
Yardan melepas apron yang dipakainya sambil membuka pintu secara kasar. Deline mengejarnya dan berusaha menarik baju yang dikenakan laki-laki itu. Hampir seminggu mereka tidak bertemu karena Danesh melarang keras sang adik untuk menemuinya. Sungguh menyebalkan, semakin hari sang kakak terlihat posesif dan memberinya banyak aturan. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Kemanapun diantar, selalu diawasi dan bahkan membayar orang untuk membuntutinya saat pergi.
Sikap Yardan berubah karena Danesh telah menegurnya beberapa hari yang lalu. Dia melontarkan kata-kata kurang menyenangkan serta memperingatkan bahwa Deline akan bertunangan dengan seseorang. Dia diminta untuk berhenti berhubungan dengan adiknya. Ucapan Danesh membuatnya berpikir ratusan kali jika benar ingin bersanding dengan Deline. Ya, kasta mereka tidak sebanding. Gadis itu lahir di keluarga kaya, sedangkan Yardan? Dia hanya kurir pengantar. Danesh menjadi angkuh dengan membandingkan derajat dan pangkat antara dia dan duda itu.
Tentu hal seperti itu mampu menurunkan mental Yardan. Dia memang tidak pantas jika bersanding dengan Deline. Pendidikan, harta dan statusnya tidak sepadan dibanding mereka. Yardan harus sadar diri dan posisi—lupakan angan-angan ataupun impian hidup bersama gadis itu. Benar apa yang dikatakan Danesh, dia harus menjauh. Sejak saat itu Yardan menghindar supaya perasaannya terkubur dalam-dalam. Lupakan untuk mencintai Deline, keluarganya pasti tidak akan merestui.
"Pak Kim!" teriak Deline—berusaha mengejarnya. Tak peduli banyak orang disekitar mereka.
"Kenapa Anda selalu menghindar sih!" Deline mendengkus keras. "Pak Kim!!"
Gadis itu berlari agar bisa mengejar duda aneh didepannya. Bagi Deline rasanya sangat sesak karena setiap dia berkunjung atau mencoba menghubunginya, laki-laki itu justru acuh dan tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Jika dia membuat kesalahan, tolong tunjukkan supaya Deline bisa mengerti di mana letak salahnya. Bukan mengabaikannya seperti ini.
"Kim Yardan, aku hamil anak mu!" pekiknya, berhasil menghentikan langkah laki-laki itu. Dan orang-orang disekitarnya pun ikut terkejut mendengarnya.
Yardan menghembuskan nafas berat, dia menghampiri gadis itu dan membawanya menjauh dari keramaian.
"Nona, aku mohon jangan bertingkah konyol. Mereka menatap kita berdua karena kebohongan mu itu," gerutunya.
"Maaf," dia menunduk. "Tapi jika saya tidak melakukan itu, Anda tidak akan berhenti."
"Kenapa Anda menghindari saya? Apa saya membuat kesalahan?" lanjutnya sambil mendongak menatap wajah Yardan.
Yardan memegang lengannya. "Aku menghindar darimu karena tidak ingin mengganggu hubungan kalian."
Deline mengernyitkan dahi. Dia tidak mengerti maksud ucapan laki-laki dihadapannya ini.
"Kalian akan segera menikah, jadi aku tidak mau dianggap sebagai pengganggu. Sebaiknya mulai sekarang kita jangan berhubungan lagi, kau harus menghargai perasaan calon suamimu."
"Apa?" Dia terkejut. "Calon suami—siapa? Saya bahkan belum bertu-,"
"Aku pamit dulu. Semoga rencana kalian berjalan lancar," sela Yardan tidak ingin berlama-lama dengannya. Dia memasang seulas senyum, kemudian beranjak pergi.
"Pak Kim, tunggu! Apa maksud Anda mengatakan hal itu? Ini salah paham, saya tidak-," dia menghentakkan kakinya. Lagi-lagi Yardan mengabaikannya.
Sudah jelas ini ulah seseorang yang telah meracuni pikiran Kim Yardan. Bukan menaruh prasangka buruk terhadap kakaknya, tapi Deline yakin dialah pelaku atas masalah ini. Laki-laki itu sengaja merenggangkan hubungannya dengan Yardan. Oh, baiklah. Tidak ada waktu lagi untuk memikirkan kelakuan Danesh. Yang terpenting sekarang adalah mengejar duda itu, lalu menendangnya hingga sadar bahwa dia tidak mencintai siapapun selain dirinya.
