
1 Bulan Kemudian🕷️
"Kakak pulang dulu ya?" Deline mencium kedua pipi Jasmine. "Jangan lupa PR nya dikerjakan, oke?"
Anak itu mengangguk penuh semangat, kemudian melambaikan tangannya. Pembelajaran hari ini sangat menyenangkan. Selain rindu dengan kehadiran si kakak guru, Jasmine juga merindukan kehangatan dari gadis itu. Cara mengajar Deline sudah seperti ibunya sendiri. Sabar dan penuh perhatian. Candaan yang hangat serta sosok perempuan penuh semangat. Anak itu sangat betah jikapun seharian penuh harus belajar bersama Deline.
Jasmine membuka buku gambar, dia menatap lukisannya. Seorang anak kecil dengan posisi digandeng oleh kedua orangtuanya. Ya, anak itu menggambar dirinya, Deline dan sang ayah. Berimajinasi seolah mereka adalah keluarga. Oh, sungguh manis sekali. Jasmine beranjak dari kursi, dia melihat ponsel Deline yang tertinggal diatas meja. Anak itu meraihnya dan mengutak-atik ponsel tersebut.
"Kak Deline pasti lupa—ah, nanti juga kembali." Jasmine meletakkannya di tempat semula.
Gadis kecil itu duduk kembali sambil menatap ponsel tersebut. "Kak Deline, aku pinjam ponselnya sebentar ya?" Dia meraihnya lagi sambil terkekeh kecil.
"Iya, sayang. Pinjam aja," sahutnya menirukan suara Deline.
Menyalakan ponsel tersebut, lalu menekan ikon kamera di pojok kanan layar. Beberapa gambar telah tersimpan pada galeri. Tidak puas hanya mendapat tiga foto saja, Jasmine kembali mengulangi hal yang sama. Ditengah asiknya mengabadikan momen, terdengar suara ketukan pintu. Jasmine menyandarkan ponsel tersebut pada vas bunga, tak sengaja mode foto beralih ke mode video. Lensa kamera mulai merekam kegiatan anak itu secara tidak sengaja.
Jasmine berjalan menuju pintu, dia mengintip dari lubang kecil. Sesuai dengan pesan Yardan— sebelum membukakan pintu untuk seseorang, dia diharuskan untuk mengecek dahulu. Seulas senyum tersungging dari bibirnya. Dengan semangat Jasmine membuka pintu tersebut—Deline kembali, pasti ingin mengambil ponselnya yang ketinggalan.
"Kakak mau ambil ponsel ya?"
Gadis itu mengangguk. Dia masuk kedalam rumah, tapi raut wajahnya terlihat datar. Seperti tidak memiliki ekspresi sama sekali. Deline menyentuh pundak Jasmine, kemudian membungkuk dan mencium aroma tubuhnya.
"Kak, ada apa?"
Deline memiringkan kepalanya, lalu meraih tangan kecil anak itu. Dia menariknya keluar dari rumah. Berdiri di depan pintu dengan memposisikan dirinya berdiri dibelakang Jasmine.
"Kakak boleh minta tolong?"
"Boleh, apa itu?" jawab Jasmine sambil mendongak keatas.
"Tali rambutku terlempar dan menyangkut di pembatas balkon. Tangan Kakak tidak cukup untuk meraih tali itu, karena tangan Jasmine kecil pasti bisa menyelinap diantara sela-sela besi itu. Bisa kan kamu membantu Kakak?" pinta Deline.
"Oke, bisa."
Anak itu mulai membungkuk dan menyembulkan kepalanya menghadap ke bawah. Tangan kecilnya mulai terulur keluar dari sela besi pagar. Tali rambut Deline tersangkut di sebuah kawat, entah bagaimana bisa seperti itu. Mungkin karena dia mengibaskan rambutnya terlalu kencang sehingga tak sadar tali itu terlempar.
"Ini susah Kak," dia masih berusaha meraihnya. Kini setengah badannya menggantung pada balkon.
