Queen Bullying Vs King Street

Queen Bullying Vs King Street
Lawan tak sepadan



Yeah akhir-akhir ini kehidupan sekolahnya semakin menarik dan berwarna semenjak Adel menjadi kekasihnya yang sudah dua minggu menjalin hubungan bersama Geri.


Dan selama itu pula Adel benar-benar dicap sebagai queen bully karena Sintya selalu dibuat gerah hati oleh Adel.


Geri tidak mempermasalahkan hal itu asalkan pacar cantiknya tidak terluka sama sekali.


Sekarang Geri sedang mengemudikan namun sekilas matanya menangkap empat pengendara sepeda motor mengikutinya dari jauh. Geri memutar setir mobilnya dan menggiring mereka menuju kawasan yang sepi serta jauh dari petugas keaamanan.


Menambah kecepatan lalu membanting setir hingga mobil Geri berhenti pas ditengah jalan raya menutup akses mereka.


Empat pengendara pun berhenti paksa, Geri dan 4 orang itu pun berhadapan seperti layaknya film coboy di tengah gurun.


"Ngapain lo pada ngikutin mobil gue hah? Kurang kerjaan banget ngintilin orang lo pada!" Geri menyandarkan punggungnya ke badan mobilnya.


"kita semua mau ngehajar lo sampai babak belur kalo bisa sih mati juga gak papa."


"Pembunuh dong lo semua, ihh takut gue!" Geri tersenyum remeh.


Keempat remaja itu geram karena diremehkan padahal jumlah mereka lebih banyak. "lo gak usah banyak gaya kalo pada akhirnya lo yang akan kalah nantinya!"


"Pede banget lo kalo bisa menang dari gue. "


Ketua dari keempat orang itu berlari kearahnya sambil berteriak seperti orang stress lalu diikuti teman-temannya.


Geri pun mengambil gaya kuda-kuda tanpa celah untuk lawannya menyerang titik kelemahannya. Geri dengan mudahnya menendang tepat di leher , pinggang dan lipatan lutut hingga membuat mereka bertekuk lutut dan terjatuh.


"Heh cuma segini gaya lo?!" celetuk Geri


"Loooo!!!! Hajar dia sampai mati!" ketua motor itu mengeluarkan sebuah pisau lipat dibalik saku celananya


"Haduh males banget kalo lawannya udah main pisau, lo pada kelihatan cemen tahu gak!" ujarnya sambil menangkis serangan yang diarahkan musuh kepadanya dengan mudah.


Hingga beberapa menit Geri merasa bosan hanya menahan semua serangan itu akhirnya ia mengeluarkan keahlian seni bela dirinya untuk mengakhiri permainan kanak-kanak ini.


shkkk..shkk..shkk..mengusapkan kedua telapak tangannya tersenyum kemenangan melihat keempat orang yang sok berani tadi sudah babak belur dengan luka ringan namun tidak dengan keperkasaan mereka. Geri masuk ke mobilnya meninggalkan mereka dengan cepat agar tidak membuntutinya lagi.


......................


Telpon rumah terus berdering mengganggu Sintya yang asyik menonton drama korea di TV kamarnya.


"Siapa sih ganggu aja hari libur gue!"


"Halo siapa?!"


"Maaf betul dengan saudara Sintya?"


Sintya mengerutkan keningnya,"Iya betul, siapa ini?!"


"Saya dari pihak rumah sakit Citra Hasan ingin memberitahukan bahwa kakak saudara Selo sedang dirawat, mohon untuk segara menuju rumah sakit."


Mata Sintya membelalak tak percaya.


"Baik terimakasih." Sintya menutup telpon itu dan berlari ke kamarnya untuk mengganti baju santainya.


Sesampainya di rumah sakit Sintya menuju ke meja resepsionis untuk menanyakan ruangan kakaknya dirawat. Setelah itu dia mencari kakaknya.


Disebuah kasur brankar Selo merintis ngilu dan nyeri di bagian keperkasaannya sampai dia tidak kuat berjalan dan berdiri.


"Kak! Kakak kenapa bisa begini?!"


"Kok kamu malah nanya gitu sih Dek? Ini gara-gara kamu sih junior kakak terkena imbas sama anak yang katanya culun tapi gak culun itu."


"Hah gimana sih maksudnya? Kakak salah orang kali! Dia itu real culun meskipun agak ganteng tapi tetep aja dia culun!"


