Queen Bullying Vs King Street

Queen Bullying Vs King Street
Tertangkap



Sintya menggigiti kukunya merasa kekhawatirannya bertambah. Dia tidak tahu seberapa kuasanya Geri setelah Selo menceritakan segalanya kepadanya.


"Gue gak mau dipenjara tanpa membalas apapun ke si Adel!" Sintya berpikir keras apa yang harus ia lakukan.


Teringat Layla yang bisa menjadi pion untuk membantunya bisa membalaskan dendam kesumatnya.


"Kak pinjem hpnya."


Selo menatap curiga,"buat apa?!"


Mau nelpon temen deket." Siapa? Yang di diskotik itu?!"


"Bukan dia, ada satu lagi! Udah deh jangan banyak bacot, pinjem bentar juga!"


Sintya merebut paksa ponsel itu dari tangan Selo.


"Awas aja lo kalo macem-macem lagi! Gue gak bakal mau bantu lo lagi. Juga gimana kalo sampai dia ngelacak kita hah?!"


"Gak bakal dilacak karena lo juga udah ganti nomer kan?" Sintya tak mempedulikannya lagi. Lagipula hidupnya sudah kepalang hancur dan malu.


Reputasi dan image nya di depan semua orang juga rusak karena rencananya gagal. Adel bukan lawan mudah untuknya, kesensitifitas cewek itu tinggi dan Sintya melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.


"Gue tahu, gue bodoh karena sebelum melawan musuh, gue gak mengukur sampai mana kemampuan gue untuk melawannya. Tapi kali ini gue gak lagi kayak gitu." gumamnya sambil mengetikkan sesuatu.


 ......


Dari kejauhan tempat dimana keluarga Sintya ada, seluruh kawanan Geri sedikit jauh dari rumah tersebut. Terlihat juga ada penjagaan yang ketat, beberapa pengawas berbadan kekar terasa kuat, ini sangat merugikan.


"Kayaknya mereka kuat banget ya?!" tanya pelan Adel


"Iya sayang. Jadi kita gak boleh gegabah atau nantinya teman-teman kita akan terluka."


"Aku penasaran seberapa berkuasanya kamu ini Geri? bahkan sampai repot-repot ngelakuin kayak gini demi aku ya kan?"


"Tentu aja demi kamu, aku sayang banget sama kamu. Sampe gak mau kamu terluka gara-gara orang lain. "


Adel melirik sekilas melihat kearah Geri yang masih mengawasi rumah itu. Untung saja dia tidak melihat semburat merah di pipinya ini.


"Dan kapan kita bergerak?" celetuk Zio


"Gue sudah membagi menjadi 3 tim besar, satu per satu akan gue kirim kesana buat ngelumpuhin penjaga di luar. Karena kita gak tahu ada berapa orang didalam sana jadi kita gak bisa bar-bar buat maju."


"Oke, jadi tim siapa dulu yang  maju? gue harap bukan tim gue ya!"


"Yaps udah gue putuskan siapa yang bakal maju dulu, gue bakal kirim tim lo dulu kalo gitu. Thanks ya!"


"Kampret lo Ger, gue belum siap."


"Tapi kita udah ready yo," Zio dan Geri menoleh ke belakang rupanya anggota tim Zio udah bersiap untuk menuju kesana.


Geri berdecih sinis, "Lo mau berlagak jadi pengecut? dah sana persiapan!" Zio menghembuskan nafas pasrah, matanya melayangkan tatapan tajam kepada anggota timnya yang tersenyum mengejek kearahnya.


Tim Zio meluncur dengan gerakan seminimal mungkin agar tidak mengeluarkan suara bising. dan Tim Sam akan menyusup ke dalam rumah dengan usaha mereka serta Tim Geri akan menangkap Sintya.  Geri juga sudah berjaga-jaga untuk memanggil polisi diakhir nanti begitu Sintya ada digenggamannya.


Brak...


Pyar....


Bruk...


Suara pukulan diluar rumah, pecahan jendela dan segala macam kebisingan di rumah itu berhasil membuat Selo yang setengah tertidur jadi terkejut.


"Ada apa ini?!" gumamnya


"Rumah ini dikepung!! lo yakin penjaga suruhan papa becus kerjanya?! sial gue bisa-bisa tertangkap dengan mudah Selo!!!" geram Sintya, kakaknya ini sungguh tidak berguna disaat situasi sedang mengepungnya.


"Jangan bilang itu Geri sama temen-temennya! dek lo sembunyi  sekarang biar gue ngehadang mereka." Selo keluar dari kamar dan bertepatan Geri dan Sam dihadapannya.


"Mau kemana lo Selo? kabur?"


"Geri! lo kok bisa disini?!"


Sam menyela obrolan karena situasi ini bukanlah untuk berbasa-basi seperti pesta reunian."Gue disini  buat nangkap Si sinting jadi dimana dia?!"


