Pulchritude Case

Pulchritude Case
Page 19



"Kami akan melakukan rontgen untuk memastikan penyakit yang diderita pasien. Ada gangguan di paru-parunya, kami menduga itu adalah edema paru."


Deline melirik kakaknya tengah berbaring diatas ranjang dalam keadaan tak sadarkan diri. Dia menggigit bibirnya karena merasa gelisah. Pernyataan yang dokter layangkan membuatnya takut, sebagai orang awam yang tidak paham dengan jenis penyakit seperti itu membuatnya overthingking. Gadis itu menunggu sendirian di rumah sakit hingga menjelang pagi seperti sekarang. Dia sudah menghubungi ayahnya, tapi beliau belum datang.


Edema paru adalah kondisi medis serius yang terjadi ketika kelebihan atau penumpukan cairan mulai mengisi udara di paru-paru. Ketika terisi dengan cairan, alveolus tidak dapat menambah oksigen atau mengeluarkan karbondioksida dari darah. Itulah kenapa Danesh kesulitan untuk bernafas, ditambah lagi dia seorang perokok berat. Merokok bisa memicu penyakit paru-paru dengan merusak saluran udara dan kantong udara kecil (alveoli).


"Apa kata dokter?" Kevin mendadak muncul. Raut wajahnya menunjukkan kecemasan.


"Kak Kevin-," Dialah yang menghubungi intelijen itu. "Dokter bilang, kemungkinan Kak Danesh terdiagnosis edema paru. Mereka akan melakukan rontgen untuk memastikannya."


Kevin meremas rambutnya secara kasar. Inilah ketakutannya tentang penyakit yang diderita Danesh. Dan benar, kondisinya tampak menyedihkan. Ventilator yang menempel pada hidungnya, menambah rasa khawatir. Ketika dokter telah melakukan hal itu berarti kondisinya sudah parah. Dia memakai alat bantu pernapasan—menandakan bahwa penyakit yang dideritanya sudah kronis. Oh, Ya Tuhan tolong bantu Danesh melewati masa-masa seperti ini.


Dia bercerita banyak tentang gejala awal yang dirasakan sahabatnya itu kepada Deline. Namun, Danesh begitu keras kepala dan menyepelekan hal tersebut. Sudah berkali-kali Kevin menyuruhnya untuk memeriksakan diri ke dokter, tapi laki-laki itu hanya mengiyakannya. Deline cukup terpukul mendengar cerita yang diungkapkan oleh Kevin. Dia tidak menduga jika kakaknya ternyata seorang perokok berat dan telah merasakan gejala itu selama bertahun-tahun.


"Kak Dan, aku minta maaf." gumam Deline seraya menggenggam tangan sang kakak.


Dia menyandarkan kepalanya pada ranjang Danesh, perlahan matanya mulai terpejam. Sementara intelijen itu termangu memikirkan segala hal yang berkecamuk di dalam kepalanya. Rasa takut, cemas dan khawatir bercampur menjadi satu sehingga membuat hatinya gelisah. Dia takut jika ucapan Danesh ... tunggu! Apa gadis itu tertidur? Kevin beranjak dari tempat duduk, dia menghampiri Deline untuk memastikan bahwa anak itu benar tidur dengan posisi duduk.


"Kak-," Deline mendongak ketika merasa ada seseorang yang menyelimuti punggungnya menggunakan jaket.


Kevin terkejut. "Aku pikir kamu tidur,"


Deline menggeleng, dia menatap kembali sang kakak. Terlihat jelas bahwa gadis ini sangat menyayangi kakaknya, Kevin bisa menilai sendiri. Dari caranya menatap Danesh menunjukkan rasa cemas dan kekhawatiran yang besar. Sekarang dia sadar, memang benar hubungan persaudaraan diantara keduanya terjalin dengan baik. Padahal mereka pernah berpisah selama bertahun-tahun lamanya.


"Kalau kamu ngantuk, tidur saja di sofa. Biar aku yang menunggunya," ujar Kevin.


"Tidak apa-apa. Aku tidak bisa tidur,"


"Deline, dengarkan aku. Istirahatlah, aku akan membangunkan mu saat Danesh sadar nanti."


"Janji ya?" Deline mengacungkan jari kelingkingnya. Laki-laki itu mengangguk, perlahan menautkan jari mereka.


