
Semenjak Sintya memutuskan untuk ikut dengan Lona, Dia sekarang bekerja sebagai pelayan yang mengantarkan minuman keras ke beberapa pria hidung belang.
Konsekuensi dari pekerjaan ini adalah mata bejat mereka yang terus haus akan kulit putih bersinar seperti porselen.
"Cwit...Cwit..." siulan yang terus Sintya dapatkan namun diabaikan.
"Sin...tuh cowok kayak ya tertarik sama lo!"
Sintya menoleh ke belakang dan menatap kearah yang ditunjuk Lona. Terlihat seorang pria jangan seperti berkelas namun menguarkan aura gelap. Sintya dalam hati bergidik ngeri jika berurusan dengan lelaki semacam itu.
"Bukan tipe gue!!" jawab Sintya singkat
"Halah sok nolak lo Sin..sin... Dah kah nih anyer ke cowok itu."
"Hah?!! Gila lo ya? Baru juga gue bilang, dia bukan tip-"
"Ck...tuh minuman pesanan laki itu! Dah sana keburu ngamuk."
"Kenapa gue? Kan masih ada yang laen!!"
"Shh...pake acara nolak lagi, gue juga gak bakal nyuruh lo kalo yang lain gak sibuk. Dah no komen!!"
Ingin Sintya membenturkan gelas itu ke kepala Lona. Dengan ekspresi ogah-ogah, Sintya pun mengantarkan ke meja lelaki itu.
"Ini..." Sintya menaruh gelas dan botol kaca itu lalu bergegas melenggang pergi.
"Wait..." ujar laki itu dengan suara menekan.
Sintya diam dan tak berbalik badan."ya? Ada yang bisa saya bantu?!"
"Apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini?!" tiba-tiba pula, laki itu menanyakan yang bukan urursannya.
"Itu bukan urusan anda Tuan dan juga bukan ranah anda untuk menanyakan hal itu!" dengan jutek dan dingin Sintya menimpalinya.
"Hmmm..benar juga!! kamu bisa pergi!!" laki itu kemudian mengusir Sintya. Pertemuan yang gak jelas bagi Sintya.
......................
Di sudut lain, Adel kian merasa terkekang, siapa lagi kalo bukan ulah Bunda Herni dan Ayah Nino.
"Plid deh Yah Bun...Adel cuma mau pergi tidur juga ditanyain mau ngapain sama mau kemana?!"
"Wajib kalo sekarang Adel!! Bunda dan Ayah gak mau terjadi apa-apa sama kamu!" celetuk Bunda Herni
Adel mengusap kesal wajahnya, "Ya gak gini juga Bun!!!astaga lihat kondisi dong,"
"Dah lah kamu tinggal jawab aja apa susahnya" ganti Ayah Nino
"Ayah juga ikut-ikutan!!"
"Ya gimana gak ikut-ikutan...wajar dong! Kamu anak ayah satu-satunya! Dan ayah cinta pertamamu hanya satu-satunya. Masa seenak jidat orang lain mau ngelukain kamu!!" protes Ayah Nino
"Iya dah iya itu terserah ayah. Dah pokok intinya Adel mau pergi tidur. Titik!!" Adel pun dengan cepat melesat lari ke kamarnya sebelum Bunda Herni mendatang dan menyerobot masuk lalu menemaninya tidur.
Adel risih, Adel kan sudah dewasa ya gak?! Beginilah suasana rumah disetiap malamnya, mengharuskan Adel melewati malam yang terasa sangat panjang untuk dirinya
......................
Di sekolah, kabar Sintya seolah mulai terpendam perlahan demi perlahan kecuali seseorang yang sibuk mengkhawatirkan kondisi Sintya, siapa lagi kalo bukan Layla.
Layla merasa jika Sintya disaat yang seperti ini pasti membutuhkan seseorang untuk dijadikan sandaran. Jika saja Layla tahu bila Sintya saja tidak memikirkannya sedikit pun pasti akan sangat mengecewakan.
"Kak Sintya dimana ya kira-kira?! Aku khawatir kalo terus-terusan kayak gini!"
Sejujurnya Layla sendiri tidak mampu menilai perasaan cemasnya. Apakah benar mencemaskan Sintya atau mencemaskan sesuatu yang akan hilang darinya karena kesepakatan diantara mereka yang hanya omong kosong.
" Aku harus mencarinya kemana? Aku bahkan gak tahu asal-usul kak Sintya sendiri!"
Layla tidak mempunyai koneksi dengan seseorang hingga mampu membantunya mencari keberadaan Sintya.
Berbeda dengan Geri yang tak melepaskan targetnya begitu saja. Sam, Zio dan Geri secara bergantian memperhatikan gerak-gerik Sintya di luaran sana layaknya buronan.
"Gue heran ya! Si sinting itu penuh misteri hidupnya!" ucap Sam
"Kenapa lo nganggep dia penuh misteri?!" tanya Geri
"Ya secara pikir gue, pasti ada hubungan antara kedua cewek itu. Misal kayak temen masa kecil maybe!"
tiba-tiba Zio menyeletuk "Ger... Gue rasa ya akhir-akhir ini firasatnya Sam betul semua!"
"Menurut lo gitu?!" Geri tidak terlalu yakin , bisa saja hanya kebetulan.
"Heem... Secara tebakan Sam bener semua."
"Hehe... Lo berdua baru sadar ya kalo gue berharga dan berguna, karena lo berdua sahabat gue jadi dengan senang hati gue bakal bantu"
Geri dan Zio berdecih sebal melihat tingkah menyebalkan Sam. Mereka bertiga kembali melihat kearah layar laptop, disana Sintya sedari tadi hanya bekerja mengantarkan minuman.
