
Sintya sudah mengajak berbelanja Layla dari satu toko ke toko yang lain. Tak segan Sintya mengeluarkan banyak uang demi melancarkan rencananya. Kini mereka duduk di sebuah cafe yang tengah viral akan event menariknya. Sambil menunggu pesanan tiba, Layla asik menyapu sekeliling yang nampak mewah baginya.
"Kenapa La?" tanya Sintya yang jujur saja agak malu dengan tingkah norak Layla.
"Aku baru pertama kali kesini, ternyata bagua ya tempatnya!" kagum Layla masih saja berlagak seperti orang kampungan. Bahkan anak muda seumuran dengan mereka terlihat senyum mengejek.
"Bisa lo duduk tenang gak? Malu dilihat orang sama tingkah lo!"
Layla menoleh," Emang kenapa dengan tingkahku?"
"Ya secara, lo kelihatan norak. Lo harus bersikap elegan dan arogan kalo ditempat mewah kayak gini." tegur Sintya
"Tapi kan, arogan itu gak baik Kak, aku gak mau jadi orang kayak gitu."
Sintya memutar mata mendengar ucapan konyol dari mulut Layla. Cewek didepannya itu belum merasakan betapa gelapnya hati manusia sebenarnya.
"Lo itu jangan terlalu naif jadi orang Layla, Didunia ini kita itu seperti lagi di medan perang, survival. Kita harus bertahan hidup dengan menggunakan cara apapun yang penting kita hidup."
"Kenapa gitu? Kan pada akhirnya manusia juga bakal mati Kak?!"
"Lo itu bodoh ya? Jangankan nunggu Tuhan buat ambil nyawa kita, manusia yang bukan Tuhan bisa jadi malaikat maut pencabut nyawa kita, sesama manusia."
Layla berkedip mengolah setiap ucapan Sintya yang membuatnya jadi ragu dan tak menentu.
"Lo gak tahu aja, hati manusia itu sama jahatnya kayak setan. Emang lo mau gitu, dibunuh orang, dibully orang, diejek orang terus diam aja biarin hati lo terluka dan berakhir stress atau depresi seorang diri?!"
Layla termenung," benar juga, dulu aku cuma bisa pasrah menerima semua ejekan, bullyan, bahkan hampir diperkosa orang yang tidak dikenal. Mereka semuanya memang jahat banget!"Aku sangat membenci mereka yang seenaknya sendiri bahkan suka merebut kebahagiaan orang lain!!!" Layla tanpa sadar mengepalkan jemarinya.
Sintya melihat reaksi itu merasa senang. Dia harus membuat Layla menjadi pionnya namun sebelum itu dia harus membuat cewek itu menjadi orang tanpa belas kasih.
"Ka-kamu benar kak Sintya, orang diluar sana selalu jahat denganku, aku seperti tidak memiliki kesempatan untuk bahagia sedikit pun."
Sintya berdiri dan berpindah tempat duduk disebelah Layla yang menangis kecil. Sintya harus bisa membuat Layla mempercayainya dan menjadikan teman baiknya yang penuh pengertian.
"Sudah...sudah...makanya lo harus jadi cewek kuat dan gak lemas kalo ditindas. Lo harus balik balas kelakuan orang yang jahat ke lo. Apalagi orang yang ngerebut kebahagiaan lo, paham gak?!"
Layla mengangguk semangat. Kini dia bertekad untuk kuat dalam menghadapi manusiaa berhati jahat. Dan proses cuci otak berhasil.
Selesai memghabiskan waktu bersama, Sintya mengantarkan pulang Layla ke rumahnya. Layla melambaikan tangannya begitu melihat mobil Sintya pergi menjauh.
"Aku bersyukur bisa ketemu dengak Kak Sintya, meskipun umur kita sama tapi aku sangat menghormati dan mengkaguminya." setelah itu Layla masuk ke dalam rumahnya.
Sesampainya di rumah Sintya langsung bergegas mandi dan berendam diri. Kulitnya merasa gatal setelah setengah hari ini berdekatan dengan Layla.
"Sialan tuh cewek! Udah bau badan, bikin gue gatelan lagi, dasar virus!" ucap Sintya sambil menggosok kulitnya.
"Demi kelancaran rencana gue, gak papa gue ngeluarin duit banyak. Besok bakal gue bawa tuh anak ke salon sama tempat spa." gumam Sintya
......................
