segera mencoba membuat coklat ala sendiri, Geri mendatangi pemilik cafe ini.
"Selamat datang Geri, lama tidak datang kesini ya?"
"Iya mas, mama saya lagi diet sekarang karwna berat badannya naik hampir 5 kilo. Mama sampai pingsan gegara syok kebanyakan makan coklat."
"Hahaha...mama kamu itu emang pecinta coklat banget ya!"
"Hehe biar tahu rasa, capeknya program diet."
"Jadi siapa yang mau belajar bikin coklat Ger? Gak mungkin juga kalo lo yang mau belajar kan?!" lalu mata pemilik cafe menangkap sosok perempuan yang menatap sekeliling ruang cafe yang terdapat banyak foto perjalanan karir cafe itu.
"Del...Adel sini,"
Adel pun mendekat, " kenapa Ger?!"
"Pacar lo nih Ger? Cakep banget, bu-" belum selesai bicara saja pemilik cafe ditatap tajam menusuk oleh Geri seolah sedang memperingatinya agat tidak macam-macam merebut miliknya.
"Siapa nama mbaknya ini?" sang pemilik memilih mengabaikan mata Geri.
"Adel, mas nya siapa nam-!" Geri malah menjambak rambut Adel
"Auh lo apa-apasih! Kok main jambak rambut gue! Lo kira rambut rumput ilalang gitu?!"
Geri menghiraukan ucapan Adel, "kamu gak perlu tahu nama dia, gak penting juga buat kamu tahu, dia itu pemilik tempat ini." kelakar Geri
"Dih...gue juga tahu kalo dia pemiliknya,"
"Tahu dari siapa? Kan kamu baru pertama kali kesini!"
"Lo bego ya? Orang jelas-jelas tuh pigura dipajang ditembok buat apa terus kalo gak dilihat!" sewot Adel
"Buat nakut-nakutin tikus cafe in!"
"Heh!! Sembarangan ngomong lo ya! Nanti jadi berita hoax gue tuntut lo!" celetuk sang pemiliknya.
"Emang berani lo?!" ditatapnya remeh, namun pemilik cafe malah cengegesan.
"kagak berani lah canda atuh mas,"
"Geli gue, dah ajarin Adel buat bikin coklat andalan cafe ini, tolong bikinin gue es coklat sama dessert kopi."
"Wokeh!" sambi mengacungkan jempolnya.
Di dapur Adel sudah menggunakan celemek khusus, sepatu khusus dan penutup kepalanya.
"Nah mbak, sebenarnya pembuatan coklat home made gak sesulit itu loh, tapi butuh ekstra telaten sih."
"Mas nya jangan remehin saya ya! Saya itu pecinta coklat sejati!" ujar Adel membanggakan diri sendiri.
"Inget mbak Del, secinta-cintanya dengan coklat mbak Adel harus diatur biar gak terlalu berlebihan."
"Iya mas iya, bawel banget sih lo mas! ajrin gue aja daripada banyak ngomelnya!"
Akhirnya hingga beberapa jam berlalu proses pembekuan coklat sudah selesai. Adel tak sabar ingin membuat coklat versi minumannya.
"Mau bikin minuman apa? Nih menunya," sang pemilik memberikan buku menu.
Adel membaca setiap komposisi yang ada pada minuman yang akan ia pilih.
"Chocolate Coffe with cream cheese."
"Ya udah yuk kita mulai bikinnya aja!" keduanya kembali sibuk di dapur sementara Geri diam mamandangi layar ponselnya.
......................
Di basecamp tempat berkumpulnya Geng Fakers yang berjumlah 3 orang termasuk Geri.
"Cecunguk itu mau cari gara-gara lagi nih!" celetuk Sam
"Mereka tuh gak tahu siapa yang lagi dilawannya! Makanya sok cari masalah dan berakhir rebahan di kasur RS."
"Memang susah ya jadi orang tampan!" ucap Sam sambik menyisir rambutnya kebelakang. Zio berpura-pura muntah setelah mendengar tingkat kepedean Sam yang terlalu tinggi.
Sam berdecih kesal " lo itu gak seneng ya liat temannya bahagia sejenak, sukanya sirik aja!" ketus Sam
"Maaf nih ya Sam, gue gak selevel sama lo! Gue itu memang ganteng dari orok jadi ya gitulah!"
"Huek...mual gue!"
