Pulchritude Case

Pulchritude Case
Page 20



Deline mengerang—kakinya menendang selimut yang menutupi tubuhnya. Rasa tertekan pada lehernya masih terasa hingga pagi ini. Gadis itu menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan bahwa dia tidak kemana-mana, tetap berada dirumah. Terakhir hal yang dia ingat adalah pingsan, kemudian seorang laki-laki menghampirinya. Tidak, bukan itu yang teringat dipikiran Deline, kejadian kemarin malam menjadi hal yang paling membekas saat membuka mata.


Terngiang-ngiang dan terasa mengerikan. Deline kembali menutup mata, berusaha melupakan peristiwa itu. Bertanya-tanya pada diri sendiri atas siapa sebenarnya dia. Kenapa akhir-akhir ini sering ditemui makhluk-makhluk menyeramkan seperti itu. Dia takut dengan wanita yang mencekik nya kemarin malam, sangat takut. Bagaimana jika wanita itu kembali mendatanginya, lalu melakukan hal yang lebih buruk dari kemarin? Tidak-tidak, buang pikiran seperti itu.


"Akhirnya kau bangun juga,"


"Pak Kim?" kejutnya. Laki-laki itu memungut selimut Deline yang terjatuh di lantai.


Dialah pria yang menghampirinya saat pingsan kemarin malam. Laki-laki yang berdiri didepan pintu rumahnya adalah Yardan, bukan Danesh. Itu semua hanya ilusi Deline, duda itu menerobos masuk karena mendengar teriakkan kekasihnya dari dalam rumah. Begitu sulit mendobrak pintu, dengan susah payah akhirnya Yardan mampu membukanya. Dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana, tapi yang pasti suara teriakannya terdengar jelas di telinga Yardan.


"Maaf ya, aku tidak minta izin kepadamu karena menginap di sini." Dia duduk di sisi ranjang. Sementara Deline menatapnya dengan memasang raut wajah tak percaya.


"Tidak-tidak, jangan menatapku seperti itu. Aku berani bersumpah, aku tidak melakukan apa pun terhadapmu atau-,"


"Saya percaya, Pak Kim." sela Deline.


Yardan tersenyum tipis. Dia berkata yang sejujurnya, tidak berbuat aneh-aneh atau bertindak lancang. Niatnya hanya ingin menemani Deline hingga esok pagi, karena sepertinya dia butuh ditemani untuk malam ini saja. Awalnya Yardan berkunjung ke rumah Deline hanya ingin mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Danesh. Terasa aneh karena dia datang malam-malam. Alasan Yardan datang terlambat karena pekerjaannya cukup padat untuk hari itu, jadi dia baru sempat melayat setelah selesai bekerja.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Nona? Maaf, maksudku Deline." Duda itu membungkam mulutnya karena selalu salah menyebut sang kekasih.


Deline tidak menjawab. Dia melamun menatap cangkir berisi teh hangat yang dipegangnya. Kini mereka duduk berhadapan di kursi makan yang berada di dapur.


"Tidak apa-apa jika kau tidak mau bercerita, aku tidak memaksa."


Gadis itu merogoh sesuatu dari saku celananya—telapak tangan Deline menggenggam sebuah bunga putih, lalu menunjukkannya kepada Yardan. Laki-laki itu terkejut, dia menatap Deline sekilas, lalu membuang muka. Bunga tersebut dia peroleh dari samping rak buku, tempat dimana dia dicekik oleh wanita kemarin.


"Wangi bunga ini sama persis dengan aroma dari munculnya pria misterius yang selalu meneror Anda dan Jasmine—Pak Kim, Anda pasti tahu sesuatu tentang semua ini." Kali ini ucapan Deline terdengar serius.


Bohong jika Yardan tidak mengetahui jawaban atas pernyataan yang Deline ucapkan. Gadis itu tidak bodoh, dia mengerti sesuatu setelah merangkai semua hal yang pernah dialaminya selama ini. Seseorang di restoran itu adalah wanita yang mencekik nya kemarin malam. Wangi mereka sama—dan juga, tentang pria berjubah yang meneror Yardan mungkin memiliki keterkaitan satu sama lain. Mungkinkah dia termasuk anak yang lahir di malam putih? Jika itu benar, berarti mereka akan mengincar jiwanya juga.


