
Adel kini sedang menikmati permainan basket murid laki-laki yang tengah berebut bola di lapangan saat matahari sedang teriknya di siang yang panas ini. Namun, sosok penganggu datang disaat Adel butuh kesendirian dan pacar cupunya duduk tak jauh darinya dengan buku di tangannya.
"Ngapain lu disini sih? Ganggu pemandangan gue liat anak basket!" ucap Adel sambil melirik sinis.
"Adel..matanya dijaga ya! Kamu itu pacar aku jadi selama kamu pacaran sama aku otomatis kamu itu punya aku."
Adel menganga, "Lo itu bukan sekedar cupu ya? Biasanya anak cupu itu gak percaya diri, pendiam, gak banyak omong. Lah lo banyak bacod juga ya!" protes Adel.
"Aku tidak peduli Adel, asalkan kamu milik aku opini orang lain tentang aku dan kamu aku tidak peduli semua hanya angin lalu!"
Adel menggeram kesal," lo gak peduli tapi gue peduli. Hubungan kita itu rahasia tapi lo deket kayak sekarang ini bikin orang lain jadi curiga." dia jadi frustasi kenapa pacar cupunya pintar sekali menjawab ucapannya.
"Tidak usah kamu pikirkan, nanti kamu sakit karena stress gimana? Aku gak mau ya!" sahut Geri masih terus membaca buku rumitnya.
"Arrkhh...kan lo yang bikin gue stress."
Geri menutup bukunya. Wajahnya berubah serius sambil arah tatapan ke mata Adel yang keheranan."ke-kenapa lo natap gue gitu?!"
"Berarti kami stress sekarang? " Geri dibuatnya khawatir, tak sadar mereka duduk berdekatan.
Tiba-tiba ...
Pluk
Adel reflek mengibaskan tangannya ke belakang.
"Auuu..." Zio mengaduh kepalanya terasa nyeri dan pusing diwaktu bersamaan.
"Gue ngerasa dejavu sama kejadian ini. Lo kayaknya murid seni bela diri ya?!"
Zio tanpa izin pada Adel langsung mendudukan diri disampingnya pas.
"Lo Lagi apa?!"
"Lagi duduk dong, oh ya nama lo siapa ya? Gue kok lupa!"
Sedangkan Geri menyimak interaksi keduanya yang dugannya mereka berteman.
"Terus emang lo udah gue izinin gitu dusuk disini? Apalagi disebalah gue lagi! pede banget lo!" sinis Adel
"Loh loh... Ini kan tempat umum jadi siapa aja bebas dong! apalagi ini banyak space kosong. Juga lo belum jawab pertanyaan gue, siapa nama lo?"
"Hak gue dong untuk gak jawab pertanyaan lo!"
"Ngeselin juga ya lo!" celetuk Zio menunjukkan wajah tengilnya."padahal awal ketemu dulu gue kira kalem loh!" imbuhnya
"Lo salah kalo menilai gue sebagai sosok cewek kalem. Lo cowok kudet rupanya ya, padahal udah banyak gosip miring mengatakan seorang adel ternyata queen bully di sekolah sebelumnya!"
Zio tidak mudah percaya dengan gosip murahan diluaran sana."Itu kan bohongan sih! Mereka cuma sirik doang sama lo kare a lo itu cantik ngalahin si Sinting!"
Alis Adel terangkat sebelah,"si Sinting? Siapa ?"
"Dia itu cewek gak tahu diri! mau ngebully gue harusnya tahu kemampuan lawannya dulu. Cih dasar!!"
Yah, panjang umur sekali diujung sana kehadiran Sintya berjalan dengan wajah terangkat tak lupa dengan aura sombong dan sok cantik padahal sudah ada rivalnya.
......................
Sintya geram matanya tak sengaja melihat pujaan hatinya berdekatan dengan musuh bebuyutannya. Amarahnya membludak ketika Adel seakan mendekatkan wajahnya kepada Zio.
"Ternyata ada bibir pelakornya dia!" Sintya melangkah mendatangi keduanya. Geri menyeringai tipis ada mangsa empuk yang mendekati sang predator.
Adel menemukan ide brilian ketika Sintya berjalan kearahnya dengan tatapan menghunus.
"Zio bantu gue ya, ada si Sinting mendekat!"
Zio menyetujuinya dengan gamblang.
Geri diam dan menyimak. Tak ada kecemburuan dalam hal ini, karena cemburu berlebihan itu tidak baik bagi sebuah hubungan. Begitulah pendapat Geri
"Lo murid baru udah mau jadi pelakor ya? Gak heran juga sih gue kalo lo punya bibit pelakor unggulan." secara tidak langsung Sintya menyindir orang tua Adel yang sibuk bekerja.
Adel tidak semudah itu untuk terpancing provokasi seorang amatiran.
"Lo mau gue ajarin gimana memprovakasi orang dengan benar gak? Cara kayak gitu gak bakal mempan bagi orang seperti gue. Dan lagian nih ya kalo boleh tahu hubungan lo sama Zio itu apa?!"
Zio yang tidak ditanya menyahutinya,"Gue aja jomblo. Lo jangan ngaku-ngaku ! bikin orang salah paham aja lo!" ketus Zio
Sintya memelaskan wajahnya,"Zi, kita tetep sepasang kekasih kan? yang kemarin itu gak beneran kan. Masa kamu tega sama aku sih? Aku sayang kamu Zi!"
"Sayang sayang, jangan bikin gue eneg lo itu. Rasa sayang bahkan cinta dari lo aja belum mampu bikin hati gue klepek-klepek!"
"Tapi lo milik gue Zio! Lo pernah janji kalo kita bakal bersama selamanya!" teriak Sintya mengabaikan dirinya yang menjadi tontonan publik.
Zio sendiri tidak ingat apakah dia pernah mengatakan janji alay itu.
"ZIO!! Kamu gak lupa kan?! " Zio malu namanya dibawa-bawa sama Sintya yang segera menjadi orang gila.
"Lo mending ke RSJ sekarang Sin. Bikin malu gue lo! nama gue keramat jangan asal sebut." ucap Zio yang disaat begini pun masih bisa bercanda tawa.
Adel mencubit pinggang Zio "shh...apaan sih Del! Sakit lo cubit-cubit gue!"
"Lo juga bakal jadi orang gila kalo gak berhenti ketawa. DIEM GAK!" sentak Adel.
Sontak tawa Zio terbungkam. Sintya memandang tajam dan penuh kebencian. Adel membalas tatapan itu santai seolah itu bukan ancaman baginya.
"Gue tuh heran sama lo ya, awak gue jadi murid baru tiba-tiba lo cari masalah sama gue padahal kenal aja kagak! Lah sekarang ngatain gue pelakor info darimana? Ngelawak lo ya? Pacar lo aja gue gak tahu sok mau ngerebut. Gak logis bangeg tuduhan lo!" Adel mengecam Sintya yang memendam rasa malunya karena tingkahnya ini memanhlg diluar kelogisan.
"Nih...nih ambil aja nih anak! Gue juga gak tertarik sama nih laki! Makan tuh Zio!" Adel mendorong-dorong Zio kearah Sintya kembali jengkel.
"Dasar oranh stress!" ucap Adel lalu meninggalkan tempat itu disusul Geri yang ouas akan drama didepan matanya.