"Mana ada kakak salah orang! Udah bener nih mukanya sesuai sama yang kamu kirim fotonya. Kamu kita kakak buta ya!"


"Masa sih?! Mana coba liat foto orang yang tadi kakak hajar!"


"Gak ada ish, mana sempet kakak foto dia orang kita lagi berantem! Udahlah kamu itu gak usah ngurusin hidup orang. Kalo kamu memang suka sama cowok ya usahanya yang sportif dong!"


"Ck kakak itu gak tahu apa-apa jadi diem aja!" Sintya yang akan pergi ditahan Selo.


"Mau kemana kamu?!" tanyanya dengan wajah garang.


"Pulang!"


"Enaka aja pulang! Temenin kakak sampai kakak bisa jalan, gak ada bantahan!"


"Nyusahin juga penyebabnya mau menolong mu ini!" mereka kedua kakak beradik yang selalu suka saling menyalahkan namun tidak pernah berhenti untuk saling menolong.


......................


Sementara Adel menatap kesal dan tak minat akan kehadiran Geri yang sudah tampil sangat tampan namun tidak melupakan sisi culunnya.


"Mau ngapain lo kesini?" tanya Adel bersendekap dada.


"Kamu lupa kalo mau aku ajak jalan-jalan?"


"Oh lupa gue Ger, sorry ya"


Geri hanya mengangguk gemas kenapa pacarnya ini masih saja membuatnya gemas padahal sedang berbuat salah.


"Ya udah kamu mandi sana aku tunggu disini ya."


Adel mengangguk dan pergi.


Geri mendudukkan diri disebuah sofa panjang kemudian seorang wanita muda datang membawa setoples kue kering dan es sirup. "Kamu temennya Adel ya?!"


Geri menggeleng," bukan tante"


"Lah terus siapanya Adel kamu?"


"Pacarnya tante!"


"APA!!!" teriak kaget Bunda Herni


"Bun ada apa kok teriak-teriak sih! " Ayah Nino turun kebawah melihat anak muda disamping istrinya.


"Heh kamu siapa?kok deketin istri saya hah?!" Bunda Herni tersadar kalo dia terlaku berdekatan dengan remaja di depannya yang mengaku pacar Adel.


Nino menarik pinggang istrinya sangat posesif. Geri bingung nih orang pada kenapa sih?


"Maaf nih om tante, perkenalkan saya Geri pacarnya Adel anaknya om dan tante... Om sama tante siapa namanya ya?"


Herni dan Nino saling memandang heran. "Kamu? Pacarnya Adel sambleng itu!"


Plak!


Bunda Herni memukul lengan suaminya berani sekali mengatai anak kandungnya sendiri


"Kayaknya ini orang tuanya Adel kocak bener deh, pingin gue sentil ginjalnya. Astajim Geri gak boleh! Nanti gak direstuin lo.."


"Bunda...Ayah... mau diapain sih anak orang?" celetuk Adel dari arah tangga dengan setelan casual.


"Adel! Mau kemana kamu?!"


"Jalan-jalan lah, emang mau kemana lagi!"


"kamu bener Adel anaknya Ayah Nino dan Bunda Herni kan?! " Nino terkejut Adel mau keluar rumah dihari libur biasanya dia memilih di mengurung diri di rumah dengan sejumlah kegiatan non faedahnya.


"Iyalah mau Adel siapa lagi? Jangan banyak nonton film detektif jadi banyak halu Ayah kan jadinya!"


"Adel berangkat Yah Bun!" Adel menarik tangan Geri keluar dari rumah.


"Mereka lucu ya!" ujar Geri


"Lucu? Buta lo ya! Kayak gitu dibilang lucu! Somplak kali!"


"Heh gak boleh gitu Adel, mereka orang tua kamu! Gak boleh durjana!"


"Durhaka Geri!!!" gemas Adel


"Eh iya itu maksud aku, kamu udah makan belum?"


"Udah sih, tapi pengen nyemil coklat aku."


Geri tersenyum, " ya udah, aku ajak kamu ke tempat yang bakal bikin kamu bahagia dan akan sangat menyenangkan."


Geri berencana membawa Adel ke sebuah cafe yang mengolah banyak minuman dan kue dessert disana. Mereka membuat coklat asli dari bahan kakao yang diolah sedemikian rupa.


Geri menantikan reaksi apa yang timbul diwajah pacar manis dan garangnya.