"Idih ngomong aja gak ikhlas ngakuin temen sendiri tampan!"
"Lah terus apa bedanya sama lo udik semprul!"
"Ya serah gue lah!"
Sam mengelus dadanya,"sabar-sabar... Sam kan anak yang disayang Tuhan!"Zio bergedik ngeri atas kehaluan teman sengkleknya.
"Dah lo kabari Geri suruh dia buat hati-hati pas pulang!" ujar Sam, Zio mengangguk paham.
......................
Seharian penuh Adel menghabiskan waktunya dengan senyuman riang. Tapi Geri dibuat heran begitu mereka pulang sikap Adel kembali jutek dan ketus seperti saat disekolah.
"Dah sana pulang lo, dasar cupu jadi-jadian!"
Deg..
"Dia udah tahu ? Kalo gue menyamar?!"
"Adel gak boleh kayak gitu ish! gak baik ngomong kayak gitu ke pacar sendiri!" ujar Geri namun malah semakin diejek oleh Adel.
"Ya udah sana pulang dicolong syaiton mampus lo!"
Geri menggelengkan kepala pacarnya ini suka sekali menguji kesabarannya. Untung Geri dalam mode penyamaran.
"Selamat malam Adel habis cuci kaki, cui muka dan gosok gigi terus tidur ya! Jangan begadang gak baik buat kulit kamu."
Adel malah melengos pergi masuk kedalam rumah."Dia kira gue bocil apa!"
......................
Pagi ini seperti biasanya Adel diantar jemput oleh Ayah Nino naik mobil.
"Adel jangan bikin masalah lo ya!" tegur Nino
"Yah, ayah ini jangan ngomong gitu! Nanti kalo Adel bener-bener bikin masalah gimana? Ayah mau tanggung jawab ?"
Ayah Nino menekuk keningnya,"kamu yang bikin masalah kok malah ayah yang suruh tanggungjawab!? Tanggungan ayah udah banyak jadi gak mau nambah lagi!"
"Makanya itu jangan doa yang gak baik terus Yah! dah Adel berangkat, hati-hati yah!" Adel melambaikan tangannya sampai mobil Ayah Nino menjauh.
Ketika Adel berjalan melewati koridor, segerombolan siswa berkumpul didepan mading kelas layaknya lalat yang mengkerubungi sampah kotor.
"Pagi-pagi udah pada gak jelas mereka."
Para siswa melihatnya dengan cara aneh. Adel merasa ada yang salah, dia memeriksa wajahnha dilayar ponselnya namun tidak ada yang salah lalu apa yang membuat Adel jadi tontonan?
"Apa! Minta gue jotos muka ondel-ondek lo hah!"
"Dih dasar! " jawab siswa perempuan itu.
Karena penasaran setengah mati Adel membelah keramaian itu.
"Minggir...minggir gue mau lewat!!"
Matanya membelalak kaget. Terpampang jelas fotonya saat bersama dengan Geri seolah sedang posisi berciuman. Bisa merusak citra Adel nih!
"Sialan banget si putu kupret! ada yang tahu siapa yag nempel foto gak jelas ini?!" geram Adel menahan emosinya yang bisa meledak kapan saja.
"Gak tahu pagi tadi udah nempel disitu!" seseoranh mewakilkan jawaban semua murid. Padahal tadi sudah dibilangi oleh Ayah Nino agar tidak membuat masalah.
"Awas aja kalo gue tahu, gue bejek-bejek sampek ancur tuh muka!" geram Adel bergumam
Di sisi lain Sintya tertawa lepas seperti tak ada beban dosa. Namun dia tahu kalo kini dia sedang diincar hewan predator yang kapan saja siap melahap habis tubuh Sintya.
Flashback on
Kapan itu dia tak sengaja Sintya memergoki Adel di dekat lingkungan apartnya. Waktu itu Sintya sedang bertepatan menginap di apart karena dia mempunyai acara yang berdekatan dengan apartnya malah melihat keberadaan Adel di sebuah kamar apart yang entah milik siapa Sintya tidam tahu.
"ngapain tuh Pelakor!" dengan sembunyi-sembunyi Sintya mengintip keduanya sedang mengobrol didepan pintu.
Seringai licik muncul disudut bibirnya." lihat saja apa yang bakal gue lakukan."
Sintya memfoto posisi Geri dan Adel dari sudut yang pas. Lalu dibumbui drama sedikit didalam foto itu.
Flashback off