Pulchritude Case

Pulchritude Case
Page 14



Starlight Digital. Inc adalah nama agensi periklanan milik Natha. Tempat bekerja Danesh sehari-harinya. Agensi periklanan (Advertising Agency) adalah organisasi profesional yang membuat iklan dan mengiklankannya melalui media yang sesuai. Mereka menawarkan jasa pemasaran seperti promosi, penjualan, event dan buletin. Ditujukan bagi klien yang menginginkan produknya dipasarkan secara global.


Agensi milik Natha termasuk dalam salah satu full services agencies—adalah salah satu yang menangani semua proses periklanan untuk kliennya. Seperti merencanakan, membuat, dan memproduksi. Proyek yang sebelumnya mengalami kegagalan, kini telah digantikan dengan imbalan yang setimpal. Kerjasama agensi ayahnya dengan salah satu brand kecantikan berhasil mencapai kesuksesan.


Berkat usulan dari salah satu tim strateginya dengan merekrut idol K-Pop sebagai wajah baru bagi produk tersebut, berhasil menyukseskan kerjasama. Karena fenomena Korean Wave telah meluas hingga ke berbagai mancanegara, mungkin para penggemar memiliki keinginan untuk menggunakan produk yang sama seperti idolanya. Dengan demikian tujuan mereka menjadikan idol sebagai duta merk yaitu untuk mempromosikan produk tersebut hingga menjangkau lebih banyak customer.


"Thank you for your cooperation." Danesh menjabat tangan Irene Red Velvet (wajah baru produk kecantikan).


Idol cantik itu tersenyum manis seraya membalas ucapan Danesh. Mereka baru saja melakukan press conference untuk memperkenalkan produk kecantikan tersebut. Semua berjalan lancar dan penuh sukacita. Sebagai manager akun, tentu tanggung jawab dan tugasnya cukup besar. Seperti membangun hubungan jangka panjang dengan klien untuk mempertahankan tingkat retensi yang tinggi. Dan juga mengatasi masalah apa pun yang mungkin timbul.


"I hope that in the future we will be able to establish this cooperative relationship for the better. I, as the representative of the president director of Sanatha, thank you for all of your hard work." ujar Danesh serta mengakhiri acara.


°°°


Decitan engsel pintu membangunkan tidur Deline. Kelas telah usai 2 jam yang lalu, tetapi karena tak kuasa menahan kantuknya Deline pun memutuskan tidur sebentar di dalam kelas hingga menjelang malam seperti ini. Oh, sial, pasti gerbang utama telah dikunci oleh petugas keamanan.


Berjalan keluar dari ruangan. Menyusuri koridor kampus ditemani pencahayaan remang-remang. Cukup mengerikan berada di universitas seluas ini sendirian. Suara rintihan menembus indra pendengarannya. Deline berhenti sejenak untuk memastikan darimana suara itu berasal—dari ruang Sains.


"Sa—kit, to—long."


Deline melihat bayangan seseorang dari dalam ruangan itu. Pintu sedikit terbuka, dia mengintip. Sungguh mengejutkan—seorang wanita sedang diperkosa dengan posisi berada diatas meja. Serta pelaku memegang sebuah pisau dan beberapa kali menusuknya. Deline gemetar, tubuhnya panas dingin melihat kejadian itu.


Si pelaku menyadari kehadiran seseorang. Dia menoleh kearah pintu, dan alhasil mata mereka saling bertemu. Degup jantungnya tak terkendali, tanpa berlama-lama Deline segera menjauh karena telah ketahuan. Pria itu membanting pintu dengan keras—mengangkat pisau yang dia pegang. Berlari cepat untuk mengejarnya. Situasi semakin menegangkan ketika Deline salah mengambil jalan. Bodoh, seharusnya dia berlari kearah sebaliknya, bukan belok kanan.


Deline menempel pada dinding sambil menatap bayangan pelaku yang semakin mendekat. Hanya ada satu jalan yang tersisa, yaitu jendela kecil di atas sana. Derap langkah laki-laki itu semakin terdengar jelas. Deline berjinjit berusaha membuka jendela tersebut, tapi sayang dia tak cukup waktu. Si pelaku mendorongnya hingga membentur tembok.