Yardan sendiri tidak berniat mengatakannya, tapi jika dia tidak mencurahkan apa yang dirasakannya, kemungkinan besar Deline akan terus mengejarnya. Cukup sakit ketika mendengar bahwa gadis itu akan bertunangan dengan orang lain. Iya, Yardan juga menaruh rasa, tapi dia belum mengungkapkannya kepada Deline. Bukan tidak mau, tapi menunggu waktu yang tepat. Namun, sekarang justru tujuannya dihancurkan oleh kebohongan.
"Pak Kim!" Kini Deline telah sampai di kediaman Yardan, dia menggedor pintu. Tak peduli jika ada orang yang marah karena ulahnya.
"Terserah jika Anda tidak mau membuka pintu ini. Saya akan tetap di sini, meskipun sampai besok pagi."
Yardan mendengarnya. Dia duduk di kursi dekat pintu. Sebenarnya ada rasa tidak tega terus bersikap acuh seperti ini, tetapi ketika ucapan Danesh terbersit dibenaknya. Yardan kembali ke niat awal untuk mengabaikan Deline. Dia bersikukuh menghindar agar permasalahan tidak semakin runyam nantinya.
Berjam-jam menunggu sang pemilik rumah membukakan pintu. Deline bersandar pada dinding sambil menahan hawa dingin yang mulai menerpa tubuhnya. Keadaan sudah cukup sepi, lampu-lampu yang menerangi koridor apartemen pun terasa menyeramkan. Namun, dia tidak boleh menyerah dan pergi begitu saja. Deline harus tetap di sana untuk menunggu Yardan membuka pintu.
Beberapa pria dalam keadaan teler berjalan sempoyongan mendekat kearah Deline. Pria mabuk dengan tampilan yang kacau. Mereka berhenti di depannya, berusaha menggoda dan bahkan berani mencoleknya. Deline ketakutan, dia menyilangkan tangan untuk menutupi sebagian tubuhnya. Mereka semakin kurang ajar dengan lebih mendekatkan diri kepada Deline.
Yardan keluar karena mendengar celotehan para pria brengsek itu. Dia menendang satu persatu dari mereka dan mengusirnya untuk menjauh dari Deline. Damn! Yardan tidak bisa mengabaikannya, meskipun telah berusaha setengah mati. Sedari tadi dia tidak beranjak ke kamar atau dapur, Yardan tetap berada diposisi yang sama untuk memastikan bahwa gadisnya baik-baik saja.
"Saya tidak bertunangan dengan siapapun. Entah Anda mendengarnya darimana, tapi seharusnya tanyakan dulu kepada saya. Jangan asal menelan ucapan tidak berbobot seperti itu, mana buktinya jika saya akan menikah dengan orang lain? Lihat ini-,"
Ucapan itu terhenti ketika Yardan memeluknya. Deline membeku ditempat, getaran aneh menjalar ke seluruh tubuhnya. Usapan lembut dari tangan berurat itu berhasil menenangkan kegelisahan hatinya.
"Lihat jari manis saya—tidak ada cincin yang melingkar di sini. Seharusnya Anda mempercayai saya, Pak Kim. Jangan menghindar seperti ini," lanjutnya mengomeli Yardan.
"Iya, maafkan aku." sahutnya sambil melepaskan pelukan.
Deline bersandar pada dada Yardan sambil memainkan jemari laki-laki itu. Sementara tangan Yardan tak henti-hentinya mengusap rambut Deline. Mereka duduk berdampingan di sofa—melepaskan kerinduan yang selama ini terpendam. Dibawah penerangan redup seperti ini adalah momen paling cocok untuk bermesraan. Sekarang sudah tidak ada rasa canggung atau jarak diantara keduanya.
"Kim Yardan adalah manusia jahat, dia tega membuat seorang gadis tersiksa karena rindu." gerutunya. Dia mencubit tangan Yardan.
"Hm, dan kau gadis keras kepala."
"I love you, Kim Yardan."
