
"Nona, Tuan Val menunggu di depan."
Deline menoleh sambil menyibakkan rambutnya. "Suruh masuk saja, Bi."
"Baik, Nona."
Val Destavin membuka pintu kamar calon istrinya. Dia memasang senyuman manis ketika mendapati gadis itu berdandan cantik didepan cermin. Oh, apakah dia seorang bidadari? Hati Val rasanya meleleh. Iman dan akal sehatnya telah rusak semenjak menjalin hubungan dengan Deline. Ini mengerikan, dia khawatir jika sewaktu-waktu dokter mendiagnosa gangguan jiwa pada rohaninya.
"Kenapa tidak langsung masuk saja, kan sudah biasa kamu keluar-masuk rumah ini." ucap Deline dari ujung sana.
"Hari ini aku ingin bersikap sopan."
"Ha?" Deline merasa heran. Berarti selama ini dia tidak sopan begitu? Hahaha, dasar aneh.
"Ngomong-ngomong, kenapa si berandal itu terus saja mengirimi mu bunga?"
Sebelum Val melangkahkan kakinya menuju halaman rumah itu—Adrian datang dan menitipkan dua buket bunga mawar putih kepada Val. Pemuda itu bilang, bunga tersebut untuk Deline. Dan ini sudah menjadi yang kesekian kalinya dia menerima bunga titipan untuk sang kekasih. Yah ... sebenarnya Val merasa cemburu, untuk apa pemuda itu terus memberi Deline bunga. Namun, laki-laki itu selalu lupa untuk menanyakannya. Bukan lupa, tapi gengsi lebih tepatnya. Dia takut jika Deline mengerti bahwa dia sedang cemburu.
"Aku yang memintanya."
"Untuk apa sih meminta bunga dari berandal itu? Jika kau ingin bunga aku bisa membelikannya bahkan beserta kebunnya."
Deline terkekeh. "Sayang, aku sudah membuat kesepakatan dengan Adrian supaya mengirimiku bunga setiap bulannya—untuk kubawa ke makam Kak Danesh dan Jasmine."
"Bukan untukku sendiri." lanjutnya, kemudian dia menghampiri Val. "Kamu cemburu ya?"
Val membuang muka. Gadis itu terkekeh geli melihat ekspresi wajah kekasihnya yang terlihat malu-malu.
"Sebelum ke rumah Mama, kita mampir dulu ya ke makam mereka."
Laki-laki itu berdiri. Dia mengangguk mengiyakan, kemudian mereka segera bergegas untuk pergi. Mereka akan segera melangsungkan pernikahan dalam beberapa hari lagi, dan acara tersebut akan diadakan ditempat kelahiran Val yaitu di rumah Diva yang berada jauh dari kota besar ini. Acara pernikahan yang hanya akan dihadiri oleh kerabat dan teman-teman terdekat mereka. Deline menginginkan pernikahan sederhana, tapi sangat berkesan.
Pukul sembilan malam lebih lima menit akhirnya mereka sampai di rumah Diva. Wanita itu menyambut kedatangannya dengan penuh sukacita. Dia sudah merindukan menantunya itu. Cukup lama tidak bertemu karena keduanya sama-sama memiliki kesibukan yang memakan banyak waktu.
"Oh, menantuku. Kamu semakin cantik ya? Ibu suka dengan penampilanmu yang seperti ini," Diva memeluk Deline.
"Ih, Mama. Jangan memujiku seperti itu, aku jadi malu."
"Pelukan untuk Val?" laki-laki itu mematung dibelakang mereka sambil menenteng koper dan berbagai tas berisi barang-barang milik Deline. Entahlah, apa yang dia bawa. Gadis itu sudah seperti PSG perabotan.
"Tidak, aku hanya merindukan Deline. Bukan kau," celotehnya.
"Terserah," Val pasrah. Dia mengabaikan dua manusia baik hati itu. Yang satu ratu ular dan satunya lagi rapper gagal debut. Ya, ketika Deline marah dia akan mengomelinya seperti rapper, begitu cepat dan merusak gendang telinga.
"Kamu pasti capek kan?" Diva mengusap rambut Deline. "Mari ibu antar kan ke kamar kalian,"
Mendengar itu Val seketika menoleh. "Apa? Kamar kalian? Permisi, bisa diulangi?"
Diva mengabaikannya, sedangkan Deline terkekeh kecil melihat ekspresi terkejut yang terpancar dari wajah suaminya. Hei, ucapan ibunya mengejutkan Val. Selama ini dia belum pernah tidur bersama gadis manapun. Dia adalah tipe laki-laki bergengsi tinggi dan malu-malu untuk sekedar mengungkapkan perasaan.
Kalian tahu bagaimana Val mengutarakan perasaannya kepada Deline? Dia melakukannya dengan cara konyol. Menyuruh Diva untuk mengatakannya, sedangkan Val? Jangan tanya, dia berkeringat dingin, tangan gemetar dan berkali-kali harus ke kamar mandi karena merasa gugup. Benar-benar konyol. Val jarang sekali berpacaran, mungkin bisa dihitung dengan jari. Itupun terakhir kali dia pacaran saat duduk di bangku SMP.
"Hai, sayang. Sini tidur di sampingku." Deline melambaikan tangannya.
Val berjalan perlahan. Sungguh, ini adalah pengalaman pertama baginya. Dia duduk di sisi ranjang, kemudian mengangkat kedua kakinya untuk naik keatas sana. Menarik selimut dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur.
