Pulchritude Case

Pulchritude Case
Page 01



Tumpukan kertas memenuhi meja terasa membosankan sekalipun untuk dilihat. Begitu banyak dan tebal, entah butuh berapa lama merampungkan daftar permintaan kasus minggu ini. Kertas berisikan rincian dari berbagai kasus. Seorang jaksa penuntut tengah meregangkan tubuhnya untuk merilekskan otot-otot yang tegang. Pagi ini terasa penuh dan sibuk, pekerjaannya menangani sebuah kasus belum terselesaikan hingga sekarang.


Jaksa Dariel, pria berusia 32 tahun berkepribadian hangat dan tenang. Saat ini dia sedang dihadapkan dengan sebuah kasus tentang pembunuhan yang dilakukan oleh anggota dewan. Kasus yang serius dan membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya. Berawal dari hilangnya seorang siswi saat berada di sebuah acara kemah yang diselenggarakan oleh pihak sekolah, kemudian selang beberapa hari siswi tersebut ditemukan dalam keadaan meninggal.


Pihak keluarga korban meminta kasus kematian putrinya di bawa ke ranah hukum karena mereka merasa ada yang tidak beres ketika melihat jasad anaknya. Polisi mengatakan bahwa korban terpeleset saat melakukan pendakian menuju tempat kemah. Namun, kenyataannya saat keluarga melihat jasadnya ada beberapa luka yang disengaja dan terasa janggal. Bagaimana tidak? Pada bagian pahanya ada luka tusuk dan lebam. Mereka meminta melakukan visum, dan benar dugaan dari pihak keluarga gadis itu. Dia dibunuh oleh seseorang sebelum didorong ke jurang.


Setelah dilakukan penyelidikan lebih jauh ternyata terselip sebuah konspirasi dari kasus kematian siswi itu. Beberapa tersangka seperti guru, polisi dan berakhir pada anggota dewan pimpinan yang mengejutkan banyak pihak. Saat ini Dariel sedang berusaha mengakhiri persidangan dengan menambahkan beberapa bukti kuat untuk menetapkan pelaku sebagai tahanan.


"Kau tahu? Aku dengar kasus Carrolyna diam-diam diselidiki oleh Jaksa Val,"


"Serius? Hei, kau tahu darimana?"


"Ini rahasia, aku tidak sengaja mendengar percakapannya dengan pihak keluarga Carrolyna."


Dariel keluar dari ruangan setelah selesai mendengarkan percakapan kedua orang tadi. Mereka bergosip tentang hal yang mengejutkan, sebelumnya dia lah yang menangani kasus Carrolyna. Namun, kenapa sekarang kasus tersebut dibuka kembali setelah dua minggu berlalu? Apalagi Jaksa Val yang akan menanganinya. Ini terdengar mencurigakan, Dariel merasa harus tahu lebih jauh tentang gosip ini.


Sementara itu Jaksa Val tengah disibukkan dengan pekerjaannya. Dia sedang membaca sebuah kertas berisikan kasus korupsi. Val Destavin dikenal sebagai jaksa picik yang menyebalkan. Pria itu selalu bersikap sombong dan suka merendahkan seseorang terutama Dariel. Mereka adalah rival semenjak bekerja dibawah firma hukum yang sama. Rumor tentang perselisihan keduanya menjadi topik hangat untuk dibicarakan. Sebenarnya mereka sama-sama seorang pekerja keras, tetapi keduanya memiliki sifat licik saat melakukan pekerjaan. Salah satu dari mereka juga digadang-gadang sebagai calon penerus wakil pimpinan jaksa yang akan diselenggarakan dalam beberapa bulan lagi.


"Senior, wakil pimpinan jaksa memanggil Anda." Seorang pria menyampaikan pesan kepada Dariel yang hendak masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Aku akan segera ke sana." Dia berbalik badan dan menuju ruang wakil pimpinan.


Disela-sela sibuk dan rumitnya para karyawan di Firma Hukum Ethereal, dari seberang sana kita dapat melihat sebuah gedung berkilau yang menampilkan para pekerja nya tengah mondar-mandir dan beberapa juga menatap komputer sedang melakukan tugasnya masing-masing. Lift terbuka, Danesh dan Deline berjalan menuju ruangan Presdir Sanatha pemilik agensi periklanan. Di sinilah Danesh bekerja, gedung milik ayahnya. Sesuai ucapannya kemarin, dia akan mempertemukan Deline dengan sang ayah.


