Pulchritude Case

Pulchritude Case
Page 15



"Dia menggunakan sarung tangan steril untuk menutupi sidik jarinya." Kevin meletakkan sepasang sarung tangan berwarna putih keatas meja.


Kevin sudah tahu siapa pelaku pembunuhan terhadap Ricky maupun Lexa berkat ketidaksengajaan nya bertemu dengan korban selain mereka berdua. Kemarin saat menerima telepon dari Danesh, dia diminta untuk menangkap pelaku yang menganiaya Deline. Setelah gadis itu sadar, dia bercerita semua. Dan selanjutnya Kevin kembali ke universitas untuk mengulang reka kejadian. Dia menelusurinya sampai dimana gadis itu tak sadarkan diri. Kevin menemukan sarung tangan yang digunakan Arlo untuk menutupi kejahatannya. Benda itu dibuang oleh pemiliknya di samping bak sampah.


Sedangkan Tino, dia berhasil mendapatkan rekaman CCTV dimana sang pelaku dalam posisi berteriak mengejar Deline. Sayangnya adegan dimana gadis itu di tusuk atau dibanting tidak terekam kamera. Pelaku telah menyabotase beberapa CCTV agar aksinya tidak diketahui orang. Dan untuk kasus mutilasi Ricky, dia juga pelakunya. Saat itu Arlo merasa sakit hati karena selalu diolok-olok maupun dipermalukan didepan teman-temannya. Rasa sakit dan emosi mendorongnya untuk membunuh Ricky. Dan sekarang pihak kepolisian telah menangkap pelaku untuk ditindaklanjuti.


"Ternyata kau orangnya, huh?" Danesh menendang wajah Arlo sekuat tenaga.


"Dan, hentikan. Ini kantor polisi, kau jangan melewati batas." cegah Kevin.


"Aku tidak peduli! Bajingan seperti dia pantas diberi pelajaran, bahkan jika perlu aku yang akan membunuhnya di sini juga." Dia melayangkan tinjuan keras menghantam wajah Arlo.


Kembali pada kasus awal dimana Ricky terbunuh. Saat itu dia di dalam toilet, kemudian Arlo muncul dengan menutupi wajahnya menggunakan masker. Tanpa berpikir panjang psikopat itu menusuknya beberapa kali pada perut dan punggung. Karena toilet dalam keadaan sepi, dengan mudah Arlo melancarkan aksinya. Membawa pisau pemotong daging untuk memutilasi tubuh korban. Belum puas melakukan tindakan biadabnya, tiba-tiba Henry masuk dan mendapatinya dalam posisi tidak wajar.


Arlo segera membungkam mulutnya sambil mencekik Henry. Dia memaksa laki-laki itu untuk memegang pisau yang dipakainya untuk membunuh Ricky. Tak lupa melumuri tubuh Henry dengan darah korban. Membuat alibi seakan laki-laki itu yang telah membunuh sahabatnya sendiri. Selanjutnya Arlo menendangnya hingga menubruk kardus yang berisi kepala dan kaki korban. Karena takut ketahuan, dia memutuskan keluar melalui ventilasi udara untuk kabur. Jangan tanya bagaimana perasaan dan kondisi Henry saat itu. Dia pasrah, seolah jiwanya melayang karena syok melihat secara jelas bagaimana psikopat itu melakukan tindakan kejamnya.


Sekarang Arlo berada di kantor polisi. Dia ditahan di ruang interogasi untuk ditanyai lebih lanjut. Tino menangkapnya ketika Arlo sedang bekerja. Dan untuk kehadiran Danesh, dia sengaja menunggu giliran untuk menghajar si pelaku karena telah menganiaya adiknya hingga masuk rumah sakit. Dia tidak terima jika Arlo dibiarkan dalam keadaan baik saat dikurung nanti. Danesh telah bersumpah akan memberi pelajaran berupa kepalan tangan dan tendangan keras darinya sebagai bentuk hadiah.


Sementara psikopat gila itu tampak biasa ketika ditangkap maupun dihajar oleh Danesh. Raut wajahnya tidak menunjukkan penyesalan atau takut. Setiap pertanyaan yang diajukan, Arlo menanggapinya dengan santai. Jurnalis itu menderita gangguan kepribadian IED (Intermittent Explosive Disorder)—adalah sebuah gangguan saat seseorang mengalami kegagalan dalam mengontrol rasa emosinya, kemudian memiliki dorongan untuk bertindak secara kasar. Bahkan masalah sepele pun amarahnya dapat meledak-ledak.