Entah apa yang dipikirkan oleh Deline, secara sengaja dia menginjak telapak kaki Jasmine. Anak itu menjerit kesakitan, tangan kanannya yang berpegang pada sebatang besi lonjong terlepas secara perlahan. Keseimbangannya tidak terkendali, naas Jasmine akhirnya jatuh dari lantai 10 dari apartemennya. Dia berteriak memanggil nama sang ayah sebelum pada akhirnya...
"Jasmine!!!"
Suara sirene ambulans dan mobil polisi bercampur menjadi satu. Orang-orang berkumpul membentuk lingkaran. Mereka ingin melihat jasad anak kecil yang ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan. Polisi membuat sketsa korban pada tempat jatuhnya Jasmine. Darah segar masih membekas disekitar TKP. Tak lupa garis polisi mulai direntangkan melingkari tempat tersebut.
Sebelumnya perasaan Yardan sudah tidak nyaman untuk pergi bekerja. Rasanya begitu berat meninggalkan rumah. Dari bangun pagi antara ingin pergi bekerja atau tidak, terasa bimbang untuk memutuskannya. Saat bekerja pun seperti dikejar oleh perasaan takut. Menekan hati dan pikirannya. Tak ayal beberapa kesalahan telah dia buat secara tidak tidak sengaja. Memecahkan gelas bir dan menumpahkan minyak panas hingga mengenai tangannya. Hari ini sangat berat dan sulit untuk fokus pada pekerjaan. Mungkin benar, firasatnya menandakan sesuatu yang buruk.
Setelah semua pekerjaan selesai, Yardan buru-buru pulang dengan membawa hadiah kecil untuk putrinya. Melangkahkan kakinya masuk ke halaman gedung tempat tinggalnya, dia melihat kerumunan manusia tengah berkumpul meributkan sesuatu. Mereka tampak heboh dan saling bergidik ngeri. Seorang wanita bergumam menyebutkan jasad anak kecil tewas karena terjatuh dari lantai 10. Yardan penasaran, dia menerobos kerumunan sambil berjinjit untuk melihat korban.
Mereka saling dorong-dorongan untuk berebut tempat. Polisi berteriak menyuruh mereka memberi jalan. Jasad Jasmine dibawa menggunakan tandu, Yardan mengenali baju yang dikenakan anak itu. Dia berlari dan memaksa untuk melihat jasad tersebut. Seketika hadiah yang dipegang jatuh dan tubuhnya gemetar, tak luput air mata pun ikut jatuh membasahi pipi. Yardan berteriak keras, menangis sejadi-jadinya mendapati sang putri dalam keadaan tewas secara mengenaskan. Dia tidak menyangka jika Jasmine adalah korban yang dimaksud.
Hatinya hancur berkeping-keping. Setengah jiwanya melayang ke antah berantah. Melihat sang anak tewas dalam kondisi seperti itu sangat menghancurkan diri dan perasaannya. Menangis sekeras-kerasnya sampai air mata mengering, meronta-ronta karena tidak terima dengan takdir. Sangat hancur, benar-benar hancur. Harta satu-satunya dalam hidup Yardan telah pergi selamanya. Penyemangat hidupnya telah berpulang kepada sang pencipta. Sungguh malang sekali nasib Jasmine, dia harus meninggal dalam kondisi seperti itu.
"Sa-saya tidak melakukannya-,"
Tangan Deline gemetar ketika polisi menginterogasinya. Setelah kejadian itu pihak berwajib membawanya ke kantor polisi. Saksi mengatakan bahwa seorang wanita baru saja masuk ke dalam rumah korban, kemudian keluar lagi dengan menggandeng Jasmine. Dan juga orang terakhir yang bersama anak itu adalah Deline. Tidak butuh waktu lama para pihak kepolisian segera bertindak dan menahannya.
"Saksi mengatakan bahwa kau terakhir bersama korban. Dan dia juga melihatmu masuk, lalu keluar kembali bersamanya."
