Pulchritude Case

Pulchritude Case
PROLOGUE: BEGINNING



Rangkaian bunga warna-warni mengelilingi ruang duka, foto seorang gadis terpajang di atas peti mati. Aroma dupa, wangi lilin dan harumnya bunga tertentu menambah kesan duka. Kumpulan manusia berpakaian serba hitam tengah berdoa dan menangisi kepergian dari orang tercinta. Proses pemakaman akan segera berlangsung, peti berwarna hitam mulai diturunkan ke liang lahat.


...'Carrolyna Winter'...


Namanya telah terukir pada batu nisan berbentuk salib. Dia meninggal secara mengenaskan di sebuah gang buntu. Sekujur tubuhnya gosong sehingga tak dikenali oleh pihak keluarga. Polisi masih menyelidiki kasus tersebut, tetapi belum menemui titik terang. Namun, ditengah-tengah hangatnya berita yang tersebar pihak keluarga memutuskan untuk menutup kasusnya dan mengikhlaskan kepergian sang anak. Tentu saja hal ini sangat mengejutkan publik, keanehan semakin terasa ketika pihak keluarga menyatakan anaknya meninggal karena membakar dirinya sendiri.


Seorang pria berpakaian rapi menekan tombol power pada remote televisi. Muak dan malas mendengar cuitan berita yang asal-asalan dan tidak jelas. Para wartawan tampaknya mengubah cerita supaya terdengar mengerikan. Dengan tujuan menjadikan topik pemberitaan tentang kasus itu tetap trending dikalangan masyarakat luas. Jari-jari usil dari para jurnalis seharusnya diberi pelajaran. Mereka tidak berpikir sebelum melayangkan sebuah berita.


"Tontonan seperti ini seharusnya tidak layak mengudara di stasiun televisi, jika anak-anak mendengarnya pasti mereka merasa takut." komentar pria itu, lalu beranjak menyiapkan sarapan.


"Ayah,"


"Oh, putriku sudah bangun." Anak gadis berusia 11 tahun itu beranjak naik ke kursi.


"Kamu sudah cuci muka?" tanya sang ayah sambil meletakkan se-panci sup jamur diatas meja.


"Em—ya," balas nya setengah mengantuk.


"Cepat sarapan, kemudian mandi untuk sekolah."


Yardan Kim, laki-laki keturunan Korea. Seorang duda anak satu. Sudah 2 tahun dia menjadi single parent, sang istri menceraikannya karena dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup. Yardan hanya seorang supir taksi, dia tinggal disebuah apartemen kecil dan sederhana. Pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci dan bersih-bersih sudah menjadi kesehariannya.


Jasmine Kim—gadis kecil yang masih duduk di sekolah dasar. Dia memiliki riwayat penyakit epilepsi (ayan), disaat Jasmine merasa takut akan sesuatu atau gejalanya muncul dia akan bersikap abnormal dan kejang-kejang. Epilepsi adalah kelainan genetik adanya gangguan sel-sel otak akibat aktivasi kelistrikan berlebihan di dalamnya.


Yardan menggandeng putrinya untuk menuju halte bus. Laki-laki itu menyadari ada yang memperhatikan keduanya dari seberang. Beberapa pria berpakaian hitam keunguan terus menatap keduanya tanpa henti. Yardan mencoba mengalihkan pandangannya, dia sendiri merasa tidak nyaman dengan orang aneh tersebut. Seiring bus berlalu, bayangan orang-orang misterius tadi mulai hilang.


"Jasmine, ingat pesan Ayah?"


"Jangan pulang sendiri sebelum Ayah menjemput. Iya Ayah, Jasmine mengerti. Dadah Ayah sampai jumpa nanti,"


Yardan membalas lambaian tangan putrinya. Gadis itu berlari kecil menuju halaman sekolah, seperti yang Yardan ketahui kehidupan Jasmine di sekolah terbilang diasingkan. Banyak dari teman-teman seusianya merasa takut dengan Jasmine. Tentu saja mereka tahu bagaimana kondisi dari gadis itu. Meskipun sering menjadi bahan lelucon, tetapi Jasmine selalu menjalani hari-harinya dengan senyuman.


