Queen Bullying Vs King Street

Queen Bullying Vs King Street
Membawanya pulang



Selo menantikan informasi Sintya dari Geri. Berkali-kali Papa Zen menanyakan kepada Selo kabar mengenai adiknya yang kabur. Polisi juga ikut mencari karena proses hukum Sintya tetap harus berjalan. Apalagi belum ada penjelasan sama sekali.


Ting... (notifikasi pesan)


Selo buru-buru membuka isi pesan dari nomor tanpa nama. Sebuah foto dan maps sudah dikirimkan entah dari siapa. Selo menebak mungkin pesan itu dari Geri.


"Ngapain Sintya ada di tempat ini?!"


Selo sedikit tidak menyangka jika Sintya bekerja sebagai pelayan di sebuah diskotik.


"Papa dan Mama gak boleh sampai tahu kalo Sintya ada ditempat kayak gini!" Tak mau menunda lagi, Selo meraih jaketnya dan kunci motornya.


"Tunggu gue Dek," gumam Selo


......................


Sementara Sintya terus disibukkan dengan pekerjaannya. Apalagi diskotik ini lumayan ramai pelanggannya.


"Sintya gimana lo betah kan disini?!" tanya Lona


"Yaa, Lumayanlah...uang yang gue dapat juga cukup buat gue makan."


"Baguslah kalo gitu, juga malam ini ada tamu VVIP dan pelanggan umun bakal lebih ramai dari biasanya. Bos milih lo buat antar minuman untuk tamu VVIP, yang lain bakal bantu buat tamu biasa."


Sintya terpaksa menurut hanya saja kalau bukan untuk bertahan hidup sudah pasti Sintya menolak keras.


"Okelah kalo gitu." kemudian Sintya pergi melanjutkan kerjanya


Hubungan kedua sahabat lama itu memang tak baik. Lona sebenarnya masih menyimpan rasa benci meskipun tak besar, ada rasa ingin membalas semua perbuatan Sintya yang sudah menghancurkan masa depannya.


Lona sekilas menyeringai." Sepertinya gue punya ide cemerlang."


Seperti yang diucapkan Lona, malam ini sangatlah ramai dan banyaknya manusia berjoget di lantai bawah membuat dada Sintya sesak melihatnya. Sintya bergidik ngeri dan menatap jijik.


"Dasar sampah!" gumamnya menyumpah serapah manusia murahan yang menempel satu sama lain layaknya lintah.


"Sintya.. " panggil Lona


Sintya mendekat," Udah dateng VVIP?!"


"Baru saja dateng, nih lo bawa."


"Oke gue antar dulu minuman ini."


Sebuah ruangan khusus dan didalamnya berkumpulah para lelaki tampan dari keluarga kaya raya.


"Kenapa juga gue harus ngelakuin ini, sialan!"


Mau tidak mau ia harus mengantarkan minuman ini. Sintya mengetuk pintu dan membukanya. Lagu berdendang dan memekak hampir membuat gendang telinganya tuli.


"Ouuhh liat minuman kita sampai guys!!" seru laki-laki dengan tato dilehernya.


"Gue itu heran ya, kenapa diskotik ini tuh pelayannya pada Se*si dan bo*ay gak sih?" ujar Laki dengan telinga terdapat anting terkesan berandal namun keren


" Bikin pengen gue garap..hahahah!!"


Semua cowok brengsek itu membuat Sintya mual dan muak. Akan tetapi, berbeda dengan bayangan yang ada di otak Sintya, sosok yang dia sukai saat di sekolah namun dia berkumpul dengan para musuhnya yaitu Zio.


Sayang sekali Zio tidak menyukai Sintya yang memang termasuk perempuan picik baginya.


"Ini minumannya Tuan! Saya akan meletakkan disini!" Sintya harus segera pergi.


"Eitss.. Tunggu dulu lah, lo pasti pelayan khusus buat tamu VVIP kan? Jadi pekerjaan yang lain terhandle. Disini aja dulu main-main sama kita, ya gak guys?!" ucap laki bertato


"Maaf saya masih ada kerjaan yang lain!"


"Halah lo banyak alasan kan! Udah deh disini aja!"


Terjadilah pemberontakkan, Sintya menolak dari cekalan tangan laki brengsek itu. Sampai beberapa laki-laki yang ada di ruangan itu ikut mambantunya.


Sintya merasa seperti diper**sa dengan 4 laki itu. Rambutnya jadi berantakan dan juga pakaiannya.


"Sialan lo semua!! Lepasin gue gak!! Lo gak tahu siapa gue hah?!"


"Emang lo siapa ? yang ada lo cuma cewek nakal sama kayak kita ini!"


Wajah Sintya merah menyala, sangat marah dan jijik sekaligus." Lo semua sampah, beda sama gue! Lo brengsek!! Gue jijik tahu gak!"


