
Karena kejadian kemarin ditambah di media sosial milik sekolah Adel menjadi trending lagi. Maka dari itu orang tua Adel dengan mudah mengetahuinya sebab mereka sebagai ayah dan ibu tak mau melepaskan begitu saja anak mereka yang liar seperti hewan bebas di savana.
Kemarin malam disidang orang tuanya sekarang gantian disidang guru BK. Guru itu membawa buku tebal ditangannya. Yah, meskipun Adel baru pertama kali tertangkap basah habis melakukan aksi nekatnya dengan membully didepan siswa lain.
"Sayang sekali ya, kamu itu termasuk siswa baru tapi sudah memiliki jejak di buku tebal siswa. "
Adel tidak banyak bicara dan membiarkan guru BK itu mengoceh seperti burung pipit yang kelaparan mencari cacing di padang sahara.
(Dan itu sangat mustahil. Mau sampai berkilo-kilo meter kau mencarinya, kau tidak akan pernah menemukan seekor cacing ditengah padang sahara kecuali kehendak Boboo 🤣)
"Coba beri tahu ibu, kenapa kamu melakukan hal buruk dengan membully kakak kelasmu hingga memar di keningnya."
Adel berdecak mendengar pertanyaan konyol macam itu. "ibu guru yang terhormat, Saya bukan tanpa sebab membully kakak kelas gak becus itu. Dia mengganggu privasi saya dengan menempelkan foto saya sebagai konsumsi siswa disini, kedua Sikap dia itu sama sekali gak mencerminkan diri sebagai kakak kelas dan ketiga ini yang terakhir Dia selalu melawan saya seperti melawan tanpa melihat kemampuan musuh."
"Sudahlah intinya kamu sudah membully siswa lain di sekolah ini. Ibu tidak habia pikir gitu ya, kamu itu sudah dewasa, sudah SMA masa tingkah laku kamu sangat tidak mencerminkan sekali."
Sekali lagi Adel menghela napas lelah, sebenarnya apa yang ada diotak guru BK satu ini. Dia sendiri juga tidak mencerminkan tingkah laku sebagai pendidik yang benar.
"Terus apa bedanya saya sama kakak kelas itu? Dia sembarangan menyebarkan privasi orang, dia bisa saya membawanya ke jalur hukum loh Bu!" tegas Adel yang terlanjur dalam mode ingin beradu argumen.
"Tapi tidak seharusnya kamu menggunakan kekerasan seperti itu! Tetap saja kekerasan dinilai salah, kamu mengerti!?"
"Heh.." Adel mendengus sungguh ingin segera tertawa sekali, konyol sekali ucapan guru didepannya ini.
"Saya tegaskan ini sebagai seorang siswa ya bu, saya juga merasa dijahatin sama kakak kelas itu dengan dia menyebarkan privasi saya tanpa seijin saya itu berarti juga kejahatan. Itu tandanya dia tidak menghargai orang lain dengan tanda kutip itu privasi saya. Jadi bukan hanya saya saja yang dijatuhi hukuman tapi si kakak kelas sinting itu pun wajib anda hukum bu guru!"
Guru BK itu terbungkam dengan argumen Adel yang dalam setiap perkatanya ia tekankan dengan detail. Demi harga dirinya sebagai seorang guru BK yang dalam artian ia pernah belajar tentang psikologis seorang anak, tentu dia harus bisa memahami 2 sudut pandang antara kedua muridnya ini.
"Baiklah, ibu mengerti kamu bisa kembali ke kelasmu!" Adel tanpa basa-basi langsung pergi dari ruangan pengap itu.
......................
Geri mendengar kekasihnya dipanggil ke ruang BK, tapi lelaki itu memilih diam ditempat membuat Sam dan Zio terheran. Akhirnya Geri memilih untuk membicarakan hubungannya oada ke kedua sahabat oroknya itu.
"Lo kok gak nyamperin sih Ger?"
"Iya, lo sebagai cowok gentle harusnya perhatian dong!"imbuh Sam
"Lo berdua itu gak tahu Adel itu kayak gimana, dia cewek tangguh dan kuat. Gue suka tipe kayak dia yang gak menye-menye jadi cewek."
"Ih kalo gue mah suka yang kalem, penyayang, sholehan pokok yang tipe muslimah dah!" curhat Sam menceritakan wanita idamannya.
