
"Dokter Gavin—beruntung bertemu dengan Anda di sini." Seorang perawat wanita menyusulnya dari belakang. Dia terengah-engah.
"Ada apa?"
"Kami membutuhkan bantuan Anda, dokter. Seorang ibu hamil mengalami pendarahan internal dan harus segera melakukan operasi untuk pengangkatan janinnya."
"Dimana pasien?"
"Sudah berada di ruang operasi,"
"Baiklah, ayo." Dia menepuk punggung perawat itu kemudian berlari kecil menuju ruang operasi.
Lampu operasi, mesin anestesi dan perlengkapan lainnya mulai disiapkan. Seorang pasien ibu hamil mengalami pendarahan internal dan harus segera ditangani. Gavin akan melakukan operasi Salpingektomi untuk mengangkat tuba falopi yang rusak akibat peregangan pada kehamilan ektopik. Seharusnya bukan dia yang menangani masalah tersebut, Gavin hanya menggantikan Dokter Jane yang mengambil cuti beberapa hari ini.
Kehamilan ektopik atau kehamilan di luar kandungan merupakan kondisi dimana sel telur yang dibuahi justru menempel di area luar dinding rahim. Salah satu penanganan tercepat adalah dengan melakukan pengangkatan embrio atau tabung tuba falopi. Pembedahan adalah jalan satu-satunya apabila ibu hamil mengalami pendarahan internal. Kondisi tersebut membahayakan bagi ibu hamil jika sel telur yang dibuahi terus tumbuh di tuba falopi, maka dapat menyebabkan tuba pecah.
Butuh waktu 1,5 sampai 3 jam untuk melakukan operasi tersebut. Setelah selesai, Gavin keluar dari ruangan untuk menemui keluarga pasien. Dia menjelaskan kondisi pasien secara gamblang agar pihak keluarga dapat mengerti kenapa dokter mengambil tindakan tersebut. Dengan berat hati Gavin mengungkapkan bahwa tidak hanya janin yang diangkat melainkan rahim pasien juga. Alasan tersebut karena ditemukan sel tumor yang tumbuh di dinding rahim.
"Terimakasih dokter atas kerja kerasnya."
Gavin mengangguk, kemudian kembali ke ruangannya. Dia melepas jas putihnya, lalu di gantungkan pada sandaran kursi. Dokter itu kembali menatap layar komputer untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Ada satu hal yang membekas di dalam benaknya. Wangi dari keluarga pasien mirip dengan aroma tubuh Carrolyna. Sudah berminggu-minggu dia berusaha melupakan peristiwa itu. Namun, wanita tadi malah mengingatkannya kembali.
"Ayolah Gavin, kau harus fokus dengan pekerjaan ini."
Nihil, semakin diabaikan semakin menghantui pikiran. Gavin menampar pipinya, dia frustasi karena terus terbayangkan aroma tersebut. Sekarang dokter itu tercenung sambil mengaitkan teori-teori yang mungkin saja bersangkutan dengan kasus kematian Carrolyna. Wangi wanita tadi terasa seperti aroma Citrus dan Spice, persis seperti aroma tubuh gadis itu. Tunggu ... mungkinkah?
Pasien tadi sudah dipindahkan ke ruang rawat. Dia bernama Angel, keponakan dari seorang gubernur. Pernikahannya baru berjalan 2 tahun, dan ini adalah kehamilan pertamanya. Seorang ibu yang memimpikan hadirnya buah hati sebagai pelengkap keluarga kecilnya, tapi sayang impian itu harus pupus karena adanya masalah pada rahim. Suatu hal yang tidak pernah terbayangkan oleh Angel. Padahal kandungannya telah berusia 3 bulan. Peristiwa ini terasa aneh, sebelumnya kondisi rahim dan kesuburannya sangat sehat, tapi entah kenapa semenjak dirawat sang bibi kehidupannya terasa kacau dan sering mengalami kejadian diluar logika.
"Apa yang terjadi—apa buah hatiku baik-baik saja?" Angel membuka mata, dia melirik tangannya yang di infus.
Pintu terbuka, bibinya masuk.
"Angel, ada keluhan?" tanya Shannon.
Dia menggeleng. "Apa dia baik-baik saja?"
Shannon menghembuskan napas berat, dia mengusap rambut keponakannya. "Dengan berat hati aku harus mengatakan ini, Angel—janin yang berada di dalam kandungan mu terpaksa harus diangkat karena kau mengalami hamil ektopik."
