Pulchritude Case

Pulchritude Case
Page 09



Teko listrik mendesis, menandakan bahwa air telah mendidih. Arlo menuangkannya kedalam cangkir berisi bubuk kopi. Dia mengaduknya sembari berjalan menuju meja makan. Jurnalis itu sedang menyusun laporan mengenai sebuah berita. Baru-baru ini terjadi penusukan disebuah stasiun kereta bawah tanah. Kabar tersebut mengegerkan khalayak umum dan menimbulkan kekhawatiran. Arlo sedang mempresentasikan kabar tersebut dengan rapi agar pendengar atau pembaca mudah mencernanya.


Sebagai jurnalis pendatang baru tentu tidak mudah menjalani kesehariannya berbaur dengan para senior. Dianggap remeh dan diragukan menjadi makanan sehari-hari. Di dunia kerja pasti semua orang pernah mengalaminya, resiko di setiap bidang pekerjaan adalah hal umum. Hidup sebagai tulang punggung membuat Arlo harus mencari pekerjaan demi menafkahi keluarga. Dia bukan anak yatim-piatu, tetapi sang ayah yang seharusnya bertanggung jawab atas anaknya justru bermalas-malasan dan memilih sebagai pengangguran.


Arlo tinggal bersama ayah dan adiknya yang masih duduk di bangku SMP, sedangkan ibunya, beliau kembali ke tempat kelahirannya dan tidak pernah kembali sampai sekarang. Memikirkan sifat sang ayah yang semaunya sendiri terkadang membuatnya stres. Pria paruh baya itu masih suka mabuk-mabukan, menipu orang dan mencari masalah. Semenjak ibunya pergi, Arlo berjuang sendiri mencukupi kebutuhan ekonomi. Tekanan mental yang selama ini dia rasakan mengubahnya menjadi laki-laki tempramental.


"Kenapa Ayah selalu seperti ini sih? Tolong kembalikan uang itu,"


"Ah, diam saja! Kau anak kecil tidak perlu ikut campur."


"Yah, itu tidak benar! Ayah memalukan, Mia benci!"


Tanawat memukul kepala putrinya, dia tersulut emosi dalam keadaan mabuk seperti ini. Setiap perkataan yang terucap dari siapapun terasa sensitif baginya. Sehingga tidak segan-segan dia bermain kasar kepada anaknya sendiri. Mia menangis sambil merintih kesakitan. Anak itu hanya ingin memperingatkan ayahnya agar mengembalikan uang titipan yang seharusnya diberikan kepada orang lain. Karena mereka bertetangga dengan seorang lansia, setiap bulannya sang anak menitipkan uang kepada Tanawat. Namun, pria itu melanggar amanah dan menelan uang tersebut seolah miliknya. Kurang ajar bukan?


Mendengar keributan dari ruang tengah, Arlo naik pitam. Dia merasa terganggu, konsentrasinya buyar akibat perkelahian yang tiada habisnya. Dia berjalan menghampiri keduanya sambil membawa vas bunga. Tanpa pikir panjang Arlo melemparkannya ke hadapan mereka berdua. Tangannya mengepal, pemuda itu berjalan penuh amarah kemudian meraih kerah sang ayah. Melihat seseorang dengan wajah teler, omongan melantur dan sempoyongan adalah hal paling dia benci di dunia. Setiap melihat ayahnya dalam kondisi seperti itu rasanya Arlo ingin memukulnya. Memang terdengar durhaka, tapi baginya Tanawat sudah melewati batas.


"Kembalikan uang itu." tegur Arlo.


"Untuk apa?" Tanawat mendorongnya. "Sepeserpun kau bahkan tidak pernah memberiku uang—menyingkirlah!"


"Kau gagal sebagai ayah! Dimana tanggungjawab mu untuk mencukupi kebutuhan keluarga? Apa kau tidak sadar istrimu pergi karena frustasi dengan sikap mu ini."


"Sudah berapa kali kubilang, jangan menelan uang yang bukan hak mu, tapi lihat dirimu. Membuka mata saja tidak kuat sok-sokan merasa paling tersakiti." ketus Arlo.


Mendengar ucapan itu, Tanawat memukulnya dengan keras. Sementara Mia berteriak melihat keluarganya saling pukul. Miris dan menyakitkan ketika menyaksikan anggota keluarga saling berselisih. Tidak pernah ada kata rukun di dalam keluarganya. Setiap hari selalu mendengar pertengkaran, Tanawat sendiri tidak bisa mengontrol ucapannya. Dia tidak berpikir sebelum berucap, entah menyakiti lawan bicara atau tidak dia bahkan tidak peduli. Tertekan dan depresi itulah yang sekarang Mia rasakan, terlebih lagi Arlo.


