Queen Bullying Vs King Street

Queen Bullying Vs King Street
Hilang



Sesampainya dirumah sakit Geri memarkirkan sepadanya. Adel turun dari motor sambil melepaskan helm saat ingin membuka pengaitnya helm itu sesuatu ada yang salah karena Adel berusaha membukanya tapi sulit sekali.


"Geri...ini kok gak bisa di buka?" Adel mulai panik, dia tidak mau masuk rumah sakit dengan menggunakan helm di kepalanya, mau ditaruh mana mukanya ini.


"Sini sini aku bantuin" Geri ikut mambantu, dia mencoba membukanya pelan sama halnya tidak berhasil juga.


"Coba diem dulu ya, mungkin nyangkut kali!" Adel sebisa mungkin untuk tenang dan tidak panik.


"Gimana bisa?"


"Kayaknya karatan deh Sayang!"


"Apa!!" Adel berteriak panik


"Buka paksa aja ya, coba kamu lepas langsung, gak usah dibuka pengaitnya,"


Adel semakin dibuat kesal karena helm sialan itu."Mana bisa Geri!! Rambutku berantakan dong!"


Geri ikut bingung, pacarnya itu memang mau simplenya aja."Ya masa kamu mau masuk ke dalam pake helm sih Sayang? Udah rambutnya nantikan bisa dibenerin lagi biar rapi."


Adel mendengus sebal mau tidak mau dia melakukannya. Geri mencoba membantu menarik helmnya. "Auhh..auh..." rintih Adel helai rambutnya ada yang menyangkut.


"Geri!! Rambutku sakit kena tarik, pelan-pelan dong! Mau ganti aku jambak hah!!" sarkas Adel


Geri mengelus dadanya "Sabar....sabar..."


penuh hati-hati dan umpatan kecil yang terucap dari mulut Adel akhirnya helm itu mau terlepas dari kepalanya.


"Wait...kepalaku agak gliyeng" Adel memukul sisi kiri kepalanya yang pusing.


"Ngapain kamu pukul kepala segala sih Sayang? Kan sakit nanti." Geri mencegah tangan Adel untuk tidak meneruskan hal gila yang dilakukannya.


"Pusingnya biar cepet ilang!"


"Mana ada mukul kepala bisa hilangin pusing, ada-ada aja kamu tuh!"


Geri menarik tangan Adel masuk ke rumah sakit. Mereka menuju meja resepsionist untuk menanyakan kamar Sintya berada.


"Permisi Mbak saya mau tanya nomor kamar pasien atas nama Sintya" ucap Geri


"Sebentar ya mas, saya carikan dulu."


Tak lama kemudian resepsionis itu menjawab,"maaf mas pasien atas nama Sintya sudah pulang tadi malam."


"Beneran mbak? mungkin ada nama Sintya yang lain kali, dia baru dirawat kemarin loh!" celetuk Adel belum percaya.


"Tidak mbak, pasien dengan nama Sintya hanya satu yang kemarin masuk ke rumah sakit."


"Baiklah mbak terimakasih," Geri langsung menarik keluar Adel.


Di luar loby Adel melepas paksa genggamannya.


"Tunggu dulu..."


"Kenapa lagi Sayang?!"


"Aneh gak sih? Katanya Sintya terluka mana mungkin pulangnya secepat ini!?"


"Menurutku, mereka kabur !"


Adel mengernyit heran,"Kabur? Ngapain pake acara kabur segala?"


Geri menghela nafas,"Kamu inget pas kakaknya Sintya ke sekolah?" Adel mengangguk


"Aku membantu Selo untuk bertemu dengan Sintya dengan syarat Sintya harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Dia harus masuk penjara. Dia juga kabur dari penjara kini dia juga jadi buronan yang lagi dicari-cari polisi."


Adel menganga tak percaya,"Serius? Gila aja gak sih?!"


"Sepertinya mereka berencana untuk membawa kabur Sintya dan menghilangkan jejaknya agar kasus ini tidak berlanjut."


Geri dan Adel yang tidak terlalu tahu menahu mengenai keluarga Sintya sejak dulu. Tapi ada satu hal yang Geri paham saat ini yaitu keluarga Sintya itu pengecut. Lari dari masalah dan tanggung jawab, tidak menerima konsekuensi memilih bersembunyi seperti tikus sawah.


