
Sejak pertemuan tak disengaja, Layla diam-diam menjadi penguntit amatir yang suka melirik dan memandangi interaksi Adel dengan Geri belum lagi, mengikuti kemana saja asal masih di kawasan sekolah, maka Layla pun ada disitu meskipun berjarak agak jauh.
Secara tidak sadar pun, perasaan aneh muncul pada hati perempuan itu yang belum pernah merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama atau sekedar dicintai seseorang memunculkan rasa ingin memiliki.
Geri sendiri tahu dari awal jika Layla terus menguntit dirinya hanya saja dia memilih diam saja. Geri akan bertindak jika Layla sudah mencari masalah dengannya atau dengan orang terkasihnya.
"Mereka sangat manis sekali, andai aku yang diperlakukan seperti itu ya, mungkin aku sangat senang sekali!" Layla mulai membayangkan jika dirinya menjadi Adel yang sering dimanja dan diratukan oleh Geri.
Adel sendiri hanya merasakan namun memilih abai. Dia baru bisa merasakan ada yang mengikutinya pada hari kedua. Sikap abainya itu membuatnya lengah kembali sebab adanya calon bibit uler baru mau menimbulkan masalah baru untuk dirinya dan Geri.
"Ger kamu ngerasa ada yang ngikutin kita gak sih?"
"Emm, emang ada" jawab Geri
Adel melotot ngeri,"Lah, kamu kok gak bilang sih? Parah bener kamu Ger!" kesalnya sambil memukul lengan atas Geri.
"Ngapain juga aku bilang, dia toh bukan ancaman bagi kita," dengan santainya Geri menyelepekan hal itu.
"Ya kita harus waspada Ger mana tahu nanti apes lagi sama kayak aku, baru deh kelimpungan!" ketus Adel, kembali menyeruput es coklatnya.
"Hush gak boleh ngomong gitu Yang, kamu tenang aja nanti biar jadi urusanku ya, dia gak akan macem-macem Sayangku!" mengelus kepala Adel.
Adel mengangguk paham sambil menikmati elusan lembut dari Geri. Mereka berdua sekarang sedang nongkrong di warung belakang sekolah.
Teng...teng...teng
"Ayo Ger masuk, aku ada kelas guru killer," Adel beranjak bangun sambil mengibaskan roknya dari debu gak kasat mata.
"Ya udah ayo kalo gitu, Buk berapa ini semua?!"
"25 ribu Mas," Geri menyerahkan uang 50 ribu dan diterima oleh pemilik warung
"Nih buk, kembaliannya jadi sedekah buat ibuk nya,"
"Aduhh, makasih banyak ya mas semoga langgeng sampai nikah sama mbaknya," sumringah ibunya sambil menerima uang tersebut dengan hati yang senang sekali.
......................
Dari sudut lain, Sintya melihat seseorang yang bertingkah aneh yang tengah mengikuti musuh bebuyutannya.
"Siapa dia?! Ngapain juga kayak pencuri gitu jalannya? " gumamnya sambil terus memperhatikan tingkah Layla.
dari sudut bibir Sintya seringai niat buruk terbit.
"Oh... gue ada ide bagus buat ngehancurin lo sampai menjadi debu," Sintya berniat untuk menjadikan Layla sebagai pion baru demi melancarkan semua rencana yang nanti ia buat.
"Siap-siap aja lo Adel, sampai mana lo bisa bertahan, heh!" Sintya pun melanjutkan langkahnya menuju kelas.
Tibalah bel pulang sekolah, Sintya memasukkan semua barangnya ke dalam tas. "Sintya, kamu ada cara hari ini kah?!" tanya Jena
"Ada emang kenapa?"
"Yah, kita mau ngajak kamu belanja di mall," imbuh Dena
"Kapan-kapan, gue masih ada urusan, bye guys!" pamit Sintya
Jena dan Dena menghembuskan napas pasrah, akhir ini mereka bertiga jarang sekali hangout bersama. Padahal dulunya, Sintya tidak sesulit ini untuk diajak pergi bersama.
"Mungkin dia sibuk Jen, jangan risau!" kata Dena menenangkan saudaranya dengan menepuk pelan bahu Jena.
"Hmm, aku merasa kita agak berjauhan dengan Sintya,"lanjut Jena
"Kita bisa apa lagi? Ya udah langsung pulang aja kalo gitu!" Dena menggiring Jena untuk lanjut berjalan, situasi lingkungan sekolah sudah mulai sepi.