"A-apa?" Angel tidak percaya. Dia mengusap perutnya yang rata.
"Dan juga, rahim mu harus diangkat karena ditemukannya sel tumor yang-,"
"Tidak! Aku dan janinku sehat-sehat saja selama ini. Kenapa tiba-tiba berubah? Tolong katakan Bibi jika ini adalah mimpi,"
"Angel, ini kenyataan bukan mimpi."
"Tidak! Kenapa bisa terjadi-," Angel menangis penuh frustasi. Dia mengamuk di ruang rawat hingga membanting apa pun yang berada di dekatnya.
"Angel, Bibi mohon tenang. Kendalikan dirimu," Shannon berusaha menenangkannya. Namun, wanita itu justru mendapat lirikan tajam olehnya.
"Kau! Kau—kaulah penyebab semua ini. Kau dan wanita berengsek itu yang membuat hidupku hancur! Kalian kan yang menjadikan anak dan suamiku sebagai-," dia menangis keras sambil mendorong sang bibi. "Kalian iblis!"
"Diam lah, bocah." Shannon memukulnya hingga pingsan.
Akan merepotkan jika Angel berteriak-teriak meluapkan kesedihannya. Semua rahasia keluarga mereka bisa-bisa terbongkar di tempat umum seperti ini. Shannon tersengal. Dia panik karena khawatir seseorang mungkin saja mendengarnya. Rahasia besar keluarga mereka hampir saja terbongkar.
"Belum sadar?" Seorang pria masuk.
"Sudah, dia baru saja meracau dan mengungkap-,"
"Tenanglah. Sebentar lagi dia akan dianggap gila oleh orang-orang karena kehilangan anak dan suaminya. Kita tinggal membuangnya ke rumah sakit jiwa agar tidak merepotkan," sela pria berpakaian jas hitam tersebut.
"Kau yakin ini akan berhasil?"
"Kau meragukan ku?" Dia menyeringai. "Tidak akan ada lagi yang percaya dengan wanita ini. Sekali dianggap gila, maka selamanya akan begitu."
"Terserah kau saja. Segera urus dia dan hapus jejak ini—aku merasa ada yang mendengar teriakan Angel tadi."
Itu benar. Karena rasa penasaran yang menggebu pada diri Gavin, dia memutuskan mendekati pasien untuk sekedar memastikan aroma yang dia cium. Sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan, Gavin mendengar teriakkan Angel yang menyerukan rahasia tadi. Namun, dia tidak benar-benar mendengarnya. Hanya kata hancur dan iblis yang berhasil masuk ke dalam indra pendengarannya.
Dua patah kata yang terdengar ditelinga nya sudah cukup jelas bahwa ada sesuatu yang tidak beres mengenai mereka. Tidak ingin berlama-lama di depan ruangan tersebut, Gavin memutuskan untuk berbalik arah dan mengurungkan niatnya. Kemudian muncullah rekan Shannon yang muncul dari pertigaan lorong rumah sakit.
"Mari kita lihat rekaman apa yang tertangkap kamera," Kevin mengarahkan kursor pada tanda play.
Video mulai berjalan, menampilkan suasana remang-remang pada pemakaman umum tersebut. Yah ... Kemarin malam Kevin meletakkan kamera tersembunyi untuk mengawasi kuburan seseorang yang baru meninggal. Karena kasus tersebut belum tuntas, jadi masih berjalan hingga sekarang. Selama penelusurannya Kevin sama sekali belum menemukan hal-hal yang mencurigakan. Padahal setiap ada orang meninggal dia selalu memantau hingga pagi hari, tetapi kuburan tersebut aman-aman saja. Mungkinkah para pencuri itu tahu jika tindakannya sedang diselidiki?
Bosan. Itulah yang Kevin rasakan. Setiap melihat rekaman video selalu menampilkan hasil yang sama. Tidak ada kejanggalan apa pun. Setiap diputar selalu menunjukkan suara jangkrik dan hewan malam yang terbang di depan lensa kamera. Dia menguap sambil memain-mainkan kursor nya ke sana kemari. Ah, sudahlah tidak ada yang spesial. Kevin beranjak dari kursi, dia menuju jendela dan mengamati barisan Tamtama sedang apel pagi.
