
Kehebohan terjadi akan kabar bahwa idola, primadona, malaikat mereka ternyata tidak sebaik seperti yang mereka duga terutama bagi siswa laki-laki, mental mereka sedang terguncang hebat karena kabar Sintya sudah dikeluarkan dari sekolah karena membawa obat terlarang.
Nasib Sintya pun menjadi bahan pembicaraan. Sementara orang tuanya yang mendengar kabad burung yang disampaikan oleh Selo kakak Sintya yang dihubungi pihak sekolah menyatakan Sintya di DO. Tentu saja, orang tuanya marah besar dan langsung terbang pulang menuju Indonesia.
Selo sendiri sejak ia dipanggil sudab tidak melihat keberadaan adiknya. Dia mencoba mencari keseluruh kota namun nihil. Selo juga mengkhawarirkan sekaligus kecewa ternyata selama ini dia gagal menjaga san merawar adiknya seperti yang sudab di amanatkan kepadanya.
Sekarang ini, Selo baru saja selesai menjemput Mama Indi dan Papa Zen dari bandara, tiba di rumah dia langsung disidang.
"Sekarang Bagaimana bisa adikmu bertindak bodoh seperti itu? Sudah gila ya dia?!" Papa Zen yang sangat ambisius orangnya, maka segala yang ia pandang harus terlihat sempurna sebisa mungkin.
"Selo! Bagaimana kamu bisa hilang pengawasan? Selama ini apa yang kamu lakukan, Nak?!" imbuh Mama Indi yang sangat kecewa bahkan rasanya tidak bisa digambarkan lagi.
"Ma Pa, maafkan Selo yang kurang becus menjag Sintya. Selo juga kaget saat dipanggil pihak sekolah kapan itu!"
"Oh astaga Tuhan!!! Ini sungguh memalukan. Darimana dia mendapatkan barang haram itu hah?! Sampai berani ingin menjebak adik keasnya sendiri. Ditaruh mana itu otak !?" Papa Zen sangat marah besar, Selo juga bingung harus bagaimana.
"Adikmu sekarang dimana, Selo?!" tanya Mama Indi sedari tadi belum melihat batang hidung Sintya.
Selo tahu hal ini akan semakin membuat Papa Zen semakin marah. "Dia hilang sudah 2 hari saat di kantor polisi."
"APA!!!" teriak Papa Zen
Mama Indi pun sudah tidak kuat menopang tububnya dan mulai lemas memikirkan anak perempuannya.
"Apa lagi kali ini!!! Aku bisa mati muda jika begini" Papa Zen mengeluarkan ponsel dari sakunya dan sepertinya sedang menelepon seseorang.
"Cari anak perempuanku sekarang, secepat mungkin kamu temukan dan bawa pulang dia secepatnya." titah Papa Zen kepada anak buahnya
"Pa Ma lebih baik kalian istirahat terlih dahulu. Kalian juga pasti sangat lelah kan?"
Papa Zen mengangguk, "Ya sudah, papa mau istirahat. Gara-gara anak itu selalu membuatku pusing setengah mati." keluh Papa Zen sambil memijat pelan kepalanya sendiri.
Begitu keduanya masuk ke dalam kamar Selo menghembuskan nafas lelahnya. "gue sendiri juga gak nyangka kalo lo bakal ngelakuin hal gila macam ini. Sebenernya ada masalah apa sih lo dek?!" gumamnya
Selo memandang keatas memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa menemukan Sintya. "Kayaknya gue mesti tanya ke temen sekolahnya?"
......................
"An**ng! Semua ini salah lo Adel, gara-gara lo gue jadi buronan! Gue gak mau membusuk di penjara dan ngeliat lo bahagia!" kini dia sedang berjalan di pinggir trotoar seperti orang hilang tak jelas kemana arah tujuannya.
"Gue juga gak mungkin balik ke rumah, pasti mama papa bakal marah besar ke gue."
"Argg...sialan capek gue!! pertama kalinya gue jalan kaki kayak gini, gembel banget gue!!" Sintya yang melihat ada sebuah kursi panjang langsung mendudukan diri untuk melepas rasa letih karena tadi saat dia kabur, Sintya terus berlari tanpa henti agar tidak tertangkap.
Sintya mencoba menutup matanya sebentar, sejak dia tertangkap Sintya belum sama sekali tidur, untuk memejamkan mata pun rasanya tidak mampu. Rasa amarah dan emosi masih menyelimuti hatinya.
