
…Mengerahkan segala kekuasaan yang Geri pegang, mentitahkan keseluruh anggotanya untuk membantunya melacak keberadaan keluarga Sintya.
Menelurusi dan memeriksa semua cctv yang memungkinkan dilewati oleh mobil yang membawa kabur Sintya.
Selo tahu bahwa ia telah ingkar janji kepada Geri, tapi dia sebagai kakak harus tetap melindungi adiknya. Entah apapun risikonya nanti dia akan menerimanya.
Tring...tring...(Ponsel Geri berdering)
"halo gimana ketemu?"
"Jalan A gak ada bos,"
"Oke lo cari di jalan yang lain."
"Oke bos,"
Setiap perwakilan basecamp melaporkan pelacakan mereka, hingga waktu berjalan 3 jam lamanya. Ponsel Zio berdering.
"Bang daerah kota B terpencil ada seseorang yang baru saja membeli rumah disana."
"Oke kirim lokasinya, biar gue lacak lebih dalam."
"Siap Bang!"
Zio mematikan sambungan teleponnya."Daerah kota B, Ger!" ujar Zio
"Itu bukannya wilayah kita yang dulu berhasil kita rebut?"
"Oh iya bener, zaman kapan tuh!?" celetuk Sam
"Zaman pas kita SMP kelas 3," jawab Zio
"Cepet di cek, gue mau telpon Adel,"
...……...
Adel Di kamarnya tengah menikmati maraton film drakor dengan setoples cemilan varian coklat.
Tidakkah kalian bertanya kenapa itu gigi gak karies?
Jawabannya rajinlah gosok gigi sehabis makan dan sebelum tidur plus rajinlah perawatan gigi ke dokter😃
Ponselnya bergetar mengalihkan pandangannya dari layar laptop."Geri? Ngapain dia telpon?"
"Halo Sayang, kamu lagi apa?"
"Lagi maraton aku,"
"Ngapain maraton Sayang? mau ikut lomba lari kamu?!"
Adel memutar matanya malas," Bukan lari maraton, itu istilah lain buat nonton film seharian penuh."
"Oalah, kamu aneh-aneh aja Sayang,"
"Kenapa kamu telpon aku?"
"Aku mau nagabarin besok kayaknya hang out kita dibatalin dulu ya?"
Kening Adel berkerut,"Lah, kenapa? Ada urusan kamu?"
"Iya Sayang, urgent banget ini."
"Kasih tahu urusan apa!" Adel harus tahu urusan apa itu sampai membuat pacarnya yang jarang membatalkan acara mereka kini tiba-tiba melakukannya.
Di basecamp Geri berbisik-bisik kearah Sam dan Zio."Woy Menurut lo berdua, kalo gue kasih tahu ini ke Adel gimana?!"
"Ngapain? Lo mau dia kena bahaya?"
Geri menggeleng kuat," Ya udah jangan kalo gitu." jawab Zio
Geri beralih lagi ke sambungan telepon," Sayang ini masalah basecamp aku kok, "
"Hah! Ya udah tinggal kasih tahu aja, toh aku gak bakal ikut campur cuma pengen tahu aja!" Adel makin dibuat kesal.
"Aneh nih!" gumam Adel curiga
"E-eh..." Geri dibuat gugup
matanya menyiratkan meminta bantuan kearah kedua teman bangkeknya yang tak peduli jika dia sedang terpojokkan.
"Satu..."
"dua..."
"Hitungan terakhir gue gak mau ketemuan sama lo Geri!! Ti......tiii-"
"Oke oke...Kita mau pergi nangkep Sintya di daerah kota B!" Sam dan Zio terkikik melihat Geri terpojokkan. Yah, sebenarnya gak masalah juga sih Adel mengetahui masalah ini. Batin mereka masing-masing.
"Kapan?!" tanya Adel tak gentar untuk ingin mengetahui segalanya.
"Aku ikut!"
Mata Geri melotot," Ngapain? Gak usah Sayang!"
