
Pria bertopi hitam tengah berjalan santai menyusuri trotoar. Kepalanya mengangguk-angguk mengikuti tempo lagu bernuansa chill. Sesekali dia memutar tubuhnya untuk memperhatikan mobil BMW yang melaju pelan dari belakang sana. Jika dia melepas headphone yang dipakainya, pria itu pasti mendengar kebisingan dari mobil-mobil yang berhenti total di sepanjang jalan. Mereka mengomel karena kemacetan semakin parah. Antrian mobil di depan sana tidak bergerak sama sekali.
Daripada mendengar kericuhan yang tidak jelas lebih baik mendengarkan musik untuk mengalihkan perhatian. Pria itu melambatkan langkahnya sembari melirik mobil BMW yang kian mendekat. Mobil tersebut bersebelahan dengan truk pengangkut bahan kimia berupa Ethanol. Ow, tepat sekali. Kesempatan yang bagus untuk menyelesaikan tugas.
Dia adalah seorang intelijen, pria itu ditugaskan mengikuti seorang koruptor yang baru-baru ini menggelapkan dana bantuan sosial bagi korban bencana alam. Tugasnya mengumpulkan bukti-bukti kegiatan gelap yang dilakukan menteri tersebut. Namun, setelah melihat keadaan cukup bersahabat, dia memutuskan untuk sedikit menyimpang dari tugasnya.
"Daripada sekedar memburu bedebah itu, lebih baik aku mengirimkannya ke neraka sekarang juga."
Pria itu berbelok ke sebuah gang kecil yang terletak di kanan jalan. Dia menyalakan rokoknya sambil berjalan santai. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak beberapa tangki bensin berada di samping tembok. Dia celingak-celinguk memastikan keadaan aman untuk melakukan tindakan nakalnya. Pria itu menyenggol kayu yang menjadi penopang tangki tersebut, seketika benda berisi cairan itu ambruk dan menggelinding ke jalan raya.
Seperti diberi kemudahan dalam niatnya mengirim koruptor itu ke neraka, tutup tangki yang tidak rapat terbuka dengan sendirinya. Cairan mudah terbakar itu mengalir hingga ke jalan raya. Selanjutnya benda besi itu menubruk mobil BMW yang ditumpangi oleh si pelaku. Dia melemparkan puntung rokoknya ke belakang, tepat di mana bensin tersebut mengaliri jalanan.
"Time to show."
BOOM! Ledakan dibelakang sana terdengar hebat. Mobil yang ditumpangi si koruptor terbakar habis dan merambat ke truk pengangkut Ethanol. Strateginya berhasil dengan memanfaatkan keadaan. Dari awal anggota intelijen itu mengincar mobil sang menteri dengan melubangi selang injektor agar mobil tersebut mengalami kebakaran saat diperjalanan. Namun, rencana itu gagal ketika sang sopir menyadari bau bensin dari mesin mobil. Oke, tidak masalah dia masih memiliki seribu satu cara untuk melakukan tindakan lain.
Sebelumnya dikabarkan bahwa menteri itu akan melakukan perjalanan jauh untuk menghadiri pertemuan penting dengan beberapa pejabat negara. Karena tugasnya membuntuti dan memantau target tentu saja dia mengikutinya kemanapun pelaku pergi. Saat melakukan pengintaian, jalan utama yang dilalui Menteri Jimmy diperkirakan macet total karena perbaikan gorong-gorong.
Awalnya dia kecewa karena rencananya gagal, tetapi ketika melihat sebuah truk pengangkut Ethanol berdampingan dengan mobil si pelaku, dia merasa mendapat angin segar. Tangki bensin milik seseorang di gang sempit itu dimanfaatkannya sebagai bahan pemicu terjadinya kebakaran dan ledakan. Ethanol sendiri sebuah bahan kimia yang mudah terbakar, ditambah lagi kondisi panas dari mesin mobil akan mempercepat proses merambatnya api sehingga menghasilkan kebakaran dan ledakan besar. Ow, sungguh cerdik sekali pria ini. Dan juga keadaan menguntungkannya.