Laki-laki itu dibuat bimbang, antara ingin menjelaskan atau tidak. Dia tidak menyangka jika Deline bisa mengerti hubungan diantara pria berjubah dan bunga tersebut. Ini gawat—jika benar mereka menginginkan Deline, berarti keselamatan gadis itu dalam bahaya. Yardan mengetahui rahasia besar dibalik meninggalnya sang anak—karena semua itu adalah ulah seseorang yang dikenalnya. Semua penjelasan ada ditangan Yardan, sangat tepat sekali jika Deline menanyakan hal ini kepadanya.


"Pak Kim, tolong jawab saya. Apa benar kematian Jasmine karena ulah mereka? Sebenarnya apa itu malam putih, apa saya termasuk manusia yang diincar oleh iblis-iblis itu?" Deline menggoyangkan tangan Yardan.


"Pak Kim, tolong jawab. Saya mohon," pintanya penuh harap.


"Aku tidak bisa-,"


"Kenapa? Saya juga ingin tahu—wanita itu berkata saya anak wangi, saya ini, saya itu. Apa sebenarnya-,"


"Cukup!" Yardan menggebrak meja. Gadis dihadapannya ini benar-benar cerewet.


"Sudah aku katakan bukan? Aku tidak bisa memberitahu mu lebih jauh. Kau tidak boleh mengerti tentang hal seperti itu, Deline." lanjutnya sambil berdiri.


Deline ikut berdiri. "Jika saya tidak boleh tahu, lalu bagaimana dengan keselamatan saya di hari-hari berikutnya? Saya takut, Pak Kim. Kenapa Anda tidak mengerti," dia menangis.


Mereka terus berdebat. Deline kalut karena ketakutannya, sedangkan Yardan bersikeras untuk tidak mengungkapkan hal tersebut kepadanya. Sampai pada akhirnya, gadis itu berteriak keras dan berniat akan mengungkap kasus kematian Jasmine dengan meminta bantuan dari orang lain. Yardan sudah melarangnya untuk tidak melakukan hal itu, mereka bertengkar hebat karena ego masing-masing. Apa yang akan Deline ungkap bukanlah hal biasa, itu sebuah rahasia besar yang akan mengejutkan banyak pihak. Memancing masalah dengan makhluk gaib bukan hal yang baik, teror dan kejadian diluar nalar pasti akan menyertai kehidupan mereka.


"Kenapa kau begitu keras kepala! Aku melarang mu karena aku sangat mencintaimu, Deline." Yardan meluapkan emosinya dengan mencengkeram kuat lengan gadis itu.


"Aku mengerti ketakutan mu, tapi bukan berarti kau harus mengerti semua ini. Aku yang akan mencari jalan keluarnya."


"Tidak! Sekarang aku tidak butuh bantuan mu, Kim Yardan." Deline mendorongnya. "Jika kita saling mencintai bukan seperti ini caranya. Masalah mu adalah masalah ku, seharusnya kita sama-sama mencari jalan keluar. Bukan Anda sendiri yang harus-,"


"Hentikan!" bentak Yardan. Gadis dihadapannya ini terlalu banyak bicara.


"Jika kau bersikeras mengungkap kematian putriku, maka jangan harap kita bisa bertemu lagi." ancam nya.


Yardan meraih jaketnya, ingin bergegas pergi dari rumah itu. Sudah cukup berdebat dengan orang keras kepala seperti dia. Tidak akan pernah selesai jika terus diladeni. Dia bukan tipe orang yang suka bertengkar dengan pasangan. Yardan sangat benci perdebatan, baginya tidak ada gunanya saling adu mulut tanpa menemukan jalan keluar yang terbaik. Dia lebih suka bertindak langsung daripada harus berdebat seperti itu. Habis rasa sabarnya, Yardan tidak menyangka jika Deline masuk kedalam daftar korban selanjutnya. Belum puas kah menjadikan putrinya sebagai korban demi kepentingan duniawi nya? Benar-benar sialan, dia bersumpah akan membunuh penjahat itu segera mungkin.


"Tolong kata-,"


Yardan mencengkeram lengan Deline. "Kematian putriku adalah masalahku. Kau tidak perlu ikut campur atau tahu tentang semua itu, mengerti?


"Untuk yang terakhir kali. Jangan coba-coba mengungkap hal ini atau jika tidak-," Yardan berjalan maju sehingga membuatnya mundur.


"Kau akan merasakan apa yang dialami olehnya, sayangku." lanjutnya sambil mencengkram dagu gadis itu.


