Queen Bullying Vs King Street

Queen Bullying Vs King Street
Dadakan



Setelah kejadian itu, keesokan harinya suasana hati terasa seperti tidak terjadi apa-apa. Rasa damai dan tenang membuat senyuman diwajah Adel tak pernah lekang.


Seharian di sekolah Adel juga tidak mengeluh capek atau tidur saat jam pelajaran, semua berjalan dengan lancar. Di jam istirahat Adel pun mendatangi Geri untuk mengajaknya ke kantin.


"Ayah sama Bundamu gak tanya apa-apa Sayang?"


"Aman kok, mereka gak nanyain masalah malam itu."


"Oh ya Sayang, sehabis pulang sekolah aku mau mampir ke rumahmu sebentar,"


"Emang ada apa Ger?" kening Adel mengerut heran.


"Ada sesuatu yang perlu aku bicarakan sama orang tuamu,"


"Tentang apa?" Adel tidak tahu jika pacarnya ini pernah memiliki urusan penting sampai harus dibicarakan bersama. Apalagi mereka tidak pernah mengobrol tentang hal serius.


"Nanti kamu juga bakal tahu, Dah ayo dimakan itu makanannya keburu dingin." ucap Geri sambil menggerakkan tangan Adel yang berhenti bergerak dengan menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.


mata mereka saling bertatapan sekilas begitu Adel mengalihkan pandangannya ke makanan miliknya.


Selesai makan mereka berdua menyempatkan diri untuk pergi ke atap gedung sekolah.


"Aku agak sedikit bosan,"


"Bosan? bosan kenapa sayang?!"


"Biasanya ada orang yang suka cari masalah ke aku tapi sekarang udah gak ada berkat kamu Geri,"


Geri menoleh," Itu pujian atau sindiran secara gak langsung?!"


"Menurutmu gimana? Apa ada cara buat ngilangin rasa bosan ini?!"


Geri menyeringai tipis," Aku ngerasa Sintya gak mungkin gak dendam sama kita. Yang ada di otaknya cuma mikirin gimana cara buat balas dendam ke kita."


"Hmm...aku rasa bisa juga sih, Aku jadi penasaran Sintya bakal ngelakuin apa lagi."


Teng...Teng...Teng...


"Bel nya udah bunyi, ayo masuk kelas!"


Adel memutar matanya malas," Iya iya si paling pintar seantero sekolah ini. Dasar pacar muka dua!!" ejek Adel kepada Geri yang kembali memasang kacamata tebalnya


"Sayang!!!" tekan Geri sambil menyipitkan matanya agar Adel segera berhenti mengejeknya.


"Ih dasar!!" Adel pun melenggang pergi.


...……...


Kemarin Layla sempat mendapatkan sebuah pesan tanpa nama. Menyebutkan jika sang pengirim adalah Sintya orang yang ditunggu-tunggu kabarnya.


"Kak Sintya!!" reflek Layla membuka isi pesan itu dan membacanya.


"Ja-jadi kak Sintya masuk penjara! Bagaimana mungkin? Padahal kak Sintya orang baik!"


Layla masih belum mengetahui berita terkait Sintya membawa obat terlarang disekolah untuk menjebak temannya. Hal tersebut karena ponsel yang dimiliki Layla masih tidak memumpuni untuk mengetahui berita terupdate.


"Aku harus gimana ini? Aku harus bantu kak Sintya! Ta-tapi gimana caranya?!" gumamnya pelan


Selama ini berkat Sintya, Layla menjadi murid populer karena kecantikan yang lama tersembunyi. Para murid laki-laki mengelu-elukan nama dan memujinya cantik seperti bak malaikat.


Layla menyukai itu bahkan bisa dikatakan dia semakin haus akan pujian tersebut.


"Tapi kak Sintya bilang, aku tidak akan bisa menemuinya kedepannya nanti. Dan kak Sintya menginginkan aku untuk mendekati kak Geri."


Layla tentu menyukai Geri karena ketampanannya. Ditambah sejak pertemuan pertama kalinya saat Geri mengantar Adel ke rumahnya Layla menemukan sosok lelaki idamannya.


"Setahuku kak Geri kan punya pacar, apa bisa aku mengenalnya lebih dekat?" tanyanya pada diri sendiri.


Layla kembali melanjutkan mengolesi skincare malamnya di kulit wajahnya. "Setidaknya aku harus mencobanya dulu."


Layla memperhatikan lebih dalam setiap jengkal wajahnya. Memuji betapa mulus dan cantiknya wajahnya yang sekarang ini. "Aku memang sencantik ini ya?!"


...……...


Sore ini Geri sudah menyiapkan diri untuk tujuannya kali ini. Keringat membasahi dahinya meskipun tak sepenuhnya terlihat.


"Ayo masuk Geri!" Adel membukakan pintu rumahnya.


"Bunda Adel pulang!!" teriak Adel begitu masuk rumah.


"Adel bisa gak sih kalo masuk rumah ngucapin salam kek atau apa gitu! Bisa-bisa anak cewek koar-koar gak jelas!!" tegur Bunda Herni


"Iya ya Bun, Bunda ini ada Geri!!"


Bunda Herni yang asyik di dapur menyiapkan bahan untuk dimasak nanti malam. Membasuh tangan terlebih dahulu sebelum ke ruang tamu.


