Queen Bullying Vs King Street

Queen Bullying Vs King Street
Berujung Apes



Seperti inilah kegiatan rumah yang Adel inginkan, sesuai dengan dugaan kalian yang sama-sama kaum rebahan dan mageran(males gerak) Adel termasuk dalam ketegori itu.


Baru hari pertama diskors dari sekolah, Adel menyambut paginya pada pukul 11 siang. Bunda Herni mulai saat ia memasak, sarapan pagi hanya berdua, dan selesai membersihkan rumah hanya Adel sendiri yang masih menikmati mimpi indahnya.


Bunda Herni lelah berteriak, saat dia mengedor pintu kamar Adel pun males dikunci dari dalam. Herni melihat tingkah anak perempuannya terus mengelus dada, menghela nafas, dan terus berucap sabar demi menurunkan emosinya yang dibuat naik turun.


"Anak siapa sih sebenarnya dia itu kah! Aku makin lama makin curiga kalo anak aku waktu lahiran ketuker sama pasien sebelah!" gerutu Herni sambil berkipas ria dia ruang tamu.


"Heran aku, kalo diingat-ingat lagi perasaan aku gak separah ini deh! Terus tuh anak nurun siapa coba! Ayahnya aja gak kayak gitu malah termasuk anak disiplin dan berprestasi!"


"Haduh, aku jadi khawatir sama masa depannya Adel kalo kayak gini terus! Aku harus apa ya?!" Herni memikirkan banyak hal demi merubah Adel menjadi perempuan yang ahklakless.


Baru saja digosipin si Adel baru turun tangga.


"Siang Bun," ujarnya sambil ingin mencium pipi bundanya namun malah menjauhi.


"Lah kenapa lagi sih Bun, siang bolong begini cemberut aja? " Adel duduk disebelah bundanya lalu menyomot kue kering dipangkuan Bunda Herni.


Plak


Herni memukul tangan Adel


"Auh, bunda apaan sih kok mukul Adel?!" rintih Adel, mengusap bekas merah di punggung tangannya.


"Ish kamu itu perempuan tapi bangunnya siang. Bunda bisa malu sama mertua kamu nantinya, dikira gak pernah diajari, astaga!!" omel Bunda Herni, Adel mengabaikan sambil asyik mengunyah menganggap omelan sang bunda hanya semilir angin sepoi dari luar.


"Perempuan itu harusnya bantu bundanya bersih-bersih rumah, bantu didapur, siramin taman depan kek, atau apa. Lah kamu malah molor di tempat tidur! Bersihin tempat tidur sendiri aja jarang kalo gak diceramahin dulu mulai dari A sampai Z baru jalan!"


"Bunda udah deh ya, Adel ini masih remaja umur 18 tahun, masih proses labil-labilnya anak remaja, kita para remaja itu wajar kalo nakal kayak beginian," ujar Adel santai menanggapi omelan Bunda Herni.


"Wajar gimana! Gak pantes lah perempuan kok bangun siang!"


"Bunda nih mana paham ya, remaja itu tahapan untuk mengenal diri sendiri Bun. proses mencoba dunia orang dewasa itu ada sendiri, jadi jangan memaksakan kehendak anak remaja untuk bersikap dewasa sebelum waktunya." Adel menjawab seperti seorang guru BK tengah menegur muridnya yang berbuat salah.


"Kamu sudah mulai pintar ngomong ya! Bukannya merenungi ucapan bundanya malah ngebacod nih anak!" keluh Herni


"Udahlah, Adel niatnya mau makan habis itu nonton drakor!"


Bunda Herni menghelas napas setelah mendengar ucapan anaknya. "sudah bunda capek, sana kamu jauh-jauh dulu sama bunda." usir Bunda Herni kepada Adel.


Adel mendengus kesal, bundanya ini memang suka membuat dirinya pusing sendiri tapi yang disalahkan orang disekitarnya. Adel pun ikut kesal memilih pergi ke dapur mengambil beberapa cemilan. Namun begitu membuka lemarinya semua kosong bolong tidak ada apapun yang tersisa.


"Kerjaannya sapa yang suka ngemil makanan! Padahal ya bunda sendiri juga suka nyemil, gitu suka ngatain orang." Adel pun berniat membeli stok jajan di toko terdekat.


Tak sejauh itu jarak rumah ke toko. Adel memilih jalan kaki sambil ingin menghirup udara sejuk di siang hari. Dedaunan rindang menggugurkan daun kuning yang sudah melayu. Adel tampak menikmati suasana ini.


"Dia sedang sendirian!"


"Bagus, Sergap dia dan lakukan titahku!"


"Siap!"


3 lelaki muda sekitar berusia 30 tahunan awal, seolah mereka sedang bercengkrama dengan teman disebelahnya. Begitu mereka berpapasan Ketiga lelaki itu membekap Adel yang lengah dan membawanya pergi dari situ.