📌Pushing through the countless pain


And all I know that this love's a bless and curse


"Jika itu berhubungan dengan hal gaib, aku tidak bisa membantumu." Kevin membelakangi gadis itu sambil menata buku-buku di rak.


"Tapi Kak, aku punya ini." Deline menunjukkan bunga putih kepada komisaris itu. Dia meletakkannya di atas meja.


Kemudian dia menjelaskan semuanya kepada Kevin. Mulai dari peristiwa di Hiraet Phloxier—wanita yang mencekiknya—pria berjubah yang selalu meneror Yardan—bunga tersebut dan aroma wangi dari mereka. Intelijen itu tertegun ketika mendapati hal yang sama dengan penelusurannya terkait kasus pencurian mayat. Sekarang dia  tertarik untuk menindaklanjutinya—mungkinkah kejadian yang dialami Deline berkaitan dengan pencurian mayat tersebut? Tapi apa hubungannya atas kematian Jasmine dengan semua ini? Apakah semua itu berkaitan tentang sesuatu seperti hal-hal gaib atau...


"Jangan berdiam diri di sana, aku melihatmu." Mata Kevin sedari tadi melirik seseorang tengah berdiri di samping pintu. Dia mengetahuinya karena bayangan pria itu terlihat jelas dari sela-sela pintu.


"Masuklah, jangan seperti mata-mata."


Perlahan pintu terbuka. Tino masuk sambil menundukkan kepala. Dia cukup malu karena sang atasan telah memergokinya menguping pembicaraan mereka. Oh, ini memalukan. Sebenarnya dia tidak berniat melakukan hal itu, tapi topik tersebut menggerakkan hatinya untuk menyimak lebih banyak.


"Maafkan saya, Pak. Anda boleh menghukum saya atas kelancangan ini,"


"Aku tidak akan menghukum mu, tapi justru kau akan ku ajak bekerja sama untuk memecahkan masalah ini." sahut Kevin, dia mempersilahkan satreskrim itu untuk duduk.


Mereka berunding. Deline menambahkan sesuatu tentang kecurigaannya terhadap bukti yang mungkin saja masih disimpan oleh Yardan mengenai kebenaran kematian Jasmine. Dia bercerita semua tentang teror yang dialami Yardan berserta anak itu. Tino juga tahu tentang kematian Jasmine, dia bahkan ikut dalam penyelidikan ketika anak itu ditemukan tewas ditempat kejadian. Apa yang dikatakan Deline adalah benar, wangi dari jasad korban sampai sekarang masih membekas di tandu, alat bantu yang digunakan untuk mengevakuasi Jasmine. Dan juga, tentang Yardan, satreskrim itu mendengar dia mencabut gugatan karena kematian sang anak atas kecerobohan bocah itu sendiri.


Hei, ini bagus sekali. Kedua orang di hadapan Kevin tahu banyak tentang masalah tersebut. Sudah berbulan-bulan lamanya dia mencoba mengungkap kasus itu, tapi sayang dia belum menemukan titik terang. Namun, sekarang keadaan menjadi lebih baik berkat mereka berdua. Dia akan segera mengatur rencana untuk menyelidikinya lebih jauh dan menangkap pelaku. Hal ini telah menjadi momok bagi masyarakat luas, meskipun sekarang kasus pencurian mayat mulai mereda, tetapi bukan berarti tidak akan terjadi lagi. Permasalahan ini harus tetap diselidiki dan diungkap bagaimanapun caranya.


"Kasus Jasmine mirip sekali dengan kematian Carrolyna." imbuh Tino.


"Ah, iya aku sempat mendengar kasus itu, tapi aku tidak tahu lebih jauh." timpal Deline.


"Carrolyna ... Siapa dia?" tanya Kevin.


"Kasus kematiannya menjadi topik pemberitaan terhangat selama berminggu-minggu. Saya dengar, dia meninggal dengan cara tidak wajar. Seluruh tubuhnya gosong. Namun, berbau wangi-,"


Dan Tino terus menjelaskan dari sepengetahuan nya. Karena kasus itu selalu trending untuk dibicarakan, jadi Tino selalu menyimak dan menunggu hasil dari permasalahan tersebut. Dia begitu antusias bahkan tahu siapa jaksa-jaksa yang pernah menanganinya. Satreskrim itu juga membeberkan bahwa Dariel adalah orang pertama yang menerima pengajuan kasus tersebut, lalu menceritakan semua jika beliau telah meninggal karena kecelakaan. Dan pada akhirnya, dia menambahkan bahwa orang terakhir yang menangani kasus tersebut adalah Jaksa Val.


