Queen Bullying Vs King Street

Queen Bullying Vs King Street
Bahaya mendekat



Sintya sudah digotong ke UKS oleh kedua temannya yang tidak berkutik bahkan untuk menolongnya saja tidak berani sebab melihat keganasan sosok Adel yang tanpa segan langsung bertindak kasar kepada Sintya.


Memar menghiasi kening Sintya hingga menimbulkan warna biru lebam. Keberuntungan Adel karena dokter yang biasa menjaga UKS sehingga tidak ada yang menanyakan mengenai memar itu.


"Sin, lo ada pusing atau apa gitu? Biar gue cari anak PMR biar dikasih obat." ucap Dena ikut meringis ngilu.


"Iya Sin, takutnya bakal parah memarnya nanti," imbuh Jena, dia setuju dengan pendapat kembarannya. Sebenarnya kasian melihat kondisi Sintya, sayangnya mereka tidak bisa bela diri untuk membela temannya itu.


"Duh kalian berisik deh, biarin gue tidur. Mending lo berdua ke kelas gue mau tiduran jangan luoa izinin ke gurunya nanti." Dena dan Jena mengangguk pasrah, tidak mungkin juga mereka meninggalkan jam pelajaran. Sementara temannya pun juga tidak mau ditemani. Akhir ya mereka keluar dari UKS membiarkan Sintya sendirian.


"Dena, sintya itu sebenarnya ada masalah apa sih kok tiba-tiba dibully adek kelas?!"


"Jena...Jena lo tanya ke gue terus gue nya tanya ke siapa dong? Gue aja gak tahu masalahnya. Kita kan baru baru hari ini setelah izin beberapa hari."


"Hmm iya juga sih, ternyata kita gak sedekat itu sama Sintya ya Dena! Kabar kayak gini aja kita gak tahu " Jena anak yang sifatnya kepo maksimal, penasaran dengan kejadian disekitarnya apalagi didekatnya. Berbeda denga Dena yang asli cueknya namun kebaikkannya tidak kentara, ia memilih melakukannya diam-diam.


Dena merasa jengah, kembarannya itu suka bertanya yang selalu saja jawabannya tidak Dena ketahui. Pertanyaan yang bukan urusan sendiri melainkan urusan orang lain.


Sintya semakin dibuat benci. Merasa harga dirinya terinjak karena dia sudah kalah yang kedua kalinya. Dia benci karena kecantikannnya terkalahkan, dia benci tatapan orang lain bukan tertuju padanya, dia benci orang lain memuji tapi bukan untuj dirinya. Sintya sangat benci itu.


Meraih ponsel di saku rok nya lalu menghu u gj nomor kakaknya.


"Kak ubah rencana!"


Sedangkan dibalik sana Selo merasa heran, padahal semalam Sintya dan dirinya sudah merencakana matang-matang untuk membalas semua perlakuan Geri kepadanya. Namun tiba-tiba sang Adek menelponnya dan meminta ganti rencana.


"Gue gak salah dengerkan? Kenapa kita gak jadi bakas dendam sih Dek?!"


"Lo itu gimana sih! Adek lo ini dihajar sama adek kelas kurang ajar! Mana bisa gue tinggal diam menikmati rasa sakit di tubuh gue ini!" Sarkas Sintya sambil berteriak keras.


"Terus nasib gue gimana hah? Lo itu selalu aja ya gini, mikirin diri sendiri!"


"Halah kak, nasib lo gampang! Sekarang gue mau kita ganti rencana!"


Selo menghela nafas, adeknya ini kadang suka bikin tekanan darah tingginya bisa naik di usianya yang masih muda.


"Jadi mau lo gimana Dek?!"


"Gue kirim foto anaknya hbs itu gue mau lo sewa orang buat memper*kosa tuh cewek bang*sat!!"


Selo melotot kaget atas permintaan adeknya, Dia tidak sejahat itu untuk menghancurkan hidup orang lain sebab dia bukan Tuhan.


"Dek lo gila ya! Otak lo kayaknya gak waras deh!"


"Kali ini gue gak bisa bantu lo, terserah lo intinya gue gak mau ikut campur!" Selo langsung mematikan telponnya.