"Gu...e mau i...kut titik!" ucap Adel menekan semua ucapannya. Adel merubah panggilan kepada Geri agar cowok itu mau menuruti kemauannya.
"Huft...Sayang kamu gak kira dibolehin sama Ayah Bundamu!"
"Kamu tenang aja masalah itu biar aku yang urus."
"Terserah kalo gitu, malam nanti jam 10."
"Oke Geri Sayangku!" Mata Geri melotot lagi mendengar Adel memanggilnya dengan nada manis.
Tut...tut...tut...
"Sialan...pacar gue biki baper aja!!" gumam Geri
...……...
Adel segera keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menghampiri Bunda Herni dan Ayah Nino yang sedang menonton siaran berita.
"Ayah...bunda..." panggilnya
"Kenapa? Gak usah teriak-teriak kan bisa."ucap Ayah Nino
Adel mendudukkan diri diantara ayah dan bundanya. Kedua orang tua itu merasa aneh kenapa anak mereka tiba-tiba menempeli mereka seperti lintah.
"Nih...nih kalo gelagatnya kayak gini pasti ada mau nya Ayah!" ujar Bunda Herni ketus
Adel berdecak pelan, bundanya selalu peka daripada ayahnya sendiri.
"Yahhh..." Adel memanggil ayahnya dengan nada manja. " Adel mau keluar ke rumah temen Adel boleh?"
"boleh," jawab Ayah Nino, Adel tersenyum lebar mengira taktiknya berhasil."tapi berangkatnya besok aja!" seketika senyumnya hilang.
"Kenapa gitu? Adel mau malam ini nginep di rumah temennya."
"Cih...alasan aja tuh!!" celetuk Bunda Herni dengan mata yang fokua menonton berita.
"Karena ini sudah malam Adel, kamu ini gak ada kapok-kapoknya selama ini kamu mesti berada dalam bahaya."
"Ini temen deket Adel loh Yah!"
"Ya terus kalo deket masa harus malam malam begini berangkatnya? Kenapa gak dari tadi ?!"
Adel meneguk ludah, benar juga kata ayahnya itu.
"Ya-ya karena rencananya baru ada malam ini."
"Heleh pasti ada sesuatu tuh!!"
Adel menatap garang kearah Bundanya,"Bunda diem deh, sukanya manas-manasin ayah!"
"Idih!!! Pokok izinin Adel pergi. Titik." Adel berlari ke kamarnya menyiapkan semuanya.
Bunda Herni dan Ayah Nino menghela nafas pasrah. Membiarkan anak bandelnya itu pergi menginap ke rumah temannya.
"Yah, kayaknya ada yang gak beres!" bisik Bunda Herni ke suaminya.
"Gak beres gimana?!"
"Pasti ada yang bener-bener disembunyikan sama anak itu! Biar bunda awasi dia!"
"Ayah mengira dia pasti bakal pergi sama Geri. Kita awasi Adel seperti biasanya aja dari jarak jauh." Bunda Herni mengangguk paham.
...……...
Semuanya sudah berkumpul dan akan berangkat untuk menangkap Sintya.
"Gak bakal gue lepas tuh tikus!" ucap Geri
"Ngeri banget lo Ger!" ujar Zio
"Gue bakal sengeri itu kalo hubungannya sama cewek gue!"
Merasa dirinya tengah dibicarakan Adel mulai bersinan. "siapa yang lagi bicarain gue!" gumamnya sambil menggosok pangkal hidungnya.
Kedua cowok itu saling melirik satu sama lain,"Dia peka banget sampe kerasa kalo lagi digibahin!"
"Semua sudah siap? Kita bakal berangkat ke daerah kota B. Gue harap nanti gak ada yang terluka atau apapun itu yang membahayakan. Jaga diri masing-masing. Target kita menangkap Sintya, fokus ke tugas masing-masing!!"
"Sayang kamu sama aku ya?"
"Iya ah bawel deh, kalo bukan sama kamu mau sama siapa lagi?!" ketus Adel
"Hehehe, iya juga ya!" Geri tertawa kecil.