"Kenapa gugup? Sebentar lagi kita kan menikah, jadi kita harus terbiasa dengan kegiatan seperti ini." jawab Deline.
Itu benar. Dia harus bersikap santai dan tenang. Belajar dari sekarang untuk terbiasa tidur berdua dengan pasangan.
"Tidurlah. Ini sudah malam,"
"Sebentar lagi." Deline lebih mendekatkan diri kepada Val. Dia meraih lengan laki-laki itu, kemudian memeluknya.
"Sayang, aku ingin kamu memelukku. Agar aku bisa tidur," gadis itu mendongak sambil mengerucutkan bibirnya.
"Jangan manja, Dilbara. Tidurlah seperti biasa, menarik selimut, menutup mata dan tidur."
"Dasar jahat." cibirnya. "Kenapa sih kamu tuh selalu seperti ini? Tidak bisakah sekali-kali bertindak romantis untuk membuatku bahagia?"
"Bukan tidak bisa. Aku orangnya sensitif, jadi-," Val segera membungkam mulutnya. Sial, dia keceplosan mengatakan hal itu. Dalam hati mengumpat karena telah mengungkapkan kelemahannya.
Deline tersenyum genit kepadanya. Dia merasa gemas, kemudian memeluk Val dengan erat. Suaminya ini benar-benar lucu dan menggemaskan. Deline tidak menyangka jika menjalin hubungan dengan laki-laki seperti Val terasa menyenangkan. Dia menyembunyikan perasaannya dengan bersikap acuh dan dingin. Padahal sebenarnya laki-laki itu memiliki rasa cinta dan sayang yang besar, tapi malu untuk mengungkapkannya secara langsung. Hal seperti inilah yang disukai oleh sebagian wanita. Mereka merasa bahwa orang seperti Val adalah laki-laki misterius dan penuh tanda tanya.
"Jadi, maukah Val Destavin jika aku meminta ciuman darimu?"
"Sekarang?" Degup jantungnya berdetak kencang. Selalu saja begini, ketika ingin melakukan kegiatan itu. Oh, Val rasa dia memiliki riwayat jantung lemah.
"Nanti setelah kita jadi kakek nenek." cerocos Deline terdengar dongkol. "Terserah deh, aku mau-,"
Val menarik lengan Deline secara perlahan, kemudian menempelkan bibirnya dengan lembut. Akhirnya keberanian Val untuk memulai dulu berhasil dilakukan. Dia meraih tengkuk lehernya—ciuman semakin menuntun. Keduanya saling bertukar saliva dan bermain lidah. Oh, rasanya hangat dan candu. Bibir Deline membuatnya mabuk kepayang. Gak apa-apa kan jika Val menginginkan lebih dari sekedar ciuman?
Perlahan tangannya melepas kancing baju yang dikenakan oleh Deline. Belahan dadanya mulai terlihat—dan sekarang sudah seutuhnya gadis itu bertelanjang dada. Val menidurkannya dengan posisi senyaman mungkin. Tak lupa melepas kaosnya, kemudian kembali menciumi Deline. Dari leher hingga dada, memberi tanda cinta di sana.
"Show me what's your style for tonight, baby." bisik Val.
"Dengan senang hati, sayangku."
STOP YA! SILAHKAN DIBAYANGKAN SENDIRI KELANJUTANNYA, TERIMAKASIH 🤣
Hari bahagia telah tiba. Mereka telah mengucap janji suci secara sah dihadapan para tamu undangan. Deline melempar bunga kearah mereka-mereka yang tengah berkumpul untuk menantikannya. Bunga tersebut berhasil ditangkap oleh Tino, kemudian mereka bersorak. Tak lupa satreskrim itu memeluk sang kekasih yang berada disampingnya. Tak lain adalah Floryn. Iya, gadis itu sekarang telah bertunangan dengan Martino. Dia telah melupakan Val dan mengubur dalam-dalam perasaannya. Sekarang Floryn telah mendapatkan gantinya, jauh lebih manis dan sexy. Pasti karena lu pernah lihat badan L-Men nya Tino kan?
"Rambut Tino aku perhatikan cepat panjang anjir." Heran Gavin. Dia memperhatikannya karena mereka sempat potong rambut bersama di tukang cukur langganan Tino.
"Mungkin pikirannya erotis, jadi cepat panjang tuh rambut." timpal Adrian seraya melahap makanan ditangannya.
"Heh, congek. Jangan mengada-ada, dasar konyol." gerutu Tino.
"Hei, itu fakta Bro. Ya kan Dok?"
"Iya juga sih," Gavin menggaruk-garuk kepalanya. Dia baru ingat tentang hal itu.
Ketiga pria itu hadir dan menceriakan suasana. Orang tua Deline juga ikut hadir—Natha sudah mulai sadar akan kesalahannya selama ini terhadap putrinya. Kehidupan kembali berjalan normal, saatnya membuka lembaran baru bersama sang suami dan menikmati masa-masa tua yang indah bersama anak-anak mereka nanti. Deline berdo'a supaya dijauhkan dari hal-hal seperti dulu dan meminta ketentraman dalam hidup. Biarkan peristiwa silam itu menjadi sebuah kenangan yang tidak perlu dialami lagi. Cukup disimpan dan jika perlu dikubur dalam-dalam.
"Siap berbulan madu?"
"Ready!" jawab Deline penuh semangat. Dia menginginkan bulan madu di Bali Indonesia. Tempat yang selama ini ingin Deline kunjungi bersama pasangan. Sekarang adalah momen yang tepat untuk mewujudkannya.