
Waktu makan siang, Adel memerintah teman-temannya untuk pergi ke dapur. Bunda Herni sudah pergi sejak tadi dan kini Adel diharuskan melayani teman-temannya karena tidak ada satupun pelayan yang dipekerjakan oleh Bunda Herni.
"Del, ini lo semua yang siapin?" tanya Dewita
"Heem... Tuh nasinya lo ambil sendiri," ujar Adel sambil menunjukkan sebuah wadah tempat nasi.
"Ambilin dong," Dewita menyodorkan sebuah piring kearah Adel dengan senyuman lebar
"Heh... Ngelawak lo ya!? Ambil sendiri nasinya pake acara manja lagi!" Adel mendengus sebal dengan tingkah tengil Dewita.
"Dewi...dewi... Udah tahu Adel anak mager masih aja lo gitu," celetuk Gabby
"Lo berdua emang minta gue jahit tuh mulut. Dikasih hati minta rempolo. "
"Canda atuh neng, gitu aja esmosi cepet tua nanti loh!" Adel melihat senyuman konyol di wajah Dewita seketika pisau yang biasanya dipakai untuk mengiris daging steak malah dipraktikkan seolah Adel ingin menggorok leher seseorang. Dewita, Gabby dan Layla meneguk ludah mereka bergidik ngeri melihat kelakuan Adel.
"Ampun Del ampun..." Gabby dan Layla terkekeh pelan.
Ketika makan Gabby menyeletuk, " kalo semisal nanti bikin kelopak bunga gak selesai tiap anak cicil ya seenggaknya buat 5 bunga."
"Gak kebanyakan Gabby?!" tanya Layla
"Gak lah itu juga udah cukup banget setelah disatukan."
"gue nurut aja," celetuk Adel yang malas untuk merepotkan hal yang mudah.
Selesai makan siang, mereka kembali mengerjakan tugasnya hingga menjelang sore hari. Cukup membutuhkan waktu yang lama sehingga waktu Adel untuk berduaan dengan Geri jadi sedikit, mungkin sebentar lagi Geri akan segera pulang.
"Makasih ya Del, Rumah lo bagus... Kapan-kapan gue nginep sini ya," Dewita menaik turunkan alisnya dengan senyuman tengilnya.
Sementara Adel menatap datar tanpa ekspresi senang. Biasanya jika teman ingin menginap di rumah sendiri mereka akan heboh dan repot sendiri misalkan merencanakan apa yang akan mereka lakukan saat malam hari. Maybe ya!!
"Siap-siap aja setelah nginep dirumah gue mungkin lo hanya tinggal nama nantinya." sontak jawaban Adel membungkam Gabby dan Layla yang akan menyahuti ucapan Dewita.
"Ck...dasar lo Del, ya udah gue balik dulu ya." Dewita pulang lalu disusul oleh Gabby. Layla mengintip ke belakang seolah tengah mencari seseorang dan itu diketahui Adel.
"Lo cari apa?" tanya Adel dengan nada sinisnya.
"Emm..eng-enggak ada kok. I-itu cowok itu u-udah pulang ya?!"
Pertanyaan itu menyalakan api kecemburuan Adel. "Ngapain lo nanya-nanya cowok itu? Ada urusan apa lo hah?!"
Nyali Layla menciut ketika suara menggelegar Adel membentaknya. Adel sangat tidak menyukai Layla yang selalu merasa penasaran dengan pacarnya. Namun, diwaktu yang tidak pas terlihat Geri yang menuruni anak tangga.
"Sayang aku mau pul-"
Adel mendengus sebal, pacarnya itu memang sekali-kali harus dapat tinjuan darinya. Layla seketika tersenyum tipis, entah hilang kemana rasa takut barusan.
"Lo temenmu belum pada pulang! Aku kira udah semua."
Adel memutar matanya malas, " ngapain turun?!"
"Aku mau pulang Sayang, mama nelpon suruh aku pulang."
"Sekarang? Gak bisa nanti?!" Adel bernegosiasi berusaha membujuk Geri agar dirumahnya lama.
Geri menjawan dengan gelengan, "besok lagi aja ya,"
Layla sendiri seperti melayang-layang ke udara saat mendengar suara Geri yang membangunkan perasaan aneh di hatinya. Layla seperti sedang dimanja dan disayangi.
"Pe-permisi, Aku apa boleh nebeng gak? Langitnya agak gelap aku khawatir ibuku marah kalo pulang terlambat."
Ucapan Layla, membuat Adel dan Geri terdiam. "Lo bilang apa barusan?!" tanya Adel
"Mau nebeng buat antar pulang Del."
