Queen Bullying Vs King Street

Queen Bullying Vs King Street
Menyembunyikan Sintya



Semalaman Selo pemeriksaan Sintya seorang diri tanpa memberikan kabar pada Papa Zen dan Mama Indi. Begitu dokter selesai melakukan pemeriksaan menyatakan bahwa tidak ada luka dalam dan Sintya hanya memerlukan istirahat yang cukup.


Selo juga sudah melakukan pembayaran administrasi dan obat yang dianjurkan. Sekarang didalam kamar inap Selo memperhatikan wajah adiknya.


"Entah harus kecewa atau sedih, kakak gak bisa jelasin semua ini. Kasian Papa dan Mama yang terus kepikiran sama lo Dek."


Selama ini Selo dan Sintya tinggal berdua dengan beberapa asisten rumah tangga di rumah mereka yang cukup besar. Papa Zen yang sibuk dengan bisnis keluarga dan Mama Indi sebagai istri berbakti tentu ikut kemana suaminya pergi.


Tanpa mereka sadari ada hal penting yang mereka lupakan dan membuat keduanya lupa akan perannya sebagai orang tua terhadap anak. Sehingga berdampak pada psikologis anak seperti yang dialami Sintya.


Sejak Sintya masuk SD dan Selo yang akan lulus SD mereka mulai tinggal jauh dengan Papa Zen dan Mama Indi. Sehingga membuat Sintya dan Selo berada dibawah pengawasan pengasuh serta kakek neneknya.


Kurangnya kasih sayang dan pengawasan dari orang tua membuat Sintya lebih merasa kesepian. Selo anak yang mudah bersosialisasi daripada Sintya karena mereka masih masa kanak-kanak sehingga Selo sebagai kakak hanya mengajak adiknya bermain tapi tidak tahu menahu harus bagaimana dengan mental adiknya.


Dan inilah salah satu dari sekian dampak yang akhirnya mempengaruhi Sintya dengan penyalahgunaan na*** ba saat SMP namun berhasil dirahasiakan, timbul trauma yang memicu emosi negatif sehingga Sintya melampiaskannya kepada teman disekolah dengan membully.


Akan tetapi, semenjak dia dibully oleh Adel disitulah Sintya menjadi merasa kalah dan kembali ingin membalas dendam.


"Sebagai kakak gue juga gak becus jaga lo. Tapi, sebisa mungkin gue lakuin yang terbaik tapi tetep aja gue gagal pada akhirnya."


"Ngeliat lo yang sampe berani ngelakuin kejahatan makin ngerasa gagal gue jadinya. Sebenernya lo kenapa sih dek?"


Selo menundukkan wajahnya merasa pusing memikirkan hal apa yang membuat Sintya berani menjebak temannya sendiri, membully adek kelasnya, dan parahnya sekarang dia seperti buronan yang sedang dicari oleh polisi.


"Selo!!"


Selo menoleh kearah pintu, Papa Zen datang dengan ekspresi seakan ingin marah dan Mama Indi yang cemas takut sewaktu-waktu suaminya ini tidak bisa mengontrol emosinya.


"Ada apa lagi sekarang dengan adikmu itu?!"


"Pa tenangkan diri dulu, ini rumah sakit banyak yang keganggu kalo papa marah disini." ujar Mama Indi berusaha meredakan emosi Papa Zen.


"Pa plis jangan sekarang, Selo bakal jelasin tapi gak disini Pa," Selo juga membujuk Papa Zen agar tidak membahas masalah ini di rumah sakit.


dengan nafas memburu, Papa Zen mencoba mengontrol emosinya, "Saat adikmu sembuh bawa dia pulang tanpa diketahui siapapun." Setelah mengatakan itu Papa Zen pergi begitu saja tanpa melihat kondisi Sintya.


Mama Indi khawatir tapi dia harus segera menyusul suaminya "Jaga adikmu Selo, papa biar jadi urusan mama."


Selo menghela nafas dengan ekspresi wajah menyendu,"Kenapa kalian masih aja gak peduli sih?" sejujurnya Selo juga mulai lelah.


Orang tua mereka memang tidak mau mengerti kondisi anak-anaknya dan yang mereka mau hanyalah ingin dimengerti. Selo muak tapi dia menyadari sesuatu dari semua yang dia alami, bahwa dia belum cukup kuat untuk melindungi adiknya dari kejamnya lingkungan sekitar.


Keesokan harinya Geri mendapatkan pesan dari Adel jika perempuan itu ingin menjenguk Sintya. Awalnya Geri langsung menolak, kenapa pacarnya itu masih berbaik hati untuk mendatangi yang sudah mau menjebak bahkan ingin mencelakainya. Adel ya Adel, cewek keras kepala sama seperti Geri.


"Sudah siap?!" Geri menunggu diteras depan rumah Adel.


"Sudah dong"


"Adel lebih baik tidak usah sudah ya! Bunda cemas!"


Adel memutar matanya malas," Bun, Adel bakalan aman mana ada yang berani berbuat jahat di rumah sakit? Apalagi disana banyak orang. Jadi jangan terlalu overthingking gitu!"


Geri sendiri memilih diam, jika dia ikut-ikutan sudah diperkirakan kalo dia akan kalah kedua kalinya dan berefek dia akan dikesali Adel.


"Geri, ayo dong kamu bilang sesuatu! Masa kamu diam aja melihat Adel yang dengan sukarela datang ke orang yang mau jahatin dia!"


"Huft...Tante lebih baik menyerahlah saja." Bunda Herni dibuat melongo, tidak biasanya Geri dengan mudah mengalah seperti itu.


"Sebenarnya ada apa dengan kalian semua sih?!" tiba-tiba Ayah Nino datang dengan koran ditangannya.


"Yah, lihat anakmu dibilangin malah ngeyel."


Ayah Nino mengalihkan pandangan matanya," Adel kamu mau kemana emang?"


"Ke rumah sakit jenguk temen," Ayah Nino mengangguk


"Bunda, kamu ini kenapa sih? Kok ngelarang Adel jenguk temennya! Bukannya itu niat terpuji jarang-jarang loh Adel ada niatan begitu!"


Adel menggeram kesal, Ayah Nino itu berniat memujinya atau menyentil hatinya.


"YAH!! Dia itu mau jenguk temennya yang hampir menjebaknya dengan Nar**ba" teriak Bunda Herni ikut kesal dengan suaminya.


"APA!!? TIDAK AYAH IZINKAN!!" dengan wajah marah Ayah Nino menolak juga. Tentu saja, dia khawatir. Anak satu-satunya tidak boleh mendatangi orang yang sudah membahayakannya.


"Kalian ini aneh ya! jenguk orang masa pilih-pilih. Dah lah Adel berangkat sendiri."


Geri menekuk alisnya," Sayang!! Aku kan dari tadi diem aja, gak ikut ngomong kok kamu malah kesel ke aku sih?"


"Ya kan kamu juga ikut nolak!"


"Tapi kan itu udah tadi malam dan aku udah ngalah loh!"


"Ya sama aja dong kamu sama kayak Ayah Bunda ikut nolak."


Geri terdiam. Salah lagi dirinya ini. "Ya udah ayo aku antarin aja ya!"


"Hemm.."


Ayah Nino dan Bunda Herni yang ingin mencegah lagi, ditahan oleh Geri. "Serahkan kepada saya aja Tante Om. Saya akan menjamin keselamatan Adel karena dia juga kesayangan saya."


Kedua paruh baya itu, mau tidak mau mengijinkan Adel pergi. "Kalo begitu saya minta tolong dan berhati-hatilah" Geri mengangguk mantap.