Queen Bullying Vs King Street

Queen Bullying Vs King Street
Penyekapan failed



Suasana sekolah hari ini terasa sangat berbeda, terkesan lebih ramai daripada biasanya. Adel yang suka di kelas sekarang merasa bosan dan suntuk.


"Gue udah lama gak makan coklat, maybe gara-gara itu kali ya suasana hati gue juga ikut boring."


Adel pun berniat pergi ke kantin untuk membeli beberapa coklat agar bisa memperbaiki moodnya menjadi lebih baik.


"Buk, Ini semua berapa harganya?!" Adel bertanya sambil memperlihatkan sekantong coklat ditangannya yang baru saja dia pilih.


"25 ribu mbak,"


"Oke, nih buk makasih ya!" Adel menyerahkan uang pas kepada penjualnya.


Dia membawa coklat itu dan akan memakannya di taman belakang sekolah. Disana sangat nyaman dan tenang dibanding mendengarkan sorakan membuat telinga Adel bising.


"Memang tempat sejuk yang paling afdol." gumam Adel sambil duduk dibawah pohon yang melindunginya dari terik matahari.


Adel membuka coklat yang paling kecil bermodel seperti permen dan menyuapkan ke mulutnya. Hingga sedikit demi sedikit Adel menghabiskan semuanya sampai tersisa bungkus saja.


Di lain sisi, Sintya berada di tempat bersamaan dengan beberapa orang yang sangat mencurigakan tampilannya.


sepasang cewek dan cowok memberikan bungkusan dan sebaliknya Sintya memberikan sebuah amplop coklat berisikan uang.


"Jujur gue penasaran sih, lo suruh gue buat beli barang kayak gini buat apaan?! Lagian ini lingkungan sekolah." tanya cewek dengan tato disekujur tangan kirinya


"Ini bukan urusan lo, yang penting lo dapat uang setelah kerjaan lo beres."


"Ayo kita cabut dari sini!" si cowok langsung mengajak cewek tato itu pergi, seperti tidak ingin tertangkap basah jika terlalu lama disini.


Sintya memandangi sebuah obat di tangannya, seringai jahat tampak jelas dari sudut bibirnya. " setelah sekian lama gue gak ngelakuin ini, akhirnya gue bisa ngelakuin lagi."


flashback on


Di gudang tersembunyi di sekolah SMP tempat Sintya belajar, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa sosok malaikat yang mereka sukai ternyata iblis yang sedang menyamar.


Sintya dengan satu temannya tengah sibuk menyekap seorang siswa baru yang merebut posisinya sebagai wanita cantik. Yah, Sintya haus akan pujian dan pandangan orang yang seakan memuja dirinya. Sintya merasa itu kesenangan tersendiri untuknya.


"Lo kira bisa gantiin posisi gue disini hah?!" suara menekan dari Sintya di ruangan dengan cahaya remang-remang sambil memainkan rambut perempuan yang terduduk ketakutan diiringi isakan tangis pelan.


"Anak baru kayak lo aja udah mulai blaguk banget! Lo tahu gak? gue itu gak suka orang lain memuja dan muji lo kayak gitu. Emang lo siapa hah?!"


Sintya dari tadi hanya berbicara sendiri, sedangkan teman satunya sibuk meracik sesuatu.


"Sin, nih tugas gue selesai."


"Heem taruh dimeja situ, lo bisa pergi."


"Oke kalo gitu," teman Sintya sebelum pergi sempat melihat kearah anak malang itu namun tugasnya sudah selesai jadi dia harus segera pergi dari situ.


Srekkk... (suara pintu gudang yang digeser)


Sekarang hanya ada Sintya dan perempuan malang itu.


"Nah sekarang cuma ada gue dan lo, Gimana? Lo takut kayaknya takut banget?!" wajah Sintya berhadapan dengan perempuan tersebut.


"Heh...gue lagi ngomong sama lo tahu gak!!" sarkas Sintya mendorong keras kening perempuan malang itu.


"Kalo gue ngomong, harusnya lo jawab dong. Somobong banget sih!!" perempuan itu menggeleng sambil menangis seolah memohon agar Sintya menghentikan tingkah gilanya.


"Eghmmm, hmmmpphh hiks...." gumaman tak jelas itu menyulut emosi Sintya secara perlahan


"Jijik banget gue ngeliat lo kayak gini sih!!!"


"Argggmmmm..." Sintya menjambak rambut perempuan itu ke belakang dan menarik keras lakban yang ada di bibir itu.


Srekkk...


"A-ampun Kak!!! tolong lepasin aku!!! Hikss... Aku ada salah apa ke kakak?! Hikss...ampunnnn!!!" suara rintihan dan ketakutan itu memuaskan hati Sintya.


"Ternyata bisa ngomong juga lo ya,"


"Lo tanya apa salah lo? karena gue baik hati, biar gue kasih tahu oke. Salah lo itu karena kedatangan lo di sekolah ini merebut perhatian orang dari gue dan gue gak suka itu."


"A-aku gak tahu hiks...kalo aku ngerebut perhatian itu...aku mohon kak hiks... Lepasi aku ya!!!?" berkali- kali perempuan malang itu memohon namun Sintya selalu mengabaikannya.