Sintya menggenggam erat sprei brankar di UKS. "Dasar kakak gak berguna!" gumamnya menahan amarah yang kapan saja bisa meledak.


"Kalo gak mau gue, maka gue sendiri yang bakal ancurin tuh cewek bang*sat" lanjut Sintya dengan seringai jahat di bibir tipisnya.


......................


tengkuk Adel jadi merinding merasa ada yang mengancamnya tapi tidak ada siapa pun didekatnya selain Geri yang sejak adegan bully tadi terjadi.


"Shh kok gue jadi merinding gini sih!"


"Sayang kamu kenapa? Gak enak badan?!" Geri menempelkan telapak tangannya di jidat Adel.


"Udah gue gak papa, rasanya ada bahaya mendekati gue Ger!"


Geri mengerutkan alisnya " siapa yang mau jahat ke kamu Yang?!"


Adel menggedikkan bahunya juga tidak tahu,"Kalo gue tahu pasti gie bakal bertanya-tanya anjir!"


"Siapa yang mau mencelakai pacar kesayanganku !?"


Sepulang sekolah Adel dijemput papanya dan Geri memilih menunggu Zio dan Sama untuk membahas pertarungan yang berubah jadi nasib sial geng motor itu nanti.


"Zio Ada kabar terbaru?!" tanya Geri


Zio menggeleng," gue rasa mereka udah kapok deh sama hajaran kita waktu itu!" celetuk Sam


"Pemikiran dari mana lo Sam?!"


"Entah lah, firasat gue sih gitu!" ujar Sam sambil mengangkat bahunya.


"Kita waspada aja kalo gitu, takutnya mereka juga ngawasin tanpa sepengetahuan kita" Sam dan Zio mengangguk saja


......................


Adel kini di ruang tamu menundukkan kepalanya menghindari tatapan sang malaikat maut sedari tadi diam membisu.


Adel ingin rasanya pergi ke kamarnya dan bersembunyi dibalik selimut tebal kesayangannya. Bunda Herni dan Ayah Nino masih duduk tepat didepannya.


Tanpa diketahui anaknya keduanya saling menatap bingung. Mau marah tapi kasian, jujur mereka memang sudah terbiasa dengan tingkah nakal Adel karena kelakuan anak itu turunan daei sang Mama yang dulunya juga seorang mantan pembully dan berhenti semenjak jadi pengacara handal.


Seolah kedua orang tua Adel bertelepati


menggunakan mata mereka.


"Yah, anakmu itu loh!"


"Itu anak kamu,"


"Ya tapi kan hasil kerja keras kamu!"


"Tapi yang ngelahirin kamu,"


"Kamu tuh kalo anak sdh bikin masalah gak diakui cih!"


"Ya udah dia anakku juga!"


Barulah Bunda Herni mengangguk setuju. Ayah Nino menarik napasnya dan mulai bicara...


"Kamu itu Adel...adel mau jadi apa kok bully murid lain, Ayah jadi khawatir sama masa depanku."


sontak Adel mendongak dan menjawab begitu polos.


"Ya kan ada yang bikin masalah sama Adel, masa Adel tinggal diam sih Yah? Bisa-bisa nanti Adel diinjak-injak sama orang lain kalo kelihatan lemah!"


"Oh bener itu, kalo orang cari masalah sama kamu, hajar aja sampai mampus del!" celetuk Bunda Herni


Ayah Nino melotot tajam ke arah istrinya. Kok malah mendukung anaknya yang melakukan kekerasan.


"Apaan sih yah! Kan bener dong Bunda, nanti orang lain malah semena-mena sama kita,"


Ayah Nino menghela nafas,"Tapi ya gak gitu juga cara mengatasinya! Kalian berdua itu sebelas duabelas bikin ayah pusing tujuh keliling!"


Lalu Ayah Nino memilih pergi ke kamarnya untuk tidur nyenyak.


Ibu dan anak malah terheran, "Kenapa sih ayahmu kok baperan gitu Del?"


"Bunda kok tanya Adel, itu kan suami bunda bukan suamiku!"


Bunda Herni yang mendengar jawaban anaknya melotot memperingati.


"Awas kamu Adel jangan macam- macam! Itu punya bunda, kamu cari sendiei!"


Dilanjutkan Bunda Herni yang pergi menyusul suaminya yang tengah kesal.