Pulchritude Case

Pulchritude Case
Page 07



Kematian Menteri Jimmy berbuntut panjang. Benar dugaan Komisaris Arthur jika anak kebanggaannya akan terseret dalam kasus tersebut. Beberapa pria berpakaian rapi menerobos masuk ke dalam ruangan Kevin tanpa permisi. Salah satunya adalah Jaksa Jeffery, si paling ambis untuk menjatuhkan nama baiknya. Jauh-jauh datang dari kota besar hanya ingin mewawancarai intelijen gila itu. No problem, dengan senang hati Kevin akan menanggapinya.


"Aku dengar kau yang ditugaskan untuk memata-matai beliau, benar begitu? Jika boleh tahu, kau dimana saat kejadian itu?"


"Ya, itu memang tugasku—saat itu aku di rumah sakit, kewajiban seumur hidup yang harus kulakukan. Oh, repot sekali hidup dengan satu ginjal."


Jeffery mengangkat sebelah alisnya. "Aku telah mendengar semua tentang dirimu, Tuan Kevin. Apa kau ingat kejadian dimana Jenderal Andreas meninggal karena ulah nekat dari seorang anggota intelijen?"


Kevin tersenyum miring ketika jaksa itu menyindirnya. Yah ... itu benar, dia pernah berbuat nekat diluar peraturan. Jenderal Andreas dicurigai sebagai pelaku pembunuhan terhadap salah satu Tamtama dikantornya. Kevin ditugaskan untuk menyelidiki kasus tersebut, hari demi hari semakin jauh dia terjun dalam masalah tersebut akhirnya berbuah hasil. Dimana Kevin mengintimidasi pelaku dengan tindakan tengilnya sehingga membuat Andreas mengaku. Namun, sebelum dia mengakui kejahatannya, mereka sempat bertarung. Dan itulah alasan kenapa Kevin tinggal memiliki satu ginjal.


Tindakan Kevin menuai pro dan kontra, kebanyakan melakukan protes terhadapnya. Namun, backing-an intelijen itu tak kalah luar biasa dibandingkan para pemrotes. Mereka menganggap bahwa Kevin telah membunuhnya, tapi itu salah. Jenderal Andreas yang terlebih dahulu menyerangnya, Kevin hanya mencoba melindungi diri atas niat busuk yang ingin pria itu lakukan kepadanya. Salah satu monster pembunuh telah dia hapuskan dari dunia kepolisian.


"Oh, jadi kau mencurigai ku karena kasus itu?" Kevin terkekeh. "Hm, begini saja. Jika kau tidak percaya pergilah ke rumah sakit dan lihat rekaman CCTV. Kau pasti menemukan ku,"


Kevin berusaha acuh dengan menyibukkan diri mengecek lembaran kertas yang bertumpuk diatas meja. Salah satu kolega Jeffery mendapat telepon dari seseorang, mereka mengabarkan jika pihak penyidik menemukan bukti lain yang tidak berhubungan dengan Kevin. Cukup memalukan, tapi dia yakin pria tengil dihadapannya ini menyembunyikan sesuatu.


"Baiklah, kali ini kau selamat." bisik Jeffery, kemudian mereka meninggalkan ruangan.


"Aku selalu selamat, kau tahu?" sahutnya dengan setengah tersenyum. Dia mengangkat kakinya ke atas meja dan menyandarkan kepala di sandaran kursi.


Rekaman video dari CCTV telah dia sabotase dengan mengeditnya. Menteri Jimmy meninggal pada pukul 11 siang sedangkan Kevin berada di rumah sakit pada pukul 1 siang. Karena angka 1 dan 11 berada ditengah-tengah angka 12, Kevin memanfaatkan hal itu dengan membalik video kearah sebaliknya. Sehingga pantulan antara pukul 1 dan 11 atau sebaliknya tidak ada bedanya. Jika mereka melihatnya secara sekilas tentu akan tertipu. Kebetulan sekali angka pada jam dinding di rumah sakit tidak berbentuk angka pada umumnya atau Romawi. Namun, hanya bentuk garis lurus, jadi memudahkan Kevin untuk melancarkan aksinya.


