Queen Bullying Vs King Street

Queen Bullying Vs King Street
Julukan buat Layla



Lagi-lagi guru seni memberikan tugas kelompok yang mengharuskan Adel berada dalam satu kelompok dengan Layla. Sebenarnya, Adel secara diam-diam mengajukan protes kepada guru itu agar dirinya bisa pindah kelompok, namun guru tersebut menolak mentah. "Ck..kampret banget tuh guru, gitu aja pake acara tolak menolak. Dia kira gue lagi nembak cowok gitu!" gerutu Adel kesal.


Sesampainya di dalam kelas dengan wajah yang tetap cemberut dan jutek, membuat teman sebangku sekaligus teman sekelompok Adel bertanya-tanya. "Lo kenapa kok muka lo sedih banget sih?!" "Ini ada selokan sama air kobokan yang sedih, kok dikira muka sedih? Muka cantik kayak gini masih disebut sedih, tapi ya udahlah," omel Adel kepada Dewita.


"Makanya, dikondisikan supaya gak kusut kayak benang wol." Dewita kembali mengatakan hal yang tidak jelas menurut Adel.


Seiring ucapan Dewita yang semakin mengganggu, Adel memilih menelungkupkan wajahnya di atas meja. "Jadi, lo kenapa sih? Lo gak senang sekelompok sama gue? Padahal gue kan anak baik dan sholeh!" tanya Layla.


Seketika Adel terkejut mendengar hal itu dengan wajah tak percaya sama sekali. "uy..uy... lo ni kenapa baru ngomong gitu?" tanya Adel bingung.


Lalu, Dewita menginterupsi pembicaraan mereka. "Serius lo?! Masa sih anak modelan kayak lo rajin sholat?!"


Adel mulai kesal dan tidak suka dengan ucapan Dewita, sehingga dia memilih untuk diam saja.


"Lo kenapa hah? Lo gak seneng sekelompok sama gue? Padahal gue kan anak baik dan sholeh!" tanya Layla.


"Gue males banget kalo gabung sama Layla," ucap Adel agak berbisik pelan di telinga Dewita.


"Lah, emang kenapa sih? Dia juga kalem anaknya," jawab Dewita.


"Mata lo buta ya! Anak kayak gitu kalem darimana?" jawab Adel kesal.


"Real nya emang gitu loh Del yang gue lihat sih, ya," jelas Dewita.


"Beberapa minggu yang lalu, pas gue ada kerja kelompok satu dengan Layla, kan gue diantar temen dekat gu-"


"Temen, apa temen? Gak percaya kalo ini gue!" potong Dewita.


"Nih anak ya, belum juga selesai ngomong udah dipotong aja." geram Adel kesal.


"Iya iya maaf," ujar Dewita sambil menggosok bekas jitakan Adel.


"Kayaknya dia tertarik sama temen gue, dan gue gak suka itu. Lo juga lihat kan sekarang, gayanya pun udah berubah total," keluh Adel.


"Hmm, maksud lo mungkin Layla jatuh cinta pada pandangan pertama kali ya. Menurut gue sih, apa salahnya? Yang penting, dia hanya mengantarkan temanmu. Jika dia berubah, ya itu hak dia," jawab Dewita.


Adel memejamkan matanya sejenak. Dia sangat cemburu akan hal itu dan merasa tidak suka jika temannya jatuh cinta pada Geri, pacar kesayangannya. Entah sejak kapan Adel mengklaim Geri jadi miliknya.


Saat pulang sekolah, Adel merebahkan tubuhnya di kasur. Merasakan tersita energi dan juga emosinya pada hari ini. "Del, ayo makan dulu. Kebiasaan banget langsung nempel ke kasur. Pasti belum basuh kaki kan!" omel ibunya.


Adel kemudian turun setelah mengganti bajunya dan mencuci kakinya. "Bunda, masak apa hari ini?" tanya Adel.


"Ada soto ayam di dapur," jawab ibunya.


Adel lalu pergi ke dapur untuk mengambil makan siang. "Del, sekolahmu hari ini gimana? Gak bikin masalah kan?" tanya ibunya.


"Jangan ditanya, Bun. Adel gak-" namun terpotong oleh ibunya.


"Gak bikin masalah kan ya?!" tanya sang ibu dengan senang.


"Bun, Adel gak lupa cari masalah. Tadi Adel protes ke guru seni pengen ganti kelompok tapi gak dibolehin, terus kita debat dan Adel kalah," jelas Adel.


Bunda Herni menghembuskan nafasnya pasrah, selama satu minggu Adel tidak bisa lepas dari tidak membuat masalah sampai dirinya harus dipanggil beberapa kali.


"Adel, orang yang mau mengalah itu tandanya dia orang yang waras. Kalo gak mau mengalah itu namanya orang stress," ujar ibunya.


Adel menaikkan sebelah alisnya, "Quotes darimana lagi tuh, Bun?" kesal Adel karena ibunya waktu itu suka menjiplak kata mutiara dari media sosial.


"Instagram dong, hihi..." ujar ibunya.


"Bun, lebih baik berhenti daripada nanti ketagihan sampai 24 jam nonstop. Adel gak mau Bunda kayak gitu!" ujar Adel.


"Gak seru banget kamu tuh, Yah. Bunda rasa hal sepele seharusnya gak perlu kamu debatkan. Buang energi tahu gak!" ejek ibunya.