Setelah dibawa ke sebuah bangunan bobrok tak berpenghuni. Ketiga lelaki itu sesekali membicarakan betapa beruntungnya mereka mendapatkan tiga jackpot sekaligus dalam sehari ini. Pertama wanita muda nan cantik dan Sek*si. Kedua bayaran dari klien mereka yang sangat banyak nominalnya. Dan terakhir, Kebutuhan biologis mereka akan terpuaskan dengan wanita didepannya.


"Gue duluan yang pertama bakal sentuh dia!" ucap lelaki dengan tato tanduk kijang dilehernya.


"Kenapa lo? Jangan serakah lo dong!" celetuk lelaki dengan tato kepala kerbau.


"Kan gue yang berhasil dapetin kliennya, jadi gue yang pertama. Lo setuju kan?!" si tanduk kijang menoleh ke arah lelaki dengan tato kupu-kupu.


"Serah lo, menurutku lo berhak " Karena kalah suara akhirnya si kepala kerbau mengalah.


Karena keasyikan mengobrol sudah 5 msnit yang lalu Adel terbangun dari pingsannya. Adel cerdik dalam hal seperti ini. Tidak mungkin juga dalam kondisi seperti ini, dia meminta tolong. Adel harus menelaah kondisi dan situasi yang dia hadapi sebelum bertindak menyelamatkan diri.


"Sial banget gua hari ini. Lengah dikit aja gue udah kecolongan." umpat Adel merutuki kecerobohannya.


"Terus ini gue gimana coba? Tali di tangan gue juga susah dibukanya. Gimana ceritanya gue bisa kabur." Adel terus membatin mencari solusi yang tepat.


Ketiga lelaki itu, menyadari jika Adel terlalu lama pingsan, mereka mendekat untuk memeriksa kesadaran Adel.


"Pingsannya kenapa lama banget?!" tanya si kupu-kupu


"lo bekapnya keterlaluan kali! Masa lama banget bangunnya!" ucap si kepala kijang pada si Kepala kerbau


"Masa sih? Gue rasa gak begitu deh! Seharusnya sih dia udah bangun dari lima menit yang lalu "


Si kupu-kupu dan kepala kijang juga kebingungan."Lihat deh! Gue salfok sama leher putih nih cewek!" ujar si Kepala kerbau, kedua temannya ikut memperhatikan.


Dengan tidak senonohnya ketiga cowok itu menyentuh kulit putih Adel dan semerbak aroma wangi dari tubuh Adel.


"Badannya juga wangi!" celetuk si kupu-kupu


"Gue jadi makin gak sabar nih!" dengan nada tak sabar si kepala kijang sampai membasahi bibir bawahnya


Adel menggeram, mengumpati mulut biadap ketiga lelaki yang seenaknya menyentuh kulit sucinya


"gue bersumpah bakal habisin lo bertiga begitu gue bebas!" Adel menyumpah serapahi ketiga oe dosa didedepannya.


"Sebenernya gak enak sih kalo lagi main dalam kondisi cewek ini gak sadar! Tapi gue udah diujung tanduk ini!" si kepala kijang melepas atasan bajunya merasa kegerahan dengan adanya Adel disini.


kedua temannya pun mengikuti tingkah si kepala kijang. Mereka sama-sama tak sabar."


......................


Geri yang sedari tadi sibuk menelpon namun tidak ada balasan pun terbawa emosi. Jarang sekali teleponnya diabaikan selama ini.Geri meraih hoodienya dan pergi menuju rumah Adel. Dia juga baru sampai di rumah sehabis


pulang sekolah.


Tiba di rumah Adel, Geri nenekan bel rumah disebalah pintu.


Ting nong....


Ceklek...


"Loh Geri masuk Nak!" sambut Bunda Herni dengan ramah.


"Ada keperluan apa nih kok tiba-tiba datang ke runah tanpa mengabari tante!?"


Geri tersenyum kecut," hehe gini tante, sedari tadi Geri nelpon Adel tapi gak ada jawaban sama sekali loh. Padahal udah kelima puluh kalinya Geri menelpon."


Bunda Herni mengerutkan keningnya,"masa sih? Padahal Adel baru sekitar 10 menitan keluar rumah mungkin beli cemilan di toko ujung kompleks." ucap Bunda Herni


"Gitu ya te, Geri coba susul Adel ya te, permisi!" Geri pun langsung keluar dan pergi ke toko.


Sesampainya di toko, Geri tidak melihat pembeli satu pun. Perasaan gelisah muncul dihati Geri. "Sayang kamu kemana sih?!"


Sekali lagi Geri menelpon namun tak ada jawaban malahan hanya suara operator yang membuatnya muak. Geri hanya ingin mendengar suara Adel wanita tercintanya. Geri merasa ada yang tidak beres dengan kejadian ini, dia langsung mengabari Zio dan Sam untuk melacak keberadaan Adel.


"Gue mau secepatnya!"


"Oke bro biar kita urus!" jawab Zio dan Sam bersamaan.