"Lo lupa kalo agama lo itu budha?!"
"Enak aja bibir suwek lu berkata, gue ini kristen dasar kamvret!"
"Lah terus ngapain wanita idaman lo yang muslimah bang*kek!" Seru Zio sambil menjitak kepala Sam agar virus didalamnya segera hilang.
"Ya kan serah gue, hidup hidup gue, kok lo yang sewot sih! Dasar syirik lo!" ketus Sam
"Dih Gila nih anak!" Sam dan Zio malah memperdebatkan hal tak berguna didepan Geri.
Geri beranjak pergi sebelum dia ikut jadi sarap juga. Laki itu memilih untuk melihat kekasihnya apakah dia baik-baik saja atau masih dalam mood hancur dan tidak lupa dua membelika coklat kesukaan Adel.
Geri berubah kedalam mode anak pintar berkaca mata tebal. Matanya mengintip dari balik pintu mencari keberadaan Adel didalam kelas. Akan tetapi, Adel tak kunjung terlihat.
"Lo cari gue ya?" Geri terkejut saat Adel berbisik di telinga dari belakang. Membuat bulu kuduk Geri meremang geli.
"A..adel kamu bikin aku kaget loh! Nanti kalo aku jantungan gimana? "
"Yah kalo gitu urusan jantung lo sih, tapi wait...kalo lo mati gue belajar sama sapa dong!"
Geri pu sebal mendengarkan kalimat dari mulut Adel yang menandakan dia tengah dimanfaatkan.
"Adel gak boleh gitu sama pacar.sendiri, " gantian Geri yang berbisik pelan sekalian menggoda lsher jenjang Adel.
Adel dibuat merinding, dia mengusap tengkuknya.
"Lo apaan sih, nanti orang yang lihat bisa salah paham njir!" Geri terkikik pelan ternyata kekasihnya baik-baik saja.
"Nih aku kasih buat kamu khusus aku belikannya!"
Adel sumringah senang, sudah seharin ini dia dilarang coklat namun tidak ada ayah dan bundanya semua aman terkendali.
"Wah...makasih ya Ger, lo tahu banget gue lagi badmood, ini nih satu-satunya cara balikan mood hancur gue! Btw nih cokkat lo beli di kantin sekolah kan?! Ngaku gak loh!"
Geri mengusao rambutnya ketahuan berbohong," Heheh mepet tadi belinya, aku denger dari murid lain kalo kamu dianggil BK, semua aman kan Adel?!" sambil seolah-olah menampilkan ia sangat khawatir padahal ya tidak.
"Aman setelah gue makan coklat ini. Gue tadi men-skak guru BK yang mulutnya asal berkicau itu! Gedeg sendiri gue dengerinnya!:
"Syukurlah kalo gitu,"
......................
Malam harinya seseorang mengirimkan sebuah surat dengan lambang sekolahan ke rumah Adel dan Sintya. Mereka sama-sama di skors selama 3 hari lamanya. Namun ketika orang yang mengirimkan surat ke rumah Adel yang menerima suratnya adalah Ayah Nino.
Lagi dan lagi Adel membuat kedua orang tuanya menghela napas. Tidak disekolah lama bahkan di sekolah barunya, anak mereka menbuat ulah hingga dijatuhi skors.
"Bun, ayah capek, ayah gak kuat!!" keluh Nino merengek bergelayut manja di atas kasur bersama Bunda Herni.
Bunda Herni hanya melirik kearah suaminya yang seperti anak kecil itu."Kamu itu Yah..yah bikin nya aja semangat gak ngeluh capek. Gantian udah kayak gini suka ngeluh ih!"
"Ya gimana lagi dong Bun! Ayah udah berkali-kali kasih tahu sampek pengen muntah ayah bilanginnya."
"Lebay deh kamu Yah!"
"Bun, bikin anak lagi aja ya! yang ini kita sumbangin aja!"
Bunda Herni melotot tajam kearah suaminya. Bisa-bisanya mengatakan hal konyol.
"Ayah lebih kamu tidur, mungkin gara-gara pekerjaan ayah numpuk, jadi otak ayah terbebani." Herni merebahkan Nino lalu menyelimuti suaminya tak lupa mengecup keningnya penuh sayang.