"Sialan!! Kena tipu gue!!"


Adel yang tak sepenuhnya mengerti dengan situasi ini memilih diam untuk memahami semuanya. Geri mencoba menelepon Sam dan Zii.


"Halo Sam Zio! Lo berdua lacak keberadaan Sintya lewat cctv rumah sakit. Sintya kabur tadi malam."


"Tuh cewek emang minta digorok ya!" umpat Sam


"ikut ya!"


Geri menggeleng tegas," No...kamu harus pulang, ayo!" Adel hanya bisa pasrah


...……...


Di basecamp Sam dan Zio terus melacak pengunjung yang keluar masuk rumah sakit.


"Sam gak ada!"


"Sama gue juga!"


"Gue rasa cctvnya semoet diberhentikan supaya merrka bisa kabur!" ujar Sam


"Ada kemungkinan sih gitu!" kata Zio


"Siapa yang bantu mereka kabur? Setahu gue Sintya sama Selo gak begitu dekat hubungannya sama ortunya," Sam menebak-nebak


"Tapi bisa ada ortunya ikut andil toh mereka pembisnis," Zio menimpali


"Iya sepertinya mereka melakukan ini agar tidak merusak reputasi nama perusahaan. Coba apa sih nama perusahaan keluarganya Sintya!?"


Sam mengetikkan sesuatu lalu langsung tertera data di layar laptop berisikan informasi terkai keluarga Sintya.


Zio pernah tahu nama itu tapi dia tidak ingat melihatnya dimana."Dimana ya? Oh ya, itu bukannya perusahaan yang lagi naik daun gak sih!?"


Sam menelisik dan mengingat kembali,"Hooh bener Zio, pantes aja sih! Baru aja populer masa citranya langsung rusak gara-gara kasus anaknya!"


Ceklek...


Geri baru sampai,"Gimana hasilnya?!"


"Cctvnya sempet dimatikan, jadi Sintya dan Selo kabur gak ada yang tertangkap kamera."


"Sialan!!"


"Juga kayaknya ini juga ada campur tangan ortunya yang akhir-akhir ini lagi naik daun jadi ya demi menjaga nama baik semua cara ortunya Sintya bakal dilakuin!"


"Kabari basecamp lainnya buat bantu lacak lingkungan sekitat rumah Sintya, mana mungkin gue lepas gitu aja tikus sawah!"


...……...


Flashback on


setelah Papa Zen dan Mama Indi pulang bersamaan Sintya mulai siuman. Badan Sintya terasa remuk dan sakit bagian punggung yang terdapat memar.


Matanya mengerjap,"Gue dimana?"


Selo yang mendengar suara langsung terbangun," Dek lo udah sadar! Mana yang sakit? Bagian mana?!" cecar Selo


"Ngapain lo disini?" sinis Sintya


"Sudah sewajarnya gue disini buat jaga lo! Lo gila aja kerja di tempat begituan!"


"Kalo gue gak kerja mau makan apa gue hah!!?" sentak Sintya


Hampir Selo lepas kontrol dia menghela nafas."Kita harus cepet-cepet pergi dari sini!" titahnya


"Hah? Ngapain? Lo gak peka ya, gue baru aja sadar gak sampe lima menit! Gila hah!"


"kita gak punya waktu banyak dek, lo harus keluar dari rumah sakit malam ini tanpa orang lain tahu!"


Sintya diam dan bingung."Jangan-jangan..." Sintya meneguk ludah merasa takut dan khawatir.


"Iya Papa dan Mama tahu masalah mu! Papa nyuruh gue buat kita pergi dari sebelum polisi dan Geri tahu!"


"Geri? ada hubungan apa sama dia?"


"Gue minta bantuan dia buat bantu cari keberadaan li, tapi dengan syarat gue harus jeblosin lo ke penjara!"


Mendengar hal tersebut urat nadi dileher Sintya dan uray ditangannya timbul."sialan tuh anak!"


Akhirnya Sintya dan Selo bergegas kabur malam ini.


Flashback off