"Cukup!" Mia berteriak keras demi melerai pertengkaran tersebut, tetapi sang ayah mendorongnya.


"Mia!" Mata Arlo melebar melihat adiknya terhempas hingga membentur kursi. Kepala gadis itu berdarah.


Sudah habis kesabarannya, Arlo memukul kepala sang ayah menggunakan toples kaca yang berada tak jauh dari jangkauannya. Seketika darah mengucur deras, pria itu terkulai kebelakang dan tak sadarkan diri. Mia semakin menangis menyaksikannya. Kemarahan, kekecewaan, kesedihan dan rasa sakit lainnya Arlo luapkan dalam bentuk kekerasan. Dia berubah menjadi monster, tidak memperdulikan siapa yang dia hajar.


"Ayah? Ayah? Ayah?" Mia berusaha membangunkannya, tidak ada respon. Dia mengecek denyut nadinya.


"Ayah? Ayah!" teriaknya. Sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. "Kak, apa yang kau lakukan? Tidak, Ayah!" Mia menangis di dada Tanawat.


Arlo menatap telapak tangannya, dia gemetar setelah sadar dengan apa yang telah dia lakukan. Arlo panik dan takut, dia mengacak-acak rambutnya sambil berteriak keras. Tak luput air matanya menetes, dia depresi merasakan kondisi hidupnya. Dipaksa berdiri diujung jurang sedangkan angin menekannya agar jatuh ke dalam sana. Tekanan mental mempengaruhi kepribadian Arlo. Dia akan berubah beringas ketika seseorang memancing emosinya.


"Kak-," Mia menangis sejadi-jadinya, dia tidak menyangka jika kakaknya akan berbuat sejauh ini.


Kepanikan menyerang diri Arlo, dia bingung harus bagaimana. Dan pada akhirnya pemuda itu menarik paksa Tanawat. Dia menyeretnya menuju halaman belakang. Mia terus menangis dan meluapkan kesedihannya. Karena tidak ingin tetangganya tahu, dia memutuskan untuk mengubur sang ayah di halaman belakang. Jika Arlo menyerahkan diri lalu siapa yang akan menghidupi adiknya? Tidak, dia harus menutupi masalah ini. Lagipula tidak ada yang tahu tentang tindakannya. Masalah Mia, dia bisa membungkamnya.


"Kakak keterlaluan—tidak, Ayah!"


"Diam!" bentaknya sambil mendorong Mia.


"Aku akan melaporkan Kakak—ya, aku akan melakukannya." Gadis itu berlari ke dalam rumah, dia meraih telepon dan menekan nomor darurat.


"Mia!" Dia mengejarnya.


Arlo merampas benda tersebut kemudian membantingnya. Dia mencengkeram lengan adiknya dan menatap gadis itu dengan tatapan tajam seolah ingin menghabisinya juga.


"Apa kau tidak mengerti, Mia? Jika aku dipenjara lalu siapa yang akan memenuhi kebutuhan mu. Bagaimana kau bisa makan, membeli buku, bayar sekolah dan lain sebagainya. Pikirkan itu!"


"Kau membunuhnya, Kak—kenapa?" tangisnya semakin pecah.


"Mia! Mia! Tenang. Kau masih punya aku, Kakak mu. Aku minta lupakan kejadian ini dan anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa, paham?" Arlo mencoba menenangkan sang adik dengan memeluknya, tapi Mia menolak.


"Bagaimana aku bisa melupakan ini, sedangkan Kakakku sendiri pembunuhnya! Kau mengerikan-,"


Arlo menamparnya. Dia tidak tahan mendengar keluh kesah dari adiknya. Secara kasar pemuda itu menyeretnya menuju kamar dan mengunci pintu. Untuk sementara Mia akan dia kurung agar tidak mengacaukan tujuannya. Pemuda tempramental itu berlari ke halaman belakang, ditemani pencahayaan yang redup Arlo menggali tanah untuk membumikan jasad sang ayah. Keadaan semakin mencekam ketika hujan turun disertai gemuruh petir dari atas sana.


"Ayah—Ayah harus tenang ya di sana. Bukan, bukan aku yang membunuhmu, sungguh." Arlo meratakan tanah yang masih timbul.


"Maafkan aku, Ayah." Dia menangis penuh penyesalan, kemudian berteriak sembari menatap langit.


Peristiwa yang tak pernah terbayangkan olehnya. Pasti akan menjadi penyesalan seumur hidup bagi Arlo, tapi yang jelas perbuatannya telah melewati batas dan pantas dihukum. Seburuk apa pun orang tua kita, sepatutnya sebagai seorang anak harus mengalah. Rasa kecewa terhadap sikap orang tua bukan suatu hal yang perlu diperpanjang, mungkin Tanawat berubah seperti itu karena ditinggal sang istri.