Faktor tersebut disebabkan oleh lingkungan atau masalah biologis. Sangat memprihatikan kepribadian yang diderita Arlo. Lingkungan tempat tinggal dan segala permasalahan yang dipikulnya mempengaruhi kepribadian pemuda itu. Dia berubah menjadi laki-laki tempramental dan otaknya telah diracuni rasa dendam sehingga memanipulasinya untuk berbuat kejam. Entah sudah berapa orang yang menjadi korbannya. Arlo sering melakukan pembunuhan, kemudian dimanfaatkan sebagai bahan pemberitaan yang dia kirimkan kepada media. Dengan akal liciknya, dia memanfaatkan kebiasaan buruk itu menjadi cuan.


"Dan, sudah. Biarkan anggota ku yang mengurusnya. Kita semua sudah lega akhirnya psikopat seperti dia telah tertangkap," imbau Kevin sambil menenangkan Danesh.


"Jangan biarkan dia bebas. Bajingan seperti dia jika dibiarkan akan terus berbuat semaunya." cerca nya sambil menunjuk Arlo.


Kondisi wajah psikopat itu hampir tak berbentuk. Luka lebam dan bengkak menghiasi wajahnya, Danesh tidak tanggung-tanggung memberinya pukulan maupun tendangan. Sungguh, laki-laki itu berada dalam emosi yang memuncak. Dan juga dia tidak akan membiarkan siapapun lolos begitu saja ketika berbuat jahat kepada sang adik. Tak peduli dimana pun dia berada dan siapa dia.


"Kau mengerikan," komentar Kevin.


Danesh menggerakkan lehernya ke kiri dan kanan sambil memegangi pergelangan tangannya yang sedikit kram karena terlalu keras meluapkan pukulannya.


"Sudah lama aku tidak berolahraga. Oh~ kurasa pergelangan tanganku terkilir."


Kevin memikirkan raut wajah dan lirikan dari Arlo. Dari tatapannya seolah mengatakan dia akan membalaskan dendamnya kepada mereka. Pertemuannya dengan para penjahat kejam sudah menjadi kebiasaan Kevin. Orang seperti Arlo adalah salah satu manusia berbahaya yang pernah dia temui. Seseorang yang memiliki gangguan kepribadian seperti itu, pasti akan berbuat lagi suatu saat nanti.


Danesh benar, jangan sampai Arlo dibebaskan dari penjara atau akan membahayakan orang secara terus-menerus. Kevin berniat meminta pihak keadilan untuk memberinya hukuman seumur hidup. Dan itu sangat pantas untuk Arlo, mengingat tindak kejahatannya yang telah merenggut banyak korban.


"Apa pemuda kemarin yang melakukan ini kepadamu?"


Deline mengangguk. Yardan menjenguknya setelah gadis itu memberitahu bahwa dia akan libur sementara untuk mengajar Jasmine. Melihat kondisi tangannya belum bisa bergerak dan rasa trauma membuat Deline enggan untuk keluar rumah sendirian. Kondisinya saat ini belum meyakinkan untuk melakukan kegiatan seperti hari-hari biasanya.


"Kurang ajar! Aku bersumpah jika bertemu dengan si berengsek itu, akan ku hajar sampai sekarat." geram Yardan.


"Jangan lakukan itu, Pak Kim. Biarkan polisi yang mengurusnya, lagipula saya sudah membaik." sahutnya.


"Tidak, aku tidak terima. Dia sudah membuatmu sampai seperti ini,"


"Pak Kim-," Deline mendengkus. Tangan kirinya menyentuh jemari Yardan. Duda itu terkejut—perasaan tak biasa menjalar ke ulu hatinya.


Danesh berjalan cepat menuju ruangan dimana adiknya di rawat. Dia melihat orang suruhannya tengah berbaring santai di kursi panjang depan ruangan tersebut. Laki-laki berambut merah dan mengenakan piercing pada kedua telinganya—berandal jalanan penolong Deline kemarin malam.


"Kenapa kau diluar?" tanya Danesh.


"Siapa?"


"Entah, sepertinya penjual ayam goreng."