Huh~ Misi selesai.
Saatnya menunggu hot news tentang kematian koruptor sialan itu. Berbagai platform berita pasti menyebarkan kejadian ini dalam beberapa menit lagi. Ah~ waktunya bersantai menikmati secangkir teh sembari menatap birunya langit. Pria itu menyilangkan kakinya di atas meja, dia sangat tidak sabar menunggu berita kematian dari Menteri Jimmy. Orang seperti dia pantas diberi pelajaran yang setimpal.
"Kevin Noah!"
Yang dipanggil pun menoleh, dia segera berdiri tegap ketika mendengar suara yang tak asing baginya. Yap, dia bernama Kevin Noah, seorang anggota intelijen yang bertugas langsung di lapangan. Pria dengan rambut yang diwarna cokelat spruce. Dari penampilannya tidak mencerminkan sebagai anggota kepolisian. Melainkan seperti generasi milenial jaman sekarang. Kevin adalah salah satu dari polisi yang jauh dari kata 'disiplin', dia selalu bertindak dengan caranya sendiri. Contohnya seperti itu tadi.
Komisaris Jenderal Polisi, Arthur Ryu, mendatangi ruangannya secara tiba-tiba. Tamat sudah riwayatmu, Kevin. Dia pasti sudah tahu apa yang telah kau lakukan (author tertawa jahat).
"Ulah apalagi yang kau lakukan?"
Huff~ Kevin menghembuskan nafas panjang, dia sama sekali tidak terlihat takut saat didatangi atasannya. Ya, karena Kevin sendiri adalah orang kepercayaan dari Arthur. Komisaris itu sudah hafal betul cara bekerjanya. Pria berseragam rapi itu meraih remote televisi, lalu memilih channel berita. Kevin tersenyum tanpa dosa melihat presenter itu membacakan berita tentang kematian Menteri Jimmy.
"Kevin, kau selalu membuatku naik darah. Bukankah aku pernah bilang jangan melakukan tindakan diluar peraturan—jangan senyum-senyum, ini bukan hal menyenangkan. Aku tahu ini ulah mu, jadi jangan mengelak."
Kevin terkekeh sambil memasang senyuman lebar. "Maafkan saya Pak, tapi saya rasa tindakan ini sangat tepat untuk menghu-,"
"Apa? Mulai membela diri? Sekarang pikirkan setelah kejadian ini pasti mereka akan menyelidiki kasusnya hingga tuntas. Dan bagaimana jika kau terseret dalam kasus ini, apa yang bisa ku lakukan untuk membela mu?"
"Bapak tenang saja, saya melakukannya secara rapi seperti biasa. Saya sudah menyiapkan diri jika para penegak hukum menyeret saya tentang kasus ini."
Kevin menuangkan teh pada cangkir kosong, lalu mempersilahkan sang atasan untuk duduk santai bersamanya.
"Alasan saya melakukannya agar penjilat itu langsung merasakan siksaan yang pantas. Saya tidak yakin jika para penegak hukum di negeri ini memberinya balasan yang setimpal—oh, sungguh miris." celoteh Kevin meluapkan emosinya.
Komisaris Arthur merasa ada benarnya juga Kevin melakukan tindakan esktrim itu, dia juga tahu bagaimana keadilan di negerinya. Para koruptor diberi hukuman yang tak sesuai dengan tindak kejahatannya, sedangkan kasus lain seperti seorang nenek-nenek yang memetik jeruk di kebun orang mendapatkan hukuman 10 tahun penjara. Gila, dibandingkan dengan para koruptor yang telah menelan uang-uang bagi rakyat miskin dengan total milyaran justru mendapat diskon masa kurungan. Sungguh lucu sekali negara mereka.
"Tapi kau juga membunuh orang-orang tak berdosa yang berada disekitarnya,"
"Mereka akan masuk surga, Bapak tenang saja."