"Dia gak ada disini!" sarkas Selo


"Lo itu terlalu baik atau terlalu gob*lok sih hah? adek lo itu jadi buronan. Sebenernya dia gak bakal dipenjara sampai bertahun-tahun lamanya kalo dilihat dari kasus ini. Palingan cuma bayar denda terus ditahan beberapa bulan karena dia anak sekolah. Tapi karena dia udah berani lari dari penjara itu tandanya udah cukup buat membuktikan dia pelakunya. " ucap Geri


"Asal lo tahu, gue gak tahu dimana adek gue!!"


"Kalo lo gak kasih tahu berarti kita yang akan mencari dan jeblosin dia ke penjara."


Dalam hati Selo jantungnya sudah berdegup kencang. Sebisa mungkin Selo menyembunyikan kegugupannya agar adeknya bisa kabur dari sini. Geri yang mulai tak sabar akhirnya dia pun membuat Selo pingsan dengan membuatnya tidur sementara.


"Kayaknya ortunya Selo gak disini Ger"


"Gue rasa juga gitu. Dahlah gak usah ngurusin itu, kita harus cepet nemuin Sintya.


......


Sintya mulai berkeringat dingin, telinganya mendengar jelas percakapan kakaknya dengan Geri.


"kenapa gue harus ngalamin hal kayak gini sih! ini semua gara-gara Adel!!" Sintya meremas rambutnya menyalurkan kekesalan yang selama ini tertahan didalam hatinya.


"Gue gak bisa lama-lama disini. Gue harus cepet kabur sebelum ketangkap sama mereka. " melihat sekitarannya apakah ada jalan untuknya kabur atau tidak. Ada satu jendela namun sialnya itu bukan jendela yang bisa dibuka tutup.


"Kenapa juga sih harus dissat yang kayak gini? Dasar Jendela sialan!!"


Sintya mencari benda yang bisa untuk menghancurkan jendela tersebut."Apa yang bisa buat ngancurin tuh jendela?!"


Hanya ada kursi kayu  yang Sintya tidak yakin apa cukup kuat untuk menghancurkan kaca itu.


"Kesempatan gue cuma sekali untuk mecahin jendelanya."


Sintya mengambil langkah mundur berjauhan dengan jendela itu. Lalu dia berlari sekuat tenaga untuk memberikan dorongan kuat.


Pyar...


"Geri sialan pasti itu si Sinting." begitu akan membuka pintunya akan tetapi terkunci dari dalam.


"Sialan, gue ke belakang dulu." ucap Geri berlari ke taman belakang.


Sintya keluar dari jendela dan berlari sekencang mungkin.


Di kondisi yang seperti ini, Adel hanya perlu menyesuiakan posisi strategis yang memungkinkan saat-saat pelaku bisa kabur. Adel menajamkan penglihatannya, bahkan menghiraukan hawa dingin menusuk kulit wajahnya. suara dari arah belakang membuat Adel langsung berlari mendatangi sumber suaranya.


"Sintya!!!" teriaknya memanggil, Adel berlari mengejar Sintya.


Sintya menoleh ke belakang dan menambah kecepatan larinya."Sialan ada Adel!!"


dirasa Sintya semakin berlari kencang Adel pun berusaha menangkap Sintya, jalanan terjal dan keadaan yang gelap membuatnya kesulitan. Begitu tangan Adel terjulur untuk menggapai Sintya.


Grep...


"Lepasin tangan gue sialan!!"


"Gak akan gue lepasin sebelum lo pergi ke penjara." ucap Adel sarkas. Sintya memberontak untuk melepaskan genggaman erat Adel. Keduanya beradu kekuatan.


"Dasar kurang ajar lo Del, gara-gara lo hidup gue ancur tahu gak!"


"Lo nyalahin orang lain atas perbuatan jahat lo!! lo jadi orang gak tahu diri banget ya!!" Adel semakin menggila.


"Kayaknya mau gak mau gue harus ngelakuin itu!!" batin Adel


"Sorry Sin, lo harus mempertanggungjawabkan kelakuan lo di penjara nanti." Adel pun memukul tengkuk Sintya hingga pingsan.


bertepatan dengan Geri, Sam dan Zio yang berkeringat karena mencari keberadaan mereka yang sedikit jauh dari rumah itu.


"Del lo apain si Sinting kok gak sadarin diri?!" panik Zio


"Santai aja, gue cuma mukul tengkuk lehernya doang."


"Lo hebat juga ya ternyata!" Zio pun memuji kehebatan Adel


"Lo kira gue cewek menye-menye gitu. Heh.. gue itu hebat, asal lo tahu."


Geri  mengusap wajahnya kasar, hatinya rasanya bertalu-talu. "Kita bawa dia ke rumah sekarang, polisi bentar lagi juga sampe."


"Akhirnya Sintya ketangkap, setelah ini gue bisa tidur nyenyak di kamar." kata Sam sambil melakukan peregangan otot.


Malam ini pun, Sintya tertangkap dan segera dibawa ke kantor polisi. Sementara orang tua Sintya kembali digegerkan oleh kedatangan polisi untuk melaporkan bahwa anak mereka telah dibawa ke kantor polisi.