"Ya gimana gak kesel, Adel gak suka sekelompok sama Layla. Dia anaknya licik kayaknya, Bun," keluh Adel.


"Masih kayaknya ya? Harusnya kamu mencari tahu dulu baru menilai," ujar ibunya.


"Dia tertarik sama Geri secara terang-terangan, pake acara tatap-tatapan. Adel gak suka itu, Bun..." jelas Adel.


"Hufft, susah emang ya kalo udah ketemu sama orang yang cemburu buta. Harusnya kamu gak perlu bersikap begitu. Kalo Geri laki baik, dia gak bakal bisa tergoda dengan rayuan cewek mana pun, termasuk Layla. Kalo sampek terayu berarti Geri bukan cowok baik untuk kamu, Adel," jelas ibunya.


"Baiklah, Adel sudah tercerahkan. Makasih, Bu," ujar Adel.


Namun, senyum di wajah ibunya hilang ketika Adel pergi dari hadapannya.


Bunda Herni berpikir, "Menurut pengalamanku dulu, kalau dalam kasus seperti ini, pasti nantinya akan ada hal yang tidak beres dengan orang ketiga. Sepertinya aku harus mencari tahu siapa Layla itu. Aku tidak mau sampai dia membahayakan Adel suatu hari nanti."


Keesokan harinya, Kelompok Adel membuat janji temu di rumahnya. Awalnya Adel menolak, tapi karena dia ditanya apa alasannya, tentu saja Adel tidak bisa mengungkapkan secara terus terang. Adel juga sudah memberitahukan Bunda Herni jika hari itu ada teman kelompoknya yang akan datang ke rumahnya. Bunda Herni pun menyiapkan beberapa camilan untuk anak remaja agar semangat mengerjakan tugas.


"Jam berapa Del, temanmu mau ke rumah?" tanya Bunda Herni.


"Emm, mungkin jam 9 pas Bun. Ada apa Bun?" tanya Adel.


"Bunda mau ada acara jam setengah 10. Jaga rumah kalau ada anak laki-laki, jangan diajak main ke kamar. Main di taman belakang saja," perintah Bunda Herni.


"Iya Bun."


Tak lama kemudian, teman-temannya berdatangan dan yang pertama kali datang adalah Layla. Ini bukan momen yang tepat karena Adel tidak ingin berhadapan dengan anak itu.


"Bagus juga ya Del rumahmu," celetuk Dewita menelisik ruangan tempat mereka belajar.


"Iya bagus, estetik banget terus elegan. Tidak membosankan untuk dilihat," imbuh Layla.


Adel hanya melirik sekilas, "Kita belajar di outdoor biar kita leluasa mengerjakan tugasnya."


"Sip dah, asal tidak terlalu panas. Aku tidak akan berkomentar," ujar Gabby menyetujui.


Mereka pun langsung membagi tugas agar semua tercicil. Adel dan Dewita bertugas mencari model bunga yang akan mereka buat, sementara Gabby dan Layla menyiapkan bahan dan alat sambil menunggu modelnya. Tugas kerajinan membuat bunga dari bahan sisa dan kelompok mereka mendapat bahan sisa dari keresek. Di sini, mereka akan membuat sepot dengan berbagai jenis bunga mawar.


"Adel!!" panggil Bunda Herni.


"Ada apa Bun?" tanya Adel menghampiri suara Bunda Herni yang berada di ruang tamu.


"Ada Geri nih lo," ujar Bunda Herni.


Adel pun menggerutu kesal, kenapa cowok itu datang pada saat yang tidak tepat. Adel pun langsung ke ruang tamu.


"Geri!! Ngapain kamu datang ke rumah sih?!" tanya Adel marah.


Geri berengut sebal, bukannya disambut ramah atau dipeluk, Adel malah tidak menyukai kehadirannya.


"Kamu tidak suka aku datang?!"


"Bukan gitu, tetapi masih ada teman lagi kerja kelompok, bahkan ada Layla."


"Si apa? Siapa itu yang?" tanya Geri.


"Heh...Layla maksudku."


"Lah, emang kenapa? Dibiarkan saja."


"Aku tidak ingin sampai kamu bertemu-"


Tiba-tiba...


"Loh, dia laki-laki itu," dari arah belakang Layla muncul membuat Adel kaget. Layla melihat Geri yang pernah datang ke rumahnya untuk mengantar Adel kerja kelompok.


Geri hanya mengangguk datar sebagai tanda menyapa. "Kamu mau kemana Lay?" tanya Adel.


"A-anu..aku mau ke toilet, di mana ya tempatnya?"


"Di situ, pintu pojok," Adel menunjuk ke arah pintu toilet.


Lalu, mengalihkan pandangannya ke Geri, Adel berkata, "Kamu tunggu di lantai atas, jangan turun. Rebahan di sana saja, jangan sampai bertemu dia, bahkan dengan yang lain."


"Iya deh, aku diam di atas. Semangat mengerjakan tugasnya, sayangku. Muach..." Geri mengecup kening Adel hingga membuat Adel tersipu malu.


Bertepatan dengan Layla yang keluar dari kamar mandi, "Loh, kemana laki-laki barusan?! Layla bergumam namun masih terdengar oleh Adel.


Adel menatap dengan lirikan tajam, "Bukan urusanmu, balik ke taman belakang sana." Layla hanya mengangguk dan kembali ke taman.