Pengawas yang bertugas memantau CCTV pun telah dia bayar. Well, begitulah cara Kevin bekerja. Selain itu dia juga memanfaatkan orang lain sebagai tumbal. Tentu saja publik akan bertanya siapa pemilik tangki bensin di gang sempit itu. Pasti para penyelidik akan mencari pemiliknya bukan? Secara otomatis pemilik tangki bensin itulah yang akan dijadikan sebagai tersangka. Lagipula, dia juga mencurigakan dengan menempatkan bensin di sana. Semua itu akan ditelusuri lebih jauh, seperti apa tujuannya menyimpan bensin di gang itu, darimana dia mendapatkannya, untuk apa bensin-bensin itu dan lain sebagainya. Hoho, Kevin kau benar-benar...


"Ya, Pak?" Kevin mengangkat telepon masuk dari Arthur.


"Mereka telah menemui mu bukan? Mereka tidak curiga kepada mu kan?" Arthur terdengar cemas.


"Bapak tenang saja, Kevin masih bisa mengatasinya."


"Baguslah." Arthur menjeda, "oh, ya, Kevin. Aku menerima laporan bahwa kau telah menuduh seorang jaksa tanpa bukti yang konkret. Apa kau ingin mempermalukan ku?" dongkolnya.


"Tidak, Pak. Itu kenyataan, saya serius dia adalah-,"


"Cukup! Jangan bertindak aneh-aneh, Kevin. Fokus saja pada tugasmu, atau aku akan menetapkan mu bertugas di sana. Kau paham?"


Kevin menghembuskan nafas panjang. "Ya, Pak."


Arthur mengakhiri percakapan. Dia meletakkan ponselnya keatas meja secara kasar. Entahlah Kevin merasa atasannya akhir-akhir ini berubah, dia selalu mengomel. Ancamannya membebani pikiran Kevin. Apa mungkin segala tindakannya keterlaluan? Tidak, Kevin rasa dia sudah tepat. Memberi pelajaran kepada para penjahat dengan caranya sendiri. Tentu alasan utamanya melakukan tindakan nekat karena hukum di negerinya sangat buruk. Tidak sesuai dengan apa yang telah tertulis di undang-undang maupun sumpah mereka. Keadilan di negerinya telah hilang sejak lama.


°°°


"Kau dengar? Ternyata Jaksa Dariel lah yang membantu Jaksa Val bebas dari kasusnya. Oh, dia sangat perhatian bukan? Contoh pria yang berhati besar, sangat cocok sebagai wakil pimpinan jaksa."


"Aku setuju."


Val meremas cup minuman, wajahnya memerah ketika mendengar perbincangan dari kedua orang tersebut. Dia sangat benci ketika seseorang mencampuri urusannya, terlebih lagi Dariel. Ternyata dialah yang membantu Val keluar dari kasusnya. Apakah ini sebuah strateginya untuk mencuri perhatian dari publik? Val semakin naik pitam ketika terbersit pemikiran seperti itu. Dia berdiri dengan mendorong kursinya ke belakang secara kasar.


"Terimakasih ya, atas bantuan mu." Dariel tersenyum kepada Floryn.


Val masuk kedalam ruangannya tanpa permisi. Dadanya naik turun menatap Dariel tengah duduk santai di kursi. Dia berjalan cepat, kemudian meraih kerah baju anak walikota itu.


"Jadi kau yang ikut campur dalam masalahku? Apa tujuanmu, huh? Mencari muka?" cerca Val.


Dariel mendorongnya, "seharusnya kau berterimakasih kepadaku, bukan marah-marah seperti ini."


"Aku tahu ini semua siasat mu untuk mencari perhatian dari publik. Kau memanfaatkan ku demi keuntungan mu bukan? Sungguh menjijikkan." caci nya.


"Dan kau?" Val menunjuk Floryn. "Dibayar berapa kau sama bedebah ini?" lanjutnya penuh emosi.


"Kau bisa kena sanksi jika bersikap seperti ini, Jaksa Val." Dariel menatapnya. "Hm, tapi dia secara sukarela melakukan ini. Benar begitu kan, Nona Floryn?"