Pada menit ke 10 terdengar suara barang diseret serta benda padat yang menggaruk tanah. Kevin segera duduk kembali dan mengulang video tersebut. Memperlihatkan tiga orang pria mengenakan jubah hitam mulai menggali makam. Dia ingin fokus memperhatikan orang-orang tersebut. Wajahnya tidak begitu terlihat karena efek pencahayaan yang redup. Namun, satu yang jelas mereka seperti sekelompok penganut aliran sesat.
Oke, satu bukti telah terungkap. Dia akan mengulik dan memburu para pria berjubah itu. Hari ini Kevin memutuskan untuk datang ke makam orang tersebut dan mungkin saja menemukan sisa-sisa kecerobohan mereka. Dia berencana mengubah kualitas video tersebut menjadi HD agar bisa melihat dengan jelas wajah orang-orang misterius itu. Seharusnya rekaman tersebut mampu merekam video selama 10 jam, tapi kamera tiba-tiba mati kemungkinan karena baterai lemah. Benarkah?
"Aku harus segera pergi," dia meraih jaketnya dan segera bergegas, tapi Komisaris Arthur mendadak muncul.
"Pak-," Kevin terlihat sumringah melihat kehadiran atasannya. Dia memberi hormat.
"Mau pergi?"
"Ah, iya. Saya mau-,"
"Duduk dulu." Arthur menarik kursi. "Ada hal yang ingin ku bicarakan denganmu."
"Tentang?"
Arthur membuka sebuah bingkisan, dia meletakkan seragam polisi dalam keadaan rapi terbungkus plastik. Kevin mengangkat sebelah alisnya dengan maksud bertanya.
"Ini untukmu. Kau akan dilantik sebagai Komisaris Besar Polisi yang akan ditugaskan di sini. Kevin, kau tidak perlu repot-repot untuk membuntuti seseorang lagi karena tugasmu-,"
"Tidak!" Kevin berdiri. "Oh, jadi ini alasannya kenapa saya dikirim ke sini?" Dia tersenyum getir.
"Seharusnya saya mengerti dari awal alasan Bapak menugaskan saya untuk mencari pelaku pencurian mayat ini."
Kevin merasa ditipu oleh atasannya. Kasus pencurian mayat yang terjadi di sini tergolong dalam kategori kasus level sedang. Secara halus komisaris itu mendorong Kevin untuk menetap di sana dengan memberinya imbalan berupa pangkat yang tidak sebanding dengan minatnya. Bertujuan membuat Kevin harus menetap di kota ini sampai masa jabatannya berakhir. Dan siapa tahu intelijen itu betah di sini karena sudah terbiasa.
Alasan Arthur melakukan itu karena dia mengkhawatirkan keselamatan Kevin. Komisaris itu menginginkan anak kebanggaannya bekerja dengan santai tanpa harus mempertaruhkan nyawa. Dan juga, sebentar lagi Arthur akan menjabat sebagai jenderal. Pangkat yang lebih tinggi dari sebelumnya. Dia tidak mau lagi bersangkutan atau membela Kevin jika anak itu berulah. Atau hal tersebut akan berpengaruh pada posisinya.
"Anda sengaja menyingkirkan saya dari badan intelijen kan? Apa alasan Anda melakukan ini?" Nada bicara Kevin terdengar tidak terima.
"Sudah berapa lama kita bekerjasama? Anda selalu memuji dan membanggakan saya di hadapan orang, tapi sekarang-,"
"Kevin mengertilah, sudah cukup kau bekerja dibawah resiko. Aku mengkhawatirkan keselamatan mu. Setiap tugas yang diberikan kepadamu selalu-,"
"Tidak ada hal yang tidak memiliki resiko, meskipun saya berdiri ditempat yang aman sekalipun. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi selanjutnya," sela Kevin.
"Memang benar kata orang, terkadang seseorang akan menunjukkan sifat aslinya ketika dia sukses. Dan sekarang bukti itu benar adanya—padahal Anda tahu betul apa yang saya inginkan, tapi-,"
Dia meraih seragam tersebut secara kasar kemudian meremasnya. Keinginan Kevin bukan menjadi polisi berseragam atau berpangkat tinggi. Melainkan ingin bekerja secara diam-diam dan menjadi bayang-bayang negara. Tidak perlu melantiknya dengan memberikan pangkat tinggi atau hal itu akan membuat diri Kevin sewaktu-waktu berubah. Dia takut menjadi manusia tidak tahu diri dan menyombongkan pangkat atau jabatan. Karena kesombongan hanya akan menghancurkan diri sendiri. Menjadi polisi tak berseragam jauh lebih hebat dan keren.