Komisaris Arthur ternganga mendengar ucapan anak kurang ajar itu. Dia siapa bisa memastikan bahwa mereka akan masuk surga? Kebakaran dan ledakan tadi menelan beberapa korban jiwa yang berada disekitar tempat kejadian. Kevin memang gila, dan entah kenapa sampai sekarang Arthur mempertahankan orang seperti dia (intelijen gila, itulah sebutannya).
"Tidak-tidak, aku tidak akan terpengaruh dengan ucapan mu lagi. Kevin, mulai sekarang bertindaklah sesuai ketentuan. Jangan menyalahi peraturan, jika tidak aku akan menugaskan mu di kantor daerah. Kau paham?"
"Apa? Yah—kenapa Bapak seperti ini? Ah, ini tidak adil. Anda seperti mengurung saya di sebuah kandang. Ayolah, Pak." rengek nya.
"Kevin, kau harus mengerti. Selama ini kau menjadi orang kepercayaan ku, dan sebagai gantinya kau harus menuruti apa yang ku perintahkan."
Kevin memutar bola matanya dengan malas. "Ah—ya baiklah, Pak."
"Dan satu lagi, ada tugas baru untukmu."
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, kini Kevin mendapat tatapan tajam dari sang atasan. Oke, baiklah waktunya diam untuk mendengar semua petuah dari pria tua ini.
"Akhir-akhir ini terjadi pencurian mayat yang terjadi di pemakaman umum Angeles. Hingga memasuki minggu ketiga ini pihak kepolisian daerah setempat belum menemukan titik terang, jadi aku akan mengirim mu dalam tugas kali ini."
"Jadi tugas saya memburu pencuri mayat?"
Kevin tak percaya dengan tugasnya kali ini. Tindakan kriminalitas apalagi ini? Kurang kerjaan sekali orang-orang gila itu, untuk apa mencuri tulang-belulang yang telah bercampur dengan tanah. Ah, ini bukan style Kevin. Dia ingin menolaknya, tapi komisaris itu akan menceramahi nya selama berjam-jam. Sudahlah daripada mendengar ocehan yang membuat telinganya berdenging lebih baik Kevin segera bersiap untuk menjalankan tugas.
Kevin merasa sangat bersemangat ketika mendapat tugas yang berhubungan dengan kekuatan fisik (dia suka pertarungan). Baginya memutar otak, membuat strategi dan bertarung dengan para penjahat adalah hal yang paling menyenangkan. Dia cukup unggul dalam pertarungan fisik, apalagi otaknya. Kevin memiliki kemampuan bertarung dengan mengkombinasikan situasi yang ada. Meskipun sering unggul dalam pertarungan, bukan tidak pernah dia mengalami hal yang menyedihkan. Saat menjalankan sebuah tugas, dia mengalami luka tusuk pada bagian perut kirinya. Mengakibatkan salah satu ginjalnya rusak. Saat ini dia hidup dengan satu ginjal yang masih berfungsi.
°°°
Jaksa Val merapikan dasinya setelah keluar dari mobil. Dia melirik spion untuk menatap wajahnya yang sedikit memiliki bekas luka. Pipi kanan diplester dan pelipisnya tampak tergores dengan darah yang telah mengering. Kejadian kemarin membuatnya sedikit takut, dia bersama Gavin disiksa oleh makhluk tak kasat mata. Saat melangkahkan kakinya menuju gedung, dia dihentikan oleh seorang pria bermasker hitam.
"Berhenti," pria itu membuka tudung jaket beserta maskernya. Dia adalah Gavin.
"Mulai hari ini aku tidak ingin menuruti kemauan mu. Terserah, jika kau ingin melaporkan skandalku. Namun, yang jelas aku tidak ingin berhubungan lagi setelah kejadian kemarin."
Jaksa Val menanggapinya dengan tersenyum tipis.
"Kau lihat? Karena mu aku hampir mati sia-sia. Dan mulai sekarang jangan mencari ku, Tuan Val Destavin. Sampai jumpa," Gavin mengakhiri ucapannya, lalu beranjak pergi.