"Itu benar Jaksa Val." Floryn mendekat ke arahnya. "Ini semua kemauan ku, Jaksa Dariel hanya membantu ku sedikit dalam masalah ini. Dan juga, kau tahu? Seseorang akan melakukan apa pun demi orang tercinta."


Val menoleh kearahnya, dia mengangkat sebelah alis. Yang Floryn ucapkan belum sepenuhnya dicerna olehnya. Apakah maksud nya gadis ini mencintai Val? Oh, tidak-tidak. Mengerikan sekali ketika mendengar kata cinta, dia membuang muka. Sementara Dariel tersenyum tipis menatap keduanya.


"Sekarang kau dengar sendiri bukan?"


Val menahan amarahnya, dia bergegas keluar dari ruangan. Everything is fake, you know? Jaksa dan pengacara itu bekerja sama untuk mencari keuntungan. Tuduhan yang Val pikirkan benar adanya, Dariel memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapat perhatian dari para petinggi. Momen emas seperti ini harus dimanfaatkan demi martabat baik sebagai poin penting saat pemilihan wakil pimpinan jaksa bulan depan.


Ini cukup bagus untuk mendapat nama baik atas keterlibatannya dalam membebaskan Jaksa Val. Dia juga yang mendukung Floryn untuk menjadi pengacaranya, jadi Dariel sedikit memanfaatkannya. Terlebih lagi gadis itu tergila-gila dengan sosok Val Destavin. Dunia memang tipu-tipu ya? Eh bukan deng, lebih tepatnya dunia simbiosis parasitisme. Like a mosquito that sucks human blood.


"Jaksa Dariel, saya permisi." Pamit Floryn, dia berniat mengejar Val. Mumpung ada di sini, Floryn tidak ingin membuang kesempatan untuk menemui orang yang dikaguminya.


"Batu loncatan," gumam Dariel. Senyuman bangga menghiasi wajahnya.


Persaingan untuk meraih posisi itu sangatlah ketat. Antara keduanya memiliki poin yang sama-sama imbang. Dariel dan Val adalah rival berat bagi pesaing lainnya. Nama mereka menjadi opsi utama dalam nominasi calon wakil pimpinan baru. Para petinggi masih kesulitan untuk memilih salah satunya, mereka begitu kompeten dan pekerja keras. Yah ... meskipun sedikit kotor.


"Semua ini karena intelijen aneh itu!" Val menendang kursi di ruangannya. "Dariel, ternyata kau licik juga ya?"


"Jaksa Val?" Floryn masuk.


"Kenapa kau ke sini? Pergilah, aku tidak ingin diganggu nyamuk." ketus nya.


Gadis itu menunduk. "Maaf jika mencampuri urusan mu. Jujur aku tahu kasus ini dari awak media, kemudian aku-,"


"Kau ingin meminta bayaran berapa? Cepat berikan nomor rekening mu," sela Val, dia tidak ingin mendengar apa pun dari gadis itu.


"Tidak perlu. Jaksa Dariel telah-,"


"Ambil ini, anggap saja amal dari korban pemfitnahan." lanjutnya sambil menyelipkan kertas tersebut di tangan Floryn.


"Tapi-," Floryn memutar tubuhnya, dia menatap punggung Val yang menjauh. "Oh, Jaksa Val, meskipun kau seorang laki-laki sarkas, tapi aku tetap menyukaimu. Kau benar-benar tipeku," gadis itu berbunga-bunga.


Floryn adalah adik kelas Val semasa jaman kuliah mereka. Sudah lama dia mengaguminya sebagai tambatan hati, meskipun selalu diperlakukan kasar dan dingin. Namun, gadis itu tidak pernah bosan untuk mengejarnya. Ketika mendengar kabar tentang kasus tersebut, Floryn segera mengajukan diri sebagai pembela bagi Jaksa Val,  kemudian dia bertemu dengan Dariel. Dan pada akhirnya mereka sepakat untuk bekerjasama.