"Saya akan menerima jabatan ini, tapi ingat satu hal. Jangan harap putramu ini akan datang ke pelantikan atau mengunjungi rumahmu lagi, Ayah." lugasnya mengakhiri percakapan, kemudian berjalan keluar dengan membanting pintu.
"Kevin, tunggu." Arthur berbalik badan, menatap punggung sang anak yang hilang dari pandangan. Cukup sakit ketika Kevin mengatakan hal itu, tapi di sisi lain dia merasa tersentuh akhirnya Kevin menyebutnya dengan panggilan ayah.
Surprise >.<
Komisaris Arthur adalah ayah angkat Kevin. Dia mengangkat anak itu sebagai putranya semenjak Kevin masuk dalam dunia kepolisian. Arthur terpikat karena kecerdasan dan kemampuan intelijen itu sewaktu masa pelatihan. Secara baik-baik dia meminta izin kepada kedua orang tua Kevin untuk mengangkatnya sebagai anak tunggal. Karena Arthur tidak bisa memiliki anak bersama sang istri, jadi keluarganya terasa sepi. Dan demikian dia mengangkat Kevin karena kecocokan dan kekagumannya pada anak itu. Hanya saja hubungan mereka tidak banyak yang tahu (dirahasiakan).
Kevin menendang pintu karena kedua tangannya penuh dengan barang berupa kardus berisi laptop, buku dan alat kerja lainnya. Selain itu dia juga meluapkan kekecewaannya dengan menendang sesuatu. Dia memutuskan untuk pindah dari apartemen sebelumnya ke tempat yang lebih kecil. Kevin tidak mau bertemu dengan ayah angkatnya lagi. Dia berniat menghindar supaya keberadaannya sekarang tidak diketahui oleh Arthur. Rasa kecewa terhadap komisaris itu sungguh menyakiti perasaannya.
"Huh~ debu dimana-mana. Sama seperti penjahat berdasi yang mengotori negeri ini," dia meraih kemoceng dan mulai bekerja.
Disinilah tempat tinggalnya sekarang, Dandelions Building. Hunian kelas sedang yang memiliki harga sewa tergolong murah (bagi Kevin). Gedung berlantai 20 itu cukup layak untuk dijadikan sebagai tempat tinggal. Yah, meskipun fasilitas di sana kurang mewadahi. Tidak masalah, Kevin bukan manusia yang gampang alergi atau kurang bersyukur dengan keadaan. Seperti ini saja sudah cukup baginya, yang terpenting dia tidak kehujanan atau kepanasan.
"Gila! Debu di apartemen ini setebal dosa-dosa koruptor." Kevin batuk-batuk, lalu membuka pintu untuk membiarkan debu tersebut keluar.
Pindahan mendadak bukan suatu hal yang mengejutkan baginya. Selama bekerja sebagai intelijen kegiatan seperti ini telah menjadi kebiasaan. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Beradaptasi dengan lingkungan baru sudah mirip seperti bunglon. Bahkan Kevin juga melakukan autotomi, eh? Bercanda, intelijen gila itu bukan seekor cicak ya!
Meskipun kota ini adalah tempat kelahirannya, tetapi dia merasa asing seperti warga imigran. Semua itu karena faktor pekerjaan yang mengharuskannya berpindah-pindah. Sampai sekarangpun Kevin belum menemui kedua orangtuanya, padahal jarak apartemen ke rumah ayah dan ibunya tidak terlalu jauh. Dasar, amnesia.
Setelah selesai membereskan barang-barang dan merapikan ruangan, dia melompat ke atas ranjang kemudian merebahkan diri. Ah~ kasur yang empuk. Dia mengerang nikmat untuk merilekskan ototnya. Berhari-hari belum merasakan empuknya kasur dan lembutnya guling, dia merasa rileks dan nyaman. Beberapa hari ini Kevin tidur di sofa yang terletak di ruang kerjanya. Tidak pulang ke apartemen dan memilih tidur di kantor. Bagaimana lagi, penelusurannya menguak kasus tersebut memakan banyak waktu. Sekarang waktu yang tepat untuk tidur sebentar dan memulihkan energi.
"Sayang, bangunkan aku ya nanti." gumamnya sambil mengusap guling yang dia peluk (emang gila).