Jika kalian bertanya, kok bisa mereka dekat? Sebenarnya mereka tidak dekat, keduanya baru kenal beberapa hari yang lalu. Deline tahu siapa Kevin dari cerita kakaknya. Bukan masalah perjodohan, tapi Danesh mengenalkan Kevin sebagai sahabat terdekatnya.


🌤️SUNDAY MORNING🌤️


Ini sudah pagi, tapi dia masih betah dalam dunianya. Entah sampai kapan Danesh akan kembali ke dunia nyata untuk sekedar melegakan hati keluarganya. Kenapa lama sekali jiwanya kembali pada tubuh itu? Ada apa di sana, apa di sana lebih menyenangkan dibanding di dunia ini? Detak jantungnya menunjukkan kenormalan, dokter sudah memeriksa kondisinya beberapa menit yang lalu. Kini tinggal menunggu dia sadarkan diri. Hasil rontgen akan keluar besok malam, dan mereka akan tahu penyakit apa yang sebenarnya diderita oleh Danesh.


Mesin elektrokardiogram tiba-tiba menunjukkan ketidakstabilan. Suara beep memanjang disertai garis hijau pada layar terlihat naik turun. Deline dan Kevin panik, salah satu dari mereka memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Danesh. Laki-laki itu membuka mulut dengan bernapas tersendat-sendat serta matanya melotot. Tidak butuh waktu lama, dokter segera mengambil tindakan dengan menempelkan alat pacu jantung untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.


Deline gemetar melihat kondisi kakaknya dalam keadaan kritis seperti itu. Tak luput air matanya terus mengalir membasahi pipi. Sangat sakit ketika orang paling berharga dalam hidupnya harus bertarung melawan penyakit seperti sekarang. Danesh sedang berjuang keras untuk melawan rasa sakitnya. Dia ingin kembali dan melihat adiknya lagi, tapi penyakit itu sudah terlanjur menggerogoti tubuhnya. Rasa panas dan sesak sedang dirasakan oleh Danesh. Sangat sakit, benar-benar sakit. Bisakah dia memeluk adiknya sebentar saja? Bisakah dia melihat Deline walaupun hanya sedetik?


"Kami mohon maaf-,"


"Tidak! Tidak! Aku tidak mau mendengarnya,"


"Tuan Dilbara tidak mampu melawan penyakitnya,"


Gadis itu jatuh pingsan setelah mendengar dokter menyatakan bahwa kakaknya meninggal. Dia tidak kuasa, seolah separuh jiwanya hilang bersamaan dengan perginya Danesh. Tidak hanya gadis itu yang syok, tapi Kevin juga. Dia ikut lemas dan menangis penuh kesedihan atas kepergian sahabatnya. Pihak keluarga pun merasa frustasi sambil menyesalkan kepergiannya. Kenapa harus sesingkat ini jatah hidup Danesh? Dia bahkan belum mencicipi altar pernikahan. Belum juga menyaksikan adiknya menikah suatu hari nanti.


Tidak ada yang bisa melawan takdir Tuhan. Mungkin semua ini adalah jalan terbaik untuknya. Sang Maha Pencipta jauh lebih tahu keputusan yang terbaik untuk Danesh. Dia adalah golongan orang-orang baik, sudah menjadi hal umum jika orang baik akan pergi lebih dulu. Dunia ini terlalu keras untuk Danesh, sudah cukup perjuangannya selama ini. Dia sudah mencapai titik tertinggi seperti yang diinginkannya. Danesh sudah bertanggungjawab serta berperan hebat sebagai seorang laki-laki dan kakak.


Penyebab meninggalnya laki-laki itu karena gagal jantung yang dialami Danesh. Gangguan itu dapat terjadi karena ventrikel kiri tidak mampu memompa masuk darah dalam jumlah yang cukup, sehingga tekanan didalam atrium kiri serta pembuluh darah di paru-paru meningkat. Penyakit yang terdiagnosa pada diri Danesh merambah ke jantung, dan pada akhirnya berujung kematian. Bukan menyalahkan dia, tapi laki-laki itu terlalu menganggap sepele gejala yang dialaminya selama ini.


"Ini semua karena kehadiranmu bersama kami." kecam Natha bermaksud menghakimi Deline.


