
Seakan angin pun menyetujui bahwa Layla lebih pantas cantik daripada dirinya yang sebelumnya, semilir angin menerpa rambut halus Layla.
Para siswa laki dan perempuan dibuat melongo tak percaya dengan apa yang dilihat mata kepala mereka sendiri.
"Njir.. gue gak salah lihat orang kan?"
"Itu beneran si anak miskuin itu gak sih?"
"Dia makin cantik ya, kalo wajahnya dirawat."
"Ternyata berlian dibalik lumpur, Sungguh indah ciptaanmu tuhan,"
Seakan telinganya suka mendengar puja dan puji dari orang lain, Layla semakin mendambakan semua itu.
"Keputusanku ternyata tidak salah untuk membantu kak Sintya."
Sesampainya di kelas, sama halnya dengan tadi teman kelasnya menganga tidak percaya juga. Layla digerumbuli seperti seonggok daging dihinggapi lalat.
"Ini bener lo La?!"
"Iya ini aku Layla, kalian kenapa ada yang salah kah dari aku?"
"Gak-gak ada kok," sontak mereka menjawab itu.
Layla sangat sangat terlihat cantik sekali seperti itulah pandangan mereka terhadap kecantikan itu. Layla membalas dengan senyuman paling manisnya membuat para lelaki bersiulan.
......................
Adel dan Geri baru saja tiba di sekolah dengan kenderaan masing-masing.
"Selamat pagi sayangku," ucap Geri sambil menghampiri Adel yang tersipu malu.
"Ger ini masih pagi ya, plis jangan bikin aku malu." bisik Adel
"Ih lihat deh, sekarang udah aku kamu an ya. Udah kalem nih ceritanya," Geri kembali menggodai Adel yang mendadak mendatarkan wajahnya.
"Lo gak suka?"
"E-eh ya suka dong Sayang!"
Glek
Geri menelan ludahnya," kayaknya gue salah ngomong sesuatu deh!" batinnya bertanya
"Ya udah kalo gitu, syukuri aja. " Adel pun mengembalikan nadanya menjadi lembut lagi.
"Soalnya aku mau jadi cewek kalem buat kamu tapi gak buat yang lain!"
Tiba-tiba ganti Geri yang kini dibuat berbunga-bunga. Otak Geri menangkap ucapan Adel bahwa hanya dirinya lah satu-satunya yang mengetahui sisi berbeda dari Adel.
"Pagi pagi kamu juga udah so sweet banget sih!" Geri mencubit pipi Adel.
"Ayo ke kelas," keduanya berjalan berdampingan seolah hanya sekedar teman.
Setelah mengantarkan Adel ke kelasnya Geri langsung pamit pergi kelasnya sendiri. Begitu meletakkan tasnya ia disambut denga kedua teman idiotnya.
"Uy gue ada berita nih!" celetuk Sam
"Apaan? Awas aja kalo gak berguna," sahut Zio
Geri memilih menyimak," Apaan?!"
"Tadi pagi semua siswa digemparkan dengan cewek cantik yang berubah sekejap mata yang katanya awalnya dia itu biasa aja."
"Jadi siapa dia?!" tanya Zio
"Katanya sih dia sekelas sama Adel kayaknya sih temannya ya!"
"Menurut lo itu bener?!" ganti Geri bertanya
"Pas gue cek sih bener tapi saking aja gue gak terlalu tertarik sama tuh cewek."
"Why? Lo kan matanya jelalatan sukanya," ucapan Zio sontak diangguki Geri.
"Lo berdua emang sukanya bikin gue kesel ya! Suka banget nista in gue! "
"Ya gimana gak suka, orang kayak lo emang kudu digitu in biar tobat dan sadar." jawab Zio
"Lah terus lo kagak gitu? gue sama lo juga sama kali! Dasar kutu air!"
"Lo!! melebihi kutu air, lo itu patogen!"
Geri menghembuskan nafas pasrah, kenapa juga harus dia yang menjadi penengah disaat kedua idiot ini berdebat.
" lo berdua mendingan kasih ini ke Adel, gue lupa tadi, habis itu susul gue ke basecamp."
Sam dan Zio mengangguk bersamaan."Oke,"
"Uy Del!" Sam mencoba membangunkan Adel hingga tubuhnya terguncang pelan.