"Tidak. Setelah mengajar saya langsung pulang, tidak mengajak Jasmine keluar bersama."
"Bukan. Saya tidak melakukannya," Deline menangis. Dia sendiri syok ketika polisi menangkap dan mengatakan bahwa dia telah membunuh Jasmine.
"Pak Kim, saya bukan pembunuh. Sungguh, saya tidak melakukan itu." lanjutnya sambil menatap Yardan dengan raut wajah memelas.
"Kak Dan, sungguh aku tidak melakukannya." tangisnya semakin pecah.
Yardan hanya diam sedari tadi. Perasaannya masih kacau dan kalut dalam kesedihan. Setiap pertanyaan yang diajukan oleh polisi, dia hanya mengatakan iya dan benar. Sedikitpun tidak ada rasa peduli terhadap Deline. Yardan tidak mempercayainya. Sementara Danesh, laki-laki itu menyandarkan tubuhnya pada dinding sembari mendengar dan menyimak polisi sedang menginterogasi adiknya. Entahlah, mereka sama-sama bingung dan terkejut dengan kejadian ini. Tiba-tiba adiknya ditangkap dan mendapat tuduhan seperti itu.
Dan Deline, gadis itu pasrah serta tidak mengerti sama sekali atas tuduhan yang mereka layangkan kepadanya. Memang dia baru mengajar Jasmine setelah itu langsung berpamitan pulang. Sungguh, dia tidak kembali lagi ke sana untuk mengambil apa pun itu. Mungkin benar ponselnya tertinggal, tapi Deline masih belum menyadarinya hingga sampai rumah. Tentang kematian Jasmine—itu sangat mengejutkannya. Terlebih lagi berita yang tersebar mengatakan anak itu meninggal secara mengenaskan. Deline tidak menyangka jika pertemuannya hari ini dengan Jasmine adalah yang terakhir kali.
"Untuk sementara, kami akan menahan Nona Deline sampai pihak hukum menjatuhkan dakwaan terhadapnya."
"Apa?"
"Pak Kim, kenapa Anda tidak percaya kepada saya?" Deline memegang kedua tangan Yardan sambil menangis.
"Saya menyayangi Jasmine seperti adik sendiri, mana mungkin saya tega melakukan itu kepadanya. Tolong, percaya pada saya Pak Kim." lanjutnya.
Yardan menepisnya. Dia beranjak dari tempat itu—Deline berusaha mengejarnya, tetapi polisi menahannya untuk tetap berada ditempat.
"Pak Kim, saya mohon."
"Kak Dan, aku tidak bersalah."
Danesh menghembuskan nafas panjang. Dia berlari mengejar Yardan. Laki-laki itu menarik paksa bajunya secara kasar.
"Kau!" Danesh mengangkat Yardan hingga duda itu berjinjit. "Kau tidak mempercayainya? Dia selalu membela dan mendahulukan mu. Deline memilih anakmu sebagai muridnya dan menolak tawaranku, apa kau tidak mengerti rasa terimakasih huh?"
Yardan mendorongnya, tetapi tidak berniat untuk melawan.
"Seharusnya kau mengerti dan berterimakasih kepada adikku atas pengorbanannya kepada keluarga mu, bukan mengabaikannya seperti itu. Dasar tidak tahu diri!"
"Ingat ini—jika aku bisa membuktikan bahwa adikku tidak bersalah, maka akan ku pastikan wajah sialan mu ini tidak akan berbentuk lagi. Kau paham?" Danesh mendorongnya.
Lagi dan lagi Yardan mengabaikannya. Dia beranjak pergi sambil melirik sinis Danesh. Tidak peduli dengan ancaman yang dilontarkan oleh pria itu. Kesedihannya atas kehilangan sang anak mengubah Yardan menjadi acuh terhadap apa pun. Rasanya sangat malas menanggapi segala hal. Tidak perlu memikirkan orang lain, keadaannya saja sangat menyedihkan. Lantas untuk apa peduli kepada seseorang yang menginginkan belas kasih darinya? Bermimpi lah saja.