Gadis itu tidak percaya dengan apa yang ayahnya ucapkan. Tega-teganya dia berkata seperti itu. Semua kerabat yang hadir di dalam upacara pemakaman kakaknya juga melakukan hal yang sama. Mereka membicarakan Deline seolah dia pembawa sial atas kematian Danesh. Mereka menatapnya penuh kebencian.


"Mulai besok tinggalkan rumah itu dan kembalilah ke Canada. Aku tidak bisa-,"


"Tunggu, apa maksudmu?" lancang Arnold. Dia hadir dalam pemakaman itu.


Natha berbalik badan. "Hei, kau jangan ikut campur."


"A-apa?" Dia terkejut membaca isi tulisan tersebut.


Arnold merampas kertas itu, lalu memberikannya kepada Deline. "Danesh memintaku untuk membalik nama sertifikat tanah menjadi milik adiknya. Kau tidak punya hak untuk mengusirnya dari rumah itu,"


Deline terkejut begitupun orang-orang yang hadir. Sementara Natha mendengkus panjang karena merasa tidak terima. Dia terus menggencarkan kata-kata sarkas kepada putrinya. Natha sangat tidak terima saat mengetahuinya. Sekarang kita paham, ternyata tujuan Danesh memberikan hak waris tersebut karena dia merasa bahwa hidupnya tidak akan lama lagi.


"Aku putri kandungmu, tapi ayah tidak menganggapnya seperti itu." Deline mencurahkan isi hatinya.


Natha diam ditempat sembari melirik gadis disampingnya.


"Ayah menyuruhku kembali ke Canada, sedangkan di sana aku sudah tidak punya siapa-siapa." Dia menatap sang ayah. Pria itu sedikit tertegun mendengarnya.


"Ibu sudah meninggal, lantas dengan siapa lagi jika aku tidak kembali kepada ayah kandungku sendiri." lanjutnya sambil menangis.


Sorot mata Natha ikut terkejut. Namun, dia tidak menunjukkan reaksinya secara langsung. Pria itu justru memilih pergi dan mengacuhkan Deline. Gadis itu semakin menangis, rasanya sangat sakit diabaikan oleh ayah kandungnya sendiri seperti ini. Benar, untuk sekarang dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Ibu dan kakaknya pergi untuk selamanya. Suatu hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Orang-orang paling disayangi begitu tega meninggalkannya sendirian.


Deline keluar dari ruang upacara pemakaman. Berlari ke halaman belakang dan menangis sejadi-jadinya. Kesedihan yang dialami Deline begitu menusuk ke hati, tidak ada cara lain lagi selain menangis. Kevin menghampirinya—dia memegang pundak gadis itu, kemudian menariknya ke dalam pelukannya. Tidak peduli bagaimana reaksi dari Deline, dia tahu gadis itu sangat membutuhkan bahu untuk bersandar dan meluapkan kesedihannya. Kevin mengerti betapa hancurnya perasaan Deline untuk saat ini.


"Kenapa! Kenapa! Kenapa!" Jemarinya meremas kuat jas yang digunakan Kevin.


"Luapkan segala kesedihanmu. Tidak apa-apa, menangis lah. Aku paham betul bagaimana perasaanmu sekarang, Deline.


...🥀Only God knows where you are now🥀...


...🍃Goodbye, Danesh Dilbara🍃...


     


Deline melangkah masuk kedalam rumah. Tangannya meraba saklar lampu—sekarang sepi. Hanya dia dan bayangannya yang tinggal di rumah seluas ini. Pemakaman telah rampung lima jam yang lalu, tapi gadis itu memilih pulang terlambat dengan duduk merenung di samping makam Danesh selama berjam-jam. Menaburkan bunga, berdoa dan mengusap-usap batu nisan sang kakak. Ucapan belasungkawa terus dikirimkan oleh teman, kolega dan sebagian orang yang mengenalnya. Mereka mengirimkan rangkaian bunga sebagai wujud kepedulian.


Bel berbunyi—seseorang tengah mematung di depan sana menunggu sang tuan rumah membukakan pintu. Deline mengintip dari balik tirai—Danesh? Tidak, ini salah. Kakaknya telah meninggal—pintu diketuk secara kasar beriringan dengan munculnya hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Gadis itu berjalan mundur, situasi semakin menegangkan ketika lampu di seluruh ruangan padam secara mendadak. Rintihan seseorang meminta tolong terdengar dari luar sana. Deline dapat merasakannya bahwa ada sesuatu yang mencoba menakutinya.


