Pulchritude Case

Pulchritude Case
Page 08



Terik matahari menyengat kulit, keringat meluncur bebas ke seluruh tubuh. Yardan mengusap peluh yang keluar dari pelipisnya. Laki-laki itu baru saja mendaki gunung, eh bercanda. Seharian ini berkeliling mencari lowongan pekerjaan, tetapi hasilnya masih nihil. Rata-rata mereka mencari pekerja dengan batas minimal lulusan sekolah menengah atas. Sekarang Yardan baru menyesal telah menyia-nyiakan pendidikannya karena kesalahan yang pernah dia buat.


Sudah cukup usahanya hari ini, waktunya pulang dan istirahat. Besok dia akan melanjutkan lagi untuk mencari pekerjaan baru. Tangannya sudah mendingan, meskipun terkadang masih terasa ngilu. Yardan melepas kaosnya sambil bercermin di depan kaca berbentuk persegi panjang. Dia berpose layaknya seorang binaragawan. Menarik nafas dalam-dalam hingga perut buncitnya terlihat rata.


"Jasmine, apa menurutmu Ayah cocok jadi binaragawan?" Kini duda itu mengangkat lengan, menunjukkan bisep kempesnya.


"Oh, sepertinya aku harus berolahraga."


"Ayah, hentikan! Apa Ayah tidak malu?" Jasmine melirik seorang perempuan yang sedari tadi melongo menatap ayahnya.


"Kenapa malu? Tubuh Ayah terlihat keren bu-,"


O⁠_⁠o


Tubuhnya terekspos tanpa sengaja dihadapan seorang perawan. Deline mematung di ambang pintu tanpa berkedip. Buru-buru Yardan meraih kaosnya seraya memasang senyuman lebar untuk sekedar mencairkan suasana. Dalam hati berteriak keras karena malu. Kacau, kenapa dia tidak menyadari kehadiran gadis itu dirumahnya. Padahal dari pantulan cermin menampilkan wujud Deline yang berdiri kaku dibelakang sana. Jika kalian bertanya kenapa duda kocak ini bersikap aneh? Yap, tadi selama berkeliling tanpa sengaja Yardan melihat poster seorang binaragawan idolanya. So, begitulah ending-nya. Praktik pose menirukan sang idola.


"Hehe, Nona."


Deline menggelengkan kepala, antara ingin tertawa dan malu setelah melihat tingkah konyol dari Ayah Jasmine. "Sumpah, tadi saya merem kok Pak Kim."


(⁠*⁠_⁠*⁠)


Yardan lupa jika hari ini anaknya memiliki jadwal home schooling. Momen paling memalukan dalam hidupnya. Dia berjalan pelan menuju kamar. Untuk sementara waktu bersembunyi dulu dari kekonyolan ini. Melompat ke atas ranjang dan menyembunyikan wajahnya dibalik bantal sambil berteriak keras. Tentu saja suaranya terdengar oleh kedua perempuan dari luar kamar. Mereka saling pandang dan menggelengkan kepala.


"Ayah memang konyol, Kak. Maaf ya jika kelakuannya aneh," ujar Jasmine sudah lelah dengan tingkah absurd dari sang ayah. Maklum lah, jiwa bapak-bapak ya begitu.


°°°


Danesh menggebrak meja, sorot matanya menunjukkan amarah yang memuncak. Para karyawannya membuat kesalahan besar hingga mengacaukan sebuah proyek. Kerjasama antara perusahaan ayahnya dengan salah satu brand mewah dipastikan gagal. Ketidakjelasan tugas dan peran dalam pekerjaan menjadi sumber timbulnya miskomunikasi. Karena kesalahan dari mereka membuat Danesh dimarahi habis-habisan oleh Natha.


Job description yang tidak jelas mengakibatkan perencanaan tumpang tindih dan kacau. Ditambah lagi faktor senioritas dalam proyek tersebut. Beberapa bersikap egois dan memerintah semaunya sendiri tanpa memperhatikan peran dan tugas masing-masing. Danesh memilih pergi dari kantor untuk sementara, dia ingin mencari udara segar demi  meredam emosinya. Berjam-jam memeriksa rincian proyek membuat kepalanya berasap.


"Ternyata kau masih hidup, Vin." cerocos Danesh.


"Menurutmu?"


Danesh terkekeh kecil.


Surprise>⁠.⁠<


Yap, keduanya adalah sahabat semasa SMA. Sekian purnama akhirnya mereka bertemu kembali. Danesh dan Kevin berpisah semenjak berkarir di bidangnya masing-masing. Apalagi Kevin disibukkan dengan pekerjaannya sebagai seorang intelijen. Bertugas di lapangan dan jarang pulang ke kampung halamannya bahkan rumah. Dia tidak cukup waktu untuk sekedar berkumpul dengan keluarga maupun teman-temannya. Kebetulan berada di wilayah yang sama, mereka memutuskan bertemu untuk sekedar basa-basi.


