Queen Bullying Vs King Street

Queen Bullying Vs King Street
Rahasia Geri bocor



Bunda Herni langsung menelepon Ayah Nino dan menceritakan jika Adel menghilang begitu Geri tadi mengabarinya. Jantung Bunda Herni berdetak tak menentu, kewaspadaannya menurun padahal selama ini dia tidak pernah lengah sedikit pun. Karena terlalu panik, Bunda Herni hanya menangis dan berdoa agar anak satu-satunya tetap dalam kondisi baik-baik saja.


Tak lama kemudian, Ayah Nino berlari masuk ke rumah menemukan istrinya meringkuk dekat sofa sambil menangis.


"Bun...hei sudah tenang ya, ayah udah menelpon polisi untuk mencari Adel." Nino dengan perlahan menenangkan istrinya agar tidak terlalu stress. Nino sendiri yakin anaknya pasti baik-baik saja apalagi sekarang Adel sudah memiliki pacar yang dia rasa kuat untuk menjaga anak semata wayangnya.


Ayah Nino tidak akan membiarkan Adel berpacaran dengan orang yang tidak jelas asal-usulnya. Ayah Nino memperintah seseorang yang terkenal dengan bidangnya untuk melacak latar belakang Geri dan hasilnya sudah bisa membuat Nino tenang.


"Yah, ini salah Bunda yang sudah membiarkan Adel keluar rumah"


"Sudah bunda, tidak ada yang salah disini, sudah takdir Adel untuk terkena kesialan. Ayah akan menemukan Adel jadi bunda harus tenang dulu ya,"


Bunda Herni menatap sinis suaminya yang mengatakan jika Adel menghilang karena sudah kesialan si Adel."kamu kok malah ngomong gitu sih! Adel anak kamu kok malah doa in kayak gitu!!" tangis Herni semakin menjadi dan Nino pun jadi kelimpungan saat istrinya tak mau disentuhnya barang sedikit pun.


"Bun, iya deh iya, ayah minta maaf. Gak akan ayah ulangi lagi deh, janji nih!" kenapa disaat seperti ini istrinya jadi kekanakan tingkahnya berbanding terbalik saat kondisi rumah biasa saja, malah dirinya yang kekanakan.


"Awas kalo bunda denger lagi, bunda bakal hukum ayah!" ancam Herni


Sementara Geri mendapatkan kiriman dari Sam dan Zio setelah berhasil melacak posisi Adel.


"Panggil polisi, kalian datang dan tangkap para bajingan itu!" Tegas Geri


"Oke Ger, kalo gitu gue matikan."


Geri mencengkeram setir mobil membuat telapak tanganya memerah. Ternyata ada yang sedang mencoba untuk menguji nyali seberapa kerasanya.


"Kita lihat saja, sejauh mana lo bersembunyi! Dasar tikus sawah menjijikkan!" Geri pun menginjak gas mobil dan bergerak semakin kencang.


Sam dan Zio sudah membereskan tugasnya tinggal menuntun mobil polisi itu ke tempat dimana Adel berada. Mereka juga memerintah para polisi itu untuk tidak menyalakan serine yang nantinya akan menggagalkan rencana mereka.


"Siapa juga sih yang berani berbuat kayak gini? Heh...bikin gue kesel aja!" ucap Sam menyandarkan pipinya ke tangan.


"Gue gak tahu siapa tapi yang pasti bakal habis dalang dibalik masalah ini. Geri gak bakal setengah-setengah kasih hukuman ke orang itu."


jawab Zio sambil menyetir mobil dengan kecepatan maksimal.


......................


Selo menatap heran Sintya yang tersenyum bahagia namun firasat Selo menandakan ada yang tidak beres dari adiknya. Ekspresi jahat dapat ditangkap Selo dari wajah Sintya.


"Dek, lo gak lagi berbuat aneh-aneh kan?!"


Sintya menoleh dengan mata yang menatap tajam,"Urus aja urusan lo! Jangan usik gue!" jawabnya sinis


Deg


Perasaan Selo jadi benar adanya, Sintya sudah melakukan hal bodoh saat ini. "Lo jangan macem-macem dek! kalo sampek mama dan papa tahu lo berbuat aneh bakal habis lo!" tegur Selo


"Apa pentingnya gue dimata lo Kak? Gue minta tolong aja gak lo respon!" sarkas Sintya


"Gue selalu bakal bantu lo, tapi gak untuk membantu hal jahat Sintya! Gue rasa lo kerasukan makhluk jahat "


"Mendingan lo pergi Kak, sebelum gue marah!"


Selo tidak mengerti, adeknya bukanlah adeknya yang dulu. Sintya yang dulu begitu manis, ceria dan lucu, namun dengan yang sekarang Selo merasa aura adeknya menjadi bengis dan kejam.


Selo memilih pergi untuk mengabari mama dan papanya yang sedang mengurus perusahaan di negara tetangga, Malaysia.


Sintya menyeringai misteri,"Gue pastiin lo bakal hancur Adel! Lo kira setelah semua kelakuan lo, lo bakal bebas gitu. Kalo cara halus gak mempan untuk lo jadi cara kasar bakal gue pakek sekali pun gue harus mengotori tangan gue!"


......................