"Aku yakin Ayah akan terkejut melihatmu,"


Danesh menyapa wanita yang duduk di depan ruangan sang ayah, kemudian dia membuka pintu tersebut. Sanatha mendongak ketika seseorang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu, dia terkejut melihat sosok di belakang putranya.


"Deline?" kejutnya sambil melepas kacamata.


"Ayah,"


"Kau di sini?"


Deline ingin memeluk ayahnya. Mendadak pria tua itu meraih telepon dan bercakap dengan seseorang. Dia membelakangi keduanya sambil tertawa menyahuti lawan bicara. Gadis itu mengurungkan niat, Danesh memperhatikan sang adik yang tampak kecewa dengan sambutan Natha. Pria itu terlihat biasa saja dengan kehadiran putrinya.


"Kenapa kau tidak bilang jika adikmu akan datang," Natha meraih jas kerjanya, lalu menenteng tas. Dia berjalan menghampiri keduanya.


"Danesh, perlakukan adikmu dengan baik. Ayah harus menemui Ibumu, dia sangat manja." lanjutnya sambil menepuk pundak putranya.


Deline merasa diacuhkan, memang benar apa kata sang ibu tentang sikap ayahnya yang mementingkan diri sendiri daripada orang-orang disekitarnya. Diabaikan oleh ayah kandung sendiri dan lebih mementingkan istri barunya, bukankah itu cukup sakit? Deline menghembuskan nafas panjang—menahan kesabarannya.


"Tidak ada sambutan hangat untuk Deline, kenapa Ayah seperti ini?"


Natha berhenti, dia membalikkan badan. "Sambutan apa? Merayakan kedatangannya dengan mengadakan pesta?"


Danesh mengepalkan tangan. Sungguh, pria tua itu sangat menyebalkan. Kenapa dia bersikap dingin kepada anak kandungnya sendiri? Hei, Deline darah daging mu, sialan.


"Ayah!"


"It's okay, I understand how busy Dad is." cegah Deline agar keadaan tidak memanas.


Tanpa berdosa sedikitpun, Natha pergi dari ruangan dan mengabaikan kedua anaknya. Tak lama kemudian seorang wanita masuk dan memberitahukan Danesh bahwa rapat mendadak akan segera dimulai.


"Kakak lanjutkan saja. I can go home alone,"


"Tapi Del-,"


"It's okay, believe me."


"Baiklah, kau hati-hati ya? Dan maaf tidak bisa mengantarmu pulang—entah kenapa rapat diadakan secara mendadak. Jika ada apa-apa langsung hubungi aku,"


"Iya Kak Dan. Sudah sana, mereka menunggumu."


Tidak masalah, Deline harus ikhlas dengan kejadian hari ini. Dia mengerti kesibukan keduanya, lagipula ada suatu hal yang ingin Deline lakukan. Yap, kemarin dia telah memilih kampus yang menjadi tinjauannya. Jalan-jalan sendiri juga bukan hal yang mengerikan, dia sudah terbiasa melakukan apa pun dengan mandiri.


Angin berhembus tipis menyentuh kulit yang terbuka akibat goresan benda tajam. Terasa perih dan nyeri di sekitar bagian bawah mata. Yardan memegangi pipinya yang lebam, kondisi wajahnya tampak buruk. Luka dimana-mana, dia baru saja dihajar oleh seorang berandal. Bukan hal baru baginya merasakan pukulan dan siksaan dari orang-orang suruhan dari Tuan Frans. Karena keterlambatannya melunasi hutang sang istri di masa silam, dia harus menerima pukulan dari berandal bayaran.


Yardan berjalan dengan menyeret kaki kirinya— membuka pintu rumah, lalu menyandarkan diri di kursi. Jasmine keluar dari kamar, dia terkejut melihat kondisi ayahnya yang berantakan dan terluka.


"Ayah dipukuli orang-orang jahat lagi?" tanyanya terdengar khawatir. Yardan mengangguk.


Jasmine segera mencari kotak P3K untuk mengobati luka sang ayah. Dia mengambil kasa yang ditetesi obat kuning, lalu menempelkan plester pada luka sobek tersebut. Pemandangan seperti ini sudah biasa anak itu saksikan, terkadang dia juga melihat secara langsung bagaimana ayahnya dipukuli habis-habisan.