°°°


Seseorang berteriak keras dari dalam toilet pria. Dia berjalan mundur karena syok melihat jenazah tak berbentuk di dalam kardus. Salah satu dari mereka segera menghubungi pihak berwajib untuk mengevakuasi nya. Di duga mayat tersebut berjenis kelamin laki-laki dan salah satu mahasiswa Universitas Exact.


Seisi kampus digegerkan dengan penemuan jasad tersebut. Dia dibunuh oleh sahabatnya sendiri dengan cara dimutilasi. Korban bernama Ricky, laki-laki berambut mullet yang sering mengganggu Arlo, tentu kalian ingat. Suasana kampus menjadi tegang dan horor, seketika atmosfer di sana berubah total. Tanpa sengaja kejadian itu terjadi ketika Deline hendak menuju toilet juga. Karena bersebelahan otomatis dia melihat bagaimana polisi mengevakuasi jasad korban.


"Aduh," kejut Deline, dia bertubrukan dengan Arlo yang muncul secara tiba-tiba.


"Deline?"


"Arlo, kau di sini?"


"Hm, aku ada urusan dengan Pak Willy."


"Kau pasti sudah-,"


"Ya, aku turut berdukacita. Meskipun dia sering menggangguku ataupun mengganggu yang lainnya, tetap saja dia teman sekelas ku." Arlo menyela, dia turut berbelasungkawa.


Mereka berjalan beriringan sambil membahas kasus tersebut. Merinding, itulah yang sedang dirasakan oleh keduanya. Pelaku begitu kejam dengan membunuh Ricky dalam keadaan seperti itu. Diduga si pelaku akhir-akhir ini sering cekcok dengannya, jadi kemungkinan karena ada rasa tidak terima dia memutuskan mengakhiri nyawa korban. Kasus pembunuhan ini langsung ditutup oleh pihak kampus demi mempertahankan citranya. Mereka bungkam atas persoalan yang terjadi, meskipun begitu media tetap menyiarkan berita tersebut kepada khalayak umum.


Terutama Arlo, pihak kampus memintanya untuk tidak melebih-lebihkan atau berbicara lebih jauh tentang masalah tersebut. Sebagai seorang jurnalis tentu saja dari perusahaannya berusaha memperoleh keuntungan dari Arlo. Secara dia adalah bagian dari mereka, sekarang pemuda itu bingung antara pekerjaan atau kampusnya. Jika dia memilih diam, bagaimana dengan pekerjaannya? Jika dia buka suara pasti kampusnya akan dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Mereka akan mempertanyakan kualitas tempat mengajar tersebut.


Baru satu minggu menjadi mahasiswi di universitas tersebut, kedatangannya disambut dengan kematian seseorang. Acara penyambutan yang cukup mengerikan bukan? Sebenarnya kampus tersebut adalah opsi terbaik dalam kategori universitas ternama, kejadian itu menjadi yang pertama kalinya bagi Exact University. Dampak kasus tersebut berimbas kepada para pendaftar yang mengundurkan diri, setidaknya mereka kehilangan 800 mahasiswa baru. Sungguh menyedihkan.


"Kita bertemu lagi setelah satu bulan lamanya," ujar Arlo.


"Uh-huh, do you miss me?" Deline tertawa, dia bermaksud menggodanya.


Arlo cukup terkejut, bola matanya bergerak kesana-kemari. Sepertinya dia salah tingkah.


"Aku bercanda." imbuh Deline.


"Ah—ya, tapi bagaimana jika itu benar?" Arlo menatapnya. "I mean, what if it's the other way around. Lest you miss me," balas Arlo sambil tertawa genit.


"Dasar, pembalik fakta."


Waktu bercanda telah selesai, Arlo berpamitan karena harus bekerja. Sedangkan Deline masih ada kelas tambahan. Jadwal mereka berselisih sehingga membuat keduanya jarang bertemu. Selepas kuliah Deline segera pulang, seperti biasa rumah dalam keadaan sepi karena Danesh masih bekerja. Tidak apa-apa suasana seperti ini sudah biasa dia rasakan. Sekarang saatnya istirahat untuk memulihkan energi.