Geri sudah sampai disebuah perkampungan ditengah kota. Rumah yang berdempetan dan waena tembok yang kusam terlihat kumuh sekali. Geri menatap layar ponselnya kembali memastikan posisi Adel masih tetap dititik itu.


"Tunggu aku Sayang! Aku pasti akan menyelamatkan kamu!" Geri menyimpan ponselnya di saku celana dan berlari.


Jalan yang berlika-liku, melewati banyak gang kecil, Geri tidak lagi mempedulikan dirinya yang nantinya mungkin akan tersesat. Kemudian, kaki Geri terhenti disebuah bangunan lapuk dengan dinding yang dirayapi tanaman liar.


"Huft...,hosh...hosh..." nafas Geri terengah-engah.


"Cih, dikunci dari dalam lagi!"


Tak ingin banyak fikir, Geri mencari jalan masuk lainnya dengan memutari area rumah tersebut. terdapat jendela namun jaraknya terlalu tinggi untuk dijangkau.


"Sialan!" gumam Geri, kepalanya menyapu lingkungan disekitarnya. Sebuah pohon dengan dahan kokoh menjulang mendekati ke arah jendela itu.


"Sepertinya pohon ini bisa," Geri pun memanjatnya dengan ahli.


"Gak nyampek nih! Loncat aja kali ya!" tanpa basa-basi pun Geri mengambil posisi untuk melemparkan diri ke jendela itu.


Bruk...


Geri mendarat begitu sempurna berkat kejagoannya di bidang loncat harimau. Namun, telapak tangannya sedikit luka gores dan kulit yang mengelupas sedikit. Geri mengabaikan perih luka itu.


Terus mencari dimana Adel berada, terdapat sebuah pintu tertutup tidak rapat, Geri memundurkan langkahnya dan menajamkan indera pendengarannya.


"lo dengar sesuatu!"tanya si kupu-kupu


"Sepertinya suara benda jatuh tapi sedikit aneh!" jawab si tanduk kijang


"lo coba cek sana!" ujar si kupu-kupu menyuruh si kepala kerbau


"Lah kenapa jadi gue yang disuruh?" jawab


"Ya karena jarak langkah kaki lo yang paling deket sama pintu, " sahut Si tanduk kijang


"Banyak alasan lo berdua!" Sarkas si kepala kerbau tetapi tetap menuruti perintah temannya.


Si kepala kerbau membuka pintu itu dan mengeluarkan kepalanya saja untuk menengok ke kanan dan kiri. Begitu menoleh ke kiri Geri menyeringai tajam dan bengis lalu melayangkan tinjuan hingga membuat si kepala kerbau terjatuh.


"Oy...siapa disana!?"


Sontak Geri menampakkan dirinya dari balik pintu. Adel yang membuka matanya sambil mengintip-intip siapa orang yang membantunya juga langsung membelalak kaget.


"Geri!" gumamnya


Adel baru pertama kali melihat aura Geri yang satu ini. Terlihat berbeda dari yang ia ketahui selama ini, tanpa kacamata tebal dan rambut klimis nan rapi itu. Kini rambut yang acak-acakan, baju oblong dan celana jeans serta sepatu kets yang sangat cocok dikenakannya.


"Lo keren banget kalo gini!" Adel sendiri bukannya sibuk mencari cara melepaskan diri namun dia sibuk memandangi ketampanan dan aksi keren Geri yang sedang melawan para pendosa.


"Kurang ajar lo bertiga! Berani-beraninya nyulik pacar gue hah!!" teriak Geri sambil baku hantam.


"Oh pacar lo rupanya, sek*si juga tubuhnya, udah gue cicipi tadi!" malah


jika ini dunia khayalan mungkin tubuh Geri sudah beraura gelap dengan kobaran api dimatanya."Dasar Bang*kek lo," semakin dibuat bringas, Adel sendiri stay menatap kagum dengan mulut yang terbuka.


tiba-tiba Geri merasakan getara di saku celananya, kode dari Sam dan Zio bahwa dia harus segera melumpuhkan lawannya. Tanpa segan, Geri menyerang bagian burung pipit mereka hingga rintihan kesakitan terdengar. Adel ikut meringis jadinya meskipun dirinya tak ikut memilikinya.


"Ughh sakit itu pasti!"


Geri langsung melangkah kearah Adel dan segera melepaskan ikatan di tangan dan pergelangan kaki Adel. Terlihat jejak merah di kulit putih Adel membuat Geri hampir gelap mata jika Adel tidak mengatakan dirinya baik-baik saja.


"Udah gue gak papa, cuma merah kayak gini gak bikin bekas kali ke kulit gue!"


"Sayang, tapi mereka udah berani nyulik kamu loh!"


"Lah kok balik jadi anak cupu sih?!" batin Adel


brak...


beberapa polisi datang bersama Sam dan Zio.


"Oy Sam, Zio lo berdua gak usah berlagak jadi pahlawan deh! cepet bawa tiga cowok itu!" Geri mengintrupsi adegan kedua temannya yang sok terlihat keren.


"Cih dasar lo Ger, merusak momen gue Ger!" kesal Zio


"serah lo, pokok cepetan!" Geri pun menggendong Adel dan membawanya ke rumah sakit untuk periksa lalu pulang