Yardan sendiri tidak tega melihat putrinya menjadi bahan lelucon, dia ingin Jasmine menjalani home schooling daripada harus berbaur dengan orang-orang yang menurunkan mental sang anak. Yardan sedang berusaha mengumpulkan uang agar mampu mewujudkan keinginan tersebut. Dia ingin putrinya bahagia dan tidak diganggu oleh anak-anak nakal. Meskipun saat ini guru disekolah nya selalu berbaik hati kepada Jasmine, tetapi itu tidaklah cukup untuk menghibur dirinya.


Setiap hari mengkhawatirkan kondisi Jasmine di sekolah, dia tidak bisa mengawasi atau membelanya saat di-bully. Namun, anak itu selalu meyakinkan sang ayah untuk percaya bahwa di sekolah tidak seburuk yang dipikirkannya.


Baru tiga bulan dia menjadi bagian dari sebuah perusahaan penyalur alat transportasi. Sebuah PT yang dikatakan hampir bangkrut. Saat ini saingan di dunia kerja sangatlah keras apalagi dia hanya seorang laki-laki lulusan sekolah menengah. Mencari pekerjaan yang lebih dari ini sangat sulit baginya, disinilah satu-satunya sumber mencari nafkah demi kelangsungan hidup.


Sorot mata Yardan tak lepas dari gedung di mana Jasmine mengasah ilmunya, lagi-lagi dia dikejutkan dengan beberapa orang berpakaian hitam yang berdiri menatap gedung. Yardan mencoba menenangkan diri—mengambil nafas dan sekali lagi ingin melihat orang-orang tadi. Matanya melebar—mereka hilang. Yardan mengucek mata, lalu memukul pelan kepalanya. Mencoba berpikir positif dan mengalihkan perhatiannya dari hal-hal buruk yang menyerang firasatnya saat ini.


Suara pesawat bergemuruh di atas sana, alat transportasi itu hendak mendarat. Penerbangan domestik dari luar negeri menampilkan 195 penumpang yang turun dari pesawat. Salah satu penumpangnya adalah seorang gadis muda berambut sebahu. Dia berjalan menyeret koper, pandangannya kesana-kemari mencari seseorang. Deline Dilbara, gadis berusia 23 tahun—baru saja menerima gelar magister pendidikan. Setelah menyelesaikan pendidikannya di luar negeri, kini Deline kembali ke negara asalnya dengan tujuan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi lagi.


"There he is!" Deline berjalan cepat menghampiri seorang laki-laki yang tengah tidur sambil duduk. Dia mencolok lubang telinga laki-laki tersebut hingga membuatnya bangun.


"Oh—hai? Kau sudah sampai—ah, aku mengantuk sekali. Ayo, kita pulang." ajaknya sambil menguap.


Deline mendengus dingin. "instead of looking for me just sleeping here. You suck,"


Laki-laki berpakaian formal itu memasang raut wajah dongkol, dia menyentil dahinya. "Manja banget—sudahlah, ayo pulang. Aku lelah dan mengantuk," dia menggandeng Deline menuju mobil.


"Kau tahu? Dari 2 jam yang lalu aku menunggu kedatangan mu, jadi tolong jangan mengomel terus." lanjutnya sambil membuka pintu mobil untuk mempersilahkan Deline masuk.


"Let me drive," Deline merebut kunci mobil.


"Ha?"


"You are tired and sleepy. It's very dangerous Dan, I don't want to die yet. Do you understand? So here let-,"


"Tidak, justru aku takut jika kau mengemudi. Jangan banyak bertingkah dan diam lah." Dia merebut kuncinya kembali dan menyalakan mobil.


Danesh Dilbara adalah kakak kandung Deline, seorang laki-laki setinggi 173 cm dan bekerja sebagai manager akun di perusahaan ayahnya. Kakak beradik ini terpisah semenjak orangtuanya bercerai, Deline di bawa ke Canada dari umur 9 tahun dan pada akhirnya anak itu kembali ke negara asalnya setelah 14 tahun lamanya. Pertemuan mereka terbilang sangat jarang, Danesh dan Deline selalu berkomunikasi lewat sosial media demi mempertahankan hubungan keduanya.


Selama di Canada, Deline tinggal bersama sang ibu. Namun, setelah ibunya meninggal beberapa minggu yang lalu dia memilih kembali ke keluarga ayahnya. Dengan senang hati Danesh menyambut kedatangan adiknya, sudah sangat lama dia ingin sang adik untuk tinggal bersama lagi.