Merasa dihina dan tersinggung oleh ucapan Sintya, akhirnya suasannya yang tadinya oenuh hawa mengga****kan menjadi memanas. Pukulan dan siksaan didapatkan oleh Sintya.


Sedangkan Selo yang baru tiba, langsung masuk ke dalam diskotik. Aroma alkohol dan rokok semua campur menjadi satu. Matanya menelusuri dimana adiknya berada. Namun tak kunjung ia lihat.


"Dimana lo dek ?" sambil terus mencari


Selo mendatangi meja bartender, Lona yang asik meracik minuman langsung tersenyum begitu melihat cowok tampan.


"Ada yang bisa dibantu?"


"Gue cari pelayan yang kerja disini, namanya Sintya,"


Senyuman yang tadinya muncul kini surut." Lo siapanya?"


"Gue Kakaknya, lo tahu Sintya dimana?!"


"Dia dilantai atas di ruangan VVIP."


"Oke thanks ya!"


Selo menemukan ruangan yang dimaksud. Kemudian, membukanya


Brak...


Semua orang menoleh kearah pintu. Mata Selo membelalak tajam dan kaget. Kondisi Sintya sungguh mengerikan.


"DEK!!!"


"lo siapa? cara lo masuk gak sopan banget ya!


Selo menoleh dengan ekspresi marah membara." lo apain adek gue hah!!?"


"Oh lo kakaknya, adek lo itu mulutnya kurang ajar bikin gue kesel dan berakhir mengenaskan deh!hahaha "


"Lo gila hah!! Gue bakal laporin lo ke polisi!" sarkas Selo


"Polisi? Gak salah gue? Adek lo itu kan buronan gak sih? " laki-laki beranting itu tahu semua hal tentang Sintya. Semua informasi mudah ia dapatkan seperti menjentikkan jari kelingking.


"Brengsek lo ya!!*


Sintya lemas tak berdaya, tenangnya habia terkuras untuk memberontak.


"Adek lo itu sama sampahnya kayak gue, jadi lo sebagai kakaknya gak usah blaguk, dah bawa adek lo pergi. Bikin eneg aja!!" usir laki beranting


Selo yang membawa motor tak bisa menggo ceng Sintya dalam keadaan yang seperti ini. Selo pun memesan taksi.


"Kita ke rumah sakit terdekat!!"


"baik mas!"


......................


Sam dan Zio menganga tak percaya melihat kondisi Sintya yang agak mengerikan.


"Tuh cewek abis digrebeg massal kah?"


"Gila!! Mukanya banyak yang lebam Sam!"


"Heem, menurut lo ada apa Zio?"


"Yah dari pandangan gue sih ya, tempat kayak gitu tuh perkumpulan orang bringas gak ada otak. Maybe si Sinting lagi apes ketemu pelanggan gila!"


"Gue rasa gitu, kita laporin ke Geri!"


......................


Geri yang tengah duduk santai di balkon kamarnya menikmati kopi susu buatan Mama Delia.


Ting...


"Apa yang terjadi?" Geri mengirim pesan


" Gue dan Zio menduga kalo dia korban penyiksaan."


Geri mendengus," Mungkin itu karmanya karena dulu udah hampir bikin Adel diper**sa."


"Gue ngeri bayanginnya."


Geri menutup ponselnya tak lagi membalas pesan itu. Pikirannya melayang kemana-mana. Ada tanda tanya di otaknya kenapa Adel dikelilingi orang-orang yang mau mencelakainya?


"Sepertinya banyak yang belum gue tahu tentang Adel! Lain kali gur harus banyak gali informasi ke Bunda!"


......................


Adel sama halnya terkejut mendapat kiriman foto dari Sam dan Zio.


"Lama-lama gue jadi kasian sama Sintya. Tapi kalo gak dapat karma dimana bakal jera. Ya syukuri aja ya Sin, semua ada hikmahnya!" gumam Adel


Entah Adel mau berempati atau bersyukur atas kejadian yang menimpa Sintya, ada perasaan tak tega.


Karena jiwa queen bullying ada sedikit yang melekat tentu masih ada jiwa barbar di dalamnya.


"Del udah tidur belum?" Bunda Herni kembali menyerobot kamar Adel


"Kampret gue lupa gak ngunci pintu kamar!" Adel bergumam


"Bunda tidur bareng kamu ya Del!"


Wajah Adel yang menampilkan ketidakmauan malah membuat Bunda Herni jadi salah tanggap.


"Ekspresimu itu loh! Sebegitu pengennya tidur sama bunda ya! Ya udah deh bunda temenin, ayahmu biar tidur sendirian!"


Ceklek...( mengunci pintu)


"Bun ngapain dikunci pintunya?!" tanya Adel


"Biar aman Del!"


"Aman maksudnya?"


"Aman dari ayahmu, nanti tengah malam bunda pasti bakal dipindahin sama ayahmu!"


Adel menghela nafas. "Ya Tuhan!!" batinnya mengeluh pasrah dengan tingkah kedua orang tuanya.