"Wah, kau rupanya." Dia menyeringai, lalu berjongkok sambil mencengkram dagu gadis itu.


"A-arlo?"


Ya ... tidak salah lagi. Psikopat berkedok jurnalis itulah yang telah memperkosa dan berusaha membunuh wanita didalam ruang Sains tadi. Sinar bulan yang masuk melalui kaca bening menyorot wajahnya dengan jelas. Deline ketakutan, jantungnya berdegup semakin kencang. Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, gadis itu mati-matian menghindar dari Arlo. Namun, sekarang mereka malah dipertemukan dalam situasi seperti ini.


"Apakah ini hari keberuntunganku?" Dia melepas cengkeramannya. "Ngomong-ngomong kenapa kau masih disini?"


Deline diam. Dia berangsur mundur. Arlo mendekatinya lagi, dengan sekali tindakan laki-laki itu menjambak rambut Deline sampai kepalanya mendongak keatas. Tak tinggal diam, tangan kirinya mencekik leher gadis itu. Deline hampir kehabisan nafas—berusaha memberontak sekuat tenaga, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan laki-laki bajingan itu.


"Ar-lo, lepas. A-ku mohon,"


"Baiklah," dia menarik rambutnya, kemudian membanting Deline hingga membentur pilar.


"Karena kau telah mengetahui rahasia hidupku, jadi sebaiknya aku akan memberimu sedikit pelajaran tentang bagaimana memperlakukan orang tersayang secara manis." Arlo meraih pisaunya yang tergeletak di lantai.


Besi pipih nan tajam pun menusuk lengan Deline. Gadis itu berteriak keras karena sangat kesakitan. Arlo menancapkan pisaunya hingga merobek daging. Tak hanya itu, dia menariknya sampai kebawah sehingga menimbulkan bekas sayatan. Darah mengucur deras, Deline benar-benar tak kuasa menahan rasa sakit yang tak tanggung-tanggung menyerangnya. Arlo tertawa puas sambil menjilat darah yang menempel pada pisaunya.


Sungguh, pemuda gila itu sangat mengerikan bak seekor binatang buas. Deline tidak ingin tinggal diam—tidak ingin mati sia-sia ditangan bajingan itu. Berusaha berdiri dan berlari, tapi Arlo berhasil menangkapnya. Pemuda itu berusaha melecehkannya, tetapi Deline tidak kehabisan cara untuk lepas dari niat busuknya. Merogoh ponsel, kemudian memukul kepala Arlo menggunakan benda keras tersebut. Tak lupa menendang *********** untuk mengulur waktu agar dia berhasil kabur atau sembunyi.


Dengan sisa tenaga berusaha mencari jalan keluar untuk meminta pertolongan. Darah yang mengucur dari lengan kanannya perlahan menguras energi. Kondisinya semakin melemah, ditambah lagi Deline kehilangan banyak darah. Keadaan semakin mencekam ketika hujan turun dengan derasnya. Dan satu lagi, Arlo berteriak memanggil namanya. Tidak ada waktu untuk meratapi rasa sakit, Deline harus kabur.


"Hei! Wanita bangsat, kemari kau!" pekik Arlo dari ujung koridor. Dia berlari setelah melihat kehadiran Deline yang berdiri kaku di depan sana.


"Deline!"


Gadis itu berteriak ketika Arlo berhasil menangkapnya lagi. Laki-laki itu menendangnya sekuat tenaga hingga tubuhnya tersungkur di tanah. Air mata yang sedari tadi telah membasahi pipi kini bercampur dengan darah. Arlo mendekat, dia berniat menghabisinya sekarang juga. Mengerti niat buruk dari laki-laki itu, Deline meraih batu yang tak jauh dari jangkauannya. Dan memukulkannya ke wajah Arlo. Mata psikopat itu berdarah akibat hantaman keras dari Deline. Dia meringis menahan rasa sakit.