"Dad at home?" tanya Deline.


"Di rumah istri barunya," Danesh melirik sang adik, dia terdiam setelah mendengar jawaban darinya.


"Kenapa?"


Gadis itu menggeleng.


"Tomorrow I will take you to meet him." ujar Danesh. Gadis itu pun mengangguk.


Mercedes Benz mereka telah memasuki kawasan elit, menuju ke arah rumahnya. Mobilnya baru saja bersimpangan dengan sebuah taksi berwarna biru dengan garis hitam pada bagian pintu. Taksi yang dikemudikan oleh Yardan, hari menjelang siang dia harus menjemput sang anak. Dengan kecepatan rata-rata dia mengemudikan taksinya menuju gedung sekolah.


Para siswa-siswi sudah mulai keluar, mereka berlarian menuju orang tuanya masing-masing. Jasmine celingak-celinguk mencari keberadaan sang ayah, dengan menenteng tas merah mudanya dia berlari menghampiri sebuah mobil berwarna biru. Diiringi tawa kecil, Jasmine begitu bahagia melihat kehadiran Yardan yang menyambutnya dengan merentangkan tangan. Jasmine segera mempercepat larinya, dia memeluk sang ayah dengan penuh kehangatan.


"Ow putri Ayah tampaknya lelah-," Yardan mengelap keringat yang keluar dari pelipis Jasmine. "Hari ini kamu ingin makan siang dengan apa?"


"Apa pun yang Ayah masak untuk Jasmine," jawabnya sambil masuk ke dalam mobil.


"Em, tapi Ayah hari ini tidak ingin masak." goda nya.


"Kenapa?"


"Karena Ayah pengen banget beli pizza di restoran ungu. Ayah pikir Jasmine juga pengen makan itu, jadi bagaimana kalau siang ini kita makan pizza?"


Jasmine tersenyum lebar, dia mengangguk penuh semangat. "Ya, Ayah. Kalau begitu aku juga mau."


"Baiklah. Mari kita menuju restoran ungu! Let's go!" Yardan segera menginjak gas mobilnya dengan penuh semangat. Hari ini dia mendapat uang tip dari penumpang, jadi dia berniat membahagiakan putrinya dengan makan di restoran.


"Tapi-," ucap Jasmine tiba-tiba. Yardan menoleh dengan maksud bertanya. "Apa Ayah punya uang untuk membeli pizza itu?"


Jasmine sangat mengerti keadaan ekonomi ayahnya, dia tidak ingin merepotkan sang ayah untuk menuruti apa yang diinginkannya. Ada banyak keinginan dari gadis kecil itu, tetapi dia menahannya karena kondisi perekonomian yang dikatakan kurang.


Yardan mengusap rambut Jasmine. "Kamu jangan khawatir, hari ini Ayah punya uang yang cukup untuk membuat Jasmine bahagia."


Ayah dan anak itupun akhirnya bisa menikmati lembutnya roti berbalut dengan keju mozzarella yang meleleh di mulut. Tak lupa minuman dingin berkarbonasi menjadi pelengkap makan siang mereka hari ini. Jasmine tampak bahagia, dia memasang senyuman lebar di wajahnya. Yardan merasa lega dan bahagia melihat putrinya makan dengan lahap, dengan kerja keras akhirnya dia berhasil menuruti keinginan Jasmine. Sebenarnya keinginan untuk makan pizza di restoran ungu telah lama dia inginkan, tetapi setelah 5 bulan sang ayah baru bisa mewujudkannya.


Belum sempat menghabiskan makanan di atas meja, tiba-tiba Jasmine bereaksi. Epilepsi nya kambuh, para pengunjung restoran terkejut melihat gadis kecil itu. Jasmine kejang-kejang dengan mata terbuka, tidak hanya itu kali ini dia sampai mengompol di tempat. Semua orang menyaksikannya merasa jijik, mereka kehilangan nafsu makan. Di tempat ini umumnya dikunjungi oleh orang-orang berduit dan berkelas, mereka sangat minim toleransi dan menghakimi Yardan sebagai penanggung jawab Jasmine.


"Ih menjijikkan—anak itu mengompol."


"Kenapa pelayan-pelayan di sini membiarkan orang seperti mereka masuk? Ini sungguh gila!"


"Hei, cepat usir mereka—nafsu makan ku seketika hilang."