Karena tugas Kevin kali ini tidak membuntuti seseorang, jadi dia sering ada waktu luang. Mencari mayat yang hilang membuatnya banyak bersantai, dia menganggap kasus ini tidak terlalu sulit. Dan juga, dia sebenarnya malas untuk menuntaskan kasus tersebut. Sekarang mereka berada di dapur apartemen Kevin. Sang tuan rumah menyajikan sebotol champagne untuk menyambut teman lamanya.


"Darimana kau tahu aku ada di sini?" tanya Kevin sembari menuangkan champagne ke dalam gelas.


"Farrel,"


"Ah, bocah itu." Kevin menarik kursi dan duduk dihadapannya.


Danesh mengeluarkan sebungkus rokok. Dia terlihat ragu saat menatap polisi didepannya. Kevin mengangguk, mempersilahkannya untuk merokok. Yah, beginilah sisi lain dari Danesh. Dia sebenarnya seorang perokok berat, tetapi saat berada didekat sang adik dia tidak menunjukkan kebiasaannya.


"Kepalaku hampir meledak memikirkan pekerjaan. Kau tahu? Mereka para karyawan tidak berguna mengacaukan proyek besar  hingga Ayah memarahiku habis-habisan—oh, sialan." keluh nya sambil menyalakan rokok.


Kevin memiringkan kepala dengan setengah tersenyum. Tidak biasanya dia melihat Danesh tertekan. Sedari tadi sahabatnya itu memijat pelipis.


"Calon Presdir tidak boleh mengeluh. Kau terlihat seperti pecundang,"


Danesh tersenyum miring. "Calon Presdir?" Dia tertawa. "Aku sama sekali tidak menginginkan posisi itu,"


"Lalu dimana kekasih mu?"


"Siapa?" jeda nya sambil berpikir. "Oh, Olivia—aku tidak peduli dimana dia sekarang."


"Putus?"


"Sebenarnya tidak ada kata putus diantara kita, tapi aku menganggap hubungan ini sudah berakhir. Bagaimana lagi, dia saja bersikap seakan tidak menganggap ku ada." jelasnya.


Mengenai hubungan asmara, Danesh bukan seseorang yang gila akan cinta. Baginya menjalani karir yang sedang dia kerjakan adalah hal utama. Dia menginginkan asuransi masa depan dengan menginvestasikan bisnis atau usaha yang ditekuninya saat ini. Masalah menikah itu belakangan, sekarang Danesh sedang merencanakan tabungan masa tuanya untuk hidup makmur ketika berumahtangga nanti.


"Kau ini tampan dan kaya, tapi nasib percintaan mu tidak semulus uang yang masuk dalam rekening mu." Kevin tertawa puas.


"Stres,"


Hubungannya dengan Olivia telah terjalin cukup lama, tetapi beberapa bulan terakhir wanita itu merasa sang kekasih terlalu sibuk dengan dunianya. Sehingga jarang ada kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama. Karena merasa dikesampingkan, Olivia berubah dan tidak menganggap Danesh sebagai kekasihnya lagi. Semua itu bukan permasalahan besar. Ketika seseorang sudah berkorban sedangkan dia tidak menghargai nya sama sekali, ya sudah, terserah mau berbuat apa. Danesh membebaskannya dan menganggap hubungan ini berakhir.


Sekarang hening, mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Ditengah menikmati rokok yang dihisap, tiba-tiba Danesh tersedak. Dadanya terasa panas, dia berlari ke wastafel dan batuk-batuk. Cairan merah keluar dari mulutnya, Kevin berdiri ketika melihat kondisi tak biasa dari sahabatnya. Sedangkan tubuh Danesh kian melemah disertai batuk yang parah.


"Kenapa Dan?"


Danesh mengusap wajahnya secara kasar, dia coba mengatur nafas dan kembali duduk di kursi. Batuk disertai muntah darah yang diderita Danesh sudah lama dia ketahui. Namun, sampai sekarang Kevin tidak mengerti penyakit apa yang sedang dideritanya.


"Sebenarnya kau sakit apa? Sudah periksa kan?"


"Aku hanya kelelahan," Danesh meraih rokoknya. Namun, intelijen itu menepis tangannya dengan kasar.


"Apa kau bodoh?" Kevin menyeringai. "Lihat kondisimu. Kau selalu menganggapnya efek dari kelelahan, dan sekarang ingin melanjutkan merokok lagi?"


"..."