Seorang anak tidak pernah tahu apa yang dipikirkan oleh orang tuanya. Beban pikiran anak dan orang tua sangat berbeda. Faktor umur pun bisa menjadi pengaruh dari berubahnya cara berpikir seseorang. Nalar mereka mungkin sudah tidak sama dengan anak-anak muda, seharusnya Arlo mengerti hal itu. Namun, mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Waktu tidak bisa diputar kembali, dan nyawa Tanawat tidak bisa diinstal layaknya aplikasi. Bersiap-siaplah Arlo, mendapat balasan dari sang pencipta.


*Tanawat: nama Thailand (ayahnya berkewarganegaraan Thailand).


Hiraet Phloxier lagi-lagi menjadi pilihan utama sebagai tempat berkumpulnya para orang-orang kaya. Disinilah para jaksa beserta jajarannya sedang menikmati makan malam. Semua ini diadakan oleh pimpinan mereka, Rendy Warren, untuk merayakan hari ulang tahunnya. Pria itu mentraktir para karyawan Ethereal dengan hidangan mewah dari salah satu restoran elit. Tentu saja acara kali ini dihadiri oleh Val dan Dariel.


"Kalian dengar? Pecundang itu kabarnya telah ditangkap polisi karena melecehkan wanita. Sungguh menjijikkan, orang kepercayaan Gubernur Andy ternyata seorang pria cabul." cerocos Rendy, disusul beberapa pendukungnya tertawa.


"Sebentar lagi Anda akan merebut posisi itu, Pak. Tenang saja, seekor lalat pengganggu telah mati." imbuh seorang pria berkacamata.


Menggosipkan, merendahkan dan menggunjing orang lain sudah menjadi kebiasaan mereka. Menyaksikan para musuhnya tertangkap atau terjerumus adalah hal paling menyenangkan untuk dibicarakan. Ditambah lagi Rendy seorang pria egois yang tidak ingin kalah oleh siapapun. Pimpinan itu sedang mengincar jabatan sebagai walikota, dan orang yang dibicarakan adalah saingannya. Keberuntungan menghampirinya, sudah dipastikan bahwa dia akan menjadi calon walikota baru. Jabatan yang selama ini Rendy dambakan.


Tidak ada yang bersih atau berkepribadian baik diantara orang-orang tersebut. Jikapun ada mungkin dapat dihitung dengan jari. Cara kotor telah menjadi kebiasaan hingga merajalela dan dibudidaya seperti merawat penyakit. Pemerintahan yang kotor mungkin akan terus berlanjut hingga generasi berikutnya. Dan entah kapan kekacauan seperti ini terus berlanjut, sedangkan tidak ada yang ingin melawan keburukan tersebut. Meskipun ada, mereka akan tetap kalah karena siapapun pemegang kekuasaan tertinggi atau uang terbanyak dialah yang berkuasa.


Ditengah kesibukan koleganya membicarakan orang, Val sedari tadi mengamati suasana restoran tersebut. Bunga Phlox ada dimana-mana sebagai penghias sekaligus pewangi ruangan. Wangi dari bunga tersebut mengingatkannya pada aroma tubuh Carrolyna. Sama persis dengan jasad tersebut, tapi entahlah semua ini mungkin hanya kebetulan atau bahkan dia yang tidak bisa membedakan bau-bauan.


"Ngomong-ngomong, acara kali ini dihadiri oleh kedua calon wakil pimpinan jaksa. Selamat ya, kalian berdua." ucap Rendy, keduanya berterimakasih.


"Kita punya calon penerus yang sangat baik dan kompetitif. Seperti Jaksa Dariel, dia anak walikota, Bapak Reynold Bastian." Wakil pimpinan jaksa memujanya.


"Serius? Jaksa Dariel adalah putra Walikota Reynold?" sahut seorang pria berambut putih, dia terkejut. Sementara Val terlihat dongkol mendengarnya.


"Hei, jangan lupakan Jaksa Val. Pria keren dan pekerja keras, putra Rektorat Universitas Cinderella." timpal Leo, senior Val.


"Oh, bukankah dia pernah ditahan karena kasus pencurian mayat?" lontar pria berkacamata, tujuannya mengatakan itu ingin menghinanya.


Val tersenyum tipis, aura dingin dari laki-laki itu seperti mengintimidasi pria bermata minus tersebut. Dia paling tidak suka jika seseorang membawa-bawa hal tidak penting dalam pembahasan seperti ini. Bukankah sudah jelas bahwa kasus tersebut hanya sebuah pemfitnahan dari anggota intelijen aneh itu? Apakah perlu mengoperasi matanya agar bisa melihat lebih jelas? Oh, tunggu, jangan menyentuh laki-laki emosional itu jika tidak ingin dihajar olehnya.