"Air putih aja tante, Om Nino udah pulang te?!"


"Emm belunm sih, mungkin bentar lagi pulang. Kamu ada urusan sama om Nino ya?"


Geri mengangguk pelan,"Ada yang mau aku bicarakan sama Om dan tante."


Bunda Herni melihat tatapan mata yang menunjukkan ada hal penting yang perlu dibahas. "Baiklah, kamu tunggu aja disini. Tante ke dapur dulu mau lanjut kerja."


"Iya tante, silakan dilanjut aja dulu."


Tak lama kemudian, Geri dan Adel yang bercansa tawa mengalihkan pandangan mereka kearah luar rumah. Mobil Ayah Nino sudah terlihat.


"Tuh Ayah aku udah dateng Ger!"


tanpa Adel tahu sedari tadi jantung Geri berdetak kecang tak karuan. Terus-menerus menarik nafas dan menghembuskannya berharap kegugupannya hilang.


"Kamu kenapa kok kayak habis liat setan?!"


"Mana ada Sayang, mungkin karena gerah jadi keringetan aku!"


"Hemm, oke oke." Adel pun mempercayainya.


"Ayah pulang!!" ucap Ayah Nino begitu masuk rumah


"Ayah!!bawa coklat gak?!" kebiasaan Adel bukannya menyalami ayahnya dan menanyakan bagaimana pekerjaan hari ini tapi sebaliknya dia dengan riang menanyakan apakah ayahnya bawa coklat kesukaannya atau tidak.


Ayah Nino malayangkan pandangan malas,"Ck...ck...salam dulu kek atau apa kek! Dasar anaknya siapa sih kamu itu Del?!"


"Ya anaknya ayah bunda dong!! Masa anaknya setan!!"


"Serah dah serah, ayah mau mandi dulu."


Geri yang merasa keberadaannya tidak diketahui pun menyapa Ayah Nino.


"Halo om," sapanya sambil menyalami Ayah Nino.


"Oh Geri ada kamu toh! Maaf ya om gak sadar kalo ada kamu Ger!"


"Santai aja om, faktor capek karena kerja. Mendingan baik om mandi dulu aja."


"Yah kamu bener, om mau mandi dulu biar otak om kembali jernih,"


Setelah menunggu lama, akhirnya mereka berempat berkumpul di ruang tamu, suasana pun senyap.


"Jadi ada urusan seperti apa Geri? Om dengar dari Adel sepertinya terdengar penting sekali."


Dalam benak Geri jantungnya seakan ingin melompat pergi dari tempatnya. Geri menarik nafas panjang sebelum mengatakan keinginannya.


"Jadi ada yang mau saya sampaikan dan ucapan saya ini bukan omong kosong belaka, ini sudah saya pikirkan jauh hari. Saya berkeinginan untuk menjadikan Adel sebagai tunangan saya "


Deg...deg...deg...


Seperti layangan putus yang diterpa angin, hati Adel merasa terbang ke langit.


Raut wajah kedua orang tua Adel tak menampilkan keterkejutan atau apapun. Geri malah semakin dibuat gugup karena tidak mendapatkan respon sama sekali.


"Yah...Bunda..." Adel membuyarkan lamunan Bunda Herni dan Ayah Nino.


"Heem...Kamu menjadikan anak om sebagai tunanganmu, apa itu tidak akan mengganggu sekolah Adel? Kamu tahu sendiri anak om itu agak gak beres,"


Adel besengut kesal,"Ayah itu ada dendam terselubung ke Adel ya? Selalu aja bikin esmosi."


Bunda Herni yang sedari tadi bungkam jadi angkat bicara," seberapa serius kamu dengan anak tante?! Kamu bisa melindunginya?" tanyanya dengan nada serius.


"Saya menjamin hubungan saya dengan Adel tidak akan mengganggu sekolah Adel, saya usahakan itu. Dan seberapa serius saya dengan Adel itulah kenapa saya ingin bertunangan dan berencana untuk melanjutkan ke jenjang nikah saat saya sudah bekerja. Tentu saja, saya bisa melindungi Adel dari apapun kecuali kematian. Sampai sekarang saya juga berusaha melindunginya semampu saya."


Bunda Herni yang memang seorang mantan pengacara tentu punya sisi ketegasan pada kondisi tertentu.


"Baiklah, tante setuju mulai dari sekarang tante tidak akan melepaskan pandangan tante ke kamu Geri!"


Ayah Nino pun mengangguk ikut setuju,"Baiklah om akan memberikan kepercayaan om ke kamu meskipun tidak sepenuhnya."


Geri tersenyum lega mendengar jawaban tersebut. Adel sendiri ikut lega, ia tidak membayangkan hal ini akan terjadi pada hidupnya.


"Gue dilamar sama Geri! Mimpi apa gue semalam hah!?" batinnya


"Terimakasih Om, tante karena sudah mempercayai saya untuk menjaga Adel ditangan saya. " keduanya mengangguk tersenyum.


"Kamu makan malam disini aja sebelum pulang, " ujar Bunda Herni lalu berdiri dari sofa.


Malam ini pun mereka kembali bercanda tawa sambil makan malam bersama. Suasana hangat nan harmonia menyelimuti mereka.


Keinginan Geri tercapai tinggal bagaimana kedua remaja itu menjalaninya untuk kedepannya nanti.