"Sebaiknya pergilah ke dokter dan periksakan kondisimu. Sudah bertahun-tahun apa kau tidak risih dalam keadaan seperti ini?" omelnya.


Manager itu menguap dan memposisikan duduk malas. Dia menghindari kontak mata dengan pria cerewet dihadapannya. Sudah Danesh tegaskan dia baik-baik saja, tidak ada penyakit berbahaya yang bersemayam di dalam tubuhnya. Lihat, sampai sekarang dia masih hidup. Ah, sudahlah dia tidak ingin memperpanjang masalah ini. Tujuannya datang menemui Kevin ingin mencari angin segar, justru dia mendapat omelan yang merusak mood nya.


"Pamit dulu, ada urusan." Danesh meraih jasnya, kemudian beranjak pergi.


"Tuan Dilbara! Jika kau sampai kenapa-kenapa, aku tidak akan menganggap mu sebagai temanku lagi. Kau dengar?" Kevin mengekor dibelakangnya sambil berteriak.


°°°


Teriakan bahagia dari seorang anak tentu saja membuat hati orang tuanya tenang. Hari ini setelah selesai mengajar, Deline mengajak ayah dan anak itu ke pusat perbelanjaan. Di Mall Happiness yang berada tak jauh dari apartemen mereka. Bukan apa-apa, gadis itu hanya ingin membuat Jasmine bahagia dengan sekedar mengajaknya jalan-jalan. Mungkin bukan yang pertama bagi keduanya berada di Mall, tetapi anak itu bilang dia ingin melihat para ice-skating menari di atas permukaan lantai es.


Mendengar keinginan kecil itu dengan sekejap dia langsung mewujudkannya. Tak lupa, mereka menjajali berbagai wahana yang tersedia di dalam Mall. Mulai dari Wooden Brick, Miniature Doll House, kereta api mini dan berakhir dengan mencoba photobooth keluarga. Layaknya seperti keluarga kecil, mereka bersenang-senang dengan penuh sukacita. Bercanda, mengusili satu sama lain hingga momen romantis membuat ketiganya lupa diri dengan status masing-masing.


"Kenapa Kak Deline lama sih, Yah?"


"Mungkin sebentar lagi juga selesai," hibur Yardan sembari menggendong putrinya.


Mereka menunggu Deline sedang menyelesaikan urusannya di sebuah gerai elektronik. Tadi saat mereka bersenang-senang ponselnya jatuh hingga membuat benda tersebut tidak menyala. Tanpa sengaja Yardan bertemu dengan mantan istrinya. Wanita itu menggandeng anak laki-laki, tak lain adalah putranya dengan sang suami baru.


"Oh, hai, bagaimana kabarmu? Tetap seperti dulu?" sapa nya, dia berniat mencubit pipi Jasmine. Namun, anak itu menyembunyikan wajahnya dibalik bahu Yardan.


"Jasmine, apa kau ingat Ibu?" Wanita itu berusaha mengajak bicara sang anak. Sudah lama mereka tidak bertemu, meskipun telah bercerai tetap saja sebagai seorang ibu masih menyimpan rindu dengan sosok putri kecilnya.


Dia adalah Emma, wanita berusia 33 tahun dan sekarang menikah lagi dengan seorang pengusaha. Melihat gaya berpakaiannya sekarang menunjukkan bahwa wanita itu telah menjalani kehidupannya dengan baik. Emas, baju branded dan fasilitas mewah telah dia nikmati. Beruntung sekali Emma bertemu dengan seorang pria lajang yang mempersuntingnya sebagai istri. Impiannya untuk hidup sebagai orang kaya telah terwujud. Dan dia terlihat awet muda sampai sekarang.


"Aku tidak menyangka jika kita bertemu ditempat seperti ini—Yardan, apa kau merawat putrimu dengan baik?" Emma memperhatikan penampilan keduanya yang terlihat kuno dan tidak modis.


"Jika kau ingin ku belikan baju atau keperluan lain bilang saja. Aku punya cukup uang untuk sekedar beramal, ah maaf maksudku menafkahi putrimu." lanjutnya terdengar menohok.


Dia tidak ingin menanggapinya, terserah ingin menghinanya seperti apa. Bagi Yardan tidak ada gunanya berdebat dengan orang bodoh. Menemuinya hanya sekedar pamer kekayaan dan melontarkan hinaan, sungguh menjijikkan. Kini Yardan semakin benci dengan sosok mantan istrinya. Dia tidak lebih dari seorang penjilat. Justru laki-laki itu bersyukur telah dipisahkan dari wanita seperti Emma. Ibu yang buruk telah menelantarkan anaknya begitu saja. Meminta cerai ketika tahu penyakit yang diderita Jasmine. Karena akan merepotkan kedepannya, dia memilih mengakhiri hubungan. Ditambah lagi kondisi perekonomian dibawah rata-rata, membuatnya stres dan tertekan.


