
Jemari Jasmine menggenggam tangan Yardan, suara mesin EKG menemani kesabarannya menunggu sang ayah sadarkan diri. Hujan diluar sana tiada hentinya seharian ini, cuaca buruk hadir tanpa menyapa. Kekhawatiran akan kondisi ayahnya yang tak kunjung membuka mata membuat Jasmine takut. Mereka baru saja mengalami kecelakaan. Saat menjemput sang anak, Yardan terserempet mobil sehingga membuatnya pingsan. Sementara Jasmine, dia mengalami luka lecet di beberapa bagian tubuhnya. Beruntung mereka bertemu dengan orang baik yang membawa keduanya ke rumah sakit.
"Jasmine?"
Deline lah yang menolong mereka. Setengah hari dia menghabiskan waktunya bersama korban tabrak lari. Gadis itu tidak tega melihat keduanya jika harus ditinggal begitu saja. Setelah berkenalan dengan Jasmine dia mulai akrab dengannya. Anak itu sedikit bercerita tentang kehidupannya dengan sang ayah.
"Ayo, makan dulu."
Jasmine menggeleng. Dia tidak nafsu makan karena memikirkan kondisi sang ayah. Deline mengusap rambutnya, dia meyakinkan Jasmine bahwa ayahnya akan baik-baik saja. Finally, anak itu menurut. Kejadian tadi mungkin membuatnya trauma, melihat Yardan terseret mobil sejauh 2 kilo meter.
"Kapan Ayah akan bangun, Kak?"
"Sebentar lagi pasti bangun."
Setiap pertanyaan polos yang dia lontarkan kepada Deline membuatnya tersenyum. Jasmine anak pintar, mengerti bahasa Inggris saat pertama kali Deline mengajaknya bicara. Yardan membuka mata—menatap langit-langit ruangan, kemudian menoleh kearah Jasmine sedang disuapi seorang wanita.
"Jasmine?"
Anak itu menoleh, dia memasang senyum lebar melihat ayahnya telah sadarkan diri. Jasmine memeluk Yardan dengan penuh syukur.
"Ayah sudah bangun—Kak, Ayah sudah bangun. Apa Ayah merasa sakit?" Yardan menggeleng.
Dia mencoba bersandar. "Anda siapa?"
"Perkenalkan saya Deline. Saya yang membawa Bapak ke rumah sakit,"
"Kak Deline orang baik Yah," imbuh Jasmine.
"Lalu bagaimana dengan mobil yang menyerempet kita?"
"Bapak tenang saja, polisi sedang mengejarnya."
Yardan mengerutkan kening, dengan kondisi seperti ini tentu saja akan mengeluarkan dana pengobatan. Hangus sudah tabungannya yang direncanakan untuk membayar guru private bagi Jasmine. Laki-laki itu tersenyum tipis sambil mengusap kepala sang anak, janjinya untuk menepati tujuan itu gagal lagi. Lengannya retak akibat kecelakaan tadi, sudah dipastikan sementara waktu akan cuti bekerja. Bagaimana kesehariannya setelah ini? Siapa yang akan memasak untuk Jasmine? Ah, susahnya menjadi orang tua tunggal. Yardan ingin menangis merasakan cobaan hidupnya.
"Nona, terimakasih banyak atas bantuan mu. Namun, aku dan Jasmine tidak bisa terus berada di sini. Besok aku akan pulang,"
"Tapi kondisi Bapak-,"
"Tidak masalah, beberapa hari lagi pasti sembuh."
°°°
Di ruangan interogasi, Kevin sedang menunggu seseorang. Sedari tadi dia memasang senyuman tipis. Tangannya memainkan sebuah pulpen, dia sudah tidak sabar menunggu orang itu. Tak lama kemudian seorang polisi mendorong paksa Jaksa Val dengan kondisi tangan diborgol.
"Hai, bagaimana kejutannya?"
Val tersenyum miring.
"Ceritakan kepadaku untuk apa mayat-mayat itu? Kau memakannya—terdengar menjijikkan bukan? Image mu di mata masyarakat sebentar lagi akan-," Kevin mempraktekkan benda jatuh.
"Tuduhan yang tidak berbobot sama sekali. Hanya sekali melihatku dengan penampilan seperti itu kau langsung menetapkanku sebagai penjahat? Lucu sekali polisi ini."
Sebenarnya Val juga kaget ketika mendapat surat penahanan. Dia bingung kesalahan apa yang telah diperbuatnya. Para polisi menghampiri dan membawanya dengan paksa. Dia cukup malu karena beberapa awak media mewawancarainya tentang kasus ini. Val tidak menyangka jika orang yang ditemuinya beberapa hari yang lalu berniat menjatuhkannya.
