
Minggu itu juga keluarga Geri serempak mendatangi rumah Adel untuk melakukan tukar cincin.
Begitu mereka tukar cincin, Geri meminta agar Adel tidak melepaskan cincin itu dari jari manisnya. Sebisa mungkin Geri menyembunyikan perasaan senang yang berlebihan ini supaya orang lain tak menganggapnya gila.
"Jangan dilepas, aku suka cincin itu tersemat indah dan cantik di jarimu Sayang."
Pipi Adel makin dibuat merah," Plis deh ini banyak orang Ger. Jangan bikin malu aku!" gerutu Adel memukul pelan lengan Geri.
"Haduh Yang. Ngapain malu sih! Mereka itu keluarga dekat aku dan nantinya bakal jadi keluargamu juga. Jadi jangan sungkan gitu."
"Ger. Sejak kapan urat malumu putus?" ujar Adel dengan wajah masamnya.
"Heh apaan sih kok gitu! Hal kayak gini akan terjadi terus kedepannya nanti. Jadi kamu harus membiasakan diri ya Sayangku!" Adel hanya bisa mengangguk menurut dengan wajah pasrah.
.....
Setelah pertunangan, besoknya mereka kembali sekolah dan hari paling sial bagi Adel karena terlambat bangun pagi mengharuskannya menjalani hukuman lari lapangan.
"Jangan lembek- lembek!!! Lari yang semangat Adel!! Ini masih pagi!!" teriak heboh guru yang bertugas mengawasi anak terlambat masuk.
"Hah.. Hah...hah....Sialan tuh guru, pagi- pagi gue disuruh mandi keringet!! Percuma dong gue mandi!!" gerutu Adel terengah-engah.
"Ayo Adel!! Kurang 3 putaran!! Masih jam 7 pagi ini !! Masa anak muda udah lemes aja!!" sementara guru itu hanya mengoceh seperti burung pipit yang kelaparan.
"Saya ini cewek kalo bapak tahu!! mana ada cewek suruh lari 10 putaran sih!!! Gak punya hati deh!!" Adel berhenti berlari, nafasnya semakin naik turun.
"Ini nih gara-gara gue jarang olahraga lagi!!" gumam Adel
Guru itu melihat jam tangannya ternyata jam sudah menunjukkan hampir pukul 8.
"Sudah...sudah...kamu bisa kembali ke kelas!" Guru itu langsung pergi begitu mengatakan hal tersebut.
Adel merasa geram dan amat kesal sampai ingin rasanya dia memukul kepala guru itu. Adel hanya bisa melayangkan pukulan angin.
"Awas aja lu ya!" gumamnga kembali.
......
5 menit berlalu sejak bel istirahat berbunyi Adel tak berniat untuk meninggalkan kursinya ini. Layla memperhatikan Adel yang dia rasa temannya itu sedang sakit.
Layla pun mendekatinya mencoba untuk memeriksannya."Del!? Kamu lagi sakit ya?" tanyanya dengan nada lemah lembut.
"Mau aku belikan makanan? Atau sesuatu mungkin?" Layla masih terus saja bertanya.
dibawah telungkupan lengannya Adel memejamkan mata supaya ia bisa mengendalikan emosinya.
Rupanya ada burung pipit lainnya.
"Lo pergi aja, gue mau tidur!!" jawab Adel
"Tapi mukamu kayak yang gak sehat gitu, aku belikan aja ya, kamu mau apa hmm? Kamu gak perlu ganti uangnya kok. Uang sakuku masih cukup untuk hari ini."
Layla terus mengoceh, tak sengaja matanya menangkap sebuah cincin tersemat dijemari Adel.
"Kalo orang sakit kata dokter harus makan terus minum obat loh Del!"
Sampai batas kesabaran Adel mulai setipis tisu yang terkena air mudah rusak dan robek.
"ANJ*NG LO BISA DIEM GAK SIH HAH?? gue itu mau istirahat! Lo tahu maksud dari istirahat gak sih? Telinga lo tuli apa gimana sih!? " amarah Adel membuncas, Layla tersentak kaget mendegar bentakan dan penekanan yang Adel ucapkan kepadanya.
"D...del...Kamu kenapa? A...aku kan cuma tanya!!"
Adel muak mendengar suara yang ditelinga terdengar menjijikkan dan menggelikan.
"Kan gue udah bilang dari awal!!! Kalo gue itu mau istirahat!! Kalo lo gak paham bahasa manusia biar gue kasih tahu ya! Heh Tol*l, Du**u, tu*i dengerin baik-baik ya!! Itu artinya lo harus pergi dari hadapan gue dan jangan ganggu gue BIC*T!!"
Beberapa murid dikelas sedari tadi menyimak dan sama terkejutnya dengan umpatan yang dilontarkan Adel kepada Layla yang mulai terisak.
"Kasian ya Layla, padahal dia cuma khawatirin temen sampai digituin sama Adel!! Dasar gak tahu diri!!"
"Ya salaahnya si Layla lah orang udah dibilangin masih aja ganggu, udah tahu Adel itu queen bullying. Pastilah omongannya bakal nusuk ke hati!!"
"Ya tapi gimana ya, Keterlaluan aja sih menurut gue!!"
"Gue juga bakal kesel kalo ada yang ganggu istirahat gue!!"
Banyak celoteh pro kontra saat ini. Adel mengepalkan tangannya merasa makin kesal denvlgan adanya keramaian.
Brak...
Adel mengebrak meja dan pergi dari kelas untuk mencari tempat sunyi dan kembali beristirahat.