"ketidaktahuan lo itu bikin gue marah dan kesel, lebih baik, gue akan buat lo bahagia dengan cara berbeda. Bukan ngerebut perhatian orang tapi-" ucapan Sintya terjeda, ia berjalan kearah meja dan mengambil sebuah racikan obat dari temannya itu.


"Lo tahu ini gak?!" Sintya memperlihatkan serbuk yang ada diplastik clip


Perempuan itu termasuk siswa pintar tentu saja dia langsung paham apa serbuk ditangan Sintya.


"Kak...jangan kak... Itu nark*** ... Kakak bis dipenjara kalo ada orang yang tahu," disaat posisi yang seperti ini saja perempuan itu masih peduli akan keselamatan Sintya.


"Ini tentu aja bukan buat gue, tapi buat lo," Saat itu juga Sintya mencekoki perempuan itu yang terus berusaha menghindar dengan mengayunkan kepalanya ke kanan dan kiri.


Plak....


Sintya menampar dengan keras, perempuan itu tak peduli dengan rasa sakit di pipinya, dia tidak mau barang itu menyentuh dirinya.


"Lo gak usah nolak gitu dong," Sintya mencengkram dagu perempuan itu dan berhasil menuangkan semua serbuk itu hingga membuat perempuan itu hilang kesadaran.


Flashback off


Dan kali ini target Sintya adalah Adel sebagai korban selanjutnya. Sintya akan terus memanfaatkan Layla sebagai kaki tangannya bila rencananya kali ini tidak berhasil.


Sintya pun meninggalkan tempat itu dan menyembunyikan barang itu dibalik kaos kakinya agar tidak diketahui orang lain.


......................


Geri, Sam dan Zio sedang berada di basecamp. Mereka baru-baru ini memasangkan cctv tersembunyi di setiap sudut sekolah. Dan seperti yang kalian tahu mereka bertiga melihat apa yang dilakukan Sintya.


"Lo kira itu apa?!" tanya Zio kepada Geri


"Gue rasa itu obat gak sih?!" jawab Geri


"Makin kesini nih anak makin stress gak sih?" ujar Sam


"Bukan stress lagi tapi udah ke ganggu psikologisnya. Ngeri banget dah!" celetuk Zio


"Menurut lo berdua itu untuk apa?!" tanya Geri lagi


mereka bertiga berdiskusi sambil memperhatikan gerak-gerik Sintya di sekolah.


"pacar lo gak sih?!" kata Sam


"Heem kayaknya sih iya," imbuh Zio


"Sam Zio gue mau lo berdua cari latar belakang kehidupan sekolah Sintya, gue rasa ini bukan pertama kalinya si Sinting ngelakuin ini."


"Okelah biar kita cek."


Brakk...(Geri menggebrak meja didepannya)


"Sialan...Lo sinting....beraninya macem-macem sama calon istri gue!!!"


Geri dengan tergesa-gesa keluar dari basecamp membuat Sam dan Zio mengikuti Geri.


"Apa lagi sih yang dilakuin sama tuh cewek, lama-lama bikin gue gila tahu gak!!"


"Bukan cuma lo doang, gue juga!"


......................


Sintya akhirnya menemukan keberadaan Adel yang tengah terlelap dibawah pohon.


"Gue yakin hari ini lo mampus!"Dengan langkah menjinjit Sintya mendekati Adel.


Sebelum itu, Sintya menuangkan sebuah cairan ke sapu tangan yang dia bawa.


"Tamat riwayat lo hari ini!!"


Grebb...


Akan tetapi, sebuah tangan menghentikan pergerakan Sintya yang akan membungkam bibir Adel.


"Lo kira gue tidur ya!"


"Heh...asal lo tahu dalam keadaan tidur pun gue bisa ngerasain pergerakan orang lain yang ada dideket gue!" ujar Adel yang perlahan membuka matanya.


Deg...


Sintya tercengang dan kaget, bagaimana mungkin Adel terbangun.


"L-lo...gak tidur?!"


"Heh...mana mungkin bisa gue tidur nyenyak di tempat kayak gini tanpa waspada. Hanya orang bodoh yang ngelakuin hal itu!"


Bertepatan dengan Geri yang baru datang disusul Sam dan Zio dengan nafas terengah-engah.


"Sialan lo Sintya!!!, apa yang lo mau lakuin hah!!!"


"Gila bener sih!!!"


Sam memilih untuk merebut sesuatu yang ada ditangan Sintya dan sesuatu yang tak luput dari matanya. Barang yang disembunyikan Sintya dibalik kaos kakinya.


"Hebat juga lo, bisa beli barang kayak gini!" ucap Sam


"Zio lo telpon polisi sekarang! Gue mulai gemes ngelihat tingkah gilanya."


"O-oke,"


Sintya menegang," gak gak gue gak boleh berakhir di tahanan. Gue gak mau, gue belum balas kelakuan Adel!!!"


Sintya terus menggeleng dan memberontak dari cekalan tangan Adel. "Lepasin gak!! Lepasin gue bang***"


Geri mengambil alih Sintya dari Adel agar tidak ada hal yang tidak diinginkan terjadi.