"menurut lo apa mending kita telpon polisi buat gerebeg tuh diskotik?" tanya Zio
"Jangan dulu, si temennya itu kan gak lagi bikin masalah sama kita, so jangan libatkan dia. Tunggu Sintya pergi dari situ dan baru kita beraksi.
"Okelah kalo mau lo gitu."
"Ger, lo gak papa nih kalo gak nemenin Adel? Sekarang kan malam sabtu."
" Emang lo berdua mau gue suruh jaga ini?" Geri bertanya balik
Geri memutar matanya kesal selalu saja tamannya ini gesrek. "Tapi awas aja lo gak becus, bakalan gue minta ganti tuh duit gue!"
"Alah...iya iya udah sana ke Adel. Ngambek baru tahu rasa lo!"
Geri menyerahkan uang 500 ribu kepada Zio dan langsung keluar dari basecamp.
Geri juga sangat suntuk seharian di sekolah hanya memperhatikan Sintya agar tidak lepas dari jangkauannya sampai harus merelakan jam mesranya dengan Adel.
Geri mendatangi kelas Adel dan menengok ke dalam. Saat matanya menangkap sosok Adel yang tertidur di bangkunya, Geri pun mencoba membangunkan.
Seperti biasa reflek Adel ketika seseorang membangunkannya dari tidur maka yangannya kayaknya pisau lentur dan fleksibel itu suka sekali menampar pipi orang lain. Entah sudah berapa banyak korban. Akan tetapi, berbeda dengan Geri yang bagus dalam ketangkasan sehingga mampu terhindar.
"Yoooo bro, lo berhasil menghadang tamparan Adel rupanya!" celetuk siswa laki di kelas itu.
"Beneran? Hebat dong kalo gitu aku!"
"Dan ngapain anak kutu buku kayak lo ada di kelas ini?!" Geri melupakan satu fakta bahwa dia masih bakcstreet.
"A-aku disuruh guru buat bantu Adel be-benerin nilai mapelnya!" Geri mengaktifkan mode culunnya.
"Oh okelah!!"
Geri menundukkan wajahnya lalu membisikan sesuatu ke telinga Adel. "Ada coklat yang lagi menunggu untuk dimakan Sayang!!"
Seketika Adel terbangun dan menoleh ke kiri dan kanan."Mana coklatnya?!"
Geri terkikik pelan,"Adel coklatnya nanti aku belikan." gumam Geri
Adel mendengus karena tertipu dengan akal-akalan Geri."Mest dah ya! Bikin kesel! Kenapa kok kesini?"
"Ayo ikut aku," keduanya pun keluar kelas untuk menghabiskan waktu berduaan sampai jam sekolah selesai.
......................
Di sisi lain Selo sudah diam menunggu seseorang untuk dia tanyakan. Hampir sekitar setengah jam Selo berdiri namun dia dengan ekstra sabar menantikan.
Kemudian Geri, Sam dan Zio berjalan menuju parkiran sedangkan Adel menanti di bawa pohon rindang.
Selo yang melihat Adel langsung menghampirinya.
"Lo Adel kan?! Tanya Selo
Adel berbalij badan dan menekuk alisnya. " Lo siapa?"
"Gue kakaknya Sintya, gu-"
Belum juga bertanya Adel sudah mau pergi.
"Seben-" dirasa tangannya diraih oleh Selo, Adel langsung mengambil kuda-kuda untuk membanting cowok itu. Akan tetapi, tenaga Selo lebih kuat untuk sekarang.
"Gue gak bakal macem-macem, gue cuma mau tanya aja gak lebih!"
Adel menghembuskan nafas kesal, "Apa an?!" jawab Adel sangat ketus.
"Lo tahu Adel kemana?"
"Lah mana gue tahu, gue gak mau berurusan sama tuh cewek resek!"
Selo merasa bersalah, dulu dia juga berencana akan menjahati cewek di depannya namun tidak jadi."Gue minta maaf atas nama adik gue, dia udah keterlaluan sama lo!"
"Bukan lo yang harusnya minfa maaf tapi adik lo! Gila aja bawa barang begituan ke sekolah!"
Mendadak Geri datang dengan wajah garangnya."Sayang kamu diapain sama cowok ini?!"
"Aku dibikin repot sama dia!" Geri menatap tajam
"Lo lagi! Lo lagi, sekarang apalagi? Mau ngajak tawuran lo!!"
Selo menggeleng keras, tujuannya hanya untuk mencari tahu tentang adiknya." Gak Ger, gue cua mau tahu dimana adik gue."
"Dan lo tanya ke pacar gue? Dia gak tahu si sinting kemana, tapi kalo gue pasti sudah tahu."
"Lo tahu?!" sontak Selo meninggikan nada bicaranya
"Biasa aja dong, ludah lo muncat kesini!"
"Ma-maaf, Sintya dimana dia sekarang?!"
"Gue bakal dapat apa hah? Kalo gue kasih tahu dia dimana?!"
"apa mau lo?!"
"Bawa Sintya ke kantor polisi tanpa melibatkan tempat dia bekerja, dan gue mau dia jera."
Glek...
Haruskan Selo memenjarakan adiknya sendiri?
"O-oke gua bakal lakuin itu!"
"Jaminan nya gue bakal ancurin bisnis keluarga lo sampe ludes..des"
Mau tidak mau Selo akan melakukan, agar Sintya ditemukan olehnya. Setelah mereka berdua sudah sepakat, Selo pun langsung pulang.