Deline bersenandung kecil sembari menyalin materi ke buku catatan. Energi tak biasa tiba-tiba mengganggu kenyamanannya. Siluet seseorang melintas cepat di depan pintu kamarnya. Ya, Deline mampu merasakan adanya sesuatu yang mengganggu saat ini. Beberapa kali bayangan itu mondar-mandir di depan pintu.


"Aku bisa merasakan kehadiranmu. Jangan menggangguku, kau paham? Seharusnya kau tidak melakukan ini karena aku juga tidak mengganggu dirimu," komentar Deline dengan mendongak keluar dari kamar.


Buku-buku yang tertata di rak mendadak berjatuhan. Deline menutup pintu lalu masuk ke dalam kamar. Ini pengalaman keduanya selama tinggal di rumah sang kakak. Peristiwa pertama ketika dia berada di dapur, makhluk itu menunjukkan eksistensinya dengan menyalakan kran air dari tempat cuci piring. Dan sekarang yang kedua dia berada di kamarnya.


"What do you want? Jika kau ingin berteman denganku jangan merepotkan seperti ini. Aku lelah kau tahu?" Deline memungut buku-bukunya.


Selesai meletakkan kembali buku-buku tersebut di tempatnya. Tubuh Deline tiba-tiba kaku setelah sebuah energi menerpa tubuhnya. Tangan, kaki dan mulutnya tidak bisa bergerak kecuali mata. Seluruh tubuhnya seperti dilakban. Deline merasakan ada yang memegang pundaknya, hembusan nafas seseorang terasa dileher gadis itu. Namun, wujudnya tidak terlihat.


"Harum-," Suara bisikan lirih menembus indra pendengarannya, kemudian Deline terduduk dilantai.


Suasana kembali normal, Deline beranjak keatas ranjang. Dia sedikit gemetar disertai suhu tubuhnya meningkat drastis. Entah makhluk apa itu, tapi berhasil membuatnya syok. Danesh membuka pintu, dia melihat adiknya duduk diam dengan tatapan kosong.


"Del, kenapa? Deline?" Danesh menggoyangkan lengan sang adik. Deline sadar dari lamunan.


"Kak Dan?"


"Tubuhmu panas, kau sakit? Ayo kita pergi ke dokter." Danesh khawatir.


Oh, ya, benar tubuhnya panas. Deline baru menyadarinya. "Tidak perlu Kak,"


"Aku khawatir kau kenapa-kenapa. Lebih baik kita mencegah daripada mengobati, sekarang ayo kita ke rumah sakit." Danesh menarik lengan Deline, tapi dia tetap menolaknya.


"Kalau begitu aku akan mengambilkan air kompres. Tunggu ya?" Laki-laki itu baru saja pulang bekerja, dia masih menenteng tas kerjanya untuk menengok apakah Deline sudah pulang ke rumah.


Selama tiga hari mereka tidak saling menyapa semenjak masalah job guru private. Namun, Danesh tidak bisa mengabaikan adiknya terus menerus. Deline juga tidak berniat menyapanya karena kemarin-kemarin sang kakak seperti menghindar.


"I apologize for what I said back then." ucap Danesh sembari menempelkan kain kompres ke dahi sang adik.


"I should be the one apologizing for disappointing you,"


"Tidak-tidak, aku juga salah. Sekarang aku percaya pada keputusanmu, Del."


Deline tersenyum kecil. "Terimakasih Kak Dan— seharusnya Kakak istirahat saja, kenapa malah merawat ku. Aku bukan anak kecil lagi, tahu? I'm fine, don't worry."


Danesh menggenggam tangan sang adik. "To me you are still a little girl who always whines when you don't buy raisin cookies,"


"Ih, Kak Dan." Mereka tertawa mengingat kembali kenangan masa kecilnya.


Kejadian menyeramkan tadi sengaja tidak dia ceritakan kepada kakaknya. Cukup dia saja yang merasakannya, terlebih lagi Danesh adalah laki-laki penakut. Di kepala Deline masih terpikirkan ucapan dari makhluk tadi. Kata harum membuatnya merinding. Kalimat yang terucap dari mulutnya seolah-olah menginginkan sesuatu yang tidak Deline ketahui.