"Nebeng ke siapa? Jangan bilang maksud lo nebeng ke cowok ini gitu?!"
Adel langsung tertawa keras dan juga berhenti dengan cepat," lo lagi ngelawak ya?!"
"Siapa yang ngelawak Del? Aku gak ngelawak."
Adel dibuat geregetan mendengar suara sok polas dengan wajah yang diimut-imutku. Bukannya membuatnya lucu dan cantik namun sebaliknya. Adel ingin memutilasi uler gatel didepannya.
"Stress nih cewek." gumam Adel yang melihat sangat jelas hal tersebut.
"Lo biar dianter supir gue, dia lagi keburu." ujar Adel memberikan pilihan yang lain.
"Tapi aku takut kalo sama orang yang gak dikenal." Layla masih saja mencari jawaban lain dan berusaha agar dia bisa pulang bersama Geri.
Adel berancang-ancang ingin memberikan pukulan kepada Layla namun ditangkis cepat oleh Geri.
"Akhh.." Layla berteriak takut sambik melindungi kepalanya.
"Sayang kontrol emosimu," nafas Adel naik turun tak beraturan. Makin lama Layla membuatnya marah.
"Lo kenal gue? Tahu nama gue?!" tanya Geri pada Layla
Layla hanya menggeleng pelan dengan wajah cemberut." So, lo gak takut pulang bareng gue? lo kan gak kenal sama gue?"
Pertanyaan itu membungkam Layla."I-iya tapi kamu kelihatan kayak orang baik,"
"Gue ? Baik ? Hahaha... Jaminan kalo gue orang baik apa memang nya?"
Layla menggeleng tidak tahu," Ya udah berarti lebih aman diantar pulang supirnya Adel daripada gue. Supirnya adel adalah supir kepercayaan keluarganya dia. So, lo bakal aman sampai tujuan."
Setelah mengatakan itu Geri tak lupa mencium kening Adel sebelum meninggalkan rumah Adel.
Adel menoleh kearah Layla yang masih memandangi motor Geri yang menghilang dibalik pohon, " huft... Lo tunggu sini biar gue panggilin supir gue." mau tidak mau Layla mengangguk pasrah.
Tak lama kemudian, mobil yang akan mengantarkan Layla pulang terlihat," Gih pulang sana..."
"Makasih ya Del, kalo gitu aku pulang dulu ya.."
Adel hanya bergumam sebagai jawaban. Setelah mobil supirnya menjauh Adel pun masuj ke rumah untuk membersihkan kekacauan hasil kerja kelompok sebelum Bunda Herni mengomelinya kembali.
Kemudian mobil Ayah Nino terlihat, Adel tersenyum senang melihat apa yang dibawa oleh ayahnya.
"Ayah pul-"
"Wih yah, bawa apaan tuh? Coklat ?!"
Bukannya menyambut ayahnya pulang dengan pelukan malah merebut paperbag dari tangan Ayah Nino.
"Kebiasaan nih anak gak ada manis-manisnya sama sekali ke ayahnya."
"Ayahkan udah ada Bunda masa perlakuan manisnya juga harus ke Adel juga?!"
"Seorang ayah juga butuh kasih sayang anaknya Adel! Udah deh ayah mau ke kamar."
Mata Ayah Nino tak sengaja melihat kekacauan di taman belakang, "Del baru ada maling?!"
"Gak ada Yah," jawab Adel namun tangannya sibuk membongkar isi paper bag dihadapannya.
"Terus itu taman belakang kenapa berantakan?!:
"Eh ya ampun, Adel lupa..." ucap Adel meninggalkan papaer yang dibongkarnya
"Dibersihkan yang rapi, Ayah gak mau Bunda ngomel. Ayah lagi capek pengen tidur."
Kedua ayah dan anak itu tidak tahu jika beberapa menit yang lalu Bunda Herni mendengarkan obrolan mereka.
"Oh jadi ayah gak mau denger bunda ngomel? Bunda ngomel juga bentuk kasih sayang dan cinta bunda ke ayah."
"E-eh...Bu bunda, bu bukan gitu ma maksud ayah!" jawab Ayah Nino tergagap
"Ayah tega banget sih! Hiks..." Bunda Herni berlagak seolah yang paling tersakiti.
"Ayah minta maaf bunda! Ayah tadi asal ngomong aja kok, gak beneran ya kan Adel?!"
Ayah Nino dengab takutnya butuh pembelaan dari Adel. Sedangkan Adel hanya mengidikkan bahu tak tahu dan tidak mau tahu masalah ayahnya.
"Kamu Adellll!!!" teriak Ayah Nino kesal sendiri. Dia dibuat kelimpungan dengan sikap bunda dan anaknya.