Tiba-tiba dari arah kanan Sintya sedikit jauh, dua mobil hitam menuju kearahnya. Sintya sontak berdiri dan lari secepat mungkin. Firasatnya mengatakan bahwa itu anak buah Papa Zen yang diperintah untuk mencarinya.
"Sial! Kenapa mereka disini?!"
Sintya berlari diselingi nafas terengah- engah. Namun ia berhenti sejenak disebuah gang kecil untuk menghirup rakus udara disekitarnya.
"Lo Sintya bukan?!"
Sintya langsung menoleh, ternyata ada seseorang yang berdiri disampingnya.
" Lo siapa hah?!" sarkas Sintya menatap tajam dan sinis kepada perempuan dengan celana pendek dan tank top melekat ditubuhnya.
"Oh iya bener, lo Sintya SMP Bakti 1 kan?"
"Darimana lo tahu? Lo siapa hah?"
"Santai dong, Sintya yang gue kenal kayaknya bringasnya gak terang-terangan kayak gini."
"Sebenernya siapa lo? Gak usah basa-basi gak jelas!"
"Gue? Oh gue Lona, inget gak lo?!"
"Lona?" Sintya kembali mengingat- ingat apakah dia punya kenalan dengan nama itu.
"masih gak inget lo sama gue? Gue yang bantu lo nyekap anak orang di gudang sekolah dulu! Masa sih gak inget? Sampe sekarang ingatan itu melekat jelas di otak gue!" ujar Lona yang secara tidak langsung menyinggung Sintya.
Sintya ingat sekarang. Ya, dia teman SMP nya dulu. Selalu mengikuti perintahnya namun mereka berdua tidak sedekat itu secara personal sebagai teman sekolah.
"Gue inget sekarang, ngapain lo ada disini?!"
"Gue ya kerja dong, tuh disitu." jawab Lona sambil menunjuk kearah diskotik tersembunyi.
"Sejak kapan?!"
"Sejak lulus SMP, lo tahu sih karena siapa gue kayak gini." jawab lagi Lona dengan senyum miring seolah menyindir Sintya kembali.
Sintya mengalihkan pandangan matanya tak berani menatap mata Lona. " Sekarang ganti gue yang tanya, Lo ngapain disini? Gak sekolah?!"
"Gue kabur" dengan pelan Sintya menjawab sebab dia merasa sangat malu saat ini.
" Kabur dari siapa? Lo kayaknya lagi ada masalah ya?!"
"Gue di tangkap polisi." Sintya selalu menjawab singkat tanpa menjelaskan bagaimana sebenarnya keadaan dirinya. Terlalu malu untuk menceritakan kepada seseorang yang dulu pernah ia jerumuskan ke kantor polisi sama seperti kondisinya.
"Aaaa.. Gue paham, kejadian SMP pasti lo ngelakuin lagi kan? Siapa yang merebut perhatian orang lain dari lo?"
"Itu bukan urusan lo Lona!"
Lona mengangguk membenarkan "iya juga sih, ngapain juga gue penasaran. Karena udah jelas banget kalo lo lagi kena karma dari gue. Lo kan udah ngancurin hidup gue dari dulu."
tangan Sintya mengepal menahan amarahnya yang ingin membludak.
"Atau gini aja deh, karena gue lagi bagik hati sekarang. Lo mau gak kerja ditempat gue?"
"Lo kira gue cewek apaan hah!"
"Loh loh loh, heh Sintya biar gue kasih tahu ya! Disaat kayak gini lo gak seharusnya bersikap sok blaguk dan masih nganggap lo itu primadona. Tolonglah sadar diri!" Sintya mengetatkan rahang wajahnya.
"Ya udah kalo gitu gue tinggal dulu."
Sintya jujur tidak menginginkan hal gila ini. Namun demi keberlangsungan hidupnya dia pun menurunkan harga dirinya.
"Lon, sebentar!" panggil Sintya
"Kenapa? Berubah pikiran?!"
"Gue terima tawaran dari lo!"
Lona tersenyum miring," oke! Lo ikut gue!" titah Lona dan berjalan mendahului Sintya.
Kini Sintya harus mencari uang untuk makan dan bertahan hidup. Memang untuk sekarang dia harus menurunkan harga dirinya. Tapi sedikit saja.