"Lihatlah itu, dia membiru (badan Jasmine tampak biru efek dari epilepsi yang kambuh)."


Seisi ruangan mengusir keduanya dengan kasar, tak ayal dari mereka memprotes keras para pekerja restoran karena membiarkan orang penyakitan masuk ke dalam rumah makan berkelas. Karena kekacauan semakin parah, akhirnya manager restoran keluar dan memarahi Yardan dengan berbagai kata-kata sarkas. Mendengar dan melihat perlakuan orang disekitarnya begitu menyakitkan, tanpa diminta air matanya menetes sambil menggendong Jasmine keluar dari restoran. Perlakuan buruk dari orang-orang kaya itu membuatnya sakit hati. Sudahlah, Yardan tidak ada waktu lagi untuk meratapi rasa sakit ini. Dia harus membawa Jasmine pulang.


Yardan memberikan sang anak obat penenang supaya kejang yang dialaminya mereda. Dalam beberapa kasus, kejang menyeluruh membuat pengidap benar-benar tidak sadarkan diri. Setelah sadar, pengidap terlihat bingung selama beberapa menit atau jam. Untuk kasus epilepsi belum ada pengobatan yang mampu menyembuhkan penyakit tersebut. Begitu malang nasib Jasmine, dia harus menerima kenyataan pahit ini selama hidupnya.


°°°


Alunan musik ber-genre pop mengiringi suasana malam ini. Deline memutar lagu tentang kisah seseorang yang tak mudah menyerah mengenai keadaan hidupnya. Lagu dari Rachel Platten berjudul 'Fight Song' masuk dalam playlist nya akhir-akhir ini.


Gadis itu menarik ulur beranda sosial media, dia membaca berbagai hal yang tersaji dalam dunia maya. Sebuah video singkat dimana menampilkan cerita pendek tentang kehidupan seseorang yang menjalani kesehariannya sebagai guru. Di dalam video itu menunjukkan bahwa dia selalu ikhlas dan sabar mengajar salah satu muridnya yang memiliki gangguan genetik. Deline tersentuh, dalam hatinya juga ingin melakukan hal sama seperti orang itu.


Membantu para keluarga kurang mampu yang menginginkan putra atau putrinya agar mendapat bimbingan belajar yang layak. Apalagi seperti anak-anak yang didiagnosa memiliki kelainan khusus, sungguh malaikat kecil seperti mereka harus diberi perhatian spesial agar mampu bersanding dengan anak-anak normal lainnya. Sudah banyak kasus yang Deline ketahui, banyak diantaranya trauma dan diasingkan oleh sebagian orang karena dianggap tak sempurna. Miris sekali melihat tingkah para manusia tak berakal seperti itu, rasa toleran dan empatinya telah rusak. Yah, meskipun tidak semua.


"Del, aku telah meninjau beberapa kampus yang akan menjadi calon tempat mu melanjutkan studi. Ini beberapa pilihan nya," Danesh masuk ke dalam kamar Deline seraya menyodorkan iPad yang dia pegang.


Deline menggeser beberapa gambar beserta artikel tentang masing-masing kampus pilihan Danesh. Dia masih memilih dan belum ada yang cocok dengan seleranya.


"Kak Dan, I appreciate your efforts, but I'm not satisfied with these colleges yet." ujar Deline jujur.


"Ha? Ke-kenapa? Lihat ini, ada Universitas Cinderella, Universitas Paradise dan juga-,"


"Yeah, I don't know. Just send the article to my cell phone, later I will read it again." sela nya sambil tersenyum tipis.


Baiklah, Danesh tidak akan memaksa. Mungkin saat ini Deline lelah karena perjalanan yang cukup panjang dari penerbangannya tadi.


"Oke, aku akan mengirimnya. Kau istirahat saja, maaf menganggu." Danesh memutar tubuhnya untuk segera keluar.


"But all of a sudden I wanted to become a private tutor who offers learning services for parents who want their children to be home schooled." Ucapan Deline menghentikan langkah Danesh.


"Tiba-tiba?"


"Why? That's wrong?"


"Tidak, itu bagus. Aku akan berusaha mendapatkan izin legal mu menjadi seorang guru. Dan juga aku akan mempromosikan mu." Dia sangat mendukung keputusan sang adik.


"Terimakasih Kak, you are the best. I love you so much,"