"Seorang jaksa terkenal rupanya pencuri mayat. Dengan tujuan persembahan bagi iblis yang selama ini berkonspirasi denganmu untuk mendongkrak popularitas, benar begitu?"
Val tertawa. Lelucon apalagi ini, kenapa pria dihadapannya terdengar konyol. Dia tidak habis pikir dengan tuduhan yang Kevin lontarkan. Sungguh gila, selama Val hidup dia tidak pernah mengerti apa itu konspirasi dengan makhluk gaib. Ya, hal seperti itu memang ada di dunia, tapi Val tidak pernah mengerti bagaimana caranya. Untuk apa meminta bantuan kepada makhluk astral, sedangkan kaki dan tangannya masih bisa mendapat kepopuleran itu.
"Kebodohan apalagi ini? Lucu sekali—untuk apa aku menggunakan makhluk-makhluk itu hanya demi popularitas? Dan bukti apa yang kau miliki, sudahlah sebaiknya aku mendekam di ruang tahanan saja bersama para kriminal itu." Val beranjak sambil terkekeh geli.
"Bukti ya?"
Tepat saat Kevin mengatakannya, seorang pria masuk ke dalam ruangan. Dia mencuri pandang saat berhadapan dengan Val. Yap, dia adalah salah satu anak buahnya yang kabur saat di pemakaman. Sial, apakah bedebah ini telah mengatakan semuanya? Mendadak tubuh Val membeku ditempat.
"Bukankah dia sudah cukup bagus untuk dijadikan saksi?" Kevin berdiri didepan Val dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
°°°
Bau obat-obatan dalam rumah sakit, bunyi ranjang beroda yang didorong serta suara para dokter dan perawat yang membahas pasien tertentu membuatnya tidak nyaman. Hari yang ditunggu telah tiba, Yardan segera bergegas keluar dari ruangan dan membayar biaya pengobatannya. Dia terkejut saat suster mengatakan bahwa biaya pengobatan telah di lunasi oleh seseorang tanpa menyebutkan namanya.
Yardan berpikir apakah pelaku tabrak lari telah bertanggungjawab atas kelakuannya? Ah entahlah, dia berterimakasih dan bersyukur atas keringanan ini. Bersama dengan Jasmine melangkah keluar dari rumah sakit. Menghirup udara segar yang tidak terkontaminasi oleh obat-obatan. Mobil hitam menepi di hadapan Yardan dan Jasmine, menampilkan seorang wanita yang dikenalnya.
Bapak satu anak itu menolaknya dengan halus, dia tidak ingin merepotkan Deline lagi. Namun, Jasmine merengek untuk ikut dengannya. Terpaksa dia menuruti kemauan sang anak. Yardan tidak mengerti kenapa gadis ini selalu muncul di depan mereka. Pertolongannya kemarin saja sudah cukup, dan sekarang dia memberi tumpangan kepada keduanya. Laki-laki itu tak hentinya mengucap terimakasih kepada Deline.
"Jasmine hari ini tidak masuk sekolah ya, karena Ayah sakit." Anak itu mengangguk.
"Rencananya aku ingin Jasmine menjalani sekolah di rumah bersama guru private, tapi entah kapan." sahut Yardan dari kursi belakang.
"Home schooling maksud Bapak?"
"Entah apa namanya, mungkin iya. Beberapa kali melihat Jasmine di tindas oleh teman-temannya membuatku tidak tega. Aku khawatir dengan kesehatan mentalnya,"
Itu benar, Deline telah mendengarnya dari Jasmine. Kemarin dia melihat permen karet menempel pada rambutnya. Saat ditanya, anak itu menjawab bahwa teman-temannya yang melakukan tindakan nakal tersebut. Dari itulah Deline mengerti jika Jasmine mengalami penindasan di sekolahnya, tetapi entah karena alasan apa. Padahal Jasmine gadis cantik dan pintar, dia juga terlihat mudah bergaul.
"Jika Bapak mengizinkan, bolehkah saya mengajukan diri sebagai guru private bagi Jasmine? Kebetulan saya seorang guru yang mengajari anak-anak home schooling," sambil menyetir dia menyodorkan kartu namanya kepada Yardan.
Seketika matanya berseri-seri. "Ini serius? Kau seorang guru private? Wah aku tidak menyangka secepat ini mendapatkan guru bagi Jasmine,"
"Tapi Nona-," lanjutnya menggantung.
"Kenapa, Pak?