Kini hasratnya untuk membalas ciuman gadis itu semakin menggebu. Kedua tangannya memegang rahang Deline, mendekatkan wajahnya kepada gadis itu. Bibir mereka saling menempel—ciuman panas sedang berlangsung. Mereka saling bermain lidah sebagai pelengkap ciuman kali ini. Dia menuntun Deline untuk merebahkan diri di sofa, kemudian Yardan menindih tubuhnya. Tak lupa tangan Deline dikalungkan pada leher Yardan. Ciuman manis untuk yang pertama kalinya. Perbedaan pengalaman tentu dirasakan oleh keduanya. Yardan si senior begitu handal melakukan hal seperti itu, sedangkan Deline dia masih amatir.
Yardan semakin liar menciumi gadisnya. Ciumannya turun ke leher dan bahu Deline. Setiap Yardan menggempurnya dengan ciuman brutal, gadis itu selalu kewalahan. Dia tidak bisa mengimbangi cara bermainnya. Oh, seperti inikah rasanya bercumbu dengan seorang duda? Hahaha, gila. Deline mendesah nikmat karena merasa keenakan, jujur sudah lama dia tidak melakukan kegiatan seperti ini selama bertahun-tahun. Terakhir kali dia melakukannya saat duduk di bangku SMA, itupun dengan pria Canada. Dia akui rasanya sangat berbeda dengan pengalaman yang sebelumnya. ⊙.☉
"Pak Kim pelan-pelan, aku tidak bisa mengimbangi mu." Deline memukul punggung Yardan.
Laki-laki itu terkekeh kecil. Ini sedikit memalukan, tapi nafsunya...
"Terlalu kasar ya?" Yardan mengangguk kecil tanda mengerti. "Baiklah, sekarang aku akan bermain halus."
Yardan mengulangi dari awal, tapi secara perlahan. Dia memberikan kesempatan kepada Deline untuk memainkan lidahnya terlebih dahulu. Ciuman gadis itu terasa lambat. Namun, sangat bernafsu. Yardan melepas kemejanya, kemudian menarik kaos Deline keatas sehingga mereka sekarang dalam keadaan sama-sama telanjang dada. Heh! Sadar kalian༎ຶ‿༎ຶ
Laki-laki itu menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Namun, sepatah kalimat menghentikan niatnya. Ucapan Danesh menghantui pikiran Yardan. Dia mendengkus keras, lalu memukul pelan kepalanya. Yardan memposisikan dirinya untuk duduk, sementara Deline menatapnya dengan bingung (angjay nanggung).
"Pakai bajumu, Nona. Aku tidak bisa melanjutkannya."
"Ke-kenapa?"
"Aku tidak ingin merusak wanita untuk yang kedua kalinya."
Ya ... alasan itu cukup bagus sebagai pengalihan fakta yang sebenarnya. Bukan itu alasan Yardan, dia tidak ingin Deline membenci kakaknya. Sudah cukup bercumbu tipis-tipis seperti tadi, jangan melakukan lebih. Dia harus bisa menahan nafsu dan hasratnya untuk menikmati tubuh Deline. Masih ada kesempatan lain untuk melakukannya (kalau bisa). Untuk yang terakhir kali, dia mencium kening Deline dan menyuruhnya pulang. Yardan tidak mau jika Danesh semakin membencinya. Laki-laki itu pasti akan terus menaruh rasa curiga.
"Hati-hati ya dijalan—ingat jangan mengebut. Kabari aku jika sudah sampai,"
Deline mengangguk seraya memasang senyuman lebar, kemudian memeluk Yardan dengan erat. Menenggelamkan wajahnya pada dada laki-laki itu. Ah, rasanya tidak ingin pulang. Sangat berat melangkahkan kaki untuk meninggalkan rumah ini. Andai kakaknya mengizinkan, pasti dia akan memilih tinggal bersama Yardan. Dan juga ... segera meminta Danesh untuk menikahkannya dengan duda itu. Harapan Deline saat ini adalah semoga sang kakak berubah pikiran dan merestui hubungan mereka.
°°°
"Puas bisa berduaan dengan kekasihmu?"
Langkah kaki Deline terhenti ketika pertanyaan itu tiba-tiba mengejutkannya. Danesh bersandar pada ambang pintu sambil menyilangkan kedua tangannya diatas dada. Dia sudah menunggu kedatangan adiknya sedari tadi. Sangat lama menunggunya pulang, ini hampir jam 12 malam. Oh, entahlah apa yang mereka lakukan hingga selarut ini. Deline lepas dari pengawasannya karena Danesh hari ini sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor. Sehingga tidak cukup waktu untuk mengawasi anak itu.