Kevin takjub dengan pengetahuan Tino, dia begitu antusias menceritakannya dari awal hingga akhir. Dia baru ingat jika Val pernah menangani kasus tersebut, tapi hingga sekarang belum menemukan hasil akhir. Benarkah kasus tersebut begitu sulit untuk dipecahkan? Bahkan dua jaksa sekalipun yang pernah menanganinya tidak mampu mengungkap masalah itu. Oh, ini menyenangkan, sangat-sangat menyenangkan. Kevin bersemangat untuk menyelidikinya, dia akan memikirkan segala keterkaitan antara pencurian mayat dan kematian dua anak dibawah umur tersebut. Inilah yang Kevin inginkan, kasus rumit yang belum terpecahkan hingga saat ini.


"Berarti langkah pertama yang harus kita lakukan adalah menemui Jaksa Val untuk menanyakan kasus Carrolyna." ujar Kevin.


"Itu benar, Pak."


"Aku ikut," timpal Deline.


"Tidak, kamu jangan ikut. Ini mungkin saja berbahaya, kamu di rumah saja dan tunggu hasilnya." tegas Kevin.


"Tapi Kak, bagaimana jika wanita itu datang lagi dan melakukan-,"


"Aku akan datang setiap malam untuk menemanimu selama kasus ini belum terpecahkan. Jangan takut, aku pasti datang." sela nya.


Deline menunduk. Dia memainkan jemarinya, meskipun laki-laki didepannya telah mencoba menghiburnya dengan perkataan seperti itu. Tetap saja dia belum tenang, Deline ingin ikut menyelidiki kasus tersebut. Dia sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Bukan tentang marabahaya yang mungkin mengancamnya, tapi tentang apa tujuan pelaku melakukan hal ini. Dia sangat merugikan dan menyiksa seseorang. Yang dipikirkan Deline adalah Yardan, karena ulah manusia brengsek itu, dia kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya.


"Tapi dimana Jaksa Val tinggal?"


"Saya juga tidak tahu soal itu. Karena setelah mereka kecelakaan, Jaksa Val memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya."


Kevin mengangguk. Baiklah, tidak masalah. Dia bisa mencari keberadaan jaksa itu. Sekarang saatnya menyusun rencana untuk menggali sedikit demi sedikit atas permasalahan yang berkaitan. Kevin menugaskan Tino untuk menyelidiki ulang kematian Jasmine, sedangkan dia akan mencari tahu keberadaan Val dan akan menemuinya di manapun jaksa itu berada. Pertemuannya dengan Val yang akan datang, mengingatkannya pada perselisihan yang pernah terjadi beberapa bulan lalu. Ini menggelikan, dia tidak percaya harus meminta sesuatu yang telah dicicipi dulu oleh si picik itu.


"Coba ceritakan apa yang kamu alami kemarin malam?" Kevin penasaran, sambil mengemudi dia ingin mendengarkan cerita dari gadis itu.


"Awalnya aku melihat Kak Danesh didepan rumah, kemudian lampu padam secara tiba-tiba dan disusul kemunculan wanita itu. Dia mencekik ku hingga tubuhku terangkat keatas. Itu sangat sakit—lihat ini, Kak." Deline menunjuk lehernya yang memerah.


Tangan kiri Kevin terangkat keatas. Dia mengusap pelan rambut Deline seraya tersenyum tipis kepadanya. "Jangan takut lagi ya? Aku pasti menemanimu,"


Ini gila. Kevin yang berusaha membuat Deline nyaman bersamanya, justru dia yang salah tingkah dan terbawa perasaan. Aneh, jantungnya berdegup kencang. Tidak, kegiatan seperti ini tidak boleh dilanjutkan. Atau dirinya yang akan menerima imbasnya. Kevin harus ingat bahwa usianya mungkin tidak cukup mampu untuk mendampingi seorang wanita untuk kedepannya. Namun, bagaimana dengan permintaan Danesh? Oh, sialan. Andai saja dia punya dua ginjal utuh yang masih normal, pasti keraguannya untuk menikahi seseorang tidak akan seberat ini.