"Hei! Hei! Hei! Hentikan, tuan. Jaksa Val sepertinya tidak menyukai ucapan mu," tegur Leo.


"Atau jika tidak, Jaksa Val akan mencakar mu habis-habisan." imbuh pria lain diselingi tawa.


"Oh, aku takut." goda pria berkacamata itu, kemudian meminta maaf.


Malas menanggapi celotehan tidak bermutu, Val memutuskan izin ke toilet untuk menghindar. Membasuh muka dan berdiam diri sebentar untuk menatap wajah tampannya. Tidak-tidak, maksudnya meredam emosi. Jika boleh jujur memang benar, Jaksa Val tak kalah tampan dari Jaksa Dariel. Dengan ciri rahang kuat dan garis wajah tegas, sehingga memancarkan betapa maskulinnya laki-laki itu. Eh, tapi jangan jatuh cinta ya sama dia, awas Lo!


Val keluar dari toilet, tanpa sengaja dia mendengar percakapan dari dua waiters laki-laki sedang membicarakan sesuatu yang menarik perhatiannya. Tanpa sopan Val membuntuti mereka secara diam-diam. Keluar dari restoran, dari ujung sana menampilkan bangunan kayu layaknya gudang. Mobil pick-up muncul dari gerbang belakang, mereka meneriaki seseorang untuk segera menurunkan barang tersebut. Val lebih mendekat karena merasa penasaran.


"Ini bau!" gerutu pria bertopi setelah membuka bungkusan plastik berbentuk lonjong.


"Jangan mengeluh, cepat angkat." tegur si sopir.


Mengejutkan, bungkus itu mirip dengan corpse body bag. Sebuah tangan terulur keluar dari kantong tersebut. Mereka membawanya menuju gudang yang entah didalamnya berisi apa. Awalnya Val hanya penasaran untuk mengintip bahan-bahan premium dari restoran tersebut. Namun, setelah melihat kantong itu dia merasa ada yang tidak beres. Mereka membawa jasad seseorang? Hei, apakah ini ... tunggu! Sekarang jaksa itu mengaitkannya dengan kasus pencurian mayat yang terjadi akhir-akhir ini. Oh, entahlah sebaiknya dia segera pergi sebelum mendapat masalah.


Kembali menyusul koleganya, Val terus dihantui rasa penasaran. Dia terbenam dalam pikirannya sendiri, mengabaikan para rekannya sedang bercanda. Semakin dipikirkan semakin muncul berbagai pertanyaan serta hal-hal yang tidak pernah dia sadari selama ini. Sedari tadi Dariel mengamatinya, dari cara laki-laki itu diam menunjukkan bahwa dia sedang memikirkan sesuatu. Mungkinkah Val menemukan hal ganjil dari restoran ini? Apa yang sekarang Val rangkai dalam kepalanya mungkin saja sepemikiran dengan Dariel. Ada rahasia besar dibalik suksesnya Hiraet Phloxier.


Acara selesai, mereka pulang ke rumah masing-masing. Val segera mengecek ulang rincian kasus kematian Carrolyna. Di depan layar komputer dia membaca berbagai artikel tentang kasus tersebut. Nalurinya menuntun untuk menyandingkan kasus Carrolyna dengan pencurian mayat. Setelah membaca secara teliti, Val menemukan beberapa persamaan yang mengejutkan dirinya. Dari wangi bunga Phlox, aroma tubuh korban, jasad dalam kantong plastik dan Hiraet Phloxier. Kemungkinan mereka berhubungan satu sama lain. Benarkah kasus tersebut bersangkutan dengan hal gaib, seperti pesugihan atau ilmu hitam lainnya?


Damn! Ini akan merepotkan kedepannya. Harus bersangkutan dengan makhluk tak kasat mata. Dia sudah cukup dihantui oleh mereka selama penelusuran kasus gadis itu. Dan jika Val mampu mengungkap konspirasi ini mungkin akan menguntungkan, tapi apakah selama penyelidikan akan berjalan lancar tanpa diganggu makhluk-makhluk itu? Ah, mustahil. Mereka pasti akan mengganggu dan menerornya. Namun, jika dibiarkan mungkin akan menelan banyak korban. Manusia-manusia tak berdosa yang akan menjadi tumbal mereka.


"Jika itu benar jasad seseorang, tapi untuk apa?" Val berpikir keras. Dia memutar-mutar pulpen diantara jemari nya.


"Bunga Phlox sama dengan wangi dari mayat Carrolyna—Hiraet Phloxier—hanya ada satu orang yang mengerti teka-teki ini." Dia memikirkan Dariel, kemungkinan besar Val ingin menemuinya dan meminta 'bantuan' dari jaksa charming itu.