Angin berhembus tipis menekan kulit Yardan. Sinar rembulan menerobos masuk melalui jendela. Dia mengambang dalam diam. Jiwa dan mentalnya hancur tak berbentuk. Bayangan Jasmine seakan berkeliaran bebas di dalam rumah mereka. Tawa dan canda mengisi ruangan hampa ini. Duduk termenung dalam keadaan tenggelam dalam imajinasinya sendiri. Setetes air mata jatuh keatas meja, Yardan mendongakkan kepalanya sembari menyeka air mata yang terus keluar. Dia tidak kuat mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Bayangan itu berputar-putar didalam pikirannya.
Sepi🥀
Ada yang hilang—yaitu harta paling berharga dalam hidup Yardan. Lebih mahal dari emas dan berlian atau bahkan mutiara. Tidak dapat tergantikan dalam bentuk apa pun. Kehadiran gadis kecil itu menjadi pelengkap hidupnya, tapi sekarang?
Yardan berjalan lemah menuju kamar. Sebuah bunga berwarna putih tampak menyala didalam kegelapan. Dia penasaran dan menghampirinya. Memungut bunga tersebut sambil memutar-mutar nya. Wangi dari bunga tersebut mengingatkan Yardan pada sesuatu. Laki-laki itu berjalan cepat menuju rak buku, meraih selembar kertas yang diselipkan diantara halaman tebal. Kertas kusam menampilkan tulisan yang mulai pudar.
"Ternyata kau pelakunya, hm?" Dia menyeringai.
"Bajingan!"
Dia berteriak setelah menyadari sesuatu. Membanting benda-benda disekitarnya, lalu berjalan ke ruang tengah sambil menangis keras. Yardan menggebrak meja sehingga membuat benda diatasnya bergetar dan ambruk. Benda pipih berwarna hitam mengalihkan perhatiannya. Yardan meraih ponsel tersebut. Benda itu masih menyala, meskipun baterai menunjukkan tinggal beberapa persen saja. Yap, itu ponsel Deline. Selama berhari-hari tetap berada ditempat yang sama. Yardan melemparnya ke atas meja, tidak peduli milik siapa dan kenapa ada di sana.
Yardan beranjak pergi, tiba-tiba tersandung kaki meja. Dia mengumpat lirih—ponsel itu menyala dengan sendirinya. Video berputar menampilkan rekaman Jasmine tengah berjalan menuju pintu. Dia meraihnya dan menonton video tersebut, tangannya gemetar ketika rekaman itu menampilkan sang anak tengah berbicara sendiri—berjalan menuju balkon, di dalam video pun menunjukkan adegan dimana Jasmine terjatuh.
Kenapa kamera bisa merekam seluruh peristiwa tersebut? Jawabannya adalah saat Jasmine meletakkan ponsel Deline, benda itu mengarah lurus ke ruang depan atau arah pintu. Otomatis kamera merekam hingga keluar rumah, apa yang dialami Jasmine berbanding terbalik dengan rekaman video. Hanya Yardan yang mengerti semua itu. Bunga putih dan kertas yang dimilikinya adalah bukti nyata bahwa Deline bukanlah pelakunya.
Degup jantungnya berdetak kencang, keringat meluncur bebas membasahi pipi. Sempat menuduh Deline atas kematian sang anak, tetapi sekarang dia telah ditunjukkan jika tuduhannya adalah kesalahan besar. Seolah Jasmine menunjukkan eksistensinya dengan menyadarkan Yardan. Dia meninggal bukan karena Deline, tapi sesuatu yang selama ini mengincarnya. Jiwa anak itupun tidak tenang, dia menginginkan keadilan atas kematiannya. Seseorang harus membalaskan kematian Jasmine, anak itu pasti memberikan petunjuk kepada ayahnya untuk mengungkap kejahatan besar.
"Maafkan aku, Nona."