Deline mendorongnya, kemudian kabur dengan menyelinap keluar melalui sela-sela gerbang. Tertatih-tatih menyusuri trotoar sambil memegangi lengannya yang semakin tidak karuan. Air hujan yang masuk kedalam lukanya menimbulkan rasa perih—sangat perih. Deline berteriak untuk meminta tolong kepada siapapun, tetapi jalanan terlihat sepi. Sementara dibelakang sana Arlo kembali mengejarnya.


"Tolong!"


"Deline!" pekik Arlo semakin mempercepat laju larinya.


Gadis itu berbelok ke sebuah gang sempit, dia berusaha mencari tempat persembunyian. Namun, itu sia-sia. Arlo tahu betul seluk-beluk dari wilayah ini. Dimana pun kau bersembunyi, psikopat itu pasti tahu keberadaan mu.


"Sayang ... mau main petak umpet ya?"


"Deline ...,"


"Dimana ya gadis kecil itu,"


Deline pasrah. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Rasa sakit yang menyerang dirinya sudah tak tertahankan. Jika tidak menyayangi nyawanya, dia memilih menyerah dan memejamkan mata ditempat itu juga. Namun, sekarang—sudahlah, dia menyerah. Oh, hari yang mengerikan. Mungkin telah menjadi takdirnya harus mati ditangan bajingan gila itu.


"Satu ... Dua ...."


"TIGA!" Seorang laki-laki berambut merah memukul kepala Arlo dan berhasil membuatnya tak sadarkan diri.


Laki-laki itu menghampiri Deline yang bersembunyi dibalik tempat sampah. Gadis itu dalam kondisi lemah dan tak sadarkan diri. Dia membopong Deline untuk dibawa ke rumah sakit.


°°°


Tangan Kevin gatal, dia menginginkan kasus yang lebih rumit untuk ditangani daripada duduk diam seperti ini. Masalah kasus pencurian mayat, Kevin berniat menyudahinya. Sudah jelas masalah ini berhubungan dengan hal gaib, tentu polisi tidak bisa bertindak lebih jauh lagi. Mereka bukan cenayang yang paham mengenai konspirasi atau perjanjian dengan setan dan sejenisnya. Yang terpenting sekarang adalah dia sudah tahu untuk apa mayat-mayat itu dicuri. Namun, tetap saja pelaku yang sesungguhnya harus ditangkap karena akan merepotkan jika terus dibiarkan.


"Sidik jari pelaku hanya ditemukan di gagang pisau, tapi pada tubuh korban tidak ditemukan sama sekali. Oh~ sudah berhari-hari aku berusaha memecahkan kasus ini, tapi sampai sekarang-,"


"Tunggu,"


Martino, salah satu anggota satreskrim. Bertugas menyelidiki kematian Ricky (mahasiswa Universitas Exact). Saat pertama kali bertemu dengan pelaku, dia merasa ada yang aneh. Dari sorot mata dan gelagatnya bisa dibaca bahwa dia berada dibawah tekanan, mungkin dia diancam oleh seseorang. Martino merasa pelaku yang sebenarnya masih abu-abu, dan bukan Henry (teman dekat korban).


"Apa? Terjadi pembunuhan lagi di Universitas Exact?"


Tino baru mendapat laporan dari koleganya. Dia segera meraih jaket dan bergegas menuju tempat kejadian. Ketika masuk kedalam mobil dinas, dia dikejutkan dengan seseorang tengah berbaring di kursi belakang—dia adalah Kevin. Intelijen aneh itu tersenyum lebar ketika Tino menatapnya dengan memasang raut wajah kaget.


"Hai?" Kevin pindah kesamping satreskrim itu.


"Pak Kevin, A-anda di sini?"


"Apa tidak boleh?"


"Bukan, saya hanya terkejut."


"Aku bukan hadiah ulang tahunmu, jadi tidak perlu kaget." cerocos nya.


Tino merasa gugup berada didekat atasannya itu. Secara di kantor tempatnya bekerja, Kevin adalah Komisaris Besar Polisi. Dan ini adalah momen paling mengejutkan baginya.


"Aku dengar ada kasus baru yang terjadi di Universitas Exact—dan tentu kau bertanya-tanya kenapa aku berada disini bukan?"


Tino mengangguk.


