
Sudah tiga hari sejak kejadian itu, untung saja Adel tidak menyimpan trauma dari penyekapan di rumah kosong bersama tiga cowok berotak udang. Geri langsung bergegas membawa ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi Adel, takutnya ada luka dalam atau apa.
Geri juga tidak lupa menelpon kedua orang tua Adel untuk mengabari bahwa anak mereka sudah selamat dan aman. Bunda Herni sumrigah bahagia mendengarnya namun kewaspadaan Herni terhadap Adel semakin diperketat membuatnya jengah.
Adel pun juga sudah kembali masuk sekolah dan Anehnya Adel yang selama ini tertipu akan penampilan culun Geri tidak ada marah-marahnya. Biasanya orang pacaran bila sudah ditipu dalam jangka waktu lama mereka akan marah, kesal, dan ngambek tapi berbeda dengan Adel yang secara tidak sadar dirinya semakin menempel seperti lem pada Geri.
Geri sendiri tadinya yang khawatir menjadi bertambah senang apalagi tingkah Adel membuatnya gemas ingin mengurungnya agar tidak ada siapapun yang tahu. Cukup dia saja yang tahu dengan perubahan ini.
Seperti saat ini, Geri sedang melihat Adel yang asyik menikmati kue dengan lumeran coklat belgia yang dipesankan oleh Geri khusus untuk kesayangannya.
"Bagaimana Sayang? Enak bukan?!" tanya Geri sambil mengusap kepala Adel
"Jangan ditanya lagi, sudah pasti enak banget lah Ger. Gitu aja gak tahu!"
Geri terkikik, dia bertanya hal yang sudah jelas jawabnya dan ia ketahui.
"Memang ya, kamu itu terlalu suka sama coklat bahkan aku sendiri yang pacar kamu aja udah kalah duluan sebelum ambil langkah!"
Ekspresi Adel berubah serius setelah Geri mengatakan itu."Jangan ngasal deh lo kalo ngomong. Gue lebih suka sama lo daripada nih coklat. Kalo lo gak beliin, nih cokat pasti gak kira ada." celetuk Adel menatap sangat dalam manik mata Geri.
Geri tertegun,"I-iya sayang, Aku kan bercanda atuh ngomongnya,"
"Gak ada canda-candaan. Ngasal sih kalo ngomong." Adel kembali melanjutkan asyik makan coklat.
Tiba-tiba Sam dan Zio datang menghampiri Geri. Mereka berbisik ditelinga namun Adel menaikkan sebelah alisnya menjadi penasaran.
"Apa yang kalian bicara in? Sampek bisik-bisik segala! Jangan bikin gue kepo dong!" sarkas Adel
Sepertinya sifat garang Adel belum benar-benar menghilang.
"Eng-enggak kok sayang, ini masalah basecamp aja kok." jawab Geri sedikit gugup tapi dengan mudah diketahui Adel.
"Dah lo gak usah sok nipu gue. Cepet kasih tahu gue. Kalo gak gue mutilasi lo bertiga ditempat sepi."
Geri mengerutkan keningnya merasa aneh dengan ucapan Adel."Yang, sudah pasti kamu kalah dong."
"Kalah gimana !? gue nih kuat, jangan ngeremehin gue lo pada."
"Mana ada gue remehin lo, orang yang ngomong Geri kok jadi gue ." ucap Zio dan diangguki Sam setuju dengan perkataan Zio.
"Lo bertiga kan sama aja." dengan santai Adel menjawab
Zio yang didekat Geri seolah ingin memukul Adel namun malah mendapatkan tatajam tajam dari perempuan judes itu.
"Apa lo hah! Berani lo sama gue!" sentak Adel, ia berdiri dari kursinya.
"Eh...eh...mau ngapain lo hah!?" tanya Sam
"Gue? Gue mau mukul tuh pala temen laknat lo!"
"Sayang, udah ya jangan kasar gitu dong. Duduk gih lanjut makan coklatnya."Geri pun merelai pertikaian didepannya.
Adel mengangguk dan melanjutkan kegiatan makannya.
......................
Kini Geri, Sam dan Zio tengah berkumpul di rumah sang ketua. Tersaji cemilan dan minuman lezat didepan mereka. Siapa lagi kalo bukan Ibu negara pemilik rumah ini yaitu Mama Delia. Sosok Mama yang sempurna, sifat dan suara yang lembut memancarkan kasih sayang yang tulus membuat Sam dan Zio menjadi betah di rumah ini.
"Jadi, gimana nih enaknya?!" tanya Zio
"Gue harap, kali ini gak bikin gue pusing tujuh keliling ges," lanjut Sam meraih kue choco dari toples dipangkuannya.
"Bisa gak sih, tuh kue jangan lo pangku gitu! gue juga mau kali, rakus banget lo jadi orang!" sarkas Zio merebut toples itu.