"Awas entar lo kena serangap si Adel." bisik Zio
"Tenang aja kali, " Sam mengabaikan peringatan Zio, karena Zio sudah dua kali terkena serangan reflek dari Adel.
"Uy Del bangun,"
Adel sedari tadi terusik namun usikan kedua membuatnya reflek menbuat Sam terkan gamparan di pipinya sebab jarak Sam masih didalam jangkauan serangan Adel.
Plak...
Zio langsung terbahak-bahak melihat itu," Bwahahaha....Mampus lo! Kan udah gue bilang. Nih cewek emang mantap gamparannya!"
"Sialan lo, bukannya bantuin malah nertawain."
"Lo beruda emang berisik ya!" gumam Adel sambil mengucek matanya.
"Ngapain lo bangunin gue hah?!"
"Del lo jadi cewek harusnya kaleman dikit, senyum, feminim gitu loh biar cowok pada suka sama lo!" sementara Sam malah memberikan ceramah tak berguna untuk Adel.
"Hah!! Apaan maksud lo!" Adel menatap tajam kearah Sam
Sam langsung bersembjnyi dibelakang punggung Zio.
"Ngapain juga gue harus nurutin ucapan lo itu, Ck ganggu tidur gue lo berdua."
"Nih nih dari Geri buat lo, ngerti aja si Geri cara balikin mood Adel cuma kasih coklat beres dah!"
Adel berkerut kening," Geri? " wajah Adel menunjukkan sumringah senang.
"Tahu aja dia bikin gue senang, " ketika Adel akan membuka kotak pemberian Geri namun terhenti melihat kedua idiot masih ada didekatnya.
"Terus lo berdua ngapain masih disini?"
"Minta dong!" ujar Zio dengan senyuman kuda
"Enak aja, minta...minta... Beli sendiri!"
"Cih dasar pelit, Sam ayo kita pergi tuh anak udah nunggu lama pasti." Sam hanya mengikuti langkah Zio.
......................
Ketiga anak itu sudah berkumpul, Sam dan Zio penasaran dengan apa yang akan dibicarakan ini.
"Jadi lo mau ngomongin apaan Ger?" tanya Sam
"Jadi gini -"
"oh oke oke," Sam menyelutuk tiba-tiba
Ctak
Geri menjitak kepala Sam, "Belum juga ngomong lo nya udah oke oke, "
"Hehe, canda atuh lanjutin deh!"
Geri menghela nafas panjang ada-ada saja Sam itu. "Gue mau minta tolong ke lo berdua untuk ngawasin si Sinting sama Layla."
"Kenapa?" tanya Zio
"Lo itu gimana sih? Kan mungkin aja si Sinting akan balas dendam. Dan firasat gue nih ada yang gak beres juga. Akhir-akhir ini bukannya terlalu damai ya suasananya?!"
"Oh oke, terus gak beres gimana maksud lo?!" Zio masih belum paham akan situasi yang waspada ini.
"Gue paham, yang lo maksud itu si Layla kan?"
"Heem, gak nyangka gue lo langsung nyambung biasanya juga ha ho ha ho kalo diajak omong."
Sam memutar matanya malas," Lo itu ya, mesti aja gue jadi sasaran dinistakan. Lama-lama sedih adek bang!"
Zio dan Geri menjadi merinding melihat tingkah lebay Sam. "Sekali lagi lo nunjukkin tingkah alay lo, tuh kepala bakal pindah dari posisinya." ancam Zio
Sam jadi ngeri membayangkan itu sambil memegang lehernya. " Dasar Psikopat!" gumam Sam.
Geri bahkan tidak bisa menjelaskan dengan cepat karena ucapannya selalu saja terpotong." Biar gue lanjutin omongan gue lo berdua diem!"
"Si Layla itu patut kita waspadai, tuh anak agak gak beres. Gimana gak coba, mendadak merawat diri pakai riasan dan gue sendiri tahu kalo dia itu dari keluarga yang pas-pasan."
"Oke lah, gue coba cari tahu tentang Layla dan mungkin juga Layla dapat duit dengan cara tak terduga."
Akhirnya ketiga anak itu kembali ke kelas usai merundingkan agar Adel aman dari jangkauan si Sinting yang makin lama dia akan nekat untuk berani membunuh orang lain.