"aneh gimana Jen? Aku lihat mungkin lebih ke kayak dianya banyak masalah di rumahnya, jadi kayak tertekan gitu gak sih?" perkiraan Dena
"Aku pernah mergokin dia menyeringai jahat gitu, apa dia kerasukan jin tomang ya?"
"Jangan ngasal deh kamu Jen, jin tomang itu baik, dia mengabulkan permintaan seseorang, "
"Banyak nonton aladin kamu ya Den, dimana-mana ya jin itu penghasut manusia di dunia real. Jangan kebanyakan nonton animasi kamu tuh!" Dena mendengus sebal sambil bersedekap dada.
Sementara Sintya, menolak ajakan Jena dan Dena demi mendatangi pion barunya. Sintya pun menunggu di kantor satpam namun tetap berhati-hati agar tidak terlihat siapapun.
"Loh loh Dek, ngapain kok masuk-masuk kesini?" satpam yang tadinya asik menonton TV terheran pada Sintya yang tiba-tiba menyelonong masuk tanpa izin.
"Bentaran pak, saya lagi nunggu temen,"
"Aneh nunggu temen kok sembunyi-sembunyi gitu?"
"Ya terserah saya dong pak, mau sembunyi kek, mau salto kek, itu urusan saya!" Sintya menjawab dengan sinis, merasa terganggu dengan pertanyaan yang sama sekali tidak ada hubungan dengan satpam itu.
"Astaga, jaman sekarang anak muda ndak kayak jaman dulu, masih beruntung mereka gak ditempeleng sama orang kalo ngomongnya gak sopan. Sekarang aja sekali mukuli orang dikira kriminalitas bahkan melakukan kekerasan." Gerutu satpam membandingkan zamannya yang dulu dengan yang sekarang.
"Hei lo!" Sintya memanggil Layla
Layla menoleh kesana kemari mencari seseorang yang baru saja memanggilnya. "kamu manggil aku?!"
"Iya lo yang gue panggil, buruan sini!" titah Sintya sambil waspada.
"i-iya sebentar," Layla dengan langkah ragu tetap mendatangi Sintya. Layla tentu mengenal kakak kelas itu, bidadari sekolah yang terkenal akan kecantikannya. Tiba-tiba memanggilnya seolah dirinya sedang punya urusan dengan Sintya.
"Iya kak, kenapa?"
"Lo mau jadi temen gue?"
"Eh? Gimana ya kak maksudnya," Layla sedikit meragukan indera pendengarannya. Perempuan yang banyak dikagumi minta berteman dengannya.
"Apa aku lagi mimpi indah ya?! tiba-tiba diajak kenalan trs ditawarikan jadi temannya!" batin Layla
"heh ditanya malah bengong lo, mau jadi temen gue gak?!"
"Ma-mau kak? Tapi kenapa?"
Sintya menaikkan sebelah alisnya," emang mencari teman harus ada alasannya gitu ya?, wah kalo gitu gue gak bisa dong jadi temen lo?!
Sintya pun yang ingin pergi, tangannya ditahan.
"Tu-tunggu, aku mau kok kak, namaku Layla kak, kalo kakak sendiri siapa?!" Layla menjulurukan tangannya.
"Sintya, gue seneng lo mau jadi temen gue," keduanya pun berjabat tangan, Layla merasa dirinya sedang mendapat keberuntungan dari para dewi karena seorang Sintya mau berteman dengan dirinya yang tak seberapa kaya dibanding dengan Sintya sendiri.
"Kalo bukan karena gue mau manfaatin lo, mana mau gue temenan sama anak miskin dan kampungan kayak lo"
Layla tersenyum kearah Sintya yang balin tersenyum paksa. "Terlalu Pede kalo sampai lo merasa beruntung gue mau jadi temen lo, cih Mit amit."
"Nah karena kita sekarang berteman gimana kalo kita pergi ke mall sebagai tanda perayaan hari pertemenan ?!"
"E-ehhh tapi aku gak punya banyak uang buat beli ini itu di mall,"
"Udah tenang aja, gue yang traktir hari ini!" Sintya menarik tangan Layla dan membawanya ke parkiran mobil.
Rencana pertama Sintya adalah melakukan
pendekatan dengan pion barunya lalu perlahan-lahan akan mencuci otak Layla agar terhasut dan memudahkan rencana dia selanjutnya. Lalu membuangnya ketika sudah tidak berguna baginya dikemudian hari.