Keesokan harinya sepulang sekolah, Sintya meminta Layla untuk menunggunya di parkiran belakang karena Sintya masih ada urusan.
"Kali ini kak Sintya mau ajak aku kemana ya? Toko es krim kali ya?" ucap Layla berandai-andai
Dia mendapatkan pesan dari Sintya bahwa akan mengajaknya keluar lagi seperti kemarin. Tak lama kemudian...
"Layla..."
"Udah, dasar guru sialan emang, "
"Loh ada masalah apa kak?!"
"Hah... Gak ada, guru kurang kerjaan aja, dah lah kita langsung pergi." Layla hanya mengangguk saja dan mengikuti langkah kaki Sintya.
Begitu sampai ditujuan Sintya menuntun Layla masuk ke sebuah tempat spa yang dimana akan merubah sosok Layla menjadi cantik jelita.
"Mbak Layla kan ya? Kenalin saya Lusi, panggil kakak aja ya,"
"O-oh iya kak Lusi, aku Layla panggil Layla aja boleh kok,"
Lusi terkekeh, dan menarik tangan Layla dengan penuh semangat.
"Lo loh kak, aku mau dibawa kemana ini? Kak... Tunggu dulu," teriak panik Layla secara tiba-tiba digeret masuk ke sebuah ruangan.
di dalam ruangan Layla menelisik ruangan itu."Kak ini mau ngapain?!" agak meragu
"Hehe, maaf ya bikin takut kamu. Ini tuh spa, kamu tahu spa?!"
"Emm tahu dikit sih kak, tapi belum pernah coba."
"Nah ini kesempatan kamu buat cobain Spa, apalagi dibayarin sama Sintya tuh."
Layla melotot tak percaya," Hah? Serius kak? Untuk apa coba kak Sintya ngajak aku kesini?!"
"Dia mau kamu semakin cantik seperti malaikat. Biar orang diluar sana tahu kalo ada perempuan cantik seperti kamu. Dan mereka akan terpesona nantinya ke kamu." jelas Lusi sambil menyiapkan hal-hal yang diperlukan.
"Aku akan jadi cantik nantinya kak? Orang-orang tidak akan membullyku lagi?"
"Tidak akan, kakak akan menjamin hal itu " Layla tersenyum senang.
setelah melakukan beberapa treatment dan pergi ke salon, Sintya menatap puas Layla yang terlihat berbeda. Wajah kusam dan dekilnya terlihat bersih dan juga cerah, Rambut kasarnya menjadi teratur dan wangi, semua menjadi lebih sempurna dari sebelumnya.
"Kak Sintya, bagaimana aku membalas semua kebaikan kakak hari ini?" Layla merasa terharu dan bahagia berkat Sintya dirinya menjadi cantik bak malaikat surga.
Sintya tersenyum licik," Lo tenang aja semua ini gratis, tapi ada satu syarat yang harus lo penuhi."
Layla berkerut dahi,"Apa itu kak?!"
"Lo bakal dapat kesejahteraan hidup, semua kebutuhan lo, kecantikan lo, bahkan bisa ngerubah hidup lo kedepannya gue jamin itu semua tapi sebagai gantinya, lo harus turuti semua perintah gue nantinya tanpa ada bantahan. Gimana lo setuju?!"
Layla mendambakan kebahagiaan itu. Dia selama ini terus menghemat agar pengeluaran uang di keluarganya tidak membengkak. Layla hanya bisa menatap iri perempuan cantik yang berpakaian modis dan anggun, Layla ingin seperti mereka. Layla tidak mau dibully karen dia miskin dan jelek, Layla ingin menghapus semua keburukan dirinya selama ini dan bisa membuktikan bahwa dirinya juga layak seperti mereka yang cantik itu.
"Mau kak Sintya,"
"Bagus kalo gitu, gue merasa senang lo mau menyetujuinya."
"Iya kak, aku juga makasih karena kakak udah mau bantuin aku."
"Santai aja lah, kalo gitu kita pulang sekarang. Dan besok hari pertama lo menjadi sosok yang berbeda dan menbuat orang lain pangling dan mendambakan diri lo."
Layla memandangi mata Sintya yang penuh semangat dan obsesi tersembunyi. Layla merasa hari ini seperti mimpi, namun ternyata memang Tuhan sudah memberkatinya sosok malaikan maut dengan berpura-pura menjadi sang penolong.