
Sebuah mobil berhenti di depan pekarangan rumah sederhana namun terlihat indah karena beragam jenis bunga tertanam disana. Namun, si pengendara mobil masih belum keluar dari kendaraannya.
"Sayang, sudah sampai loh ini! Kamu gak mau turun? Nanti temenmu pada nunggu kamu loh!" ucap Geri, laki itu tentu sangat tahu ciri-ciri bila pacarnya sedang kesal kepadanya karena perdebatan mereka bahwa Geri ingin menemani Adel seharian ini.
"Ya kan ini semua gara-gara lo," celetuk Adel kesal
"Hmm...omongannya sayang kok la lo la lo?!"
"Ih ya kan terserah gue lah dong!" Adel masih tak merubah cara bicaranya
Geri menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Adel. "Sekali lagi aku denger panggilan lo gue, bibir manis ini yang akan jadi sasaran utama, Sayangku!" ancam Geri sambil mengusap bibir tipis Adel yang merah seperti buah peach.
Glek...(Adel meneguk ludah kasar)
"I-iya, lo-"
Cup
seketika semburat merah merona muncul di pipi Adel yang putih itu. Geri mengecup cepat bibir Adel dengan wajah tanpa malu dan dosa.
"Sudah aku bilang bukan? Sepertinya memang kamu nya aja yang ingin tahu bagaimana rasanya kecupan manis dari aku, ya kan?!" Geri semakin menggombali Adel yang sudah kepalang malu.
Adel menjawab dengan terbata-bata,"Ka-kamu jangan macam-macam Ger! Kamu mau digrebeg orang hah!"
"Macam-macam gimana? orang kamu yang melanggar peringatanku tadi," ucap Geri santai
Adel mencoba untuk mengubah arah pembicaraan. "Geri! Ke-kenapa hari ini kamu gan-ganteng banget sih?" ucapnya dengan terbata-bata
Adel tahu ini memalukan sekali, demi menghindari bahaya dan serangan dadakan, Adel harus bisa membuat Geri lupa dengan hal tadi.
"Eh, masa sih? Kamu baru sadar aku ganteng?" jawab Geri, tersipu malu didepan Adel. ekspresi ini hanya muncul saat Geri berduaan dengan Adel.
"I-iya, kok bisa ya? Kamu ganteng kayak gini?!"
"Hmm, kenapa ya? " Geri pun kebingungan sendiri, seorang juara umum di sekolahan menjadi bodoh seketika hanya karena pertanyaan konyol dari Adel.
Tok..tok..tok..
Obrolan mereka terjeda karena seorang perempuan muda yaitu teman kelas Adel bernama Layla mengetuk jendela mobil Geri. Dia yang akan membuka pintu dicegah langsung oleh Adel.
"Wait, kamu jangan keluar kayak gini dong, nanti banyak yang terpesona gimana ?" Adel pun meraih kacamata di jok depan yang membuat tampilan Geri menjadi cowok tulen.
Dan lalu memasangkannya,"nah gini kan lebih cocok kamunya." Adel tersenyum puas melihat dandanan ala dirinya.
barulah Geri dan Adel pun langsung keluar dari mobil mereka. Saat Geri muncul perempuan muda itu terpukau dengan mulut yang terbuka.
"Ga-ganteng banget," gumamnya
Adel memutar matanya melihat reaksi teman kelasnya itu. Adel memang tidak seberapa dekat dengan teman-teman kelasnya sehingga membuatnya tidak banyak memiliki teman dekat.
"Heem," Adel berdeham mengalihkan fokus Layla pada Geri.
"eh, ayo masuk del, tadi aku kira siapa ternyata kamu, emm dan ini siapa?" tanya Layla dengan wajah penasarannya.
Adel melirik sekilas dan menjawab singkat, "Aku gue, punya gue, pacar gue, dan masa depan gue, emang kenapa lo tanya?!"
Tanpa sadar Adel mengakui Geri sebagai hak miliknya, tidak boleh ada yang merebut darinya.