Sebisa mungkin jika para berandal menghadangnya, dia harus merasakannya sendiri tanpa Jasmine ketahui. Yardan tidak mau melihat sang anak takut yang mengakibatkan penyakitnya kambuh. Meskipun lari sejauh mungkin dan berusaha bersembunyi, tapi itu sia-sia. Dia tidak bisa menutupi luka yang menghiasi tubuhnya ketika di hadapan sang anak. Berbohong pun tidak ada gunanya, Jasmine bukan anak yang bodoh. Dia sudah tahu apa yang terjadi pada ayahnya ketika pulang dalam keadaan seperti itu.


"Ayah akan menyiapkan makan malam." Yardan berjalan ke dapur. Malaikat kecilnya terus menatap punggung sang ayah.


Menyedihkan sekali nasib mereka, selalu diinjak-injak oleh orang yang berkuasa. Seperti inilah kehidupan Yardan, mau tidak mau harus tetap kuat dan sabar. Ditinggal sang istri, hidup di bawah tekanan hutang dan menjadi bahan bulan-bulanan dari berandal. Meskipun begitu, Yardan tidak ingin menyerah. Dia harus tetap semangat demi putrinya—Jasmine adalah harta satu-satunya yang dia miliki di dunia ini. Bagaimana pun keadaannya, Yardan harus tetap semangat dan pantang menyerah.


Disaat kesibukannya mencuci sayuran di wastafel, tiba-tiba semerbak bunga menembus indra penciumannya. Yardan dibuat penasaran dengan aroma tersebut. Dia menengok ke arah jendela luar. Apa yang Yardan lihat di bawah sana adalah pemandangan yang mengejutkan, lagi dan lagi beberapa pria berbaju hitam berdiri mematung dengan membawa rangkaian bunga berwarna putih. Dia segera menutup tirai, dan membelakangi jendela.


"Ayah, ada seseorang mengetuk pintu." ucap Jasmine.


Yardan terkejut, dia menoleh ke belakang melihat sekelompok orang-orang misterius tadi. Sungguh mengejutkan, mereka hilang. Jasmine berjalan ke arah pintu karena sang ayah tidak merespon. Cepat-cepat Yardan berlari mencegahnya, dia mengisyaratkan Jasmine untuk diam. Ayah satu anak itu mengintip dari lubang kecil pintu, di luar sana menampilkan seorang pria berpakaian rapi yang menunggu di depan pintu. Yardan bernafas lega ternyata dugaannya salah, dia pikir yang mengetuk pintu adalah sekelompok orang-orang tadi. Namun, kenyataannya dia adalah pemilik gedung apartemen.


"Jasmine, sebelum membukakan pintu untuk seseorang, Ayah minta kamu lihat dulu dari lubang kecil yang ada di pintu. Ayah hanya ingin kamu tetap aman, kamu mengerti kan?" Nasehat Yardan setelah selesai merampungkan urusannya bersama pemilik apartemen.


Jasmine mengangguk seraya melahap snack.


"Anak pintar."


°°°


Sudah terlalu sore untuk berkunjung ke Universitas Exact, gerbang utama sudah dikunci oleh petugas. Deline menyesal datang terlambat untuk melakukan kunjungannya. Mungkin karena terlalu jauh jarak universitas dengan kantor sang kakak, tapi tidak apa-apa masih ada hari esok.


Karena tidak ingin terlihat sia-sia sudah jauh-jauh datang ke tempat ini, Deline memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar taman universitas. Suasananya terbilang cukup ramai, tersedia juga street food yang menyajikan berbagai makanan. Tempat ini sangat cocok untuk dikunjungi bersama pasangan, banyak muda-mudi yang berpacaran di area taman ini.


Ditengah-tengah sana ada sebuah danau kecil, pemandangan cukup bagus untuk diabadikan. Deline mengeluarkan ponselnya dan memotret danau serta langit yang berubah warna di atas sana. Pembiasan cahaya matahari menghasilkan warna yang menakjubkan menghiasi langit sore. Burung-burung kecil terbang rendah untuk pulang ke sarangnya masing-masing.


Sebuah tutup lensa kamera menggelinding ke arah Deline. Benda ringan itu berhenti di kakinya, dia membungkuk dan mengambil tutup tersebut.


"Itu tutup lensaku," seorang pemuda menghampiri Deline sambil terkekeh kecil.


"Eh?" Deline menyodorkannya.


"Terimakasih,"


Gadis itu mengangguk.


"Kamu mau aku foto?" tawarnya. Kebetulan pemuda itu membawa kamera digital.