"Pergi!" teriaknya.


Salah satu lampu duduk menyala dengan sendirinya. Dari atas terdengar suara seseorang merayap diatas plafond. Dia mendongak, makhluk di atas sana bergerak lincah kesana-kemari. Vas bunga terjatuh—pintu kamar Danesh tiba-tiba terbuka. Sebuah bayangan mendekat kearahnya, Deline ketakutan—berlari menuju kamarnya dan segera menutup pintu. Degup jantungnya berdetak kencang, bulu kuduknya mulai berdiri. Bukan, makhluk itu bukan 'dia' yang selalu mengusili nya. Aura dingin dan gelap sedang Deline rasakan. Ini berbeda, entah apa itu yang jelas dia sangat berbahaya.


Saat Deline bersandar pada pintu kamarnya, tiba-tiba pintu tersebut seperti dibuka paksa oleh energi yang sangat kuat. Gadis itu tersungkur, dan mendapati seorang wanita yang pernah dilihatnya sedang menatapnya dengan tatapan kosong. Kedua tangannya terangkat lurus ke depan. Moment ini mengingatkan Deline pada kejadian di restoran waktu itu—sama persis. Dan juga ... aroma ini? Sebenarnya wangi apa yang muncul bersamaan wanita itu.


"Ikutlah denganku ... anak wangi." ucapnya lirih. Hampir tidak terdengar.


"Pergi!" Deline bergerak mundur dengan posisi terduduk.


Dia mendekat—dengan sekali tindakan, wanita itu mencekik lehernya. Tubuh Deline terangkat keatas, sementara makhluk itu tersenyum lebar karena merasa bahagia melihat targetnya dalam posisi hampir mati. Makhluk dengan tampilan wajah pucat, rambut panjang serta mulutnya mengeluarkan darah yang menetes hingga lehernya. Tidak terlalu menyeramkan, tapi energi negatif yang dipancarkan olehnya terasa sesak dan sangat kuat. Gadis itu berusaha lepas dengan memukul-mukul tangannya, sementara kakinya bergerak maju-mundur.


"To-long!"


"Kamu lebih nikmat dari bocah-bocah itu, anak wangi ku."


"Enyah darinya, wahai iblis!" pekik sesosok makhluk lain. Seketika wanita yang mencekiknya terhempas hingga menembus ruangan lain.


Deline terjatuh ke lantai secara kasar. Sosok makhluk berpakaian gaun pengantin menembus dinding dan menghampiri wanita tadi. Dari kilatan matanya menunjukkan amarah yang membara. Dia tidak terima jika anak idamannya diganggu atau berusaha direbut oleh makhluk lain. Nafas gadis itu tersengal-sengal, rasa tertekan dilehernya terasa sesak. Deline mencoba mengatur nafasnya. Ini sangat sakit dan mengejutkan. Dia hampir mati ditangan wanita itu.


Terdengar suara kegaduhan dari ruangan disebelah kamarnya. Deline ingin melihat apa yang terjadi, tetapi tubuhnya cukup lemas untuk berdiri. Dia hanya mendengar seseorang tengah bertengkar menyebutkan iblis biadab dan aroma tubuhnya. Sungguh dia tidak mengerti apa yang mereka ucapkan, terakhir dia mendengar seseorang berteriak keras ingin membalas perlakuan dari wanita yang menyebut dirinya sebagai anak idaman.


"Apa yang telah kau lakukan sehingga iblis seperti dia tahu jika kau adalah anak wangi. Setelah seperti ini, aku tidak yakin jika hidupmu akan senantiasa aman. Dia akan terus menganggu dan menginginkan jiwamu."


Deline tertegun. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan oleh makhluk itu. Apa maksudnya anak wangi? Dan kesalahan apa yang telah dia perbuat—iblis siapa yang dimaksud? Oh, entahlah. Ini membingungkan, kepalanya terasa berat untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Deline sudah tak kuasa menahan rasa pusing yang menyerang kepalanya, perlahan dia tak sadarkan diri di samping rak buku. Tidak peduli jika siapa dan apapun itu yang berusaha menculik atau menyeretnya keluar. Kesadarannya perlahan hilang—sebelum memejamkan mata, dia melihat seorang laki-laki berlari menghampiri dan memanggil namanya.


"Kak Dan-,"