"Ja-jadi gitu ya, aku kira kakakmu del, kalo gitu ayo masuk kalian berdua, maaf ya rumahku gak seberapa besar, " Layla menggiring keduanya masuk ke dalam dan berkumpul dengan teman sekelompok yang lain.
"Siapa mu itu Adel?!" tanya anak dengan cat kuku warna-warni yang bagi Adel mengganggu pandangan matanya.
"Dia pacar gue, " jawab Adel singkat.
"Boleh dong, kenalin kita-kita ke pacar kamu," celetuknya yang membuat Adel panas hati.
"Ngapain juga kalian kenalan? pacar gue orangnya cuek, jadi daripada malu sendiri karena dicuekin mending selesaikan tugas ini dengan cepat."
semua teman yang ada disitu pun tidak enak hati karena membuat Adel tidak nyaman. Berbeda dengan Layla dan si anak bercat kuku, dibuat geram dan semakin penasaran.
Beberapa jam kemudian, Adel baru menyelesaikan tugas kelompoknya, dengan segera dia membereskan peralatan tulisnya dan berdiri.
"Loh del, mau kemana kok buru-buru?" tanya Layla meniat membuat Adel lebih lama lagi, padahal jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Kerkel nya udah selesai kan?" tanya Adel, Layla mengangguk membenarkan.
"Ya udah kalo gitu, gue pamit pulang dulu," setelah berpamitan Adel langsung menarik tangan Geri dan masuk ke dalam mobil.
"Sayang, kamu kenapa?!" Geri terheran.
"Baru tahu, temen kelas aku pada ganjen, gatel kayak uler keket. Pengen aku injak-injak sampai ancur." geram Adel mengingat mata Layla yang suka curi-curi pandang kearah Geri.
"Udah nanti kalo ketemu dia lagi, aku bakal nutupin muka pakai masker aja, sekarang kita makan dulu terus pulang ya, bunda kamu pasti khawatir karena anaknya belum sampai rumah." ujar Geri menenangkan Adel yang sedang badmood.
"Kita makan nasi goreng ya,"
"Iya sayangku," jawab Geri sambil mengusap puncak kepala Adel.
......................
Layla sendiri baru selesai membersihkan ruang tamunya yang berantakan sebelum ibunya datang. Setelah itu, Layla merebahkan tubuhnya di kasur yang sudah ada sejak dia masih kelas 3 SD hingga sekarang.
"Pacar Adel ganteng banget ya, aku aja sampai kagum,"
"Baru kali ini aku lihat cowok ganteng versi langsungnya, Aku sendiri sampai lupa menanyakan namanya."
"Aa... kapan ya kira-kira aku bisa punya cowok tampan kayak pacarnya Adel? Jadi pengen, apalagi aku lihat tadi kayaknya si cowoknya romantis banget!"
Di sisi lain, Adel yang sedang bersama Geri di warung pinggir jalan, sama- sama bersin.
Haccyuuu...
"Eh kamu kok ikut-ikutin aku sih Sayang?!"
"Ya mana aku tahu, aku ngerasa ada yang lagi ghibahin kita berdua!"
"Mana ada yang kayak gitu? Siapa orangnya kok berani-beraninya ngomongin kita dari belakang."
"Mana aku tahu, dah cepet dihabiskan terus kita pulang, kamu pasti capek kan? Nemenin aku seharian ini!" Adel sedikit kasihan dengan Geri, dia takut sewaktu-waktu Geri jadi sakit karenanya.
"Apaan sih kok gitu? Udah deh Sayang, kamu kayak yang siapa aja? Pacarmu ini orangnya kuat jadi jangan khawatir ya Sayang," Geri mengecup dahi Adel tanpa izin.
"oy, seenak jidat kamu aja asal kecap-kecup aku! ini kita lagi diluar ya! Kamu kira ini di luar negeri apa?!" tegur Adel
"Hehe, maaf atuh Yang, ini efek karena terlalu mencintai kamu jadi gatal mau kecup kamu."
"Hush dasar! Mulutnya mau aku jahit hah!" sarkas Adel, Geri tertawa gemas karena berhasil menggoda sang pacarnya.