"Ayah, ayo kita pulang. Jasmine tidak mau bertemu dengan Ibu," rengek nya.


Yardan mengusap punggungnya. "Iya sayang, kita-,"


"Ah maaf, aku lama ya?" ujar Deline menghampiri keduanya.


Emma menatap gadis itu dari ujung rambut hingga kaki. Dia tersenyum tipis menebak hubungan mereka. Deline ikut menatap wanita itu, perasaan aneh mulai menerjang dirinya. Sesuatu tak biasa sedang dia rasakan. Yardan segera mengajaknya untuk pergi, dia tidak ingin berlama-lama berada disekitar wanita menyebalkan itu. Jika terus diladeni sifat buruk Emma semakin menjadi-jadi.


Kalian pasti bertanya-tanya bagaimana pertemuan keduanya bukan? Jadi mereka berpacaran semenjak duduk di bangku SMA. Emma adalah kakak kelas Yardan, mereka saling jatuh cinta ketika mengikuti ekstrakulikuler yang sama. Hubungan berjalan dengan baik sehingga rasa cinta yang besar membuat keduanya lupa diri. Emma hamil diluar pernikahan. Saat itu dia masih duduk di kelas 3, sedangkan Yardan berada dibawahnya. Kejadian yang berimbas pada masa depan, membuat mereka berhenti sekolah dan berakhir pada pernikahan yang tidak diinginkan dalam usia muda.


Semenjak peristiwa itu kedua belah pihak keluarga mereka melepas tanggungjawab dan membiarkan hidup mandiri. Pada masa itu Yardan bersusah payah untuk menafkahi istrinya, bekerja sebagai petugas kebersihan. Memungut sampah dari pinggir jalan, kemudian beralih sebagai tukang kebun di sebuah sekolah. Semua dia lakukan demi menyambut kehadiran buah hatinya.


Mau mengeluh pun tidak ada gunanya. Berani berbuat berani bertanggungjawab, benar begitu kan? Penyesalan terbesar dalam hidup Yardan adalah telah mengecewakan kedua orangtuanya. Laki-laki bodoh yang telah menghancurkan masa depan seorang gadis. Yardan merasa dia tidak pantas dimaafkan atas semua kelakuan buruk yang telah diperbuatnya di masa silam.


Deline melirik Jasmine yang dipangku oleh ayahnya. Epilepsi anak itu kambuh saat berada di perjalanan pulang, tentu saja membuatnya panik. Jasmine tak sadarkan diri, hingga sekarang Deline masih kalut dalam kekhawatirannya terhadap anak itu. Pengalaman pertama melihat seseorang kejang-kejang karena kelainan genetik yang dideritanya.


Melihat kondisi Jasmine seperti itu membuatnya tidak tega. Dia memikirkan bagaimana perasaan Yardan ketika mendapati putrinya dalam keadaan abnormal. Sebagai orang tua pastinya merasa sedih. Selama ini hanya obat penenang sebagai penetralisir penyakitnya, dan entah berdampak apa jika dikonsumsi dalam jangka panjang.


"Apa sebaiknya kita pergi ke rumah sakit, Pak?" Pertanyaan yang tertahan akhirnya keluar.


"Tidak, aku sudah memberinya obat. Kau tidak perlu cemas—pesanku jika sewaktu-waktu Jasmine mengalami hal seperti ini tanpa hadirnya diriku, tolong kau berikan obat kepadanya ya? Itu akan membuatnya tenang."


Seharian ini cuaca sedang terik, saat malam hari pun terasa gerah. Selepas mengantarkan keduanya pulang, Deline memutuskan untuk berenang. Kolam renang yang tersedia di rumah sang kakak membuatnya penasaran beberapa hari ini. Dan sekarang waktu yang tepat untuk mencobanya. Menikmati segarnya air dimalam hari.


Suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya. Deline berpikir kakaknya sudah pulang, tapi itu salah. Semakin lama didengarkan suara itu seperti dibuat-buat. Seolah seseorang memainkan pintu tersebut dengan cara di buka dan di tutup secara terus menerus. Gadis itu menghentikan kegiatannya, dia meraih handuk dan menghampiri sumber suara tersebut.


"Kak Dan?"


Angin berhembus menekan kulit nya. Atmosfer dingin menyelimuti suasana ruang tengah. Oke, tak salah lagi makhluk yang kemarin kembali menunjukkan eksistensinya. Deline membuang nafas panjang, dia tahu ada kehadiran sesuatu yang tak diundang. Sudahlah, lebih baik sekarang mandi dan beristirahat. Tidak ada gunanya meladeni makhluk usil itu.