"Aku ingin ikut denganmu menyelidiki kasus itu. Kau tahu? Aku merasa bosan duduk diam didalam ruang kerja ku. Tanganku sangat gatal, rasanya ingin memecahkan kasus."


"Ta-tapi Pak, pekerjaan ini-,"


"Jalankan mobilnya." perintahnya menyela ucapan Tino.


Kevin menyilangkan kedua tangannya, kemudian menutup mata. Sementara laki-laki disampingnya terlihat bingung dan tidak tahu harus menolaknya dengan cara apa. Atasannya itu benar-benar aneh. Baiklah, jika itu kemauan Kevin, dia akan menurutinya. Namun, kenapa komisaris besar membantunya dalam kasus ini? Hei, ini akan menjadi masalah kau tahu? Pasti mereka akan mempertanyakan mengapa dan kenapa. Ingin menolak pun Tino tidak berani melakukannya.


"Apa kau anggota baru?" tanya Kevin. "Aku baru melihat mu hari ini,"


"Sebenarnya tidak baru, hanya dipindahkan tugas ke kota ini saja."


Selama didalam mobil hanya percakapan ringan itu saja yang mereka bicarakan. Selebihnya Kevin kembali diam dan menutup mata. Bukan tidur, hanya ingin menenangkan pikiran. Tidak, sebenarnya kepala Kevin sedang berasap memikirkan berbagai hal yang bersemayam. Tujuannya ikut Tino melakukan penyelidikan ini karena dia ingin mengalihkan perhatiannya dari kasus pencurian mayat.


Sesampainya di tempat kejadian, jasad korban berada dibawah meja dengan kondisi baju berantakan dan perutnya meninggalkan bekas luka tusuk. Tidak ditemukan senjata tajam di area pembunuhan, dan sidik jari? Jangan tanya, tidak ada bekas apa pun di sana. Sepertinya psikopat itu bermain secara baik menggunakan triknya untuk membingungkan pihak penyelidik.


"Lagi?"


Kevin menoleh ketika Tino mengatakan hal itu. Dia menyimaknya.


"Hampir sama seperti kasus pembunuhan Ricky, tapi wanita ini tidak dimutilasi. Sudah jelas pelaku yang sebenarnya masih berkeliaran di kampus ini,"


"Siapa Ricky—dan apa sebelumnya pernah terjadi?" Kevin menimpali ucapan satreskrim itu.


Tino mengangguk. "Sebelumnya pernah terjadi pembunuhan di universitas ini. Pelaku memutilasi korban, lalu tubuhnya diletakkan didalam kardus. Namun, saya rasa pelaku pembunuhan ini-,"


"Bukan dia?" sahutnya.


"Iya, Pak. Dari sikapnya saat diinterogasi menunjukkan bahwa dia seperti tertekan. Saya curiga dia diancam oleh pelaku yang sebenarnya,"


Satreskrim itu menjelaskan dari awal kasus kematian Ricky hingga berlanjut ke wanita bernama Lexa tersebut. Persamaan kasus tersebut tidak ditemukan adanya sidik jari, sangat bersih. Satu hal lagi yang ditemukan oleh tim penyelidik, mereka menemukan noda darah di lantai dan tembok yang berada di depan ruang laboratorium kimia. Kevin dan Tino segera melihatnya, noda itu menetes hingga keluar dari bangunan. Tanah diujung koridor tampak berantakan, seperti bekas seseorang baru saja bergulat di sana. Air yang menggenang pun berwarna merah, mungkinkah ada korban lain selain Lexa?


"Iya, Dan?" Kevin mendapat telepon dari Danesh. "Baiklah, aku ke sana sekarang."


Dia mengakhiri percakapan, kemudian menepuk pundak Tino. "Aku harus pergi, dan lanjutkan penyelidikan ini dengan teliti."


"Baik, Pak."


"Dan ya, tidak perlu cemas jika orang-orang mempertanyakan kenapa aku ikut campur dalam urusan ini. Aku yang akan mengurusnya, kau paham?"


"Baik, Pak. Terimakasih banyak," Tino membungkuk, kemudian berdiri tegap dan memberi hormat. Setelah itu Kevin bergegas menemui sahabatnya.