"Sebelumnya aku minta maaf jika uang muka untuk membayar mu kurang separuh, tapi aku janji akan segera melunasinya."
Deline tersenyum, lalu menyahutinya. "Itu gampang, Pak. Saya melakukan ini dengan tulus dan ikhlas. Lagipula kita juga sudah saling kenal bukan?"
Kilatan bahagia yang terpancar di wajah Yardan tiada habisnya. Dia sangat senang, akhirnya Jasmine akan bebas dari tekanan mental yang selama ini dirasakan. Bapak satu anak itu merasa bersyukur telah dipertemukan dengan gadis baik seperti Deline. Dia juga terlihat seperti gadis penyabar, sangat cocok sebagai wali anaknya. Mereka berdua juga akrab dan nyambung, Yardan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Sebelum berpamitan pulang, Deline memberikan bingkisan berupa olahan instan untuk memudahkan Yardan menyiapkan makanan. Karena tangan kanannya sedang bermasalah, jadi secara inisiatif Deline ingin mereka menjalani kesehariannya tanpa kesulitan. Melihat kondisi single parent pasti sulit menjalani hari-harinya tanpa seorang pendamping.
Deline masuk ke dalam rumah dengan hati bahagia. Kesempatan perdananya untuk membimbing seseorang membuat gadis itu semangat. Beberapa hari yang lalu dia telah menerima sertifikat mengajar, jadi waktunya untuk bekerja sebagai guru private.
"Del, kau darimana?" Danesh mengejutkannya.
"Astaga, Kak Dan. Bikin jantungan—em itu jalan-jalan,"
"Kakak ada berita bagus untukmu,"
"What's that?"
"Keponakan temanku mencari seorang guru private, jadi kau harus menerimanya. Ini kesempatan yang bagus untuk menunjukkan skill mu—kau tahu? Mereka dari keluarga pejabat," bisik Danesh diakhir kalimat.
Deline menggigit bibirnya. "Tapi Kak, maaf banget aku sudah dapat seorang murid. Baru saja kita membuat kesepakatan,"
"Ha? Siapa?" Danesh mengekor di belakang Deline.
"She is Jasmine, the daughter of the person I helped yesterday. A girl with a genetic disorder, I feel sorry for her. She is often bullied by her friends at school, so her father took the initiative to make her daughter undergo home schooling." jawab Deline sambil menata buku-bukunya di atas meja.
"Bayaran yang kau terima sesuai dengan ketentuan kan?"
"Em—aku memberi mereka keringanan untuk tidak membayar utuh. Mereka keluarga kurang mampu, jadi aku melakukan itu."
Danesh merasa tidak terima. "Tapi Del, ini bisnis. Seharusnya kau menetapkan harga utuh seperti pada umumnya—begini saja, lupakan mereka dan terima anak pejabat itu sebagai murid mu."
"What? Tidak bisa Kak Dan, aku minta maaf."
"Deline, kau sedang tidak beramal untuk keluarga miskin kan?"
Gadis itu merasa tidak nyaman ketika sang kakak mengatakan hal yang kurang pantas.
"This is not charity or business, but about humanity. Your words are like you're looking down on them." cerca Deline.
"Whatever, do as you please. You really don't understand," Danesh ikut terbawa suasana. Dia merasa kecewa dengan sikap adiknya.
Ini perdebatan pertama mereka tentang suatu hal yang tidak sepemikiran. Niat Danesh cukup baik langsung mempromosikannya untuk mengajar anak pejabat, dengan tujuan supaya Deline lebih banyak bergaul bersama orang-orang terpandang. Secara otomatis status nya akan dilihat sangat baik bagi sebagian orang. Sedangkan Deline, dia ingin memberikan kesempatan terbaik bagi Jasmine untuk menjalani home schooling.
Dia tidak ingin jika anak itu terus di tindas oleh teman-temannya. Sudah menderita kelainan genetik, tega kah melihatnya digempur tekanan mental? Potensi anak itu juga cukup mumpuni dalam beberapa mata pelajaran. Sangat disayangkan jika Jasmine harus mengalami tekanan mental yang akan mempengaruhi minat belajarnya. Lagipula mereka juga benar-benar butuh sosok guru private.
"Remember when you seduced me to join you for dinner? Yes, I didn't ask for an item or anything else. I just asked you to support this decision,"
Danesh seperti bidak catur yang ter-skak. Dia bahkan hampir lupa tentang janjinya, tetapi Deline memanfaatkan kesempatan itu agar dia luluh. Oke, adiknya memang cerdik untuk menjebak dirinya. Seorang laki-laki tidak boleh menarik kembali apa yang telah diucapkan.