"Ye...kan lu bisa bilang njir, orang dari tadi dianggurin juga." balas Sam
"Lo berdua mau sampek kapan ngerebutin tuh toples. Gue usir dari sini baru tahu rasa lo!" celetuk Geri yang mulai jengah.
"Hehehe," keduanya pun tersenyum konyol.
"Jadi Benar dugaan gue, kali ini si Sinting dalangnya kan?" tanya Geri
"Gue setuju, Kayaknya sih dia anak yang pendendam deh ges."
Geri mengangguk paham,"Kita harus tunggu waktu yang pas buat ngehukum dia. Juga kita gak punya bukti jelas kalo mau ngelaporin kasus Adel ke kantor polisi."
Mereka sudah bisa menebak dalang dari kejadian ini dengan mudah. Sifat Sintya yang pendendam sejak dulu, rasa ingin berkuasa yang sangat tinggi membuat perempuan itu mudah sekali memutuskan untuk bertindak jahat tanpa.fikir panjang.
"Anak-anak ayo makan dulu, mama udah masakin yang enak buat kalian," ucap Mama Delia dadi dapur.
Ketiga anak itu, pun langsung menuruti ucapan Mama Delia. Mereka mendudukan diri di kursi meja makan, terhidangkan 2 menu yang menggugah perut untuk segera menyantap makanan didepan.
Sam yang sedari tadi meneguk ludah tak tertahankan ingin cepat makan dengan tanpa sadar tangannya mencomot ayam goreng didepannya namun ditepis oleh tangan Mama Delia.
"Hayo, cuci tangan dulu terus berdo'a." Sam pun terkikik, selalu saja Mama Delia tahu kebiasaan Sambyang satu ini.
"kebiasaan sih lo itu Sam, gue gak mau ya, makanan di depan gue bercampur sama bakteri E. **** lo. Jijiks tahu gak!" sahut Zio
"Sorry ya, gue kalo cawik juga bersih, pakek sabun, bahkan handsinitizer juga gue pakek."
"Lo berdua emang ya, lama-lama gue tendang keluar dari rumah gue. Bisa-bisanya bahas ta*i di depan makanan. Untung aja gue gak jijikan."
Sam dan Zio saling menatap,"Terus bedanya sama lo tadi apa? Pakek nyebutin ta*i segala!" celetuk Zio
"Ya terserah gue lah, rumah-rumah gue, nih meja makan punya gue. Lo berdua yang sewot."
"Anak-anak, mama beresih nih makanan kalo gak keburu dimakan! Bisa mama kasihkan ke pembantu."
"Eh..eh...Tante jangan gitu dong, kasian perut Sam yang kelaparan ini."
" ya sudah dimakan jangan kebanyakan omong sebekum kalian mati tersedak."
Sam, Zio dan Geri pun segara makan dengan lahap.
......................
Sementara di rumah Adel, Adel yang akan pergi kerja kelompok mendapat larangan keras dari Bunda Herni tanpa basa-basi.
Dan sekarang keduanya masih tetap berdebat namun tidak ada salah satu dari mereka yang mau mengalah.
"Gak ya, pokok bunda gak bakal izinin kamu keluar rumah. Titik."
"Bun, ini nih tugas loh, masa bunda biarin Adel gak ngerjakan tugas sih?"
"Suruh temenmu ke rumah aja, intinya kamu gak boleh keluar rumah tanpa pengawasan."
"Bun, aku bukan bocil lagi kali, bunda lebay deh!" Adel menggerutu sebal dengan tingkah bundanya.
"Lebay darimana! Bunda itu khawatir sama kamu tahu gak! beruntung orang gila itu gak merusak harga diri kamu, kalo iya gimana? Bunda yang otw jadi gila Adel!"
"Ya udah deh, biar Adel suruh Geri aja nemenin adel." akhirnya Adel memilih untuk mengalah.
Bunda Herni sejenak mempertimbangkan hal itu."Telpon Geri, suruh dia kesini."
"Ih bunda kira Geri budak bunda gitu, asal suruh orang." celetuk Adel
"Gak papa, demi anak kesayangan bunda ini." jawab Bunda Herni sambil memeluk Adel.
Adel pun menelpon Geri,"Halo Ger, kamu dimana?!"
"Di rumah Sayang, kenapa?!"
"Bunda aku, suruh kamu kesini buat nemenin aku."
"Emang kamu mau kemana sih Yang? Di rumah aja deh, gak ada kapoknya kamu itu."
"Udah deh, jangan ngomel kayak bunda, aku ada kerkel ini. Sama bunda gak dibolehin."
"Ya sudah tunggu aku ya sayang, jangan kemana-mana di rumah aja."
Adel pun mematikan sambunvan teleponnya. Lalu menatap mata bundanya. Yang mau tidak mau mengangguk memperbolehkan Adel pergi kerja kelompok.