Mari berkenalan dengan pemuda berambut merah yang menyelamatkan Deline. Fun fact, dia adalah berandal yang pernah bertarung dengan Kevin waktu itu. Kalian ingat bukan? Yap, dia bernama Adrian. Seorang berandal bayaran yang ditugaskan untuk menghajar seseorang sampai mengemis pengampunan. Pemabuk berat, jarang mandi dan menghabiskan waktunya untuk berkeliaran. Sebenarnya dia laki-laki baik, tapi sedikit kurang ajar. Saat pertama kali Adrian bertemu kembali dengan Kevin, mereka sempat berselisih dan hampir baku hantam di rumah sakit.


"Pak Kim, seharusnya Anda tidak perlu repot-repot datang ke sini. Saya baik-baik saja, sungguh."


"Aku tidak repot, Nona. Dan tujuanku datang menjenguk mu karena kau adalah guru Jasmine. Aku peduli padamu, itulah kenapa aku memaksa mu untuk menunjukkan alamat rumah sakit ini."


"Deline?" Danesh masuk bersama Adrian. Dia menatap Yardan dari ujung rambut hingga kaki—duda itu menyapanya dengan melemparkan seulas senyuman.


"Kau siapa?"


"Perkenalkan saya Yardan, orang tua Jasmine. Murid Nona Deline," Dia mengulurkan tangannya—Danesh tidak berniat menjabat tangan duda itu.


"Jika sudah selesai menemui adikku, sebaiknya segera pulanglah. Waktu menjenguk sudah habis," cetusnya terdengar sombong.


"Kak Dan, jangan seperti itu. Pak Kim baru tiba, kenapa Kakak mengusirnya." gerutu Deline.


"Ah, benar. Aku harus mengantarkan pesanan ayam goreng." Yardan menepuk dahinya. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Nona, semoga cepat sembuh. Aku tidak bisa berlama-lama di sini, banyak pekerjaan yang belum ku selesaikan. Aku permisi dulu," lanjutnya sambil melambaikan tangan.


Huh~ senyuman lebar yang terpancar dari wajahnya kian memudar karena mendapat respon kurang menyenangkan dari Danesh. Dia terlihat sombong dan sepertinya tidak menyukai kehadirannya. Yardan memperhatikan pantulan dirinya pada pintu kaca rumah sakit. Penampilannya dengan wajah kusam, celana kusut dan statusnya sebagai kurir makanan membuatnya minder. Entahlah, rasanya sangat sesak. Dia tahu mereka adalah sekelompok orang-orang kaya, mungkinkah orang miskin seperti dirinya pantas berbaur dengan mereka?


"Kakak kenapa bersikap seperti itu kepada Pak Kim? Menjabat tangannya saja Kakak menolak,"


Danesh mengabaikannya. Dia melepas dasi dan jasnya, kemudian meletakkan kedua kakinya diatas meja.


"Kak Dan, please respect other people. Your attitude is like an arrogant person." komplain Deline.


"Diam lah! Kau terlalu banyak bicara," bentaknya.


Seketika gadis itu diam. Dia terkejut mendapat perlakuan kasar dari kakaknya. Danesh memang aneh akhir-akhir ini, mungkin karena emosi dan mood nya yang tidak stabil sehingga membuatnya sering uring-uringan.


"Hei wanita, apa kau lahir di hari spesial? Aroma yang tercium dari dirimu sangat menyengat. Kau disukai banyak makhluk gaib," lontar Adrian.


"Hei, apa maksud mu?" timpal Danesh.


"Aroma?" Deline ikut bingung.


"Kalian tidak mengerti?" Adrian menatap keduanya dengan heran. Oh, sial, sepertinya dia salah bicara.


"Lupakan. Aku mabuk, jadi bicara melantur." Adrian tidak ingin membicarakannya lebih jauh lagi. Sebab dia mengerti sesuatu tentang hal-hal semacam itu.


"Jangan bicara aneh-aneh atau mulutmu akan ku sumpal dengan kantong infus." ancam Danesh.


Adrian mendesis, tak lupa umpatan kotornya melesat keluar. Orang kaya dihadapannya ini memang menyebalkan, jika bukan karena uang dia tidak sudi berada disekitar mereka. Oke, tidak masalah, toh sebentar lagi dia akan menerima imbalan dari Danesh karena telah menolong dan menunggu Deline di rumah sakit. Baiklah, tahan sedikit lagi setelah itu pergi jauh-jauh dari mereka. Adrian tidak sabar untuk segera berfoya-foya menghabiskan uang kompensasinya. Dasar, mata duitan.