"Kenapa kau terus membantah ku sih, Del? Kenapa kau tidak mendengarkan ku dan berbuat semau mu." lanjut Danesh. Sementara sang adik hanya diam sambil menunduk.
"I'm tired of your change in attitude. Since mingling with her you've changed. I don't recognize the old Deline, you-"
"Cukup Kak!" Dia menatapnya. "Jika Kakak lelah dengan sikapku, lebih baik bebaskan aku. You are too possessive and control me as you wish. I've already-,"
"What? Grown up?" Danesh tersenyum miring. "Aku seperti ini demi kebaikanmu, bukan untukku diriku sendiri."
"Seharusnya kau mengerti, kenapa aku melarang mu berhubungan dengannya. Aku juga laki-laki, Del. Aku mengerti orang seperti apa kurir itu," kecam Danesh.
"Kakak terlalu berpikiran negatif kepada Pak Kim—dia tidak seburuk yang kau pikirkan." bela nya.
Danesh tidak membalas bukan karena kalah berdebat, tetapi dia menahan emosinya. Adiknya itu sangat keras kepala dan terus membela Yardan. Entah mana yang benar dan salah, kita tidak tahu. Di mata Deline, laki-laki itu adalah pria baik dan tulus—sedangkan di mata Danesh ... dia sangat buruk dan penuh kebohongan. Dari awal manager itu sudah tahu siapa dan bagaimana seluk-beluknya. Sejak pertama kali Deline memilih Jasmine sebagai muridnya, Danesh mengirim orang untuk mencari tahu siapa mereka.
Saat tahu Yardan adalah pria yang pernah menghamili pacarnya, Danesh merasa tidak nyaman. Iya, dia tahu menahan nafsu itu sangat sulit, tapi perbuatan seperti itu bukankah cukup buruk? Bagi Danesh menjaga kehormatan wanita adalah hal penting saat menjalin hubungan. Selama dia pacaran dengan Olivia atau mantan-mantannya, Danesh selalu mengedepankan akalnya untuk berpikir jernih. Mati-matian menahan nafsu yang berusaha menggempur dirinya untuk melakukan hal yang tidak baik. Sekali berbuat buruk, maka orang-orang akan terus memandangnya seperti itu. Apalagi dia adalah anak Sanatha, si pengusaha terkenal.
Tujuan Danesh hanya ingin adiknya terhindar dari laki-laki brengsek. Dia tidak mau melihat adiknya rusak karena ulah seseorang, bagaimana masa depannya nanti? Baginya Deline adalah berlian yang harus dijaga, tidak boleh tergores oleh apa pun yang menurunkan kualitasnya. Rasa sayangnya terhadap sang adik sangat besar, bahkan jika perlu Danesh akan mengorbankan nyawanya untuk anak itu. Memiliki seorang adik perempuan adalah impian Danesh dari kecil. Dia berjanji akan menjaga Deline layaknya seorang ayah. Itulah yang dia ucapkan di hadapan mendiang sang ibu.
"Untuk yang terakhir kali, aku minta menjauh lah dari dia." pesan Danesh.
"No! I won't stay away from Mr. Kim. It's up to you if you want to throw me out of this house—I'll go and live with him."
"Deline!" Danesh mengangkat sebelah tangannya. "Apa kau sudah gila? Dia sudah meracuni pikiranmu—oh, ini kacau. You're getting more and more difficult."
Deline mengabaikannya dan memilih pergi. Mendadak dada Danesh terasa sesak, dia sulit untuk bernafas. Berpegangan pada nakas untuk menahan tubuhnya agar tetap berdiri. Deline menyadarinya, dia memasang raut wajah kaget dan menghampiri sang kakak. Danesh menahan mati-matian rasa sesak dan panas yang menyerang dadanya. Sungguh, dia sulit untuk menghirup udara. Deline sangat panik melihat kondisi kakaknya—tak lama kemudian Danesh tidak sadarkan diri. Gadis itu berteriak sambil menangis, dengan segera membawanya ke rumah sakit.
What happen?😣