Sedari tadi Jaksa Dariel berdiri dibelakang mereka. Dia mendengar semua ucapan dari sang dokter, sebagai orang pertama yang menangani kasus tersebut tentu saja Dariel lebih dulu mengalami hal yang sama. Bahkan lebih dari apa yang dirasakan oleh kedua orang itu. Setiap hari di teror dan disiksa hingga dirinya mengalami patah tulang bahu.
"Saran ku, hentikan saja penyelidikan ini. Atau jika tidak kau akan mengalami kejadian yang tidak pernah terpikirkan dalam hidupmu, Jaksa Val." pesan Dariel.
"Kau?" Val tersenyum meremehkan. "Bukan urusan mu lagi tentang kasus ini. Aku tidak akan mundur sekalipun musuhku seekor monster,"
Dengan sombongnya Val mengabaikan peringatan Dariel, tapi tak apa yang penting dia sudah memperingatkan laki-laki itu. Dariel hanya tidak ingin kasus Carrolyna berbuntut panjang dan melibatkan banyak orang, atau akan terjadi kerumitan untuk menyelesaikannya. Ibarat mencari jarum ditumpukkan jerami, sulit dan membutuhkan waktu lama. Diam-diam dia mengkhawatirkan keselamatan Val, eh bukan! Maksudnya Dariel pasti akan terus diganggu oleh makhluk itu, meskipun dia sudah tidak ada hubungannya dengan kasus Carrolyna.
°°°
Kevin bersiul sambil menikmati suasana sore ini, dia terlihat santai padahal seharusnya laki-laki itu harus pergi menjalankan tugas. Dia mengajak rekannya untuk mencari makan malam di area street food (bukan itu tujuannya, you know lah Kevin pasti mencari sesuatu). Ketika melewati pertigaan, tanpa sengaja matanya melihat beberapa orang sedang baku hantam di sebuah gang buntu. Dia berjalan mundur untuk memastikannya.
Para berandal sedang memukuli seorang pria berpakaian kemeja pantai. Mereka menghajarnya tanpa ampun membuat sang korban mengalami luka yang cukup parah. Kevin menghampiri orang-orang tersebut, dia menyilangkan tangannya sambil menyaksikan adegan kekerasan. Salah satu dari berandal itu menyadari kehadiran Kevin, dia menghentikan kegiatannya.
"Siapa kau?"
"Penonton," jawab Kevin.
"Pergilah atau jika tidak kau akan bernasib sama seperti pria ini,"
"Aku tidak mau—sebaiknya lanjutkan kegiatan mu. Hajar dia sampai mati, dan setelah itu aku bisa membawamu mendekam di jeruji besi." sahut Kevin.
Berandal berambut merah itu meremehkannya. Dia meludah di depannya, kemudian memukul Kevin sekuat tenaga. Seketika pipi intelijen itu memerah akibat hantaman keras dari tangan besar si berandal. Dia tidak terima dihina seperti ini. Mereka bertarung dengan sengit, Kevin dikepung oleh teman-teman si berandal. Namun, dia mampu membuat mereka terbaring di tanah.
"Badan Intelijen Negara, Kevin Noah." Dia memperkenalkan dirinya dengan menunjukkan kartu keanggotaan. Berandal itu terkejut, dia berjalan mundur sambil memegangi perutnya yang kram akibat pukulan Kevin.
"Senior?" Panggil seorang pria, nafasnya tampak memburu. "Saya mencari Anda, dan ternyata disini-,"
"Ayo pergi," ajak Kevin, dia membiarkan berandal itu bebas.
"Eh? Apa yang terjadi senior? Mereka memukuli seseorang, aku akan-,"
"Sudahlah biarkan saja. Suatu saat nanti mereka pasti tobat. Ayo, pergi." Kevin menarik paksa temannya.
"Tapi kenapa Anda membiarkannya? Kita bisa menangkap mereka,"
"Targetku adalah penjahat kelas kakap bukan berandal rendahan, sangat rugi jika menangkap orang seperti mereka. Debu jalanan bukan makanan Kevin Noah,"