Deline menatap pemuda itu dengan ragu, tapi dia meyakinkannya.


"Jangan khawatir, aku tidak akan berbuat jahat dengan foto-foto mu. Nanti aku akan mengirimkannya kepadamu, dan setelah itu kau bisa melihatnya sendiri bahwa aku akan menghapusnya."


Deline tersenyum, dia menyetujuinya. Lagipula momen sunset seperti ini memang sangat tepat untuk diabadikan. Dengan segera gadis itu mengambil pose anggun, tak lupa senyuman manisnya menjadi bumbu penyempurna foto kali ini. Pemuda itu kagum dengan hasil jepretannya karena Deline begitu cantik dan natural.


"Semuanya bagus, coba lihat ini." Pemuda itu menunjukkan hasilnya kepada Deline. Mereka duduk disebuah kursi taman.


"Ngomong-ngomong, siapa namamu?"


"I'm Deline, and you?"


"Arlo," balasnya sambil tersenyum. "Kamu sendirian di sini?"


"Yeah, like that. Actually I wanted to look around the campus across there, but I was too late. They have closed it," sesal nya.


"Exact University's?"


"Yeah,"


"Hey, I'm one of the students there. Do you want to sign up or?" lontar Arlo memperkenalkan diri.


"Yeah, that's right. I want to register as a student there. I want to continue my studies to get a doctorate," jabar Deline dengan antusias.


"Oke, baiklah. Jika besok kau ada waktu untuk berkunjung lagi, hubungi aku. Kebetulan besok aku ada kelas, jadi aku bisa mengajak mu berkeliling dan memperkenalkan Exact University."


"Great idea. Thank you so much, Arlo."


Selepas percakapan itu mereka saling bertukar nomor. Deline sangat butuh seseorang untuk mengenalkannya dengan kampus pilihan. Beruntung sekali dia bertemu salah satu mahasiswa dari Universitas Exact. Arlo adalah pemuda yang sedang sibuk mengerjakan skripsinya, sebentar lagi dia akan meraih gelar S1 teknik komputer.


Arlo Ludwig, pemuda keturunan Belanda-Thailand selain disibukkan dengan kuliah. Dia juga bekerja sebagai seorang jurnalis di salah satu stasiun televisi. Kebetulan sekali hari ini dia libur, dan untuk mengisi kekosongan nya Arlo memilih jalan-jalan disekitar taman untuk sekedar mencuci mata.


°°°


Sinar rembulan menembus kaca bening, tanpa permisi cahaya itu menyelinap masuk kedalam kamar. Deline duduk di samping jendela sembari menatap bulan di atas sana yang mulai tertutup oleh awan. Dia sengaja tidak menyalakan lampu sehingga hanya cahaya rembulan yang menjadi penerang suasana kamarnya. Momen yang sangat indah, menikmati secangkir teh dibawah cahaya remang-remang seperti ini.


Secarik kertas tertiup angin, secara alami membuka halaman yang menampilkan kata-kata kiasan indah. Novel berjudul 'Kalopsia' menceritakan tentang sebuah khayalan yang lebih indah dari kenyataan. Kisah seorang pecandu obat terlarang yang berkeinginan lepas dari belenggu dosa. Dalam buku tersebut menceritakan sepenggal kisah perjuangannya untuk kembali ke permukaan hidup normal.


Ditengah tenangnya hanyut dalam suasana, tiba-tiba berubah kacau ketika Danesh membuka pintu dan menyalakan lampu. Keduanya saling menatap dengan maksud bertanya.


"Kenapa kau mematikan lampu kamarmu?"


"I just wanted to enjoy the moonlight, but now you're just messing it up." jawab Deline setengah memprotes.


Danesh mendengkus singkat. "Tentang sikap Ayah—aku minta jangan terlalu dipikirkan ya? Deline, aku tahu kejadian tadi membuatmu kecewa. Namun, kau harus ingat bahwa aku akan selalu ada di sampingmu."


"Iya, Kak. I believe in you, and thank you in the midst of your busy life, you always take the time to pay attention to me."


Suasana berubah menjadi haru, hubungan kakak beradik ini terbilang saling melengkapi. Mereka mengerti satu sama lain. Danesh selalu berperan sempurna sebagai seorang kakak. Setiap sang adik membutuhkan seseorang untuk bercerita, laki-laki itu selalu siap dan mendengarkannya. Deline sangat bangga memiliki kakak pengertian seperti Danesh.